Briana

Briana
Bab 65. Pernikahan



Waktu begitu cepat berlalu. Rumah mewah milik keluarga Sanjaya terlihat begitu indah di pandang mata. Para tamu undangan mulai berdatangan, hingga mobil-mobil mewah sudah memadati pelataran rumah mewah itu.


Di kamar tempat Briana berada pun tidak kalah indah dengan ruangan di lantai bawah. Aneka macam bunga sudah menghiasi kamar itu hingga wangi dari bunga-bunga tersebut, memenuhi seluruh ruangan.


"Cantik kan ?" Keyla berdiri di belakang calon menantunya yang sudah mengenakan gaun indah berwarna putih.


"Terimakasih, Tante." Ucap Briana serak menahan tangis.


"Mau peluk ?" Tawar Keyla.


Tanpa menjawab pertanyaan dari calon ibu mertua nya, Briana langsung menghambur dalam pelukan wanita cantik itu.


"Mulai sekarang kamu anak Mama juga, jangan panggil Tante lagi." Keyla mengusap lembut pipi calon menantunya dengan hati-hati agar tidak merusak riasan di wajah cantik itu. "Kamu tahu, Ana. Bahagia itu pilihan. Kita berhak memilih mana yang akan membuat kita bahagia kedepannya. Benar kata orang, tidak semua pernikahan harus di dasari dengan cinta yang menggebu." Keyla menghentikan kalimatnya, kemudian menuntun Briana menuju tempat ranjang mewah yang ada di dalam kamar itu.


"Aku mencintai nya, Tante eh maksud aku Mama." Ucap Briana tebata.


Keyla tertawa kecil.


"Yah, Mama tahu kok. Kalian saling mencintai, tapi memang keadaan yang selalu saja membawa kita ke titik seperti beberapa tahun ini. Mama tidak akan meminta kamu untuk jadi istri yang sempurna buat Gama, Mama hanya ingin kamu bisa menjadi istri yang memiliki kesabaran yang banyak. Karena selama kita masih menjalani hidup di dunia, selama itu pula hal-hal yang tidak kita inginkan akan terus datang menghampiri.


"Sudah siap ?" Flora dengan gaun indahnya sudah berada di ambang pintu kamar.


Keyla tersenyum saat melihat keponakannya sudah berada di amabang pintu kamar putranya. Ia tahu sudah menyita banyak waktu.


"Ma.." Briana menahan lengan Keyla. "Siapa yang akan membawa ku ke altar nanti?" Tanyanya kemudian.


Keyla kembali tersenyum hangat, lalu mengusap pipi Briana dengan sayang.


"Kamu bebas memilih. Ada Papa kamu dan juga Om Bram." Jawab Keyla.


"Kamu adik aku sekarang. Anak tunggal benar-benar ga enak, Ana. Jadi aku mau bagi Papi aku sama kamu deh." Ujar Flora dengan senyum manis di bibirnya.


Keyla pun ikut tersenyum dengan kalimat keponakannya.


"Terimakasih, Kak Flora." Ucap Briana.


Setelah menuruni satu per satu anak tangga, Briana mengelilingi rumah mewah tempat berlangsungnya acara dengan netra nya. Sangat indah, begitulah yang ada di pikirannya saat ini.


"Itu Papa dan Om Bram sudah menunggu. Kamu bisa memilih siapa saja yang kamu inginkan untuk mengantar kamu menuju altar." Ucap Keyla saat langkah mereka sudah mendekati pintu yang tertutup rapat. Pintu rumah yang menghubungkan taman belakang.


Briana terdiam sejenak, mengamati dua laki-laki paruh baya yang ada di hadapannya dengan seksama. Tatapan hangat khas seorang Ayah, benar-benar terpancar dari keduanya, hingga membuatnya bingung untuk memilih siapa.


"Kak Flora, ga apa-apa kan kalau aku pinjam Papi Kakak sebentar?" Tanya Briana.


"Tentu saja, aku wanita yang pandai berbagi. Asal jangan suami aja, langkahi dulu mayat ku." Jawab Flora, membuat orang yang ada di dalam ruangan itu tertawa.