
Bunyi pintu ruangan serta suara wanita sampai di telinga Briana, namun ia sama sekali tidak berniat mengakhiri panggilan itu bahkan ia semkin memamerkan senyum manja di bibirnya.
"Sepertinya malam ini Tuan sudah mendapatkan pengganti saya ?" Ucapnya lagi masih dengan raut wajah menggoda.
"Saya akan hubungi kamu nanti."
Setelah kalimat singkat itu, panggilan video pun berakhir. Langkah awal berjalan mulus, walau sepertinya malam ini ia masih belum bisa melancarkan aksinya.
Briana kembali memasukkan ponsel rahasianya itu ke dalam tas, lalu melangkah masuk kedalam kamar. Hari ini cukup melelahkan, dan ia butuh istirahat.
Gaun berwarna merah menyala yang tadi membalut tubuhnya, sudah berganti dengan bathrobe putih tebal yang sudah tersedia di dalam kamar mandi mewah yang ada di dalam kamar tidurnya. Sejenak Briana mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar mandi yang terlihat begitu mewah.
"Maafkan aku." Gumamnya lirih, kemudian melangkah keluar dari dalam kamar mandi itu.
Saat memasuki kamar tidurnya, Briana melangkah cepat menuju meja rias, lalu memeriksa benda yang sedang bergetar di dalam tas nya.
"Si brengsek." Gumamnya lalu segera mengusap ikon hijau yang ada di layar ponselnya itu.
"Kamu siapa ?" Tanya laki-laki yang kini kembali terlihat di layar ponsel Briana.
Briana tersenyum manis.
"Aku Briana. Klien saya memberikan nomor ponsel Tuan, katanya Tuan butuh teman wanita." Jawabnya manja.
Dion terdiam.
Senyum yang sejak tadi belum pergi dari wajah Briana, semakin mengembang indah. Sepertinya keadaan memang mulai berpihak, dan memberinya waktu untuk memulai misi ini dengan baik.
"Katakan di mana Tuan sekarang, aku akan datang ke sana." Ujar Briana. Wanita itu lantas mengakhiri panggilan saat alamat yang di ucapkan oleh Dion masih sama dengan hotel yang ia datang malam ini.
Tanpa berpikir panjang, Briana segera bersiap untuk kembali ke hotel di mana Dion berada. Dengan cepat ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi, sambil berdoa di dalam hati, berharap gaun yang ia kenakan tadi masih bisa di gunakan kembali.
Sambil merutuki dirinya sendiri, Briana mengangkat gaun berwarna merah itu dari atas lantai kamar mandi. Ingin memaki, tapi aada siapa. Yah, dia ingin memaki dirinya sendiri yang begitu teledor.
Dengan kesal Briana keluar dari dalam kamar mandi itu menuju kamar untuk melihat apakah ada yang bisa ia kenakan di dalam kamar itu. Ini kesempatan, dan baginya satu kesempatan tidak boleh di lewatkan walau sekecil pun.
"Ya Tuhan." Briana terperanjat saat melihat isi lemari yang ada di dalam kamar itu. "Kapan dia menyiapkan semua ini ?" Lirih Briana bertanya.
Rasa bersalah tiba-tiba muncul begitu saja dari dalam hatinya. Setelah menarik nafasnya dalam-dalam, Briana segera mengambil satu buah dress selutut yang ada di dalam lemari itu, dan segera mengenakkannya kemudian melangkah keluar dari dalam apartemen.
Misi balas dendam nya jauh lebih penting dari pada perasaannya saat ini.
****
Di dalam kamar hotel yang seharusnya menjadi malam pengantin bagi kedua mempelai, nampak begitu dingin. Suasana mencekam datang menyapa Risa, saat Dion meninggalkan kamar itu dengan kesal. Wanita yang sudah mengenakan lingerie hanya bisa duduk terdiam di atas ranjang.
Setelah beberapa saat terdiam di atas ranjang, Risa membawa tubuhnya masuk ke dalam selimut. Jika sedang marah, dia memang selalu membiarkan Dion sendirian dulu. Nanti setelah beberapa jam, Dion pasti akan kembali datang dan membujuknya.
Di hotel yang sama, tapi di lantai paling bawah Briana memasuki lobi.