Briana

Briana
Bab 39. Ketakutan



Sebelum menghilang masuk ke dalam lobi apartemen, Briana kembali membalik tubuhnya lalu melambaikan tangan pada mobil yang baru saja mengantarnya pulang. Senyum manis terlihat begitu merekah, menampilkan deretan giginya yang putih hingga semakin menambah kecantikannya malam ini.


"Aku pulang.." Teriak gama dari dalam mobil.


Briana mengangguk, sembari terus melambaikan tangan pada mobil yang sudah pergi meninggalkan pelataran apartemen tempat ia tinggal.


Karena mobil milik Gama tidak lagi terlihat di sana, Briana kembali membalik tubuhnya lalu masuk ke dalam gedung apartemen.


"Selamat Malam, Pak." Sapa Briana pada petugas keamanan yang sedang berjaga di depan pintu masuk gedung apartemen.


"Selamat malam, Nona." Jawab petugas tersebut, ramah.


Masih dengan senyum yang belum menghilang dari bibirnya, Briana terus melangkah kan kaki dan masuk ke dalam lift menuju apartemennya.


Hatinya sudah baik-baik saja saat ini. Yah, salah satu cara untuk membuat hidup kita baik-baik saja adalah berdamai dengan semua keadaan yang ada. Toh, saat ini Tuhan masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki semua yang ada. Jadi, tidak ada alasan baginya untuk tidak baik-baik saja.


Gama, dan seluruh keluarga lelaki yang mencintainya itu, sudah memberinya dukungan penuh, agar kedepannya bisa menjalani hidup dengan baik.


Kita tidak bisa mengabaikan kesempatan yang sedang Tuhan berikan bukan ? Anggap saja dirinya lemah, namun, biarlah semuanya memang harus seperti ini. Hidup tidak akan tenang, jika kita terlalu berlarut dalam dendam. Karena sampai kapan pun, kita tidak akan bisa mengendalikan orang lain berbuat tidak baik terhadap diri kita.


Kotak besi yang membawa Briana menuju lantai 23 telah berhenti, di tandai dengan bunyi dentingan juga pintu lift yang sudah terbuka lebar. Tepat saat Briana hendak melangkah keluar dari dalam kotak besi itu, langkah kakinya seketika terhenti kala mendapati seseorang yang tidak ingin lagi ia temui, sudah berdiri tepat di hadapannya.


Jantung Briana berdetak dengan begitu cepat, hingga rasanya organ tubuh yang paling penting bagi kelangsungan hidup itu, ingin melompat keluar dari tempatnya.


"Malam, Dion." Jawab Briana berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


Dion mengerutkan keningnya. Menatap penuh kebingungan pada wanita yang mulai memenuhi pikirannya ini.


"Kok masih di situ ? Kamu ga akan keluar dari sana ?" Tanya Dion.


Briana tersenyum lalu melangkah keluar dari dalam lift.


"Aku terkejut, tiba-tiba melihat mu sudah berada di sini. Memang sengaja ingin menemuiku ? Ataukah ada orang lain yang ingin kamu temui di tempat ini ?" Briana melangkah perlahan, sambil memasukkan tangannya ke dalam tas kecil yang melingkar di bahunya, lalu menekan layar ponsel yang ada di dalam tas tersebut.


"Aku ingin menemui mu, sejak kamu pergi dari perusahaan siang tadi. Aku terus saja menghubungi mu, tapi tidak bisa." Jawab Dion jujur.


Briana kembali tersenyum, kemudian mengangguk mengerti.


"Dari mana kamu tahu tempat tinggalku ?" Tanyanya.


"Aku melacak GPS di mana kamu menghubungiku semalam, dan pagi ini. Ternyata kamu berada di tempat yang sama, yaitu di apartemen ini. Maaf sudah lancang." Jawab Dion tulus.


Briana meremas ponselnya sebentar, berharap apa yang dia lakukan di dalam tas nya itu membuahkan hasil. Sungguh, ia begitu takut dengan keadaannya saat ini. Karena terlalu banyak menerima perbuatan tidak menyenangkan dari orang-orang terdekat, membuat Briana trauma, meskipun wajah Dion terlihat begitu tulus ingin dekat dengan dirinya.