Briana

Briana
Bab 16. Sahabat ( Sasa Dan Rendi )



"Aku masih mencintaimu, Ana." Ucap Gama dengan tatapan memohon. "Bisakah kamu tidak lagi melanjutkan acara balas dendam mu ini ?" Sambungnya masih dengan wajah memohon.


"Kamu mau aku bahagia kan ?" Briana menatap wajah tampan itu dengan mata berkaca. Wajah yang dulu selalu menatapnya hangat, masih terlihat sama hingga kini. Wajah tampan yang selalu saja menatpnya khawatir dulu, masih ia dapati kini.


"Tentu saja, Ana. Aku ga peduli dengn apapun, aku hanya mau kamu." Jawab Gama.


Briana mendorong tubuh Gama, lalu bangkit dan duduk di atas ranjang kecil itu. Gama pun melakukan hal yang sama. Ia perlahan bangkit dari ranjang kecil itu, lalu duduk di samping Briana.


"Lalu kenapa baru datang sekarang ? Kenapa pergi dan meninggalkan aku sendirian di sini ? Aku lupa segalanya, Gama. Bahkan keluarga mu tidak memberitahu apapun tentang siapa diriku." Lirih Briana.


Gama terdiam, kalimat yang ingin meluncur keluar dari mulutnya, kembali tertahan di tenggorokan.


"Ingin menebus segalanya ? Ingin mengajak aku kembali seperti dulu ?" Tanya Briana lagi. Kini ia sudah menatap lekat laki-laki yang sedang menatapnya penuh rasa bersalah.


"Apa yang harus aku lakukan ?" Tanya Gama.


"Bantu aku membalaskan semuanya, dan mengambil hak ku. Bukan hanya aku yang mereka siksa Gama, tapi Papa Alvian juga. Tante Mara dan si brengsek Dion itu merencanakan kecelakaan yang membuat Papa Alvian meninggalkan aku. Mereka membuat satu-satunya laki-laki yang menyayangiku pergi dengan cara yang mengenaskan." Ujar Briana.


"Tapi sesuai dengan arahan ku. Jangan melibatkan mu dalam kobaran api. Aku ga mau kamu ikut terbakar bersama mereka." Bujuk Gama.


Briana mengangguk..


"Tapi aku ingin menghancurkn mereka dengan tangan ku sendiri." Ucapnya pelan.


"Tapi ngomong-ngomong, cantikan kamu yang dulu." Ujar Gama lagi. Laki-laki itu lalu tertawa kencang, Briana pun ikut tersenyum karena mendengar tawa lepas Gama.


"Aku rindu. Aku rindu di gangguin Rendi di sekolahan terus kamu belain. Aku rindu naik motor di jalanan Bali." Ucap Briana.


Gama menghentikan tawa nya, lalu membawa tubuh Briana ke dalam pelukannya. Ia memeluk tubuh yang begitu ia rindukan bertahun-tahun lamanya itu, dengan begitu erat.


"Secepatnya kita akan selesaikan urusan ini, dan mari kita berjalan-jalan di jalanan Bali." Ujarnya masih sambil memeluk tubuh Briana.


"Hargai yang punya klinik dong !" Kesal Randi dari ambang pintu ruangan, membuat dua orang yang sedang berpelukan di dalam ruangan itu segera mengurai pelukan mereka.


"Sasa..." Briana segera beranjak dari atas ranjang, lalu melangkah mendekati wanita cantik dengan rambut sebahu yang kini sedang berdiri di ambang pintu ruangan tempat ia berada.


"Ngapain Nyonya Atmaja berada di sini ?" Sasa terisak dalam pelukan sahabatnya. "Ya Tuhan.. apa yang terjadi dengan mu ?" Lirih Sasa lagi sambil mengusap lembut pipi Briana setelah pelukan keduanya terlepas.


Briana melirik Rendi, lalu berpindah pada Gama yang masih berada di dalam ruangan itu.


"Briana mengalami kecelakaan mobil, wajahnya rusak parah, Sayang, jadi aku pakai buat uji coba.. aduuhhh." Penjelasan Rendi terhenti saat tangan istri kesayangannya mendarat dengan angkuh di kepalanya.


"Kamu pakai wajah sahabat ku sebagai kelinci percobaan ? Untung aja hasilnya tetap cantik, kalau ga habis kamu." Sasa menatap tajam wajah Rendi yang terlihat masih meringis karena menahan sakit.