
Setelah menghabiskan beberapa puluh menit waktu di dalam kamar sang ibu, hingga membuat salah satu petugas kepolisian terpaksa harus mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat itu, Dion akhirnya bersedia di bawa ke kantor pihak berwajib guna untuk di mintai keterangan atas laporan yang mereka terima hari ini. Lelaki yang terlihat sudah bersiap dengan stelan formalnya itu, tidak menolak ajakan dari para anggota kepolisian. Ia dengan patuh, ikut menaiki mobil polisi dan pergi dari rumah sang ibu. Bukan karena ia rela mempertanggung jawabkan semua yang terjadi, seorang diri. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain, karena salah satu wanita yang harus terseret bersamanya sudah pergi entah ke mana. Dan semua yang ia lakukan hari ini, semata-mata ingin menjauhkan sang ibu dari jeratan hukum.
Dalam perjalanan menuju kantor kepolisian, Dion masih menutup mulutnya rapat-rapat. Pikirannya terus berkelana menjelajahi waktu yang sudah ia lewati beberapa tahun ini. Jika saja, dua kata ini masih terus menari-nari di benaknya, nyaris membuat gila. Yah, jika saja saat itu ia menerima dengan senang hati keputusan sang Ayah dan mulai belajar menerima Briana sebagai seorang istri, mungkin saat ini dirinya akan baik-baik saja. Seandainya ia tidak tamak dan hanya ingin menikmati kekayaan keluarga Atmaja seorang diri, mungkin saat ini ia sedang bahagia karena mulai menyadari jika dirinya pun mencintai Briana.
Namun, semua telah terjadi. Kenyataannya ia memilih langkah yang salah. Mengabaikan Briana, juga menjadi orang yang tamak dan tak pandai bersyukur.
Waktu terus berlalu, kepadatan jalanan Jakarta di waktu seperti ini tak terasa sudah terlewati. Kini mobil dengan sirene yang membawanya, sudah terparkir di pelataran sebuah gedung yang tidak ingin di kunjungi oleh orang-orang. Kenapa ? Karena kebanyakan orang yang datang ke tempat ini, pasti karena sebuah masalah.
"Mari, Pak." Ajak salah satu petugas kepolisian yang berada di dalam mobil yang sama dengan Dion.
Saat memasuki ruangan interogasi, Dion masih nampak terlihat begitu tenang. Para petugas yang ada di san tidak kesulitan untuk mendapatkan pengakuan darinya mengenai laporan yang mereka terima hari ini. Bedanya, Dion bersikeras mengatakan jika sang Ibu tidak ada hubungannya dengan hal ini. Ia siap menerima tuntutan hukum tanpa pembelaan, asalkan pihak penuntut tidak akan melibatkan ibunya dalam kasus ini.
Yah, ia sudah memutuskan hal ini sejak ia bertemu Briana beberapa hari yang lalu hingga berakhir mengenaskan di dalam apartemen semalam. Ia yakin pertemuannya dengan gadis yang memiliki nama yang sama dengan mendiang istrinya itu, bukanlah suatu kebetulan. Akan tetapi memang sengaja di kirim oleh seseorang untuk mencari kebenaran atas apa yang sudah terjadi.
Semua akan terkuak pada waktunya. Yah, sebuah kejahatan bagaikan bom waktu yang bisa kapan saja meledak. Untuk itu, sebelum bom waktu itu meledak dengan sendirinya dan ikut membunuh orang yang ada di sekitarnya, akan lebih baik ia memilih untuk membawa bom itu sendiri.
Setelah interogasi yang cukup panjang, Dion akhirnya di bawa oleh petugas untuk keluar dari ruangan itu. Sebelum ia di bawa ke ruang tahanan, petugas tersebut membawanya ke ruangan lain terlebih dahulu, karena ada seseorang yang ingin bertemu.