
Jika di dalam mobil Dion yang sedang melaju di jalanan, begitu sepi dan dingin. Berbeda dengan mobil Gama yang juga sedang melaju di jalanan. Canda tawa masih terus terdengar di dalam mobil itu. Senyum manis Briana, juga tatapan hangat penuh cinta yang terus terlihat di mata Gama, semakin membuat keadaan di dalam mobil itu menghangat. Tidak ada lagi wajah datar dan dingin seperti dua bulan yang lalu. Dan tidak ada pula senyum getir, juga wajah penuh sesal serta kata maaf yang sering terucap dari bibir Gama sejak bertemu Briana dua bulan yang lalu. Semua sudah jauh lebih baik dari hari-hari yang pernah mereka lalui.
"Aku ngga akan lari, fokus sana. Aku ngga mau kecelakaan lagi." Ucap Briana saat tangannya yang ada di atas paha, di genggam dengan begitu erat.
"Janji ya, kamu ngga akan pernah pergi lagi." Ucap Gama.
Briana tersenyum, kemudian mengangguk. Yah, selama ini ia tidak pernah sekalipun pergi, namun, orang-orang terdekatnya lah yang selalu pergi meninggalkan dirinya sendirian.
"Janji juga kamu ga akan pernah pergi. Apapun yang terjadi, tetaplah di sampingku. Tetaplah genggam tanganku seperti ini." Briana menatap tangannya yang sedang di genggam dengan begitu erat oleh Gama.
Gama diam, ia menyesal telah mengikuti arahan keluarganya beberapa tahun yang lalu. Seharusnya ia tetap di sini, dan melindungi Briana dengan tangannya sendiri.
"Kamu tahu Gama, aku bersyukur Tuhan mengirimkan seseorang sepertimu di tengah nestapa yang ku jalani. Saat itu, aku hanya takut ikut menyeret dirimu dalam neraka yang setiap hari menemani hidupku di Bali." Ucap Briana pelan, namun, masih bisa di dengar dengan jelas oleh Gama. Yah, satu-satunya hal yang paling ia syukuri dulu adalah, Tuhan mempertemukan dirinya dengan orang sebaik Gama.
Gama melepaskan genggamannya di tangan Briana, lalu mengusap puncak kepala wanita yang ia cintai itu dengan lembut.
"Ada banyak hal yang aku syukuri Briana, termasuk jatuh cinta pada mu." Ucap Gama.
Briana menoleh, lalu tertawa keras mendengar kata jatuh cinta.
"Sejak kapan sih ? Ngga mungkin kamu jatuh cinta pada gadis yang selalu tertunduk di sekolah." Briana mendekatkan wajahnya dengan wajah Bama.
"Iya, aku jatuh cinta padanya." Jawab Gama, lalu dengan cepat mengecup bibir yang hanya berjarak begitu dekat dengan wajahnya.
"Dasar pebinor !" Ucap Briana setelah menjauhkan tubuhnya dari Gama dan kembali duduk dengan baik di kursinya.
"Pebinor ? Apa itu ?" Tanya Gama.
"Perebut bini orang." Jawab Briana.
Gama tertawa lepas. Kata-kata dari mana itu, sungguh sangat tidak keren.
Mobil terus melaju di jalanan. Canda dan tawa masih terus mengisi mobil mewah itu. Senyum di wajah cantik Briana seakan enggan pergi, karena lelucon yang terus terucap dari bibir Gama.
Kata bahagia itu sederhana memang benar adanya. Hanya dengan bercanda gurau di dalam mobil seperti ini, sudah begitu membahagiakan.
"Aku nginap ya ?" Ucap Gama saat mobil yang ia kendarai sudah berhenti di depan gedung apartemen, membuat wajah Briana segera berubah menjadi garang. "Malam ini aja, ya ?" Bujuk Gama lagi dengan wajah mesum nya.
"Ga, pulang sana !" Perintah Briana lalu melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuh mungilnya.
"Ayolah aku mau tidur sambil memeluk mu." Pinta Gama lagi, lalu mengedipkan matanya berulang kali.
Briana tertawa melihat tingkah Gama.
"Nikahi aku dulu !" Ujar Briana lalu segera keluar dari dalam mobil mewah itu dan melangkah masuk ke dalam apartemen.