
"Apa ada yang bisa Paman bantu, Nak ?" Tanya Bagas pada lelaki muda yang masih diam di hadapannya.
"Sejujurnya ini sebuah permohonan, Paman." Kevin terdiam sejenak. Ia tahu, sesuatu yang ia lakukan hari ini sudah melewati batas meskipun mereka masih memiliki ikatan keluarga.
"Katakanlah." Ucap Bagas.
"Bisakah Paman membatalkan perjodohan antara Clara dan Gama ?" Ucap Kevin tak enak.
Bagas terdiam sebentar, lalu tersenyum hangat pada laki-laki muda yang tidak lain adalah suami dari keponakannya.
"Kami tidak pernah memaksakan perjodohan itu. Hanya sebuah harapan sebagai orang tua yang ingin memberikan pasangan terbaik untuk anaknya. Keluarga kita sudah lama saling mengenal, Kevin. Untuk itu paman akan lebih tenang dan percaya, jika laki-laki yang akan menjaga Clara nanti, adalah laki-laki sebaik Gama." Jawab Bagas dengan raut wajah yang begitu tenang.
"Gama akan menikah." Ucap Kevin.
Bagas mengangguk.
"Om Gerry dan Aunty Key sudah mengabari kami tentang hal itu Mereka sudah menjelaskan tentang semua yang terjadi di masa lalu, jangan terlalu khawatir. Lagi pula, Clara pun tidak keberatan jika kami membatalkan perjodohan itu. Jadi tidak ada yang perlu di pikirkan." Ucap Rachel menimpali.
Kevin bernafas lega. Ia berpikir permasalahan ini akan semakin kompleks. Dan kini ia tahu jika dirinya berada di tengah keluarga yang memiliki pemikiran terbuka terhadap apapun, dan tidak ingin mempersulit keadaan.
"Tidak masalah, Kevin. Tante tahu kok kamu hanya ingin melihat Gama bahagia. Lagi pula Tante tidak akan pernah mengizinkan Clara memaksakan diri untuk menikah dengan laki-laki yang mencintai wanita lain" Ujar Rachel kembali menimpali pembicaraan Kevin dengan suaminya. "Jangan lupa untuk memberitahu kami kapan hari bahagia Gama di gelar." Sambungnya.
"Tentu, Tante. Terimakasih banyak untuk pengertiannya." Ucap Kevin. Setelah beberapa saat berbincang di ruang tamu mewah kediaman Bagas, ia lalu berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya menuju perusahaan.
Sepasang suami istri itu lantas mengantar keponakan mereka hingga ke depan pintu utama.
"Ada apa ?" Tanya Bagas lagi saat melihat Kevin yang mengurungkan niat untuk berlalu dari kediamannya, dan justru kembali menutup pintu mobil yang hendak ia masuki, dan melangkah mendekat ke arahnya.
"Tolong pecat istri ku dari rumah sakit Paman." Ucap Kevin memohon, sontak membuat Bagas tehenyak. Tidak hanya kali ini ia mendengar permintaan untuk di pecat, keponakannya sudah sering kali memohon agar dirinya bisa berhenti dari rumah sakit. Namun, ini pertama kalinya ia mendengarnya dari Kevin.
"Kami masih belum menemukan orang yang pantas untuk menggantikan Flora di rumah sakit." Jawab Bagas.
"Sama, Paman. Tidak ada juga yang benar-benar bisa menggantikan Flora di rumah. Aku benar-benar tidak bis menemukan wanita yang pantas untuk menjadi istri dan juga ibu dari anak-anak ku." Jawab Kevin sedikit kesal.
"Sebentar lagi." Ucap Bagas. "Leon meminta waktu untuk dia menyelesaikan seluruh tanggung jawabnya yang belum selesai di ruangannya saat ini, barulah ia akan memikirkan untuk menggantikan Flora." Sambungnya memberi penjelasan.
Meskipun masih belum puas dengan pembicaraan mengenai pemecatan istrinya, Kevin tidak lagi memaksakan apapun. Ia mengerti, tanggung jawab Flora di rumah sakit bukan hanya sebagai seorang pimpinan untuk seluruh pegawai rumah sakit, tetapi juga sebagai dokter untuk pasien yang ada di rumah sakit itu.