
"Kamu tidak ingin mengundangku ?" Tanya Dion saat melihat Briana yang terlihat ragu-ragu untuk mengajaknya masuk ke dalam apartemen. Sejak tadi, gadis yang berstatus sebagai wanita panggilan itu sudah berdiri di depan pintu salah satu unti apartemen, namun, terlihat enggan untuk membuka pintu dan memintanya masuk ke dalam.
"Sejujurnya aku tidak pernah mengajak klien ku untuk datang ke tempat peristirahatan ku." Jawab Briana.
"Apa hari ini kamu lelah ?" Tanya Dion.
Briana mengangguk. Yah, dia terlalu lelah berpura-pura jadi orang lain di depan Dion. Ingin sekali ia berteriak tentang siapa dirinya, dan menanyakan mengapa Dion tega melakukan semua ini terhadap dirinya.
"Bisakah kamu berhenti menjadi wanita dari Gamaliel Sanjaya, dan hanya menyiapkan waktu mu untuk ku ? Aku akan memberikan apapun yang kamu mau, Briana." Ujar Dion sambil menyentuh rambut panjang Briana dengan hati-hati.
Briana terkejut. apakah Dion sudah mengetahui siapa dirinya ?
"Aku melihat pewaris dari SN itu datang dan menjemputmu di perusahaan siang tadi." Sambung Dion.
"Itu adalah pekerjaan ku, Dion. Sudah ku katakan bukan, tidak ada yang spesial bagiku. Semua laki-laki memang hanya ingin di manjakan, dan aku mendapatkan bayaran. Itu saja tidak lebih." Jawab Briana. Dion mengetahui hubungannya dengan Gama, tapi bukan hubungan yang sebenarnya, dan itu membuatnya lega.
"Briana, aku ingin menebus semua kesalahan ku dengan cara membawamu pada kehidupan yang lebih baik." Ucap dion lagi dengan wajah penuh permohonan.
"Tidak akan ada yang berubah, Dion. Bahkan mungkin semuanya akan semakin memburuk. Aku tidak ingin berurusan lebih jauh dengan istrimu. Kita tidak akan tahu seberapa nekat dia nanti, saat mengetahui suami yang dia cintai memiliki wanita lain." Tolak Briana.
"Briana...
"Aku bukan Briana yang sama dengan istrimu. Aku adalah wanita yang berbeda, Dion. Sekuat apapun kamu ingin membahagiakan ku, tidak akan pernah merubah apa yang sudah terjadi dengan mendiang istrimu di masa lalu. Satu-satunya jalan adalah, jujurlah dan pertanggung jawabkan semua yang sudah kamu lakukan di masa lalu. Mungkin itu sedikit membuat mendiang istrimu merasa tenang di sana." Sela Briana panjang lebar, membuat Dion terdiam tanpa kata. "Pulanglah, aku sungguh lelah dan ingin beristirahat. Putra dari pemilik SN benar-benar memberiku uang yang banyak, tetapi menguras semua tenagaku hari ini." Sambungnya terkekeh.
"Aku cemburu." Ucap Dion.
"Kita bukan siapa-siapa, Dion. Jangan sampai kamu lupakan itu. Tidak ada hubungan spesial di antara kita, hanya sebatas pelanggan dan pemberi jasa." Jawab Briana.
"Aku akan menceraikan Risa, dan menikahimu." Ucap Dion lagi.
"Aku seorang pelacur, Dion." Ujar Briana mulai kesal.
"Dan aku tidak perduli akan hal itu, Briana." Tegas Dion dengan wajah serius. "Aku memohon. Ayo hidup normal bersamaku, ya." Bujuknya.
Briana menggeleng tegas.
"Aku adalah wanita bebas, dan tidak pernah sekalipun terlintas di pikiranku untuk menjadi seorang istri." Jawab Briana dingin. "Pulanglah, dan minta maaf pada kedua istri mu yang sudah kamu sia-siakan." Sambungnya dengan wajah yang datar.
"Di mana aku bisa menghubungimu jika membutuhkan jasa ?" Tanya Dion mengalah.
"Jangan datang ke apartemen ku. Jika aku tidak bisa di hubungi, itu berarti aku sedang melayani pelanggan lain." Jawab Briana.
Dion menatap Briana dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
"Aku tidak membutuhkan rasa kasihan, Dion. Kamu tidak tahu bagaimana nikmatnya menjadi seorang wanita penghibur, hanya bekerja di atas ranjang, tetapi uangnya lancar." Ucap Briana. "Pulanglah, aku mau istirahat." Sambung Briana lalu melangkah semakin dekat dengan pintu apartemen miliknya dan mulai menekan beberapa digit angka di pintu apartemen tersebut.
"Apa yang kamu lakukan ?" Briana terperanjat saat tubuh kecilnya di dorong dengan begitu keras masuk ke dalam apartemen.