Briana

Briana
Bab 24. Lamaran ?



"Ana...


"Ana mu sudah mati, Gama. Dia sudah mati saat kamu meninggalkannya sendirian tanpa mengetahui siapa dirinya sendiri selama bertahun-tahun lamanya. Jangan memanggil ku dengan nama itu lagi."


Masih dengan wajah datar tanpa ekspresi, Briana memasang sabuk pengaman di tubuhnya.


"Ayo antar aku pulang." Pintanya lagi.


Gama menarik nafasnya dalam-dalam. Rasa kesal bercampur sesal, seakan menggerogoti hati nya kala mendengar kalimat panjang yang begitu menyesakkan keluar dari bibir Briana beberapa saat yang lalu. Begitu banyak keinginannya untuk mendekap tubuh yang terlihat begitu kurus di sampingnya, namun, ia tidak memiliki banyak keberanian untuk melakukan hal itu.


"Maafkan aku karena pergi dan meninggalkan kamu sendirian." Lirihnya sambil menatap sendu wajah cantik Briana.


"Kamu mau anatar aku kan ? Kalau ngga aku bisa pakai taksi." Ujar Briana masih belum menanggapi permohonan maaf yang entah sudah berapa kali terdengar di telinganya.


"Iya aku antar." Jawab Gama mengalah.


Briana memalingkan wajah, menatap keluar jendela mobil yang mulai melaju meninggalkan pelataran hotel. Seutas senyum samar terlihat di bibir tipisnya saat melihat Gama yang terlihat begitu kesal dengan sikapnya, namun, tetap menuruti semua keinginannya.


"Hari ini Papa memanggilku ke rumah. SG Group punya saham yang lumayan di Atmaja Corporation. Kamu bisa menggunakan saham milik kami untuk menerobos masuk ke dewan direksi perusahaan Om Alfin." Gama menjelaskan perihal kedatangannya ke apartemen malam ini. Namun, ia begitu kesal karena mendapati Briana sudah tidak lagi berada di sana.


Gama bergumam kesal.


"Bisa ngga kamu tuh dengarin dulu penjelasan aku. Itu Briana yang dulu, bukan yang sekarang." Sungutnya kesal.


Briana masih menunggu laki-laki yang terus bergumam entah apa di sampingnya, untuk menjelaskan.


"Mau jelasin nggak ?" Briana melipat tangannya di dada.


"Jadi gini, Papa dan Mama nyaranin aku buat nikahin kamu. Dan saham yang ada di Atmaja Corporation semuanya akan jadi milik kamu. Dengan begitu kamu bisa masuk ke dalam perusahaan itu tanpa harus menjadikan dirimu sebagai umpan untuk si brengsek itu." Jelas Gama.


"Bohong !" Ujar Briana tertawa sumbang. "Lalu gadis kecil imut bernama Clara, mau kamu taruh di mana, hm ? Gadis pilihan orang tua mu itu, jauh lebih baik dari aku, dan sangat mustahil jika Papa dan Mama kamu memiliki pemikiran konyol ini." Usai mengutarakan kalimat yang membuatnya tidak nyaman, Briana kembali menoleh keluar jendela mobil yang terus melaju di jalanan kota Jakarta. Jalanan yang nampak mulai terlihat sunyi itu, ia pandangi dengan netra indahnya.


Gama pun terdiam. Kalimat panjang lebar yang baru saja meluncur dari bibir Briana memanglah benar adanya. Tapi, ia dan Clara sama-sama memiliki orang yang mereka cintai. Dan mereka pun sepakat untuk tidak terikat dengan perjodohan. Mengikuti kemana takdir akan membawa kisah mereka.


"Baik orang tua ku, atau orang tua Clara sama-sama tidak pernah memaksakan perjodohan itu, Briana. Aku dan Clara sama-sama memiliki orang yang kami cintai. Aku mencintai mu sejak lama, dan Clara tahu akan hal itu. Apa dengan ini masih belum bisa meyakinkan kan kamu untuk menyetujui hal ini ?" Gama memohon.


"Kenapa kamu baru datang sekarang ?" Briana bertanya, mengabaikan kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Gama. Namun, tatapannya masih terus menikmati kerlap-kerlip lampu malam yang menghiasi pinggiran jalan kota Jakarta.