
Salah satu rumah sakit terbaik di Jakarta nampak terlihat begitu ramai. Lalu lalang para petugas medis dan para keluarga pasien yang mempercayakan sanak saudara mereka di rawat di rumah sakit itu, terlihat memenuhi lobi rumah sakit. Di pintu masuk lobi rumah sakit terlihat Clara mengedarkan pandangannya seakan mencari seseorang yang ada di rumah sakit itu.
"Kak.. " Teriak Clara sambil melambaikan tangannya. Di ujung sana Leon tersenyum, lalu melangkah cepat mendekati adik kesayangannya.
"Jangan teriak-teriak, ini rumah sakit." Ujar Leon.
Clara hanya tersenyum manis seperti biasanya.
"Ayo." Ajak Leon sambil menarik tangan adiknya keluar dari rumah sakit menuju restoran andalan mereka.
Masih dengan senyum di bibir tipisnya, Clara mengikuti langkah kaki Dion menuju mobil kemudian berlalu dari pelataran rumah sakit milik keluarganya itu.
"Kak Leon mau makan apa?" Tanya Clara.
"Apa saja yang penting bisa mengganjal perut." Jawab Leon sambil terus berkonsentrasi dengan kemudi yang ada di tangannya.
Clara mengangguk. Ia sudah tahu apa jawaban yang akan di ucapkan Leon atas pertanyaannya, namun, entah mengapa dia ingin sekali bertanya hal-hal seperti ini pada laki-laki yang sudah ia kagumi selama beberapa tahun ini.
"Kak Leon ga mau tanya apa aku sedih atau tidak karena di tinggal nikah?" Tanya Clara dengan wajah yang di buat sesedih mungkin.
"Bukannya kata mu kamu tidak mencintainya? Jadi untuk apa bersedih?" Leon balik bertanya.
Beberapa saya kemudian, mobil yang ia kendarai sudah berhenti di pelataran restoran yang selalu menjadi andalan mereka berdua.
"Sedih lah Kak. Kak Gama itu kan harusnya nikah sama aku bukan dengan orang lain." Protes Clara sambil melirik wajah tampan nan dingin yang baru saja berlalu dari hadapannya. "Dasar gunung es." Rutuk nya bergumam agar tidak terdengar oleh laki-laki yang baru saja berlalu masuk ke dalam restoran.
"Apa aja, yang penting bisa mengganjal perut." Jawab Clara malas. Leon tersenyum sebentar, kemudian mengusap lembut puncak kepala Clara.
Setelah pelayan restoran tiba di meja mereka, Leon mulai mengatakan menu yang akan ia santap bersama Clara siang ini. Lelaki tampan itu seakan sudah sangat hafal dengan menu yang di sukai oleh adiknya.
"Kak Leon.." Panggil Clara setelah pelayan restoran itu berlalu dari meja mereka.
"Hmm.. Ada apa?" Tanya Leon.
"Apa Kakak tidak berniat untuk menikah?" Tanya Clara pelan.
Leon yang hendak memeriksa ponselnya yang baru saja bergetar dari saku celana berbahan kain yang ia kenalan, kembali mengurungkan niatnya lalu menatap wajah adiknya dengan lekat. Beberapa saat kemudian ia menggeleng.
"Masih banyak hal yang ingin aku wujudkan, terutama ingin membuat Papa dan Mama bangga." Jawab Leon.
"Jika suatu saat ada seorang gadis yang datang meminta Kakak untuk menikahinya, apa Kakak mau melakukannya?" Tanya Clara lagi.
"Ya enggak lah, aku kan tidak berkewajiban untuk menikah dengan siapa pun karena memang aku belum ingin menjalin hubungan apapun dengan siapa pun." Jawab Leon tegas.
"Ish,, inikan seandainya. Bisa ngga sih ga usah dingin kayak es balok gitu." Ujar Clara cemberut.
Leon tertawa lalu mengusap lembut puncak kepala adiknya itu.
"Jangan ngomong mulu, makan dulu." Perintahnya sambil membantu pelayan restoran untuk menghidangkan makanan di atas meja mereka.