
Jika di dalam kamar di sebuah rumah mewah milik keluarga Atmaja, tengah di landa keresahan, berbeda dengan keadaan di salam kamar yang ada di sebuah apartemen mewah. Gama terus mengikuti langkah kaki Briana sembari memohon agar di izinkan untuk tetap tinggal malam ini.
"Aku takut lelaki brengsek itu akan kembali datang mengganggumu jika aku membiarkan kamu sendirian di sini." Ujar Gama. Lelaki itu duduk di atas meja rias di mana Briana sedang mengaplikasikan beberapa produk kecantikan di wajah cantiknya.
Briana tidak menanggapi. Setelah menyelesaikan kegiatannya, gadis itu beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah menuju ranjang.
"Aku boleh nginap ya ?" Tanya Gama lagi.
"Pulang Gama, aku mau istirahat." Usir Briana, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Ini apartemen ku ya.." Ucap Gama masih belum terima karena Briana terus saja mengusirnya.
"Kamu sudah memberikannya padaku, jika kamu lupa." Briana menjawab tak mau kalah, tubuhnya sudah berada di atas ranjang sambil membelakangi Gama yang masih berdiri di samping ranjang tempat dirinya berada. "Kamu sudah gila. Pulang, Gama !" Sambungnya kesal karena lelaki yang tadinya sedang berdiri di samping ranjang, kini sudah memeluk tubuhnya dengan erat.
"Nggak. Salah kamu sendiri masih banyak urusan dan menunda pernikahan kita." Jawab Gama masih terus melingkarkan tangannya di tubuh mungil Briana.
Briana hanya tersenyum dengan tingkah laki-laki yang kini mendekap hangat tubuhnya. Ia sudah membiarkan Gama untuk tinggal malam ini, karena sejak dulu laki-laki kepala batu ini memang tidak akan pernah mengalah dengan siapa pun. Kecupan hangat di kepala membuat Briana terdiam. Hangat, yah hangat hingga menembus relung hati terdalamnya. Malam-malam dingin ketika Dion selalu mengabaikan keberadaannya, kini berganti malam yang hangat.
"Aku bahagia, Gama." Ucapnya pelan.
Gama tidak menanggapi, ia hanya semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Briana. Tidak ada lagi jarak di antara mereka. Kecupan hangat berulang kali ia daratkan di kepala Briana. Jangan di tanya seberapa besar rasa bahagianya saat ini. Menikmati hari bersama Briana seperti dua bulan ini, adalah hal yang paling ia inginkan dalam hidupnya.
Gama tertawa, binar di mata Briana membuatnya gemas.
"Malam ini ?" Goda Gama.
"Itu bukan nikah, tapi mesum, bodoh." Jawab Briana ikut terkekeh.
Gama ikut tertawa, lalu meraih tubuh yang ada di hadapannya dan kembali mendekapnya dengan erat.
"Aku mencintai mu." Ucapnya.
"Tidur, besok nikahi aku." Briana tersenyum sambil membenamkan wajah cantiknya di dada Gama.
Gama mengangguk patuh. Yah, mereka harus beristirahat. Ada banyak hal yang akan menanti untuk di selesaikan besok, dan itu semua membutuhkan tubuh yang kuat.
Waktu terus beranjak pergi. Hembusan yang teratur terdengar dengan begitu jelas. Gama masih terus memeluk tubuh gadis yang ia cintai hampir sepanjang usianya. Kepala gadis yang kini sudah tenang dalam lelapnya, ia kecup berulang kali seakan tidak ada lagi hari esok untuk mereka. Yah, ia tidak akan melewatkan apapun lagi, dan akhirnya membuat Briana jauh darinya.
Malam yang manis, begitulah yang di rasakan oleh Gama. Briana tertidur lelap dalam pelukannya seperti malam ini, adalah sesuatu yang sangat ia inginkan sejak dulu.
"Kita akan selalu seperti ini. Kamu akan selalu terlelap dalam pelukan nyaman ku." Gumamnya.