Briana

Briana
Bab 44. Menyusun Rencana



Setelah kepergian Dion menuju kamar tidur mereka, Risa hanya bisa duduk dengan hati yang terus berusaha menahan kekesalan. Jika ia semakin memaksa keadaan akan sama seperti dulu, akan bertambah besar pula masalah yang ada di antara dirinya dan Dion. Untuk itu, satu-satunya cara terbaik adalah, membiarkan lelaki itu melakukan apa saja yang dia inginkan. Karena kini, Dion bukan lagi laki-laki yang bisa ia andalkan seperti dulu.


Yang perlu ia lakukan sekarang adalah, mulai menyusun kembali rencana agar dirinya terbebas dari jeratan hukum. Yah, ia harus pergi dari kehidupan Dion, dan tentu saja tidak boleh melangkah pergi dengan tangan kosong. Akan seperti apa hidupnya nanti, jika dirinya akan kembali ke kehidupan mengenaskan sebelum bertemu dengan Dion dulu.


Waktu terus berjalan. Karena merasa tidak ada lagi yang perlu ia lakukan di ruangan mewah itu, Risa akhirnya beranjak lalu melangkah masuk ke dalam kamar di mana Dion berada. Dengan hati-hati, ia mendorong pintu kamar itu lalu melangkah masuk lebih dalam.


"Kamu belum tidur ?" Tanya Risa saat melihat Dion masih duduk di atas sofa yang ada di dalam kamar mereka. "Butuh bantuan ku ?" Tanya nya lagi. Kali ini ia sudah melangkah lebih dekat, lalu duduk di atas sofa di samping Dion.


Dion diam saja. Lelaki itu hanya menatap istrinya yang kembali beranjak dari atas sofa dan melangkah menuju kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Risa keluar dari dalam kamar mandi bersama dengan kotak obat di tangannya. Masih tanpa suara, ia kembali duduk di samping Dion.


"Kamu tidak ingin bertanya apa yang sudah terjadi dengan ku ?" Tanya Dion saat Risa mulai mengusap pipi dan sudut bibirnya menggunakan kain kasa.


"Apa yang terjadi ?" Tanya Risa sambil terus membersihkan bekas darah di sudut bibir Dion dengan alkohol.


"Apa menurut mu Briana sudah benar-benar meninggal ?" Tanya Dion.


Risa menghentikan tangannya sebentar, lalu menatap wajah suaminya dengan jantung yang berdegub kencang.


"Maksud kamu apa ?" Tanya Risa.


Risa masih terdiam sambil menyimak apa yang sedang di ceritakan oleh suaminya.


"Gamaliel ? Putra dari Pak Gerry Sanjaya ?" Tanya Risa saat Dion menyebutkan nama laki-laki yang memukulinya hari ini.


Dion mengangguk yakin.


"Apa Briana memiliki seorang adik yang tidak kalian ketahui ?" Tanga Risa. Karena ia melihat dengan jelas, jika gadis yang datang ke ruangan suaminya hari ini, bukanlah Briana yang mereka kenal.


"Kami tidak tahu. Mungkin adik seibu dengannya. Karena kata Ayah, ibu dari Briana adalah seorang wanita penghibur. Jadi kemungkinan Briana punya seorang adik di Bali." Jawab Dion.


"Dan gadis itu menjalin hubungan dengan Gamaliel Sanjaya." Tebak Risa. "Sialan." Makinya kesal sambil mengepalkan tangannya. Yah, SN dan HG memilih mengundurkan diri dari jajaran perusahaan yang mendukungnya, bukan tanpa sebab. Ini adalah rencana untuk membalaskan dendam atas apa yang sudah menimpa Briana.


"Apa yang harus kita lakukan, Ris ?" Tanya Dion.


Risa menoleh, menatap Dion dengan tatapan sulit di artikan.


"Tetaplah seperti hari-hari biasanya. Mereka tidak akan bisa melakukan apa-apa tanpa bukti yang kuat. Jangan terlalu khawatir." Ujar Risa berusaha menenangkan Dion. "Istirahatlah, aku akan memikirkan langkah apa yang akan kita ambil setelah ini." Ucapnya lagi.


Yah, langkah yang tepat agar dirinya tidak akan ikut terseret dengan masalah Dion dan ibu mertuanya.