
Waktu terasa cepat berlalu. Orang-orang yang sejak pagi larut dalam kebahagiaan, kini sudah kembali ke tempat masing-masing. Bahkan Flora dan Kevin juga kedua putri mereka pun memilih untuk pulang ke rumah. Kini tersisa pemilik rumah dan sepasang pengantin baru yang berada di rumah megah itu.
Pagi yang indah, juga ruangan yang penuh dengan keramaian kini berganti malam yang gulita. Hanya cahaya lampu hias yang menghiasi taman tempat berlangsungnya acara sakral tadi, terlihat dari atas balkon kamar.
Briana dan Gama sama-sama berdiri di balkon kamar itu, sambil menatap keindahan pekarangan rumah mewah peninggalan keluarga Sanjaya. Banyak hal yang mereka bicarakan malam ini. Baik itu kisah mereka di masa lalu, atau kisah yang akan mereka ukir di waktu yang akan datang. Semua tidak luput dari pembicaraan mereka malam ini. Malam pengantin yang kebanyakan orang menghabiskan malam indah itu di atas ranjang, berbeda dengan Briana dan Gama. Keduanya seakan sama-sama memiliki banyak hal yang harus di bicarakan, hingga tidak terasa waktu sudah terlalu banyak mereka habiskan di atas balkon kamar ini.
"Aku mau ajak kamu ke Bali." Ujar Gama.
Briana tersenyum, lalu mengangguk antusias.
"Aku mau jalan-jalan sambil memelukmu dia atas sepeda motor." Jawabnya.
"Iya. Kita akan melakukan banyak hal di sana. Kita melakukan semua hal yang seharusnya kita lakukan namun, tertunda dengan keadaan." Ujar Gama lagi.
"Apa kamu bahagia?" Tanya Briana.
Tidak ada hal yang paling aku inginkan di dunia ini, selain menghabiskan sisa hidupku bersama mu, Ana. Sungguh, setelah pertemuan kita beberapa bulan yang lalu, semua jadi begitu bahagiakan bagiku." Jawab Gama. "Aku harap, setelah ini tidak akan ada lagi perpisahan seperti beberapa tahun yang lalu." Sambungnya.
"Aku mencintai mu." Ucap Gama.
Briana kembali tersenyum sambil terus menyandarkan kepalanya di bahu Gama. Setelah badai yang ia lewati, kini berganti pelangi yang indah. Saat Gama mengucapkan kata-kata manis sambil mengecup puncak kepalanya, membuat dada Briana seakan di penuhi banyak bunga yang indah.
Ternyata sebaik ini Tuhan merencanakan kehidupan umat Nya. Benar-benar rencana yang jauh lebih indah dari yang ia rencanakan. Kehidupan yang penuh dengan bahagia, itulah yang di berikan Tuhan setelah luka dan air kata yang ia Terima dari kehidupan yang sebelumnya.
Semoga keadaan ini akan terus bertahan hingga nanti ia kembali kepangkuan Nya. Semoga laki-laki yang kini mengusap punggung sambil sesekali mengecup puncak kepalanya ini, akan terus mencintai dirinya hingga nanti Tuhan mempertemukan mereka lagi di kehidupan selanjutnya.
"Masuk yuk.." Ajak Gama setelah beberapa puluh menit keduanya terdiam.
"Aku masih ingin seperti ini, Gama. Bahu kamu terlalu nyaman untuk di lewatkan." Ucap Briana lalu tertawa pelan.
"Itu milik kamu. Pakai saja kapan pun kamu mau, tapi malam ini aku ingin tidur dulu. Aku lelah. " Jawab Gama. Keduanya lantas tertawa dengan pembahasan mereka mengenai bahu yang begitu nyaman.
Tapi percayalah, kenyataan memang lah seperti itu. Bahu ternyaman untuk di pakai bersandar adalah, bahu milik orang yang mencintai kita dengan tulus.