
Dion dengan patuh melangkahkan kakinya menuju ruangang lain bersama seorang petugas kepolisian untuk menemui seseorang yang ingin bertemu dengannya.
Saat memasuki ruangan, Dion seketika terdiam saat melihat seseorang yang kini sedang menatapnya.
"Sedang apa seorang pimpinan HG Group berada di tempat ini ?" Tanya Dion tenang, sambil kembali melanjutkan langkahnya menuju kursi yang ada di hadapan Kevin.
Kevin masih terlihat begitu dingin. Tidak balasan apapun dari kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Dion.
"Tunggu sebentar di sana. Saya ingin bicara berdua dengannya" Perintah Kevin pada laki-laki yang menempatkan dirinya di samping Dion. "Apa perlu saya menghubungi atasan mu ?" Sambungnya lagi dengan nada yang sedikit kesal saat melihat petugas tersebut masih berdiri di samping Dion.
Lelaki yang mengenakan seragam berwarna agak kecokelatan itu akhirnya menuruti permintaan Kevin, ia memberi jarak dari tempat di mana Kevin dan Dion duduk.
Melihat petugas kepolisian itu sudah berada jarak beberapa meter dari mereka, ia lantas mengeluarkan sebuah ponsel yang di serahkan Briana padanya kemarin hari.
Dion melirik benda yang ada di atas meja itu, lalu menarik sudut bibirnya. Yah, kini tebakannya benar. Gadis yang datang menemuinya di kantor, ada hubungannya dengan mendiang istri pertamanya.
"Apakah kekasih Gamaliel itu adik dari mendiang istriku ?" Tanya Dion menebak.
Kevin mengerutkan keningnya.
"Istrimu ? Sejak kapan ?" Tanya Kevin sinis.
Dion berpaling. Ia menatap dinding ruangan dengan hati yang tak menentu.
Kevin tertawa keras. Tatapan penuh penghinaan langsung ia tujukan pada laki-laki yang ada di hadapannya.
"Aku tidak pernah bertemu dengan laki-laki sebodoh dirimu." Ucapnya penuh cemooh.
Dion kembali menatap Kevin dengan raut wajah penuh sesal. Namun, laki-laki yang ada di hadapannya hanya memasang wajah penuh hinaan.
"Sampaikan maafku pada gadis itu, karena sudah membuat kakak nya pergi jauh." Ucap Dion tulus. Ia tahu tidak ada lagi hal yang bisa di selamatkan, karena semua sudah terlanjur terjadi. Jadi ia mengucapkan kata maaf itu berharap bisa menebus rasa bersalahnya hari ini.
Kevin menatap wajah penuh kesungguhan itu dengan diam. Ia tidak menyangka Dion akan secepat ini berubah. Bukankah lelaki yang ada di hadapannya ini sudah menyiapkan rencana yang matang, lalu mengapa semudah ini ia membawa Dion menuju pintu kehancuran.
"Aku tidak menyangka kamu menjadi penakut seperti ini. Apa hanya ini kemampuan kamu untuk menguasai Atmaja Group ?" Kevin memandang remeh laki-laki yang sudah kembali terdiam di hadapannya. "Aku akan menawarkan sesuatu padamu." Ucap Kevin lagi.
Dion mengangkat kepalanya, lalu menatap laki-laki yang terlihat begitu serius dengan pembicaraan mereka hari ini, seraya menanti kalimat yang kan di ucapkan berikutnya.
"Aku tahu kamu adalah orang yang baik, hanya saja kamu terlalu serakah pada sesuatu yang tidak di inginkan Briana." Ujar Kevin.
Dion menarik nafasnya dalam-dalam, untuk mengurangi rasa sesak di dalam dadanya. Yah, ia tahu kemana arah pembicaraan Kevin, dan hal itulah yang paling ia sesali hingga saat ini.
"Itu sebuah kesalah pahaman. Risa belum mengetahui pembicaraan aku dengan Briana hari itu, dan justru bertindak sendiri." Jelasnya.
Kevin terlihat mengangguk, karena ia sudah mendengar hal itu berulang kali dari rekaman yang ada di dalam ponsel milik Briana.