Briana

Briana
Bab 63. Kamar Kita



"Aku mau lihat kamar kita, boleh ?" Tanya Briana dengan raut wajah menggoda.


"Aku nggak mau bercanda ya." Kesal Gama.


Briana kemabli tertawa, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar Gama yang akan ia tempati malam ini.


Melihat Briana sudah berlalu dari hadapannya, Gama ikut melangkah menuju kamar tidurnya. Seutas senyum terpatri di bibir tipisnya, sambil terus menatap punggung gadis yang ia cintai.


"Naik ke atas ?" Briana menunjuk lantai atas di mana kamar-kamar lain berada.


Tanpa menjawab pertanyaan, Gama segera meraih tangan Briana dan menggenggamnya dengan sangat erat. Ia lalu menarik gadis yang ia cintai itu dan memilih keluar dari rumah.


"Kamu ga dengar mama kamu bilang tadi ? Aku di suruh nginap, dan kamu pulang sendiri ke apartemen." Ujar Briana saat tubuh nya di tarik paksa keluar dari rumah.


Briana hanya tertawa kecil sambil mengikuti langkah Gama keluar dari rumah mewah itu, sesekali ia melirik pergelangan tangannya yang sedang di genggam erat oleh Gama. Hangat dan benar-benar merasa di cintai. Setelah sekian tahun menjalani hidup yang tak jelas, kini ia mulai merasakan bagaimana rasanya di cintai oleh seseorang dengan tulus, juga di perlakukan dengan baik oleh sebuah keluarga besar. Mungkin saat inilah ia harus mulai belajar percaya pada cinta sebuah keluarga.


"Kita mau ke mana?" Tanya Briana saat tubuh nya sudah berada di dalam mobil.


"Ke apartemen." Jawab Gama singkat sambil memasangkan sabuk pengaman di tubuh mungil wanita yang ia cintai itu.


"Mau ngapain?" Tanya Briana heran.


"Mau beresin barang-barang kamu. Mulai hari ini kamu akan tinggal di rumah Mama, biar aku yang tinggal di apartemen." Jawab Gama, kemudian mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah.


"Gama.." Panggil Briana pelan. Ia menatap lekat wajah tampan lelaki yang mencintainya itu.


"Ada apa?" Tanya Gama sambil terus berkonsentrasi dengan kemudi di tangan nya.


"Terima kasih untuk kesempatan ini. Aku mencintai mu." Ucap Briana.


Gama tersenyum mendengar kalimat singkat yang baru saja keluar dari bibir Briana.


"Berarti boleh dong kalau malam ini kita nginap di apartemen lagi." Godanya.


"Aku tarik kata-kata ku!" Kesal Briana karena ungkapan perasaan yang baru saja ia ucapkan hanya di tanggapi dengan candaan dari Gama.


Gama tertawa keras. Sungguh tidak ada hal yang lebih membahagiakan baginya selain mendengar kalimat singkat yang baru saja di ucapkan Briana beberapa saat yang lalu.


"Aku lebih mencintai mu, Ana. Dan terimaksih juga masih bersedia memberikan kesempatan hari ini padaku." Balasnya.


Briana mengangguk. Setelah beberapa saat ia memalingkan wajahnya keluar jendela mobil, membiarkan wajah cantiknya di terpa oleh angin yang masuk melalui celah kecil yang di biarkan terbuka. Benar kata orang, entah itu cepat, atau lambat kebahagiaan pasti akan Tuhan datangkan di waktu yang tepat.


Apakah ini sudah waktu yang tepat baginya untuk merasakan sebuah kebahagiaan ? Entahlah, yang pasti hal itulah yang akan selalu ia pinta. Tidak banyak hal yang ia inginkan hari ini, hanya meminta agar keadaan akan selalu seperti ini. Biarkan lelaki yang kini sedang tersenyum hangat di sampingnya, akan selalu memperlakukan dirinya sebaik ini.