Briana

Briana
Bab 33. Berjalan Lancar



"Tidak apa-apa kan aku memeriksa ponsel kamu." Dion mengulurkan tangannya.


Briana tersenyum.


"Tentu." Wanita itu memasukkan tangannya dan mengambil ponsel dari dalam tas nya, kemudian menyerahkan benda pipih itu pada laki-laki yang ada di sampingnya.


"Dion membuka ponsel yang tidak memiliki password itu, dan mulai memeriksa dengan seksama.


"Ponsel baru ?" Tanya Dion.


Briana menggeleng.


"Aku tidak menyimpan apapun di ponsel ku, karena memang tidak ada yang spesial bagiku, Dion. Termasuk kamu. Setelah kamu selesai menggunakan jasa ku, aku akan menghapus semua riwayat tentang kita di dalam ponsel ku, termasuk nomor ponsel kamu. Sama seperti yang aku lakukan pada laki-laki yang hidung belang lainnya" Jawab Briana sambil tertawa.


Dion cemberut mendengar kalimat itu.


"Padahal aku ingin tetap menjalin hubungan dengan mu sampai dengan waktu yang tidak di tentukan." Ujar Dion sambil kembali menyerahkan ponsel itu pada Briana.


"Kalau begitu kita bisa mengatur bayarannya." Ujar Briana sambil tersenyum manis.


Dion ikut tersenyum mendengar kalimat yang baru saja terucap dari bibir Briana.


Dentingan lift berbunyi, menandakan mereka berdua sudah tiba di lantai paling bawah perusahaan. Briana hendak melangkah keluar dari lift itu, namun, Dion kembali menahannya.


"Aku akan memberikan apapun yang kamu minta, asalkan kamu siap menyiapkan waktu mu hanya buat aku." Ujar Dion.


Briana melirik pergelangan tangannya yang sedang di genggam dengan erat, lalu mengangguk mengiyakan permintaan Dion.


"Tentu saja." Jawab Dion yakin. "Aku hanya bisa antar kamu sampai sini." Usapnya di kepala Briana.


Di ujung sana, seorang laki-laki yang sudah berkarat menunggu, menggeram kesal melihat pemandangan yang ada di depannya. Bisakah ia mematahkan tangan yang begitu berani menyentuh rambut wanita kesayangannya itu. Dan lihatlah, Briana bahkan memamerkan senyum manis itu pada laki-laki lain selain dirinya.


"Sedang menatap apa di pintu lift yang sudah tertutup !" Ketus Gama yang sudah berdiri di samping Briana.


Briana menoleh, matanya melotot saat melihat laki-laki posesif yang kini sudah berdiri dengan wajah kesal di sampingnya.


"Ngapain di sini ? Kamu belum pulang ?" Tanya Briana beruntun.


"Kalau aku sudah pulang, ngga mungkin aku masih berada di sini. Pertanyaan macam apa itu." Jawab Gama ketus, lalu segera menarik tangan Briana keluar dari gedung itu.


Briana menahan tawanya agar tidak meledak di dalam gedung dengan banyak orang yang mondar mandir itu. Ngapain juga di bertanya seperti itu pada Gama, yang jelas-jelas sudah ia tahu jawabannya.


"Kenapa ?" Tanyanya saat Gama menghentikan langkah. "Apa yang kamu lakukan ?" Tanya Briana kesal karena gama mengacak-acak rambutnya.


"Menghapus jejak si brengsek itu." Jawab Gama kesal. "Dimana lagi dia menyentuh mu ?" Tanya nya setalah berhasil membuat Briana seperti kuntilanak.


"Sudah gila ya !" Briana merapikan rambut panjangnya sambil mengomel kesal.


Belum juga selesai, Gama kembali menariknya keluar dari dalam lobi menuju parkiran. Gama melirik CCTV yang terpasang di dalam gedung itu, lalu tersenyum sinis, seakan ingin menegaskan jika Briana hanya miliknya dan tidak akan pernah lagi membiarkan Dion menyentuh wanita nya ini.


"Di mana lagi dia berani menyentuh mu ? Aku harus menghapus jejaknya." Ujar Gama saat keduanya sudah berada di dalam mobil. Ia memasangkan sabuk pengaman di tubuh Briana dengan hati-hati.