Briana

Briana
Bab 72. Kenangan Indah



Di pinggiran pantai kota Bali, Briana masih dengan dress putih andalan nya sedang berjalan pelan di pinggiran pantai. Kaki tanpa pengalas seakan menambah antusias nya untuk menikmati ombak kecil yang datang membasahi kakinya.


Laki-laki tampan yang terus saja mengikutinya dari belakang, tersenyum penuh syukur saat melihat binar bahagia itu kembali lagi di mata istrinya. Tidak, bukan kembali, tapi hadir di mata indah istrinya. Semenjak pertemuan pertama mereka di kota ini, ia hanya bisa melihat sedih di mata indah itu. Wajah yang penuh lebam hampir di setiap hari, juga mata yang terus di genangi buliran bening. Dan kini, ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan pernah lagi membiarkan air mata kesedihan itu jatuh di pipi istrinya.


Mentari yang menguning indah mulai terbenam di ujung lautan. Keduanya masih larut dalam langkah yang terus menapaki pasir putih yang begitu halus di telapak kaki. Hingga akhirnya, Gama mempercepat langkah agar bisa melangkah beriringan dengan wanita kesayangannya itu.


"Suka?" Tanyanya saat jemari lentik Briana sudah masuk ke dalam genggaman nya.


Briana mengangguk membenarkan. Ini benar-benar indah. Tidak hanya pemandangan nya yang nampak terlihat indah, tetapi hatinya juga di penuhi dengan bahagia dan itu sangat menyenangkan.


"Terimakasih untuk segalanya, Gama." Ucap nya pelan.


Gama menghentikan langkah nya sejenak. Lalu membawa tubuh Briana agar langsung berhadapan dengannya.


"Berhenti mengucapkan terimakasih kepada ku. Apa yang aku lakukan hari ini dan seterusnya, adalah hal yang seharusnya aku lakukan sejak dulu. Maafkan aku, dan juga keluarga ku." Ucapnya tulus.


Briana segera menggeleng. Tidak ada yang perlu di maafkan baginya. Masih di beri kesempatan untuk merasakan hari bahagia seperti hari ini, sudah lebih dari cukup.


"Aku hanya ingin selalu bersyukur dengan kesempatan hari ini, Gama. Aku benar-benar bersyukur karena di pertemukan kembali dengan mu." Ucapnya.


Gama mengangguk mengerti. Mungkin gadis yang sedang berdiri di hadapan nya ini, hanya ingin mengutarakan rasa syukurnya melalui kata terimakasih.


"Kamu tahu, Ana. Ada seseorang yang hebat berkata. Sesuatu yang sudah di takdir kan bersama oleh Tuhan, akan tetap kembali di pertemukan, sejauh dan selama apapun mereka berpisah. Sebanyak apapun rintangan yang akan memisahkan mereka, pasti akan ada waktu di mana meraka akan kembali bersama. Dan kini semua itu menjadi kenyataan di dalam hidup ku. Aku bahkan sudah berputus asa atas cinta yang masih bersemayam di relung hati terdalam ku, namun, ternyata Tuhan kembali membawa ku padamu." Jelas Gama. Keduanya kembali melanjutkan langkah menyusuri pinggiran pantai dengan hati yang penuh bahagia dengan jemari yang saling bertautan.


"Aku pun tidak lagi berharap banyak untuk bahagia setelah Ayah pergi, tapi ternyata Tuhan sebaik ini padaku." Jawab Briana.


"Tuhan akan selalu baik pada umat Nya, Ana. Hanya terkadang kita sendiri yang tidak percaya seberapa besar kuasa Nya." Ujar Gama lagi.


"Dan sekarang aku percaya." Briana tertawa.


"Kita kembali ke resort, yuk. Aku lapar." Ajak Gama.


Briana tersenyum, lalu menatap wajah tampan suaminya dengan penuh rasa bersalah. Karena terlalu menikmati kota kelahirannya, Briana sampai lupa jika mereka bahkan sudah melewatkan makan siang.


"Aku bakal masakin yang spesial buat kamu." Ucap Briana.


"Aku tunggu."


"Gama....


"Tapi nanti aku jatuh, kamu kan sedang lapar pasti ngga akan kuat. Turunkan aku.." Mohon Briana.


Gama tidak memperdulikan rengekan istri kesayangan nya itu, dan hanya terus membawanya menuju motor mereka di parkir. Tatapan dari orang-orang yang masih menikmati keindahan matahari terbenam, tak di pedulikan olehnya.


Briana sudah membawa wajahnya hingga terbenam di dada Gama karena malu dengan tatapan orang-orang yang ada di sana.


"Bikin malu aja.." Protes Briana saat tubuhnya sudah berdiri di samping motor yang tadi mereka gunakan dari Bandara.


"Kamu harus membiasakan diri, nanti juga kalau ke kamar aku bakal gendong kamu kayak gitu." Ujar Gama sambil memakaikan pelindung di kepala Briana dengan hati-hati.


"Apa sih, mesum banget." Ucap Briana dengan wajah bersemu.


"Apa yang ada di pikiran kamu itu! Buang jauh-jauh sana. Nanti kalau kita sudah di dalam kamar, baru di pikirkan lagi." Ujar Gama lalu mengecup bibir yang sedang cemberut di depannya. "Peluk yang erat, aku belum mau jadi duda kembang." Kekehnya.


Briana semakin cemberut kesal. Namun, gadis itu tetap melingkarkan tangannya di perut sang suami.


Setelah memastikan Briana sudah duduk dengan aman di atas motor, Gama segera melajukan motor nya menuju resort milik keluarga nya. Tidak terlalu jauh perjalanan, ia sengaja melajukan motornya perlahan, agar mereka bisa kembali mengenang masa indah semalam kala itu sebelum kejadian tragis terjadi.


Briana menyandarkan dagunya di atas bahu Gama. Ini sama seperti yang mereka lakukan beberapa tahun silam. Angin malam yang berhembus, menerpa wajah cantik nya, hingga menerbangkan rambut panjang nya yang di biarkan tergerai indah.


Tidak ada yang bersuara, keduanya seakan sedang menikmati hembusan angin malam, sambil kembali menerawang jauh di saat pertama dan terakhir kalinya mereka bersama. Sama seperti malam ini, malam itu mereka pun menggunakan motor seperti ini. Bedanya saat itu, mereka masih menjadi siswa di salah satu sekolah favorit di kota Bali.


Setelah sekian lama terpisah oleh jarak dan waktu, hingga keadaan yang harus memaksa keduanya untuk tidak lagi mengharapkan kembali bersama, akhirnya kenangan indah itu kembali terulang.


"Ini sangat indah, Gama." Ucap Briana dengan mata berkaca saat mereka sudah tiba di resort yang akan menjadi tempat tinggal mereka.


"Aku akan mempersembahkan sesuatu yang istimewa, untuk orang yang istimewa." Gama meraih tangan Briana, lalu mengajak istrinya itu untuk masuk lebih dalam ke area resort mewah itu.


"Aku jadi takut kamu bakal ninggalin aku lagi." Lirih Briana.


Gama tertawa lucu.


"Yah, setelah ini aku bakal sering ninggalin kamu ke kantor. Kamu tahu berapa biaya yang harus aku bayar ke Papa untuk bukan madu kita ini? Aku harus siap membayar dengan keringat ku sampai nanti aku punya anak yang bisa melanjutkan pekerjaan ku itu. Makanya di sini kita harus rajin membuat anak, agar nanti aku tidak akan terus menerus menjadi kacung Papa di perusahaan." Ujar Gama lalu tertawa.


"Alasan apaan itu? Masa iya mau buat anak hanya untuk di pake buat bayar hutang bulan madu." Protes Briana. Namun, senyum di wajah cantiknya terlihat dengan begitu jelas. Ia lalu melangkah cepat masuk ke dalam resort mewah itu.


Tidak ada hal yang paling membahagiakan dari sebuah pernikahan, selain di inginkan oleh suami sendiri. Duka yang ia rasakan selama menjadi istri yang tak di inginkan, terbayar sudah.