BARSHA

BARSHA
Menikah



Bahkan langitnya pun terasa cantik dan berbeda sekali dengan negara kami, rasanya aku sangat senang sekali bisa merasakan momen-momen langka seperti ini, hingga ke esokan paginya kami sudah bersiap untuk pulang, aku dan Varel sudah tidak se canggung sebelumnya lagi, dia bisa langsung menggandeng tanganku saat aku keluar dari kamar dan kami langsung saja pergi menaiki pesawat bersama dengan membawa kemenangan juga cinta yang sudah menyatu bersama.


Namun sayangnya saat sampai di tanah air aku tidak bertemu dengan Ciko dan malah mendapatkan kabar bahwa Ciko sudah berangkat ke luar negeri untuk melakukan pendaftaran kuliahnya di luar negeri, aku pikir dia tidak akan benar-benar pergi ke sana, namun ternyata dia benar-benar meninggalkan kami semua, meski semua orang terlihat senang dan begitu bahagia mendapatkan oleh-oleh dariku dan Varel, juga mengucapkan selamat atas kemenangan Varel sebelumnya, mereka juga menyambut kami dengan hangat tapi tetap saja rasanya ada yang kurang, ketika Ciko tidak ada diantara kami seperti ini.


Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan, semuanya sudah terjadi aku gagal menahan Ciko dan kami harus menjalani hidup masing-masing ke depannya, mengejar mimpi kami masing-masing sesuai dengan apa yang kamu gemari, dan aku pikir mungkin itu keputusan terbaik untuk Ciko, aku juga mulai mendaftar kuliah di salah satu universitas favorit dan Varel menjadi dosen terkenal sekaligus yang paling muda disana, aku sangat senang bisa di ajari oleh pacarku sendiri, ini hal yang sangat langka dan begitu menyenangkan, tidak semua pasangan bisa seberuntung aku.


Tapi aku sama sekali tidak membicarakan hubungan kami kepada semua orang yang ada di kampus untuk menghindari rumor yang buruk nantinya.


Jadi kami memutuskan untuk menyembunyikan hubungan kami dan cukup orang terdekat saja yang mengetahuinya.


Namun lama kelamaan aku bisa cemburu sebab banyak sekali wanita yang begitu kecentilan untuk terus mendekati Varel dan bersikap manja dengannya, mereka mencari-cari alasan lain yang sangat tidak masuk akal hanya untuk mencari perhatian dari Varel saja.


Seperti kali ini aku sudah selesai dengan jelas tapi dia masih saja berada di dalam kelas, tertahan untuk keluar karena ada dua mahasiswi yang terus mencari perhatian kepadanya dengan berpura-pura menanyakan pelajaran yang tidak mereka mengerti.


Aku tidak tahan lagi melihat dua wanita itu mulai mendekati Varel dan terus saja semakin dekat dan memandangi wajah pacarku sangat lekat.


Aku langsung menerobos masuk ke dalam kelasnya dan memeluk Varel dengan manja dari belakang begitu saja.


"Sayang... Kenapa kau lama sekali, aku sudah menunggumu cukup lama diluar, aku lelah kakiku sakit karena menunggumu, eumm..kau menyebalkan." Ucapku sambil memasang wajah yang manis di hadapannya.


Kedua mahasiswi itu langsung terlihat kaget dan membelalakkan matanya sangat lebar kepadaku, sambil langsung saja menjauh dari meja Varel.


"Ba... Barsha ada apa denganmu?" Tanya Varel yang terlihat sangat kebingungan.


Aku tahu ini pertama kalinya aku memanggil dia dengan begitu manja setelah hubungan kami yang sudah berjalan satu tahun lamanya.


Tapi aku tidak ingin terlihat kaku, aku ingin menunjukkan kemesraan di hadapan dia wanita yang centil dan capet itu, agar mereka tidak berani mendekati pacarku lagi.


"Sayang, katakan pada mereka aku pacarmu, aku kesal karena mereka membuat kau lama tidak keluar dari kelas." Ucapku semakin bermanja pada Varel.


Barulah saat itu Varel mengerti dan dia menaikkan kedua alisnya sambil langsung menatap ke arah dua wanita yang ada di depan mejanya saat itu.


"Aahh...jadi itu, iya...iya aku sudah selesai, ayo kita pergi kencan, bukankan ini hari perayaan satu tahun hubungan kita, aku tidak akan membuatmu menunggu." Balas Varel mengusap pucuk kepalaku dan aku sangat senang dia bisa menanggapi kelakuanku yang agak memalukan ini, tapi akan lebih memalukan jika Varel tidak menanggapinya.


Kedua wanita centil itu langsung membuka matanya sangat lebar dan mereka benar-benar terlihat sangat syok sekali saat itu.


"Pa..pa..pacar, satu tahun? Profesor jadi kamu sudah punya pacar?" Tanya salah satu wanita disana.


"Iya, kenalkan ini pacar saya, namanya Barsha dan dia juga di jurusan yang sama dengan kalian berdua, jika kalian belum memahami pembelajaran hari ini, tanyakan saja pada pacarku, dia sangat cemburuan, kalau begitu saya permisi." Ucap Varel begitu tegas dengan kedua wanita pengganggu itu.


Dan dia langsung menggandeng tanganku, berjalan pergi dari ruangan kelas itu, aku benar-benar sangat bahagia dan tidak bisa berhenti untuk terus tersenyum lebar karena mendapatkan perlakuan yang begitu manis darinya, kami pergi untuk merayakan satu tahun hubungan kami, ada Niko, kak Anton dan teman-teman yang lainnya, mereka turut hadir di rumah Varel dan kami sangat bahagia saat meniup lilin bersama, tidak pernah aku bayangkan.


Robotnya berbentuk kecil tapi dari kedua bagian matanya, robot itu bisa memancarkan layar hologram dimana bisa memperlihatkan rekaman video dan beberapa ulasan foto, tentang kenangan aku dan dia juga ada Ciko dan Niko di dalam sana yang selalu bersama-sama sejak kami kecil hingga sebesar sekarang ini.


Aku benar-benar terharu melihat ke arah layar hologram tersebut, dan sejak saat itu aku baru tahu jika ternyata Varel sudah menyukai aku dalam waktu yang lebih lama dibandingkan aku yang tersadar dengan perasaan itu kepadanya.


Aku langsung memeluk erat dia tanpa berkata-kata, hingga tiba-tiba saja Ciko muncul di tengah-tengah acara dan dia mengejutkan semua orang dengan kehadirannya tersebut.


"Kejutan!" Teriak Ciko dengan cukup keras dengan membawa sebuah buket bunga di tangannya.


Semua orang menatap ke arahnya dan kami sangat senang menyambut kepulangan Ciko saat itu, aku, Niko dan Varel langsung berlari menghampiri dia dan kami terus memeluknya saling bergantian satu sama lain, namun aku sama sekali tida memeluknya aku berdiri di hadapan dia dengan wajah cemberut karena masih merasa kesal sebab sebelumnya dia pergi ke luar negeri tanpa berpamitan terlebih dahulu kepadaku.


"Aahh. Ciko sahabat karibku, aku sangat merindukanmu, kenapa kau tidak pernah memberikan kami kabar, apa kau sudah lupa denganku?" Ucap Niko setelah memeluknya.


"Tidak aku hanya kehilangan ponselku jadi aku tidak bisa menghubungi kalian ibuku juga menghubungi aku sesekali saja, melewati sebuah surat, aku sengaja tidak memberitahu kalian karena ini membuat kejutan." Balas Ciko kepada Niko.


Lalu dia mulai menatap ke arahku, yang berdiri di hadapannya tepat setelah dia berpelukan dengan Varel.


"Barsha apa kau tidak senang aku kembali?" Tanya Ciko kepadaku.


"Kau sialan! Kenapa kau membuat aku menunggu terlalu lama, aishh...kemari kau aku akan menghajarmu!" Bentakku berteriak kencang dan langsung saja memberikan ancaman kepadanya.


Dia terus saja berlari menghindari aku dan terus bersembunyi di balik tubuh Varel saat itu, tapi aku sama sekali tidak mau kalah dengannya jadi terus saja mengejar dia dan masih berusaha keras untuk mendapatkan dia.


"Aishh..kemari kau kenapa kau bersembunyi di balik Varel?" Bentakku kepada dia semakin emosi di buatnya.


"Aahh ampun Barsha, ampun kau jangan apa-apakan aku, ini aku sudah membeli bunga yang mahal untukmu untuk memberikan selamat padamu, tolong jangan hukum aku!" Teriak dia kepadaku sambil memberikan bunga itu.


Karena dia mengatakan hal itu, aku pun menerima bunganya dan membiarkan dia lolos kali ini, namun tidak ada lain kali lagi untuk Ciko, aku tidak akan memaafkan dia jika dia melakukan hal yang sama seperti satu tahun yang lalu, dimana dia tiba-tiba menghilang meninggalkan kami semua dan tidak pernah memberikan kabar sama sekali, seakan sudah melupakan kami semua.


Para orangtua kami juga tertawa melihat keriuhan aku dan Ciko yang sejak kecil memang selalu bertengkar begitu juga dengan Niko, kami pun akhirnya bisa bersatu kembali, dengan anggota sahabat yang lengkap, memutuskan untuk berfoto bersama dan di masukkan ke dalam memori robot kenangan ciptaan Varel.


Hingga satu bulan kemudian hari pernikahanku tiba, kami sudah menyewa sebuah gedung yang indah dan tinggi, aku sudah mengenakan gaun pernikahan yang sangat cantik dan anggun, berwarna putih mengkilap dan sudah di rias bak seorang pengantin pada umumnya, memegangi sebuah bunga di tanganku dan mulai berjalan di atas karpet merah menuju altar dengan Varel.


Dia terus menggandeng tanganku dan memberikan keyakinan kepadaku agar aku tidak merasa gugup saat itu, aku terus menghembuskan nafas dengan perlahan dan berjalan dengan langkah perlahan penuh keyakinan dengannya, hingga kami saling mengikat janji di depan saksi juga semua tamu undangan yang sangat banyak di dalam gedung pernikahan saat itu, bahkan kau berciuman di hadapan semua orang untuk pertama kalinya sebagai pertanda kami sudah resmi menjadi pasangan suami istri kala itu.


Semuanya sangat membahagiakan, aku merasa benar-benar menjadi seorang putri yang sangat beruntung di dunia ini karena bisa mendapatkan seorang pangeran yang luar biasa tampan dan jenius seperti Varel.


"Andai aku tidak menunda perasaanku dan aku tidak ragu, mungkinkah aku yang ada disana dengan Barsha?" Batin Ciko meratapi nasibnya.


Namun sebagai sahabat yang baik dia terus merasa senang tatkala melihat kedua sahabatnya bahagia, meski hatinya tetap terluka dan dia sudah memutuskan untuk terus mengejar mimpinya.