
Aku langsung menarik tangannya dengan cepat dan segera membawa Varel pergi ke tempat yang ramai sekali dan banyak roda-roda makanan pinggir jalan disana.
Aku terus meminta dompetnya agar aku yang memegangnya, karena dengan begitu baru aku bisa memakai uang dia secara bebas, aku juga tidak perlu merasa tidak enak hati kepadanya karena sudah meminta izin dan sesuai dengan apa yang dia berikan.
"Eeehh.. Barsha kenapa kamu membawaku kemari?" Tanya dia kepadaku saat itu.
"Sudah ayo cepat berikan dompetmu." Ucapku kepadanya sambil mengulurkan tangan saat itu.
"Ini, tapi sebaiknya kita pergi saja ya, disini terlalu banyak orang aku merasa tidak nyaman." Ucapnya kepadaku saat itu.
Aku tahu Varel memang seorang introvert yang sangat pemalu dan penyendiri, dia selalu merasa lesu dan tidak memiliki energi sedikitpun ketika harus datang ke tempat yang banyak orang seperti ini, tetapi itulah hukumannya aku sengaja membawa dia kemari untuk membuat dia memberanikan diri supaya bisa berhadapan dengan banyak orang, tidak terus terdiam sendiri dan hanya memiliki teman di sekitar kompleks saja, itupun jika aku mengajak dia bermain, jika tidak sejak kecil dia memang selalu menjauh dari semua orang dan sulit sekali untuk aku membujuk dia pada awalnya.
Sekarang saja dia baru bisa bermain seperti ini denganku dan bisa mengobrol riang padaku secara leluasa, sebelumnya dia begitu tertutup dan sama sekali jarang bertemu banyak orang, hari-harinya selalu di sibukkan dengan pekerjaan dan pekerjaan, tidak ada yang dia lakukan lagi selain dari mengerjakan proyek robotnya tersebut.
Tapi memang dia memiliki otak yang sangat pandai dan jarang dimiliki manusia pada umumnya.
Hanya saja sikap pendiam dan pemalunya itu selalu membuat dia tertimbun dan di jauhi banyak orang seakan mereka menganggap dia sebagai orang yang tidak pandai bersosialisasi dan aneh, padahal Varel hanya seorang introvert biasa sama dengan orang introvert lainnya dan sedikit sibuk dengan pelajaran.
Sehingga ketika dia meminta untuk pergi dari sana, aku dengan cepat menarik tangannya dan menggandeng dia dengan kuat, aku tidak akan melepaskan dia dan membicarakan dia pergi begitu saja.
"Eeehh...mau kemana kau, pokoknya hari ini kamu harus menemani aku menjajal semua makanan kaki lima yang ada disini, kau tahu tidak sate ayam disana sangat enak, ayo kita pergi membelinya." Ucapku sambil terus menarik tangan Varel dengan paksa.
Meski dia terlihat begitu tertekan olehku dan terus saja memegangi kedua pundakku dengan erat, sebab dia tidak mau berdekatan dengan orang lain, aku juga merasa sedikit risih sebab dia terus saja menempel dan tidak mau berjalan sedikit menjauh dariku, hingga beberapa kali sepatuku terinjak oleh kakinya dan membuat aku merasa kesal.
"Aduhh....hei Varel bisakah kau berjalan sedikit jauh dariku, aku kan sudah memegangi tanganmu, apa lagi yang perlu kau cemaskan?" Ucapku kepadanya dengan wajah yang cukup kesal.
Namun saat itu aku masih berusaha untuk menahan kekesalan dalam diriku karena aku tidak mau marah pada orang sebaik Varel, terlebih aku tahu dia seperti ini karena memiliki alasannya tersendiri.
"Barsha aku tidak bisa, aku takut nanti kau dan aku berpisah, aku tidak tahu arah dan tidak bisa berjalan menemukan dirimu jika nanti kita berpisah, sebab banyak sekali orang di sekitar sini." Balasnya kepadaku.
Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar mendengar ucapan darinya, dia benar-benar sangat konyol dalam pikiranku saat itu, bagaimana bisa orang dewasa sepertinya buta arah dan takut sekali tersesat, bahkan di tengah keramaian seperti ini sekalipun jika kita tersesat dia bisa pulang saja lebih dulu sendiri, nanti juga pasti akan bertemu lagi denganku.
Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga Varel aku tidak bisa melakukan apapun kepadanya, selain dari memakluminya dan bicara dengan perlahan untuk membujuk dia agar tidak terus memegangi pundakku atau ujung pakaianku seperti saat ini, karena itu sangat menyusahkan aku untuk bergerak dan melangkahkan kaki dengan leluasa.
"Huuhh....Varel aku beritahu kepadamu ya, aku tidak akan melepaskan genggaman tanganku kepadamu, dan kamu tidak akan tersesat selama aku ada di sampingmu, tapi jika kau terus memegangi kedua pundakku seperti orang buta begini, kau sendiri yang akan merasa malu di lihat banyak orang, dan jujur saja aku merasa sangat tidak nyaman dalam posisi seperti ini." Balasku mencoba memberikan pengertian kepadanya.
Dia pun akhirnya mau melepaskan pegangannya dari kedua pundakku secara perlahan dan langsung kembali bergandengan tangan denganku.
Aku merasa sangat lega dia mau menuruti apa yang aku ucapkan padanya, setidaknya sekarang aku sudah bisa bergerak dengan bebas dan tidak perlu takut pakaianku akan rusak karena terus dia pegang dan tarik cukup kuat.
"Nah, begitu baru bagus, ayo kita harus ikut mengantri." Balasku sambil tersenyum lebar kepadanya.
Dia ini sudah seperti anak-anak saja yang harus aku bujuk secara pelan dengan ucapan yang tersusun dan baik, baru dengan begitu mau menuruti aku dan tidak melawan sedikitpun, hingga pesananku siap dan aku segera membayarnya, aku harus melepaskan genggaman tanganku pada Varel karena saat itu harus membuka dompet miliknya termasuk mengambil makanan itu dari penjual disana.
Namun saat aku melepaskan tangannya sebentar saja, dia sudah terseret orang lain dan aku tidak bisa melihat dia lagi, hanya mendengar suaranya yang berteriak memanggil aku dengan panik saat itu.
"Eehh...Varel...kau kemana...astaga...anak itu ada-ada saja, kenapa dia melepaskan tangannya, dia kan bisa terus memegangi tanganku walau kita tidak bergandengan, aaahh...Varel kau dimana hei!" Teriakku memanggilnya saat itu.
"Barsha....aku di sebelah sini, Barsha..." Teriak Varel lagi saat itu.
Aku tidak bisa melihatnya dengan membawa dua bungkus sate di tanganku aku terus saja menatap ke sekeliling dimana ada banyak orang yang berlalu lalang kesana kemari dan cukup sulit untukku menemukan keberadaan Varel saat itu.
Sedangkan aku tahu, Varel pasti tengah panik saat ini dan dia tidak bisa jika di tinggalkan seorang diri dalam tempat seramai ini, aku tidak bisa menunggu lama terlebih dompet Varel ada di tanganku, dia tidak membawa uang sama sekali, aku langsung menelpon dia dan mencoba menghubunginya hingga dia menjawab panggilan dariku dengan suara yang lirih dan bergetar kuat.
Aku tahu dia pasti akan panik hingga ketakutan seperti ini.
"Halo...Varel apa kamu baik-baik saja? Dimana kau?" Tanyaku dalam panggilan telpon tersebut.
"Barsha, tolong aku... Aku takut Barsha aku tidak tahu dimana aku sekarang ini, tapi banyak sekali orang di sekelilingku dan hanya ada sebuah kursi di samping jalan, aku takut ada orang jahat yang akan membawaku, aku tidak tau harus berjalan kemana, aku harus apa Barsha?" Balas dia kepadaku saat itu.
"Tenangkan dirimu sendiri, kau tetaplah diam disana dan jangan menunjukkan seakan kau tengah tersesat kepada orang lain, berdiri saja dan tunggu aku disana, aku akan menemukanmu, kau jangan kemana-mana, apa kau mengerti?" Ucapku kepadanya.
"Aku takut Barsha, tolong jangan tutup panggilannya." Tambah Varel padaku saat itu.
"Tidak bisa Varel ponselku pulsanya terbatas mungkin akan ma...." Ucapku belum selesai tapi panggilan itu sudah terputus karena pulsa di ponselku sudah habis dan aku tidak bisa melakukan panggilan telpon lagi kepadanya.
Aku terus saja berdecak kesal karena sangat mencemaskan Varel saat ini, terlebih panggilannya malah terputus begitu, saja aku takut dia malah semakin cemas tidak karuan.
"Aishh...sialan kenapa harus mati di waktu yang tidak tepat sih, aaahh aku harus segera mencarinya, tapi kemana aku harus mencari dia, tempat sangat luas dan ada banyak sekali orang." Gerutuku merasa bingung sendiri.
Aku terus berpikir dan mencoba mencari cara yang terbaik agar bisa menemukan Varel lebih cepat, hingga setengah berpikir beberapa saat, aku mengingat ucapan dari Varel di panggilan telpon sebelumnya, yang mengatakan bahwa dia berada di samping jalan dengan kursi disana, aku rasa hanya bagian jalan ini yang dekat dengan taman kecil di samping kota yang hanya memiliki kursi, sehingga aku langsung saja pergi ke sana dengan segera.
Walaupun jalanan itu cukup besar dan sama ramainya dengan jalanan sebelumnya tempat festival diadakan, aku tidak menyerah, terus saja berjalan mencari Varel tanpa henti, tapi tentu membutuhkan waktu untuk aku menyusuri semua jalanan pinggir taman yang besar tersebut, namun semuanya tidak sia-sia walau setengah jam aku menyusurinya itupun tidak semua jalan hanya beberapa saja, akhirnya aku menemukanmu keberadaan Varel.
Dia berjongkok di tengah-tengah jalanan itu sambil memegangi ponselnya dan terlihat menyedihkan, aku kaget saat melihatnya seperti itu, meski dengan nafas yang menderu dan lutut yang sakit sebab berlari kesana kemari tanpa henti, tapi melihat Varel dalam kondisi seperti itu, aku tidak bisa menunggu lama lagi.
Segera aku berteriak memanggilnya dan berlari menghampiri dia saat itu.
"Varel..." Teriakku sangat kencang padanya.
Varel langsung menengadahkan kepalanya dan dia segera bangkit sambil ikut berlari menghampiriku sangat cepat.
Dia langsung memeluk aku dengan begitu erat, bahkan sampai memutar dengan tubuhku yang terangkat olehnya, aku bisa merasakan pelukan Varel yang begitu erat saat itu dan aku tahu dia pasti sangat ketakutan sebelumnya.
Aku sungguh merasa bersalah dengannya saat itu.
"Barsha aku sangat cemas sekali, aku pikir kau tidak akan berhasil menemukanku, dan aku tidak akan bisa pulang karena ini sudah sore dan pengunjung malah semakin banyak." Ucapnya kepadaku.
Aku langsung menepuk sebelah pundaknya cukup keras saat itu.
"Buk... Bodoh! Siapa bilang aku tidak akan menemukanmu, aku akan selalu menemukan dirimu dimana pun kau berada, kau tidak perlu setakut itu, kau sudah besar kau harus belajar mengingat semua arah jalan, kau tidak boleh terus seperti ini." Balasku kepadanya hingga Varel terlihat sedikit meringis kesakitan.
"Aaaahh....tapi untuk apa aku melakukan itu, buktinya kau tetap bisa menemukan aku, dimana pun aku berada jadi aku tidak perlu cemas meski nanti aku tersesat, karena aku tahu kau akan datang menemukanku." Balas dia dengan begitu percaya diri.
Padahal tanpa dia ketahui aku membutuhkan banyak sekali usaha untuk sampai ke tempat ini dan menemukan dirinya, selain itu aku juga sudah salah tempat sebanyak tiga kali, karena aku sendiri juga tidak terlalu hafal semua jalanan disekitar sini.
Namun dengan mudahnya dia malah bicara seperti itu kepadaku.
"Heh, jika nanti aku tidak denganmu lagi bagaimana? Kau harus belajar mengingat arah jalan dan kau tidak boleh tersesat lagi seperti ini!" Bentakku kepdanya dengan keras.
"Mudah saja, kau harus terus di sampingku agar aku tidak perlu mengingat semua jalan, iya kan?" Balas dia yang masih saja konyol.
"Astaga... bagaimana lagi aku harus memberitahumu, semua itu salah, kau harus mengingatnya sendiri agar bisa pergi kemana-mana sendiri juga, kau kan seorang jenius, otakmu bisa menyerap semua pelajaran dengan mudah dan bisa mengingatnya dengan cepat, tapi kenapa kau malah sulit sekali mengingat arah jalan, aishh, aneh sekali!" Balasku kepada dia dengan se-dki gemas untuk menghadapinya saat itu.
Dia hanya membalas ucapanku barusan dengan tertawa kecil saja dan aku segera mengembalikan dompet miliknya kepada saku pakaiannya dengan segera, aku tidak mau lagi memegang uangnya seperti tadi, karena jika dia tersesat aku tidak perlu merasa terlalu cemas, sebab dia membawa uang yang banyak dengan dirinya, dia pasti akan pulang sendiri dengan uang yang dia punya.
"Sudahlah, ini aku kembalikan dompetmu tadi aku pakai uangnya untuk membeli dua porsi satu dan beberapa minuman karena aku kelelahan mencarimu kesana kemari sebelumnya." ucapku sambil memberikan dompet itu kepada dia dengan segera.
"Tidak masalah kau bisa menggunakan uangku sebanyak apapun yang kau mau dan kapanpun kau menginginkannya." Balas dia lagi sesantai sebelumnya.
Aku hanya bisa menganggukkan kepala dengannya dan segera saja menggandeng tangannya lagi, sengaja aku menarik tangan Varel dan melingkarkannya di tanganku agar dia tidak bisa terlepas lagi seperti sebelumnya dan membuat aku harus mencari dia kesana kemari hingga energi di tubuhku hamil habis saat itu.
"Kemari, tetaplah seperti ini saat berjalan di keramaian denganku, jangan melepaskan pelukan tanganmu pada tanganku, apa kau mengerti!" Ucapku memberitahunya.
Dia mengangguk sambil tersenyum lebar dan aku menepuk kepalanya karena dia sudah mau menurut dengan cepat.
"Bagus....ayo kita pulang." Balasku lagi sambil segera membawanya pulang.
Aku sudah seperti seorang pengasuh yang harus menjaga bayi besar sepertinya, sambil berjalan aku terus menikmati sisa sate yang aku beli sebelumnya dan sesekali menyuapi Varel dengan sate itu aku pikir dia menginginkannya sebab terus menatap aku yang tengah menikmati sate tersebut.