
"Kau harus memasang wajah jelek dahulu." Ucapnya kepadaku saat itu.
Aku benar-benar sangat kesal dibuatnya, padahal sebelumnya aku sudah sangat tegang dan merasa cemas tidak karuan, sebab aku pikir dia akan membicarakan hal yang lainnya, tapi ternyata justru malah ucapan menyebalkan seperti itu yang dia ucapkan kepadaku.
Aku langsung saja mendorong tubuhnya dengan kuat hingga dia hampir jatuh ke belakang saat itu.
"Aishh...dasar kau manusia menjengkelkan! Aku pikir kau mau bicara apa." Bentakku kepadanya saat itu.
Dia terus saja malah tertawa pelan sambil bertepuk tangan asik seorang diri, rasanya aku ingin m*nghajar wajahnya itu dengan kedua tanganku sendiri, tapi sayangnya aku tidak bisa melakukan semua itu, karena lampu di ruangan tersebut sudah kembali menyala dengan normal dan sangat terang, hingga aku bisa melihat dengan jelas rupanya tidak ada sesuatu apapun di dalam sana dan aku hanya bisa melihat sebuah ruangan kosong saja, tanpa ada apapun sama sekali.
"Aishh... sudahlah, dasar kau ini menjengkelkan sekali." Gerutuku kepadanya saat itu.
Aku segera bergegas keluar dengan cepat dan langsung pergi dari sana saat itu, sehingga aku terus saja pergi dari ruangan itu dengan perasaan penuh emosi dan terus menghentakkan kakiku dengan kencang saat itu.
Varel juga terus saja berteriak kencang memanggil aku dan terus saja dia mengejarku dengan cepat hingga kami sudah keluar dari tempat tersebut dan dia baru berhasil menahan tanganku disaat aku sudah berada di luar gedung tersebut.
"Hei ..hei...hei.. Barsha, ayolah jangan seperti itu, kau jangan marah ya, aku minta maaf padamu, aku tahu aku salah, mungkin ucapanku ada yang tidak enak untuk kamu dengan, tolong maafkan aku ya." Ucap Varel dengan wajahnya yang terlihat sendu.
Aku tahu dia merasa bersalah saat itu, sehingga aku terus saja merasa tidak enak hati dengannya, tapi aku sama sekali tidak bisa membiarkan dia di maafkan dengan begitu mudah, walaupun dia jarang melakukan kesalahan kepadaku, tapi tetap saja aku harus memberikan dia pelajaran juga saat itu, sehingga aku terus saja berpura-pura marah dengannya dan memanfaatkan hal seperti ini untuk menguras isi dompetnya tersebut, lagi pula aku tahu Varel akan selalu memberikan apapun yang aku pinta darinya, terlebih lagi, dia sedang membutuhkan permintaan maaf dariku saat ini, sehingga ini adalah kesempatan luar biasa untukku, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
Dia langsung menggelengkan kepalanya pelan dan memasang wajah yang cukup menyedihkan saat itu, aku hampir saja akan tertawa karena melihat reaksi dari wajahnya yang sangat menyedihkan itu, tapi aku terus saja menahan diriku sendiri saat itu.
"Ya ampun kenapa dia memasang wajah sekonyol ini, aku harus bisa menahan diriku sendiri dengan kuat." Batinku saat itu.
Varel tiba-tiba saja mulai mendekatkan diri padaku, tangannya mulai memegangi tanganku dengan perlahan dan dia segera saja bicara denganku saat itu.
"Barsha, ayolah jangan marah lagi padaku, aku sudah mengakui kesalahannya diriku sendiri tolong jangan membuat aku merasa tidak nyaman seperti ini, aku janji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi kedepannya." Tambah dia yang terlihat terus membujuk aku lagi dan lagi.
Aku tahu dia terus saja mengusahakan membujuk aku semampunya namun aku terus saja memalingkan pandangan darinya dan terus saja menjauhkan diri dari dia, meski Varel terus bergeser mendekati aku, tapi aku tidak tinggal diam, aku terus saja kembali menjauh darinya, sengaja aku melakukan itu agar dia semakin merasa bersalah dan takut denganku.
Hingga waktunya tiba, dimana dia mulai mendekati aku dan aku mulai membalikkan badan dengan cepat lalu membuat persetujuan dengannya.
"Barsha...maafkan aku..." Ucapnya sambil terus saja menarik tanganku.
"Oke. Aku memaafkan kamu kali ini, dan aku akan memberikan kesempatan kedua untukmu, aku bisa saja tidak mempermasalahkan semua ini tapi ada satu syarat yang harus kau lakukan." Balasku kepadanya sambil terus memasang wajah tersenyum kecil dan menyimpan sebuah kemenangan dengan menaikkan kedua alisku beberapa saat.