BARSHA

BARSHA
Ternyata Mereka Menyukainya



Hingga setelah makan-makan bersama kami mulai berbaring di karpet yang terlentang disana, aku juga sudah sangat lelah karena sudah mengejar si sialan Niko yang sudah mengambil pizza potongan terakhir milikku itu, dan aku tetap tidak berhasil mendapatkan pizza nya meski sudah berlari mengejar dia berkeliling di taman itu sampai keringat bercucuran di wajahku.


Kami berbaring dengan kepala yang saling bersentuhan satu sama lain dan melingkar membentuk sebuah gangsing, padahal kami tidak bermaksud melakukan hal itu, hanya kebetulan saja kami tidur dalam posisi seperti itu satu sama lain, rasanya benar-benar sangat menyenangkan sekali, memandangi langit yang mulai berubah menjadi gelap dan lampu di taman belakang rumahnya Varel mulai menyala secara otomatis bersamaan dan menghasilkan cahaya remang-remang yang sangat cantik saat itu.


Saat kami memandangi langit bersama aku benar-benar sangat tidak tahan untuk ke kamar mandi jadi aku segera pergi saat itu juga.


"Aaahh.....aku suda tidak tahan lagi." Ucapku sambil langsung bangkit terbangun dengan cepat dan terburu-buru mencari sandalku.


"Barsha apa kau berani kesana sendiri?" Tanya Varel kepadaku.


"Kenapa aku harus takut?" Balasku kepadanya sambil segera berlari dengan cepat karena aku sudah sangat tidak tahan lagi saat itu.


Sedangkan disisi lain ketiga pemuda itu mulai mengobrol bersama dan membicarakan mengenai kekonyolan Barsha saat melakukan permainan tebak kata dengan mereka sebelumnya.


"Hei....apa kalian tidak berpikir bahwa kita ini sudah dewasa, hanya Barsha yang masih terlihat begitu ceria dan dia sama sekali tidak berubah, dia masih seceria dulu dan selalu menghibur kita semua." Ucap Niko yang mengawalinya.


"Apa yang sebenarnya mau kau katakan?" Balas Ciko menanggapi ucapannya.


Sedangkan Varel hanya tersenyum saja mendengar semua ucapan mereka berdua saat itu, hingga mereka langsung berbalik dan saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang aneh.


"Heh...Ciko aku ingin tanya sesuatu kepadamu, bagaimana Barsha menurutmu?" Tanya Niko kepada Ciko untuk pertamanya.


Ciko mengerutkan kedua alisnya merasa heran dengan pertanyaan yang diajukan oleh Niko secara tiba-tiba seperti itu kepadanya, dan dia hanya menjawab seadanya saja saat itu, sesuatu dengan apa yang dia pikirkan selama ini mengenai Barsha tapi terapinya dia juga tidak benar-benar mengatakan hal yang sesuai dengan hatinya.


"Memangnya dia kenapa? Bagiku dia hanya seperti biasanya, ceroboh, tukang nebeng dan selalu merepotkan aku." Balas Ciko saat itu.


Yang ternyata malah mendapatkan tepukkan di kepalanya cukup keras dari Niko karena yang Niko maksudkan sebetulnya bukan mengenai hal itu.


"Pletak... Heh maksudnya itu bukan begitu." Ucap Niko yang gemas dengan Ciko.


"Aishh.....kenapa kau berani menepuk kepalaku, apa kau gila ya?" Bentak Ciko sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit karena di tepuk oleh Niko dengan seenaknya saja saat itu.


Niko sebagai pelakunya dia hanya tersenyum kecil dan meminta maaf dengan segera karena dia tidak mau mendapatkan balasan yang sama dari Ciko saat itu, sembari dia menjelaskan maksud yang dia inginkan sebenarnya.


"Ehehe...maaf, aku hanya keceplosan saja, habisnya kau sih tidak mengeri yang aku maksudkan, maksudku itu kita ini sudah besar, kita seorang pria dan Barsha seorang wanita, bagiku sendiri dia juga tidak terlalu buruk dan tidak jelek juga, kau lihat bagaimana Jepri memperlakukan Barsha sebelumnya bukan, aku curiga dia menyukai Barsha, apa kau rela jika Barsha menjadi pacar si Jepri sialan itu, aku sih tidak mau, dia itu tumbuh denganku, kalau tidak bisa bersamaku setidaknya dia tidak boleh dengan orang lain." Jelas Niko saat itu.


Ciko langsung saja membelalakkan matanya dengan sangat lebar, dia kaget mendengar penjelasan yang dikatakan oleh Niko barusan, selama ini Ciko pikir Niko tidak pernah memiliki pikiran sampai ke arah sana, karena Niko selalu menjahili Barsha dan mereka selalu lebih sering bertengkar diantara yang lainnya selama ini.


"Ciko...kenapa kau melamun, hei.... bagaimana denganmu apa kau pikir Barsha cukup cantik bukan?" Tanya Niko menyadarkannya lagi.


"Aahhh....hahaha..tidak, sama sekali tidak cantik, aku tidak pernah menganggap dia sebagai perempuan, dia hanya aku anggap sebagai sahabat saja, dia seperti...aaa..a..ahh iya seperti adik bagiku, aku kan anak tunggal jadi ibuku juga sering menganggap dia sebagai putrinya jadi aku merasa dia seperti adikku," balas Ciko yang masih saja tidak mau mengakui perasaan dia kepada Barsha saat itu.


Niko menatap aneh pada awalnya namun dia merasa wajar saja Ciko mengatakan hal itu sebab dari sikapnya saja sudah bisa di lihat bahwa selama ini Ciko memang yang paling acuh tak acuh kepada Barsha dan dia lebih banyak kesalnya di bandingkan akur dengan sosok Barsha selama ini.


"Aaahhh....begitu ya, ku pikir kau juga akan berpikir yang sama denganku, karena aku pikir seorang pria dan wanita tidak akan bisa berteman sedekat kita ini, aku juga baru menyadari hal itu ketika aku kesal melihat Barsha malah dekat dengan pria lain, apalagi si Jepri sialan itu, tapi anehnya aku tidak kesal jika dia dekat denganmu ataupun Varel, mungkin karena kalian juga tumbuh bersama denganku jadi aku merasa baik-baik saja," balas Niko lagi saat itu.


Sedangkan Varel terus saja diam dan menanggapinya dengan senyuman yang manis sekali, sampai kini giliran Niko bertanya kepadanya.


"Heh... bagaimana denganmu, sedari tadi kau hanya senyum-senyum sendiri saja seperti itu, kau yang paling baik pada Barsha bahkan kau memperlakukan dia seperti dia itu anakmu sendiri, apa kau menyukainya ya?" Tanya Niko kepada Varel yang membuat Ciko juga sangat penasaran dengan jawaban yang akan diucapkan olehnya saat itu.


Hal yang berbeda dari Varel dia justru dengan berani mengatakan perasaan yang dia rasakan dengan jujur, bahwa dia memang menyukai Barsha saat itu.


"Iya, aku sangat menyukainya." Balas Varel sambil tersenyum lebar menunjukkan giginya yang berjajar sangat rapih saat itu.


"Aaahhh Astaga semua dugaanku memang tidak pernah salah, sejak awal aku sudah tahu kau pasti ada sesuatu kepadanya, kau memberikan dompetmu begitu saja, membiarkan dia mengacak-acak kamarmu, yang padahal kau benci berantakan, membiarkan dia mengacak rambutmu dan bahkan kau menuruti semua keinginannya tidak melakukan yang dia larang, wahh...kau memang pria sejati Varel, aku akan mengalah dengan mu." Ucap Niko saat itu.


Varel lagi dan lagi hanya bisa menanggapinya dengan senyuman saja, sebab dia terus membayangkan sosok Barsha yang selalu menjadi matahari dan sumber energi bagi dirinya yang mudah sekali kehabisan energi ketika di tengah banyak orang.


Sedangkan Ciko sendiri terus saja kembali menatap langit dan menghembuskan nafasnya dengan berat saat itu, dia merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan, dia sengaja menyembunyikan perasaan dia terhadap Barsha selama ini, hanya karena tidak ingin temannya yang lain mengetahui hal itu, karena dia takut dan tidak mau di ledeki oleh Niko ataupun Varel nantinya, namun tidak pernah dia duga bahwa ternyata kedua temannya itu juga memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya selama ini.


Hanya dia sendiri yang tidak mengatakan hal sebenarnya, dia mulai merasa cemas dan takut kehilangan Barsha saat itu.


Hingga ketika aku kembali tiba-tiba saja Ciko berdiri dan menarik tanganku dengan kuat membawaku untuk pulang saat itu juga.


"Eehh...kau sudah kembali, ayo cepat kita pulang, ini sudah sangat malam tidak baik seorang gadis bermain di rumah pria dengan banyak pria lainnya, ayo cepat sana kau pulang." Ucap Ciko terus mendorong tubuhku dengan kuat.


Aku mengerutkan kedua alisku dan merasa sangat heran saat itu, dia terus saja mendorong tubuhku seperti itu dan memaksa aku untuk pergi, padahal ini masih siang belum terlalu malam untuk pulang dan aku juga masih belum mau pulang.


"Eehh....Ciko ada apa sih denganmu, kenapa kau terlihat aneh sekali, ini belum terlalu malam, baru juga matahari terbenam, lagian rumahku kan dekat aku hanya tinggal berjalan beberapa langkah ke depan sudah sampai di depan rumahku, kenapa aku harus buru-buru pulang." Ucapku sambil terus berontak dan melepaskan tangannya yang terus saja memegangi tanganku dan menarikku dengan paksa.


Niko juga langsung menimpalinya dengan cepat dan dia langsung menarik tanganku membawa aku masuk ke dalam dan mengajak kami semua untuk menonton film horor terbaru yang sudah dia beli secara diam-diam sebelumnya.


"Barsha benar, ini masih belum cukup malam, ayo kita nonton film horor saja, aku membeli CD yang baru loh, ayo cepat." Ucap Niko menarik tanganku dan aku langsung mengikutinya ke dalam rumah dengan cepat.


Varel juga mengikutiku saat itu, dan Ciko hanya bisa memegangi keningnya dengan kesal karena dia gagal membawa Barsha pergi dari sana, sekarang dia sendiri hanya perlu menjauhkan si sialan Niko dari Barsha karena dalam pikiran Ciko, Niko adalah yang paling bahaya dibandingkan dega Varel yang selalu diam saja dan tidak pernah melakukan apapun.


Bahkan saat Niko tengah menyetel filmnya dengan cepat Ciko duduk di samping Barsha begitu pula dengan Varel yang juga duduk di sampingnya sehingga ketika Niko berbalik dan hendak duduk dia melihat tidak ada tempat sama sekali untuknya duduk di tengah, karena dia seorang penakut saat itu.


Tapi sepertinya Ciko telah salah paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Niko sebelumnya, karena Niko hanya menganggap Barsha sebagai sahabat dan keluarga terdekat dia saja, jadi saat itu Niko sama sekali tidak marah ataupun keberatan, dia hanya langsung duduk di samping Ciko karena dia pikir Ciko yang paling berani disini, dan dia bisa memegangi Ciko saat dia ketakutan nantinya.


Filmnya pun mulai di putar dan mereka langsung menonton film itu dengan kaki yang di naikkan keatas sofa, dan aku menjadi yang paling tegang saat menonton film tersebut, sebenarnya aku tidak penakut hanya saja aku orang yang mudah sekali kaget jadi aku bukan takut dengan hantu yang ada di dalam film itu, aku hanya kaget dengan suaranya yang begitu besar dan membuat jantungku tidak bisa tenang saat menontonnya.


Hingga di satu momen ketika hantunya muncul dari balik pintu dan membuat suara yang sangat mengagetkan aku langsung saja berbalik memeluk Ciko dengan erat dan Varel juga malah memelukku saat itu.


Karena dia sama-sama kaget, sebab suaranya itu memang muncul secara tiba-tiba, hingga membuat kami bertiga berteriak bersamaan dengan sangat keras dan semuanya memeluk ke arah Ciko.


"Aaarrkkkk...." Teriak kami bertiga dengan sangat kencang.


Tapi diantara aku, Varel dan Niko justru malah Niko sendiri yang paling ketakutan dan memeluk Ciko dengan sangat erat, padahal selalu dia yang mengajak kami untuk menonton film horor yang menyeramkan seperti ini, tetapi dia sendiri yang paling ketakutan dan sejak awal film itu mulai hingga selesai dia lah yang terus memeluk tangan Ciko dengan erat sampai tidak pernah melepaskannya sedikitpun.


Aku sendiri merasa heran dan malam ingin tertawa saat menyadari hal itu, begitu pula dengan Varel saat itu, dia benar-benar sangat konyol sekali.


"Hei...Niko sudah tahu diri sendiri penakut kenapa kau masih berani mengajak menonton film menyeramkan seperti ini, apa kau gila ya?" Ucapku kepadanya sambil menahan senyum saat itu.


Aku menahan senyum karena melihat ekspresi dari Ciko yang sudah sangat kesal dan dia hanya bisa melipat kedua tangannya di dada dengan wajah yang datar dan terus saja terlihat kesal karena Niko terus memeluknya seerat itu membuat dia sangat tidak nyaman selama Niko akan duduk di sampingnya ketika menonton film horor seperti itu.


Padahal hal yang dia harapkan adalah Barsha yang akan memeluknya namun Barsha hanya memeluk dia beberapa detik saja itu pun tidak sempat dia rasakan karena Niko yang terus saja menjerit-jerit tidak jelas sendiri.


Hingga setengah filmnya selesai Ciko langsung mendorong tubuh Niko sekuat yang dia bisa saat itu, agar dia mau melepaskan dirinya yang terus memeluk tubuh dia dengan sangat erat, bak seperti di rekatkan dengan lem yang terus kembali rekat walau sudah di jauhkan berkali-kali.


"Aishh....Niko apa kau pria atau banci sih! Lepaskan tanganku kenapa kau terus memeluk tanganku seperti ini sih, lepaskan aishh...sangat menjijikan tahu!" Bentak Ciko dengan mata yang penuh kekesalan.


Sedangkan Niko sendiri tetap saja tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Ciko kepadanya, meski dia tahu bahwa Ciko sangat kesal kepada dirinya, dia tetap saja berpegangan kepada Ciko karena masih merasa takut seperti biasanya.


Aku sendiri hanya bisa tertawa kecil dengan Varel melihat kelakuan Niko yang memang sangat membuat jengkel seseorang yang cuek seperti Ciko ini, jadi kesannya benar-benar terlihat begitu lucu, apalagi ketika Ciko terus mendorong kepala Niko untuk menjauh dari pundaknya tetap tetap saja dia kembali menempelkan kepalanya di pundak Ciko lagi dan lagi.