
Aku baru kembali merebahkan tubuhku ke sofa di samping Varel dengan wajah yang begitu kelelahan dan keringat mengucur dari dahiku saat itu, mengeluh dan terus menggerutu kesal sebab kelakuan Ciko yang mempermainkan aku sebab dia yang kembali muncul berkali-kali setelah keluar dari pintu rumah Varel.
Aku baru bisa mengistirahatkan diriku dan menutup mata dengan tenang saat itu, setelah dia sudah aku bentak dan tidak terdengar lagi keberadaannya di luar sana.
Hingga setengah menutup mata selama beberapa menit, aku tetap saja tidak bisa tidur sebab rasa kantuk di dalam diriku sudah terlanjur hilang akibat Ciko yang sudah mengacaukannya lebih dulu saat itu.
Alhasil aku hanya bisa menggerutu keras seorang diri dan terus saja emosi karenanya, selain Varel ini tetap saja tertidur dengan lelap meskinaku sudah berteriak, menjerit dan menggerutu berkali-kali saat itu, hingga membuat aku merasa cemas dengan keadaan dia saat itu.
"Aishh....kalo aku pikirkan, kenapa Varel bisa tidur selelap ini, padahal aku sendiri sudah kehilangan rasa kantukku karena di ganggu oleh Ciko, dia terus tidur lelap bahkan setelah apa yang aku lakukan?" Gerutuku menatapnya dan mulai merasa penasaran.
Aku pun mencoba untuk memeriksa karena tidak bisa membiarkan semua ini terjadi tanpa alasan yang jelas, aku terus saja menatap dia lebih dekat dan terus mendekat hingga tiba-tiba saja saat aku tengah memeriksanya dan mencoba untuk meraba matanya dari dekat, supaya bisa memastikan dengan jelas apakah dia benar-benar masih tertidur atau tidak.
Namun sialnya tanganku yang menahan diri pada sandaran sofa malah terpeleset karena keringat dan licin, sehingga membuat aku terpeleset dan langsung menimpa tubuh Varel saat itu, aku benar-benar tidak sengaja hingga bibirku malah mencium bibir Varel secara langsung, mataku terbelalak sangat lebar dan aku tida tahu harus berbuat apa, selain dari menjauh darinya dengan cepat.
Aku langsung saja menjauh darinya dan kembali duduk di samping Varel sambil memegangi bibirku sendiri yang baru saja telah kehilangan ciuman pertamaku dengannya. Terus terperangah dan merasa keheranan sendiri.
"Astaga...ada apa denganku, aahh aku sudah kehilangan harga diriku sekaligus ciuman pertamaku, sial..sial..sial... Aaahh untung saja anak ini masih tidur, jika sampai dia tahu, matilah aku, apa yang harus aku katakan padanya nanti?" Gerutuku pelan dan terus menepuk bibirku sendiri untuk memberikan pelajaran.
Karena aku tidak mau memikirkan mengenai hal itu lagi, aku pun segera saja membawa Varel untuk masuk ke dalam kamarnya dan segara menidurkan dia di ranjang hingga menyelimutinya, aku segera pergi dari rumah itu secepat yang aku bisa setelah aku menyelesaikan semua tugasku untuk menjaganya, aku tidak bisa terus berada di dekat Varel setelah kejadian canggung seperti tadi, aku juga takut Varel akan tiba-tiba bangun nantinya dan aku tidak bisa berkata-kata apapun dengannya.
Aku pulang dengan terburu-buru hingga menabrak pintu kamar Varel sekali, sebab aku pikir pintunya sudah aku buka namun rupanya pintu itu mengunci otomatis dan aku harus kembali membuat kuncinya dengan kode angka yang aku ketahui terlebih dahulu, barulah aku bisa membukanya lagi, aku sampai lupa dengan hal sepenting itu yang pada biasanya sering aku lakukan, karena aku merasa sangat gugup tidak karuan.
"Bruk, aduhh.... ahh..sial, kenapa pintu orang jenius harus seribet ini sih, kepalaku jadi sakit kan, pasti ini akan lebam aasihh" gerutuku sambil mengusap jidatku sendiri yang terasa berdenyut sakit saat itu.
"Ya ampun, apa aku baru saja berc*Uman dengan Barsha?" Katanya sambil segera berlarian cepat ke kamar mandi dan menatap cermin di depannya sambil terus memperhatikan bibirnya sendiri saat itu.
"Apa bibirku tadi bagus, apa Barhsa benar-benar melakukannya dengan tidak sengaja? Tapi aaahhh....aku hampir saja mati kutu dibuatnya." Tambah Varel terus saja tersenyum senang sendiri.
Memang itu yang dia harapkan sejak lama, dia sudah menyukai Barsha dan menyadari perasaannya lebih dulu di bandingkan siapapun, bahkan sejak mereka masih duduk di bangku sekolah menengah, Varel sudah sadar jika dia menganggap Barsha tidak hanya sekedar teman, ataupun sahabatnya, dia ingin menjadi seseorang yang lebih bagi Barsha, ingin selalu di sampingnya dan selalu ingin ada di dekatnya setiap waktu, agar diatidak perlu merasa kesepian lagi, seperti ketika dia ditinggal ibunya bekerja ataupun di tinggayayahnya yang pergi ke luar negeri meninggalkan dia dan ibunya sendiri di negara ini. Tapi karena dia memang sedikit penakut dengan masalah yang menyangkut perasaan seperti ini, sehingga Varel lebih memilih untuk diam, dia tidak ingin mengungkapkannya disaat dia belum bisa melihat jika Barsha juga balik menyukai dirinya.
Namun kali ini setelah sudah mendapatkan ciuman pertama dari Barsha, dia merasa mendapatkan sebuah respon baik dari Barsha dan rasa senangnya dia berbeda dengan kebanyakan orang, jika orang lain akan berjingkrak kegirangan atau sebagainya, Varel sendiri hanya tersenyum senang di depan cermin dan dia segera menuliskan waktu dimana dia berci*man pertama dengan Barsha di buku catatannya, juga menandai tanggal pada kalender yang ada di meja kerjanya.
Dia memang sangat berbeda dengan orang kebanyakan, bahkan diam-diam Varel sedang menciptakan sebuah robot canggih yang bisa menjadi panduan untuk dia pergi kemanapun bak seperti seorang pemandu agar dirinya bisa membawa Barsha pergi tanpa harus menggantungkan arah kepada Barsha nantinya.
Dengan adanya kejadian seperti itu, membuat Varel semakin bersemangat untuk melanjutkan projek terbaik dan terbarunya tersebut, bentuk alatnya hampir mirip seperti sebuah headset bluetooth yang tanpa kabel, namun kali ini itu bukan hanya sekedar alat yang menutup telinga atau untuk mendengarkan musik semata.
Alat yang dibuat oleh Varel terhubung dengan sebuah jam tangan digital yang bisa memunculkan hologram di diatasnya, bisa mengakses segala hal seperti mengangkat panggilan telpon, memandu arah atau acara juga memberikan jalur terbaik untuk penggunanya agar tidak tersesat, hebatnya dengan menggunakan alat itu Varel tidak perlu lagi bersusah payah membuat g*ogle ma*s dan kesulitan membaca peta disana ataupun mengikuti arahan dalam aplikasi tersebut, yang terkadang cukup membuatnya kebingungan dan sedikit ribet karena dia harus melihatnya lewat ponsel.
Hingga dia membuat modifikasi baru dan terbarukan sehingga semuanya lebih canggih dan lebih mudah untuk di mengerti serta di akses oleh semua orang.
Selain lebih praktis, alat tersebut juga bisa menyembunyikan kelemahan seseorang yang buta arah seperti Varel ini, dimana orang lain tidak akan tahu bahwa dia alat yang terpasang di telinganya adalah alat pemandu yang bisa menunjukkan jalan yang benar serta hal apa yang harus kita lakukan ketika berhadapan dengan seseorang.
Hologramnya juga bisa mengeluarkan suara seakan dia dapat mengobrol dengan pemiliknya, Varel sudah membuat jam miliknya bisa mengenali dia orang dirinya da Barsha saja, dia sudah menyimpan pengenal Barsha lewat foto Barsha yang dia miliki di ponselnya, bahkan memasukkan semua hal yang di sukai Barsha ke dalam alat canggih yang sudah dia buat tersebut.