BARSHA

BARSHA
Mabuk Perjalanan



Tapi walaupun begitu dia tetap menerima setiap suapan yang aku berikan untuknya, aku sangat senang sebab sudah bisa menemukan dia kembali, rasanya sangat melegakan bisa segera pulang dengan Varel di sampingku, kami segera pergi ke halte bus dan segera saja masuk ke dalam bus yang terlihat sudah penuh dengan penumpang tersebut.


Aku berdesakkan masuk ke dalam dan segera saja mengambil ruang untuk berdiri disana secepatnya, aku tarik tangan Varel dengan cepat karena dia sangat lambat sekali, padahal bus sudah sangat penuh dan kami hampir saja akan tertinggal oleh bus tersebut, sebab sudah tidak menerima penumpang lagi akibat terlalu banyak penumpangnya.


Awalnya Varel juga tidak mau masuk ke dalam bus denganku karena dia tidak mau berdesakkan dengan orang yang lainnya, tapi untunglah aku bisa menarik tangannya dengan cepat sehingga masih sempat untuk masuk dan mendapatkan tempat di dalam bus itu, meskipun sangat pengap dan berdesakkan sekali.


Namun untungnya tidak lama setelah sekitar dua puluh menitan, para penumpang sudah mulai turun satu per satu dari dalam bus sehingga, bus mulai lengang dan aku sudah bisa berdiri dengan lega dan menghirup udara dengan bebas.


Aku benar-benar merasa sangat lega, baru bisa bernafas leluasa dan sudah tidak perlu lagi mencium aroma bau badan juga berdesakkan dengan pinggul orang lain, atau terseret hingga wajah menempel ke dinding bus, dan kaki yang harus terinjak oleh penumpang yang lainnya.


"Hah....hah...hah... akhirnya aku bisa bernafas dengan lega, Varel apa kau baik-baik saja?" Tanyaku pada dia sambil menoleh ke samping menatap kondisi Varel yang membuat aku sangat cemas.


Ku lihat dia sudah sangat lemas dengan sebelah tangan berpegangan ke tempat duduk di depannya juga wajah dia yang begitu pucat, aku langsung mendekatinya dan memegangi tangan Varel dengan erat.


"Eehh ..Varel apa kau baik-baik saja? Varel, ayo bicara?" Tanyaku terus saja menanyakan mengenai keadaan dia saat itu.


Dia benar-benar sangat mencemaskan sekali, aku tidak bisa membiarkan dia terus berada di dalam bus dengan keadaan seperti ini, sehingga aku langsung memaksa supir bus untuk menghentikan lajunya meskipun itu di tengah jalan.


"Pak ..berhenti, hei...supir berhentilah, aku mohon tolong berhenti ini darurat!" Teriakku kepadanya sambil berjalan cepat menerobos penumpang lain yang menghalangi jalanku untuk menuju kursi kemudi sang supir.


Awalnya supir bus itu tidak mengijinkan aku untuk turun dengan sembarangan seperti ini, sebab peraturan menaiki bus sudah sangat jelas, bahwa semua penumpang hanya bisa naik dan turun setiap kali bus berhenti di halte tempatnya berhenti, selain itu tentu tidak diperbolehkan sama sekali kecuali jika keadaan tidak terkendali atau mendesak.


Tapi kali ini dengan semua keberanian yang aku katakan kepada supir tersebut dan sebuah alasan yang pasti aku berhasil menghentikan bus itu secepatnya.


"Kau tidak bisa turun di tempat sembarang, nanti saja di halte bus depan sana." Ucap sang supir tersebut kepadaku.


"Hei... Apa kau gila! Lihatlah keadaan temanku, dia sudah tidak bisa menahannya lagi, jika sampai dia pingsan, atau terjadi sesuatu yang buruk dengannya, aku akan menuntut dirimu hingga ke meja pengadilan, terlebih dia adalah jenius fisika dia orang yang menciptakan banyak robot kau tidak akan bisa lepas dari hukum yang lebih berat daripada menurunkan aku di tengah jalan seperti ini!" Bentakku kepadanya dengan mata terbuka lebar dan suara keras yang bisa di dengar semua penumpang di dalam bus tersebut.


Akhirnya supir bus itu menghentikan lajunya beberapa saat setelah aku membentak dia seperti itu, dan dengan cepat aku berteriak menyuruh semua orang menyingkir agar tidak menghalangi jalanku, aku pergi memapah Varel keluar dari bus itu secepatnya.


"Hei Minggu, minggir lah kalian semua, berikan aku jalan, disini ada yang sakit!" Bentakku berteriak sekencang yang aku bisa saat itu.


Semua orang langsung menyingkir dan mendengarkan ucapanku, aku bisa membawa Varel keluar dari dalam bus itu secepatnya, segera aku mendudukkan dia di samping jalan dan langsung saja mengelus punggungnya karena dia benar-benar terlihat pucat pasi saat itu, aku sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dia, hingga tidak lama kemudian Varel malah muntah sangat banyak bahkan berkali-kali, dan aku semakin mencemaskan dia saat itu.


"Astaga...Varel ada apa denganmu, apa kau masuk angin apa gimana? Kenapa kau mabuk seperti ini aaahh jangan bilang kalau kau tidak bisa naik bus karena ini." Ucapku sambil terus mengelus belakang lehernya membantu dia untuk merasa lebih baik setelah mengeluarkan isi di dalam perutnya tersebut.


Dia mulai bisa bernafas dengan lega dan sudah bisa menyesuaikan dirinya setelah berhasil mengeluarkan beban yang dia kandung selama berada di dala bus sebelumnya.


Kini giliran aku yang semakin merasa bersalah saat melihat wajah Varel yang begitu pucat dan lemas, aku segera menghentikan taxi secepatnya dan mengantarkan dia pulang menuju rumahnya, hingga ketika aku baru saja sampai di depan rumah Varel, aku malah bertemu dengan Ciko yang saat itu baru keluar dari rumahnya entah hendak pergi kemana dengan pakaian yang sudah rapih saat itu.


Ciko yang pertama kali melihat aku memapah Varel dia langsung menghampiri diriku da berterima memanggilku cukup kencang saat itu.


"Varel.. Barsha, ada apa dengan kalian? Hei. Barsha kenapa Varel sampai seperti ini, apa yang sudah kau lakukan padanya?" Tanya Ciko yang langsung saja memberikan tatapan tajam kepadaku.


"Hei jangan banyak bertanya dulu, ayo bantu aku memapah dia, ini sangat berat aku hampir tidak tahan menahannya lagi." Ucapku kepada dia saat itu.


Ciko pun segera membantuku dengan cepat, dia segera bergiliran memapah Varel hingga masuk ke dalam rumahnya dan mulai mendudukkan Varel di sofa ruang tamu rumahnya, aku juga duduk di samping dia begitu pula dengan Ciko yang ada disana juga saat itu.


"Haaahh... akhirnya aku bisa melepaskan beban yang berat ini, astaga hampir saja pundakku akan patah karena harus memapah Varel dari jalanan depan hingga kemari." Gerutuku sambil terus saja memijat sendiri kedua pundakku saat itu.


"Hei, kau belum menjawab pertanyaan dariku, kenapa Varel bisa sampai seperti ini, apa yang sudah kau lakukan dengannya, lihat anak orang kaya buat lemas seperti itu dan terlihat pucat pasi, kau apakah dia?" Bentak Ciko bertanya lagi kepadaku.


Sebenarnya saat itu aku tidak berani untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Ciko, sebab aku tahu, jika aku memberitahunya maka dia akan memarahi aku dan bisa saja memberikan pelajaran yang buruk untukku nantinya.


Jadi saat dia mendesak aku untuk menjawab pertanyaan darinya kepadaku, aku hanya bisa terdiam dan menampakkan senyum tipis padanya, aku tidak tahu harus mulai bicara sampai mana, terlebih saat itu Varel juga sudah terlihat begitu lemas dan lelah bahkan entah sejak kapan dia mulai menutup matanya dan sudah tertidur dengan lelap.


"Ayo katakan!" Desak Ciko lagi kepadaku, dengan tatapannya yang semakin tajam saja saat itu.


Aku bahkan sampai tersentak cukup kaget dan mulai menelan salivaku dengan susah payah karena mendapatkan banyak bentakkan dan tatapan setajam itu dari Ciko dalam satu waktu, dan dia terus melontarkan pertanyaan yang sama berkali-kali kepadaku, sehingga hal itu membuat aku sangat kesal dibuatnya, jadi aku malah keceplosan mengatakan kebenarannya secara tidak langsung kepada Ciko saat itu.


"Aishh... Dasar kau ini, membuat aku kaget saja. Apa kau mau membuat aku serangan jantung ya?" Balasku sambil memegangi dadaku saat itu.


"Bukan begitu tapi sedari tadi kau terus saja membuat aku mencurigai banyak hal padamu, jadi sebaiknya cepat kau jawab pertanyaan dariku tadi, kenapa Varel bisa sampai seperti ini, matanya juga terlihat agak bengkak, apa dia kau buat menangis?" Tanya Ciko lagi padaku.


"Aku membuka dia menaiki bus, dia mabuk jadi lemas seperti itu, kenapa kau mau marah denganku hah?" Balasku keceplosan saat itu.


Aku langsung menutup mulutku dengan cepat dengan mata yang terbelalak sangat lebar dan segera saja menjauh darinya, aku sangat takut Ciko benar-benar akan berbuat sesuatu kepadaku saat itu.


Sebab dia langsung berteriak sangat kencang ketika mendengar jawaban dariku barusan dan ekspresi yang dia berikan begitu menakutkan sekali, aku saja sampai merinding melihatnya.


"APA KAU BILANG? KAU MEMBAWANYA NAIK BUS? Apa kau gila ya?" Ucap Ciko yang langsung membentak dengan keras padaku.


Aku langsung tersenyum dan meminta maaf kepadanya, sekaligus meminta ampun agar dia tidak bersikap kasar ataupun memberikan aku pelajaran atas apa yang sudah aku lakukan kepada Varel sebelumnya.


"Ehehe....maaf maaf aku lupa, karena sebelumnya aku terburu-buru dan aku pikir dia sudah bisa naik bus setelah dia tumbuh sedewasa sekarang, tapi ternyata.." ucapku tertahan dan di lanjutkan langsung oleh Ciko saat itu.


"Ternyata dia malah seperti ini, iya? Aishh...kau ini idiot atau memang ceroboh sih, kau tahu Varel tidak bisa naik bus, dia akan mabuk dan merasa pusing setiap kali menaiki bus terlebih banyak sekali orang dan akan berdesakkan, dia benar-benar tidak bisa kau bawa ke tempat seperti itu, dan aku malah memaksa dia baik bus, aaahh aku tidak mau tahu kau harus bertanggung jawab atasnya, aku ada urusan dan kau jagalah dia sampai dia bangun, atau aku akan melaporkan kejadian ini kepada ibunya jika nanti Tante pulang kemari." Ucap Ciko menunjuk dan terus saja memberikan ancaman kepadaku saat itu.


Aku hanya bisa terus saja menunduk dengan lesu dan sama sekali tidak bisa melakukan apapun, selain dari menerima semua hal yang sangat kacau ini, lagi pula semua ini memang terjadi karena ulahku dan kecerobohan yang aku lakukan, sehingga aku sadar diri bahwa memang aku yang harus bertanggung jawab, lagi pula sebelumnya Ciko berkata begitu, aku juga sudah akan bertanggung jawab pada Varel dan biasa merawat dia, entah dia sakit atau tidak sekalipun.


"Eumm...iya iya, kau tidak perlu cemas sejak awal aku juga akan bertanggung jawab, kau saja yang terlalu berlebihan." Balasku kepadanya saat itu.


Ciko terlihat sangat marah dan kesal.denganku namun untunglah disaat dia hendak membentakku lagi, ponselnya berbunyi dan dia tidak jadi melakukan itu padaku, dia segera saja mengangkat panggilan masuk di ponselnya.


"Aishh...krining...krining... Awas saja kau nanti!" Ucap dia menatap tajam kepadaku memberikan peringatan dengan menunjuk tajam.


Aku terus saja menunduk dan ingin segera melihat dia segera pergi dari rumah ini, karena hanya dengan kepergian dia baru aku bisa merasa bebas dan setidaknya aku bisa merebahkan sedikit tubuhku untuk menenangkan diri setelah perjalanan yang sangat melelahkan sebelumnya.


Hingga Ciko benar-benar pergi dari sana setelah dia mengangkat panggilan telpon itu, suara pintu yang dia tutup membuat aku merasa lega, dan segera saja aku merebahkan tubuhku ke belakang sofa yang aku duduki dengan nyaman dan tenang.


Hingga tidak lama disaat aku baru saja menghembuskan nafas dengan lega sebab mengira Ciko sudah pergi, dia malah muncul kembali di balik pintu dengan menampakkan kepalanya saja saat itu, membuat aku kaget dan refleks langsung terperanjat kembali duduk dengan cepat dan langsung saja bangkit menatap tajam kepadanya dengan segera.


"Barsha awas kau, jaga Varel dengan baik, jangan berani-beraninya kau meninggalkan dia sendiri di rumah!" Ucap dia yang masih saja memperingati aku saat itu.


Dengan wajah yang tegang dan wajah yang duduk dengan tegak sekaligus, aku langsung mengangguk dengannya agar dia bisa cepat pergi lagi dari sana.


"Iya, siap, aku akan menjaganya dengan baik, kau tidak perlu cemas." Balasku dengan nada yang tegas kepadanya saat itu.


Dia pun menyipitkan matanya sedikit lalu segera kembali menutup pintunya dengan cukup keras, aku baru saja bisa bersantai dan merebahkan tubuhku ke belakang, dia malah kembali lagi muncul mengangetkan aku untuk ke sekian kalinya, membuat aku sangat syok dan kaget dibuatnya saat itu.


"Astaga....kenapa dia sangat menjengkelkan sekali, hei Ciko jika kau muncul lagi aku akan melempar kepalamu dengan sandal ini!" Teriakku kepadanya dengan ancaman yang sudah siap ku pegang sandal itu di tangan untuk melempar dia saat itu.


Tapi ternyata dia tidak kembali muncul disaat aku sudah bersiap-siap untuk menghajar dia dengan sandal tersebut, sangat menjengkelkan sekali untuk menghadapi manusia menyebalkan sepertinya.


Alhasil pada akhirnya aku hanya bisa menggerutu kesal sendiri dan terus saja merasa emosi sendirian sebab kelakuannya yang sangat menyebalkan itu.


"Aaarrkkkk...dasar manusia menyebalkan, manusia menjengkelkan, aku ingin menghajarnya dengan sekuat tenagaku, hah...hah..hah..lihat saja kau manusia sialan!" Gerutuku dengan penuh emosi dengan kedua tangan yang aku kepalkan sangat sekali.