
Hingga Ciko langsung membawa kami ke tempat pusat perbelanjaan di dekat sana, dimana disana tersedia semua jenis makanan, pakaian, barang elektronik dan hal lainnya yang bisa kita pilih dengan bebas sesuai dengan minat dan kesukaan kita, hingga Ciko membawa kami masuk ke dalam dan mulai kebingungan dengan apa yang akan kita beli saat itu, untuk di jadikan hadiah bagi Kevin yang sudah bisa di pastikan besok akan sampai di bandara.
"Hei....apa yang akan kita beli, banyak sekali barang disini aku sama sekali tidak tahu apa yang di sukai bocah jenius itu," ucap Ciko kepada aku dan Niko.
Dengan cepat Niko juga langsung menaikkan kedua pundaknya mengatakan bahwa dia juga sama sekali tidak pernah memberikan hadiah kepada siapapun sebab itu dia tidak tahu juga apa yang akan di berikan untuk Varel nantinya.
"Jangan melihatku aku juga tidak tahu, apa yang dia suka, sejak dulu dia jarang kumpul dengan kita dan dia tidak pernah mengatakan apa yang dia benci dan apa yang dia sukai padaku, jadi mana aku tahu," balas Niko saat itu.
Mereka berdua pun langsung saja menoleh ke arahku dan dia terus menatap sangat lekat sambil melipatkan kedua tangan mereka kepada aku saat itu, aku merasa tertekan dengan tatapan dari mereka yang sangat menyudutkan aku saat itu.
"Hei....hei...kenapa kalian jadi menatap begitu padaku, aishh..aku congkel kedua mata kalian baru tahu nanti!" Bentakku pada mereka sangat kesal.
"Bukankah kau yang paling dekat dengan Varel harusnya kau tahu apa yang dia sukai bukan? Ayo pilih kira-kira apa yang dia tidak punya dan apa yang akan dia sukai." Ucap Niko padaku saat itu.
Aku pun langsung saja berbicara menyebutkan apa yang aku sukai karena aku memang sangat menginginkannya dan refleks mengatakan hal itu sebab kebetulan aku melihat seorang anak kecil yang berjalan melintasi aku dengan memakan es krim vanila yang terlihat begitu segar dan lembut.
"Aaahhh...es krim...," Ucapku saat itu seakan aku menjawab pertanyaan dari Niko sampai membuat mereka berdua salah paham padamu dan langsung saja membentak aku saat itu.
"Heh.. Barsha kau sialan atau bodoh, aku bertanya apa yang di sukai untuk Varel bukan yang kau sukai!" Bentak Niko padaku saat itu.
Sedangkan Ciko terlihat menggelengkan kepala saja dengan pelan saat itu, tidak tahu apa yang dia pikirkan sampai harus menggelengkan kepala seperti itu, namun setidaknya aku senang karena dia tidak ikut campur membentak aku seperti yang dilakukan Niko sialan padaku sebelumnya.
"Aishh....kenapa kau membentakku aku kan hanya bilang ingin es krim, kenapa harus semarah itu sih," balasku kepadanya.
"Sudahlah memang tidak ada yang bisa di harapkan darimu, uang tidak ada, mana menjengkelkan begini, dan sekarang kau malah ingin es krim, minta saja pada ayahmu sana!" Balas Niko lagi sangat sinis kepadaku.
Aku benar-benar di buat emosi olehnya saat itu, rasanya aku ingin menghajar dia juga namun masih ada Ciko disana dan aku tidak bisa melakukannya hingga saat aku dan mereka berdua kembali berjalan melewati sebuah robot kamera cctv, aku langsung tertarik dengan robot yang keren dan berbentuk kecil yang menempel di salah satu tak pada toko elektronik disana.
"Ehhh.... tunggu-tunggu," ucapku menahan mereka berdua saat itu sambil terus memperhatikan robot kecil tersebut.
Aku ingat bahwa saat itu Varel pernah berkata padaku bahwa dia ingin memiliki robot kecil yang bisa bergerak mengikuti gerakkannya dan memeriksa siapa saja yang masuk ke dalam kamar dia ataupun sebagai robot penjaga di ruang praktek yang dia punya.
Jadi saat aku melihat robot itu dan mendengar sang pemilik toko tengah mempromosikan robot tersebut dan mengatakan kegunaannya, aku langsung saja tertarik dengan robot tersebut dan aku pikir Varel pasti menyukainya.
"Heh....ada apa denganmu?" Ucap Niko padaku saat itu.
Langsung saja aku tangkup kepalanya itu dan mengarahkannya pada toko yang tengah melakukan promosi besar-besaran disana.
"Lihat...robot itu, aku tahu Varel akan menyukai robot semacam itu karena dia seorang ilmuan yang meneliti robot, dia juga mengikuti kontes robot kan, dia sangat keren karena selalu menciptakan robot-robot aneh dengan otak dan tangannya yang terampil, jika kita membeli robot itu dia pasti akan menyukainya," ucapku menjelaskan kepada mereka berdua yang langsung saja di anggukkan oleh Ciko dan dia tersenyum kecil saat itu.
Sedangkan Niko justru terus berontak padaku dan menyuruh aku untuk melepaskan dekapan pada wajahnya saat itu hingga kupingnya menjadi merah karena aku memeganginya terlalu kuat dan memakan kupingnya sangat cepat saat itu.
"Aaa...aaa....aahh... Barsha lepaskan kepalaku, apa kau mau kepalaku copot ya! Aduh.....kupingku jadi merah dan panas begini karena kau, dasar sialan kau!" Bentak Niko terus uring-uringan tidak jelas padaku saat itu.
"Benar juga apa yang dikatakan oleh Barsha, ya sudah ayo pergi dan lihatlah dahulu kesana," ucap Ciko yang langsung pergi lebih dulu.
Aku juga segera menyusulnya dengan cepat dan meninggalkan manusia sialan seperti Niko yang sangat menjengkelkan dan menguras kesabaranku saat itu.
"Ehhh...Ciko tunggu aku," teriakku padanya dan segera pergi dengan cepat saat itu juga.
Sesampainya aku di dalam sang pemilik toko itu masih saja tengah sibuk menjelaskan kepada kami semua yang berkerumun disana mengenai keahlian robot itu yang benar-benar sangat luar biasa dan canggih bahkan pemilik toko tersebut menyuruh aku untuk mencobanya sebagai fokus atau pemilik robot tersebut, robot itu mengeluarkan sebuah cahaya merah yang terlihat begitu pipih lalu mulai mengenali wajahku dan dia bisa terus mengikuti aku kemanapun aku berjalan, dia terus berbelok-belok bahkan bisa memutar kepalanya tersebut mengikuti gerakkanku dan juga seperti menatapku saat itu, robot tersebut juga bisa memanggil namaku ketika sang pemilik toko menyetelnya.
Itu sangat canggih dan membuat aku, Ciko dan Niko merasa sangat kagum sekali denganya.
Begitu pula dengan Ciko dan Niko sampai kami semua bisa langsung memutuskan untuk mau membeli robot tersebut.
Tapi sayangnya ketika kami mengetahui harganya, aku dan kedua temanku yang tidak seberapa kaya ini, memang tidak bisa membelinya uang kami jauh dari kata cukup bahwa untuk separuhnya saja sama sekali tidak sampai.
"Bos....kami mau robot itu berapa harganya?" Tanyaku kepada pemilik toko tersebut.
"Robot ini sangat mahal sebab ini adalah robot keluaran terbaru, dia bisa mengantisipasi adanya pembobolan ataupun pencurian di rumahmu, jadi untuk kelas robot penjaga se intens ini kami memberikannya harga $3000 saja, itu sudah merupakan harga diskon paling rendah hanya untuk hari ini saja, kalian sangat beruntung bisa mendapatkan harga serendah ini," ucap wanita tersebut membuat aku, Ciko dan Niko langsung terperangah membelalakkan kedua mata kami dengan mulut terbuka lebar sangat kaget mendengarnya.
"APA? $3000? Wahh ..kenapa robot sekecil ini harganya lebih mahal daripada harga rumahku?" Ucapku benar-benar kaget dan tidak habis pikir dengan harga robot itu.
"Benar nona, karena memang robot ini adalah robot minimal yang di desain khusus oleh para ahli untuk penjagaan dan penangkapan pencuri atau sering di gunakan oleh orang-orang kaya sebagai pengganti cctv keamanan, tentu harganya akan tinggi dan harga $3000 ini bahkan masih terbilang sangat rendah." Balas pelayan itu membuat aku sangat kesal mendengarnya.
Mendengar penjelasan darinya saja sudah membuat aku ingin pingsan, karena harganya yang benar-benar di luar nalar saat itu.
"Astaga...apa kau tidak tahu bahkan harga pakaianku dan kebutuhan hidupku tidak semahal itu, jika aku punya uang sebanyak itu aku juga tidak akan membeli robot yang hanya bisa bergerak kepalanya saja seperti ini, aishh...yang benar saja, ayo cepat kita pergi dari sini," ucapku menggerutu sambil langsung menarik tangan Niko dan Ciko agar keluar dari toko elektronik tersebut yang sangat mewah.
Wajah pelayan tadi terlihat sangat kesal setelah mendengar jawaban dariku, tapi aku sama sekali tidak perduli dengan hal itu karena aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya saja, sesuatu dengan apa yang terjadi di lapangan saat itu, karena memang harga robot setinggi itu benar-benar tidak masuk akal bagiku sebab pasalnya itu hanya sebuah robot keamanan dengan cahaya impra merah yang bisa mendeteksi hal mencurigai, tetapi bahkan robot itu tidak bisa memukuli orang, jadi jika ada orang yang berbuat jahat aku pikir robot itu hanya bisa merekam wajahnya meski terhalang oleh penutup wajah dan bisa mengindetifikasi seluruh tubuh sang pencurinya tetapi tetap saja bisa jadi orang jahat itu melarikan diri tanpa di ketahui oleh pemiliknya sebab robot itu tetap tidak bisa menahannya atau melawan robot itu sama sekali.
Aku benar-benar sangat kesal dan emosi sekali dibuatnya, benar-benar tidak habis pikir mengapa harus ada robot jenis seperti itu di dunia ini dengan harga yang tidak wajar untuk orang miskin seperti aku ini.
"Wahhhh...apa kau pikir wajar jika harga sebuah robot semahal itu, bukankah toko itu sama saja dengan perampok? Aishhh... bagaimana bisa robot yang tidak bisa bergerak dan memiliki banyak kekurangan seperti itu harus memiliki harga yang tinggi, apa dia gila," gerutuku terus bicara dengan kesal pada Niko dan Ciko.
Mereka hanya menanggapi gerutuanku dengan tertawa kecil seakan mereka menertawakan aku terus menerus saat itu, padahal aku memang mengatakan yang sebenarnya, sesuatu dengan apa yang aku pikirkan dan apa yang aku rasakan saat itu.
"Hei ..kenapa kalian menatapku begitu, apa kalian menertawakan aku sedari tadi ya?" Ucapku membentak mereka berdua dan menatap tajam bergantian kepada Ciko.dan Niko saat itu.
"Ffftttt...tidak...tidak aku tidak menertawakan mu hanya saja kenapa kau harus sangat berani seperti tadi pada seorang staf di toko robot canggih seperti tadi, lagi pula memang harga robot itu tidak ada yang murah kau saja yang tidak mengetahuinya." Balas Niko sambil terus menahan tawa saat itu.
Meski mereka berdua menyembunyikan tawanya dariku tetap saja aku tahu dan bisa merasakan dengan jelas bahwa mereka berdua tengah menertawakan aku saat itu, bahkan bukan hanya saat itu saja tetapi sejak aku marah dan membentak staf di toko sebelumnya.
"Aishhh....kau gila, memangnya kau memiliki uang sebanyak itu, jika aku tidak membawa kalian keluar dengan cepat kalian hanya akan menjadi malu karena tidak akan sanggup membeli robot sialan itu," balasku kepada mereka berdua.
"Lagian kau sendiri mengapa mengajak kami masuk ke dalam toko itu terburu-buru padahal sejak awal aku sudah tahu bahwa toko itu adalah tempat para orang kaya bukan anak sekolahan seperti kita, tentu saja kita tidak akan mampu membeli apapun yang ada di sana, apalagi robot secanggih itu. Kau konyol sekali sih ahaha.....pake marah-marah tidak jelas lagi mempermalukan dirimu sendiri tahu." Balas Niko lagi padaku.
Aku benar-benar sangat emosi mendengarnya ucapan darinya karena ternyata dia sudah mengetahui sejak awal bahwa toko tersebut memang tidak cocok untuk kami masuki tetapi dia malah tidak memberitahukan aku tentang hal itu dan masih memberikan aku masuk ke sana.
"Aishhh....kalau kau sudah tahu kenapa kau masih mau ikut masuk ke dalam denganku apa kau sengaja ingin mempermalukan aku seperti tadi ya?" Bentakku kepadanya dengan mengerutkan kedua alisku dan merasa sangat kesal sekali dengannya saat itu.
"Sudah....sudah...jangan bertengkar ayo kita beli sesuatu ke tempat lain saja, tidak perlu membeli apa yang dia inginkan membeli apa yang terjangkau saja, ayo cepat aku tahu dimana ada toko jaket yang keren tapi harganya murah," ucap Ciko menarik tanganku dan saat itu Niko bisa lolos dari incaranku.
Jika saja saat itu Ciko tidak membawaku pergi dengan segera dan menjauh dari Niko sudah bisa aku pastikan wajahnya akan babak belur dengan tinjuan yang akan aku berikan kepada dia nantinya.
"Ahahah....ayo ayo kita pergi saja, sudah kau jangan memendam dendam begitu, aku kan tidak tahu bahwa reaksimu akan semengejutkan itu ahaha... Tapi kau tadi cukup menghibur." Ucap Niko yang semakin saja mengambil kesabaran di dalam diriku sejak tadi.
"Oh....begitu ya..awas kau Niko! Jika Ciko lengah dan melepaskanmu aku tidak akan membiarkan kau lolos walau hanya sedetik saja!" Bentaku mengancam dia tetapi Ciko terus menarik tanganku dengan cepat dan membawa aku untuk menjauh dari Niko saat itu juga, sebab dia juga takut aku akan bertengkar lagi dengan Niko.
"Hei...sudah nanti keburu tutup cepat pergi, abaikan saja Niko itu nanti dia juga akan mengikuti kita dan tidak akan berani meledeki kau lagi," ucap Ciko memberitahuku sambil terus saja menarik tanganku dengan paksa.
Padahal aku sudah sangat emosi sekali dengannya saat itu, tapi sayang tidak bisa melampiaskan emosi kepadanya sebab terhalang oleh Ciko.