
"Bu. Mau bagaimana lagi saya menjelaskannya, mending sekarang ibu lihat saja deh hasil jawabannya, setelah ibu lihat baru ibu bicara lagi, saya memang sudah mengerjakan semuanya yang saya tahu." Balasku sekali lagi pada guruku itu.
Dia pun akhirnya mau melihat jawaban soal latihan ku, dan setelah melihat apa yang aku katakan memang nyata, akhirnya bu guru tidak bicara sembarangan lagi, dia sudah tidak mau menahan aku seperti sebelumnya lagi dan aku sudah bisa pergi dari kelas saat itu juga.
"Eh.... Kamu beneran sudah menyelesaikannya ya, ya sudah karena kamu sudah mengerjakan semuanya kamu boleh ke luar." Balas dia yang akhirnya membebaskan aku.
"Fyuh....aku kan sudah bilang sejak awal, ibu saja yang sangat ribet." Gerutuku pelan sambil segera pergi dari sana dengan cepat.
Aku sungguh tidak perduli mau bu guru mendengar gerutuanku ataupun tidak, yang terpenting untukku sekarang, aku bisa keluar dari ruangan ini yang sangat membuatku sesak karena harus mengerjakan banyak sekali soal yang membuat kepalaku hampir akan pusing dan pecah karena harus terus mengerjakan semuanya, bahkan disaat aku sudah cukup banyak belajar dari Varel tetap saja kepalaku rasanya mau meledak ketika harus mengerjakan soal dengan dikejar waktu seperti tadi.
Hingga setengah aku keluar dari kelas aku bertemu dengan Tisa dan dia memanggil aku sambil mengajakku pergi ke kantin bersama, karena saat itu hanya baru aku dan Tisa saja yang menyelesaikan soal ujiannya.
"Barsha....ayo kita ke kantin bareng, menunggu yang lain pasti cukup lama." Ucapnya mengajak aku.
Sebenarnya saat itu aku juga sangat lapar, tapi aku tidak mungkin meninggalkan Kesi, jadi aku menolaknya dengan baik-baik dan mengatakan padanya bahwa aku masih akan menunggu sampai yang lain bubar dulu.
"Terimakasih Tisa, tapi kalau kau mau pergi, kau bisa pergi lebih dulu, aku masih ingin menunggu temanku." Balasku kepadanya.
Dia terlihat mengangguk dan segera pergi duluan dari sana.
"Oh, ya sudah aku duluan ya, soalnya aku sangat lapar." Balas dia sambil segera pergi.
Aku hanya membalas ucapannya dengan anggukan saja dan terus melihat kepergian dia hingga sudah tidak terlihat oleh mata lagi, aku duduk di luar kelas seorang diri sambil bersandar ke tiang sekolah dan wajah yang aku tutup dengan buku bacaanku.
Karena terlalu lama menunggu Kesi yang tidak kunjung selesai juga, alhasil aku pun malah ketiduran dengan sendirinya saat itu, sampai tiba-tiba saja seseorang memanggil namaku dan menepuk pundakku pelan saat itu.
Aku pikir dia adalah Kesi jadi aku langsung terperanjat dan menarik tangannya, sampai ketika kesadaranku sudah pulih sepenuhnya, aku baru merasakan bahwa tangan Kesi sebelumnya tidak sebesar itu, aku berbalik untuk memastikannya dan ternyata aku memang salah orang.
"Barsha." Ucap orang tersebut kepadaku.
"Aahh ..... akhirnya kau keluar, ayo kita ke kantin, perutku sudah sangat lapar dari tadi." Ucapku sambil menarik tangannya dengan tergesa-gesa dan tidak sempat melihat ke tahunya dengan benar saat itu.
"Eh ....tunggu? Kenapa tangan Kesi sebesar ini, perasaan dia itu kan mungil, apa jangan-jangan aku?" Gerutuku saat itu.
Segera saja aku berbalik dan ternyata orang yang aku tarik sedari tadi itu adalah Jepri bukan Kesi, dan Kesi sendiri masih ada di dalam kelas mengerjakan soal ujiannya sendiri yang masih belum juga selesai dengan beberapa teman sekelas lainnya yang juga masih terperangkap di dalam.
"Ahahh....maaf, maaf aku pikir kau Kesi." Ucapku segera melepaskan tangan Jepri dan meminta maaf kepadanya saat itu juga.
Dia hanya tersenyum kepadaku dan itu justru membuat aku merasa semakin tidak enak dengannya, karena dia seperti orang gila.
"Tidak masalah aku senang jika kau mau mengajakku pergi ke kantin bersama denganmu." Ucap dia membuat aku cukup kaget ketika mendengarnya.
"Aish ....siapa juga yang mau mengajaknya, dasar idiot ini." Batinku kepadanya.
Aku segera saja kembali duduk ke tepat sebelumnya dan masih harus menunggu Kesi lagi, tapi yang aku tidak sangka Jepri juga malah ikut duduk di sampingku dan hal itu membuat aku merasa tidak nyaman.
Dengan adanya dia aku tidak bisa duduk dengan bebas dan leluasa, aku juga tidak bisa tidur lagi seperti sebelumnya dan dengan adanya dia aku sangat terganggu dengan tatapan matanya yang terus saja menatap ke arahku dengan sangat lekat saat itu.
"Astaga ...ada apa dengannya, apa dia salah makan ketika sarapan pagi tadi? Kenapa dia terus menatapku begini, dan untuk apa juga dia malah ikutan duduk di sampingku." Gerutuku pelan memikirkannya sendiri.
Kesabaranku rasanya sudah sampai ke dasar sehingga aku tidak bisa membiarkannya terus menerus seperti ini kepadaku.
"Heh ....berhenti memberikan tatapan seperti itu kepadaku! Lagian kau kenapa masih disini sana pergi, aku tidak suka ada orang yang duduk di sampingku dan memperhatikan aku seperti itu!" Ucapku dengan nada yang jutek dan cukup kesal kepadanya.
"Aku masih harus menunggu temanku juga, jadi aku menunggu disini, karena memang tidak ada tempat lain lagi yang bisa aku tempati." Balas dia kepadaku.
"Kalau kau menunggu temanmu, kenapa kau tidak menatapnya saja, jangan menatapku, aku benci tatapan darimu!" Balasku semakin keras kepadanya.
"Aku menyukaimu Barsha, itulah kenapa aku terus menatapmu, aku senang ketika bisa melihat wajahmu, bahkan aku rasa kau semakin cantik jika kau marah seperti ini, aku rela jika kau mau marah denganku setiap hari." Balas dia yang membuat aku sangat kaget dan tidak karuan.
"Astaga....apa yang terjadi dengan semua pria di dunia ini, kenapa mereka semua mengatakan hal-hal yang di luar nalar seperti ini, aahhhh benar-benar gila!" Gerutuku sambil mengacak rambutku cukup kuat saat itu.
Hingga tidak lama ketika aku merasa kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa, untungnya aku melihat ada Niko dan Ciko yang baru saja keluar dari kelas mereka, sehingga aku langsung berteriak memanggil mereka sambil berlari menghampirinya untuk menghindar dari Jepri saat itu.
"Aahh ...temanku sudah keluar, aku pergi duluan oke.... Hei Niko tunggu aku!" Teriakku kepadanya dan segera pergi dengan cepat.
Niko yang melihat aku tiba-tiba berteriak kepadanya seperti itu, dia hanya bisa mengerutkan kedua alisnya dan terus saja merasa kebingungan sendiri, namun untungnya dia tidak bicara apapun saat aku menarik tangannya dan membawa dia untuk segera pergi dari sana dengan cepat.
Hingga seenaknya kita cukup jauh dan tidak ada Jepri lagi yang mengikutiku, barulah aku bisa berhenti menarik tangan Niko saat itu.
"Hei...hei....hei...ada apa denganmu, apa kau baru saja dikejar seekor anjing ya?" Ucap Niko kepadaku.
"Hah....hah....tidak, ini lebih menakutkan dibandingkan seekor anjing." Balasku kepadanya.
Ciko bahkan sampai tertawa mendengar jawaban dariku.
"Ahaha....kau konyol, katakan apa sebenarnya yang kau lakukan, kenapa terus menarik Niko dan membawa kami kemari, kantin ada disana bukan?" Tambah Ciko kepadaku sambil menarik kerah pakaian bagian belakangku.
Sama persis dengan apa yang biasa dia lakukan padaku selama ini.
"Aaa....aaa...aaahhhh..lepaskan aku, aishh ..kenapa kau selalu berlagak sok tinggi, sampai terus saja menarik tasku, kerah pakaianku, ataupun mengunci leherku, aishh...kalian ini sama menyebalkannya dengan si konyol Jepri itu!" Ucapku kepadanya dan aku keceplosan mengatakan tentang Jepri saat itu.
Padahal awalnya aku tidak bermaksud akan mengatakan soal Jepri namun karena sudah terlanjur keceplosan dan membuat mereka berdua semakin penasaran juga menduga-duga alhasil aku pun mengatakan yang sebenarnya.
Agar mereka bisa diam dan tidak bertanya lagi kepadaku saat itu, karena sangat menjengkelkan sekali jika kedua pria ini mendesak aku untuk bicara mengenai sesuatu, mereka tidak akan membebaskan aku ataupun membicarakan aku tenang jika aku tidak mengatakan yang sebenarnya kepada mereka.
"Apa kau bilang Jepri? Jadi kau menghindari dia sebelumnya?" Tanya Niko kepadaku.
"Iya...kalau bukan dia siapa lagi, yang lainnya masih di kelas dan sebagian sudah pergi ke kantin lebih dulu, awalnya aku mau menunggu Kesi karena dia masih ujian di dalam, eh malah si Jepri yang keluar dan aku salah menarik tangannya, tapi dia malah...." Ucapku tertahan karena sangat jijik sekali untuk mengatakannya.
Bukan apa-apa tetapi aku tidak terbiasa dengan hal percintaan seperti ini, makanya sangat tidak nyaman untuk aku membahas atau sekedar mengatakannya, itu sangat bukan aku sekali.
"Apa? Kenapa kau menggantung begini?" Tanya Niko lagi yang semakin menatapku dengan tajam.
"Dia malah mengatakan kalau dia menyukaiku." Balasku melanjutkan ucapan yang sebelumnya.
Aku pikir mereka berdua akan menertawakan aku, namun rupanya perkiraan aku itu salah besar, dan mereka justru malah marah tidak jelas terutama Niko yang marahnya itu sangat menampakkan sekali di hadapanku.