
Sampai namaku mulai disebut oleh ibu guru dan aku maju ke depan untuk mengambil surat keputusan kelulusanku, amplop berwarna putih yang berukuran sedang dan panjang itu diberikan padaku dan ibu guru menepuk kedua pundakku sambil tersenyum kecil, hal itu semakin membuat aku cemas.
Jika aku tidak lulus saat ini, maka aku harus mengulang kelas 12 satu tahun lagi dan ibu akan mengutuk atau atau bahkan mengusirku dari rumah dan menghapus namaku dalam keluarganya.
Hal itu yang membuat aku sangat cemas dan begitu ketakutan untuk membuka amplop putih bersamaku sekolah menengah atas kami, aku tidak sabar untuk membukanya dan terus saja aku baca dengan perlahan dan hati-hati dalam setia kata, kalimat yang ada di dam kertas tersebut, sampai di bagian pertengahan mulai membahas mengenai aku dan nilai ujian terakhirku yang sudah diberikan ibu guru sebelumnya.
Namun nilai itu tetap belum tentu menjamin apakah aku akan lulus atau tidak, sebab nilai kelulusan ini akan diambil dari progres siswa sejak satu tahun ke belakang, dan dibandingkan dengan nilainya saat ini, jika lebih baik maka dia akan lulus jika berdekatan itu masih akan di maklumi, namun jika jauh beda dari kenyataan maka tamatlah riwayatku, tidak akan lulus dan masih harus sekolah kembali di tempat ini sambil mengulang semuanya dari awal kembali.
Dan hal itu adalah hal yang paling tidak saya inginkan sekaligus hal yang sangat menyebalkan untuk dibayangkan olehku saat itu.
"Ayo Barsha cepat buka amplop mu." Ucap Kesi kepadaku.
"Kesi, aku tidak sanggup semua ini terlalu menakutkan untukku, bagaimana kalau kau saja yang membantu aku untuk membukakannya?" Tanyaku meminta bantuan kepada dia saat itu.
"Aishh ..ya sudah, tapi kau harus bersiap-siap ya, masalahnya aku akan membuka dan membaca isi dari amplop ini sekaligus, tidak ada pengulangan kata apalagi harus mengulang membacanya, apa kau sanggup mendengarnya dariku?" Ucap dia kepadaku saat itu.
Aku langsung mengangguk dengan cepat dan penuh keyakinan kepada dia, hingga dia pun mulai membuka amplop milikku tersebut, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kesi sebelumnya, anak itu benar-benar membuka amplop milikku sekaligus dan cukup kasar, sampai dia mulai membacakannya cukup keras.
"Selamat kamu lulus dengan nilai rata-rata raport 80, dan bisa mendapatkan di universitas favorit." Isi dari surat tersebut di sertai dengan deretan nilai ujian yang di dapatkan oleh Barsha sebelumnya.
Aku langsung membelalakkan mata sangat lebar dan merasa sangat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kesi saat itu, sehingga saat itu juga aku merampas kembali kertas di tangan Kesi dan membacanyanya secara langsung.
Isinya ternyata memang sama dan aku tidak bisa menahan rasa senang dalam diriku sendiri, aku juga tidak bisa mengenal waktu, karena saat ini sudah bebas, aku langsung berjingkrak kegirangan berdiri dengan penuh semangat sambil mengacungkan nilai kelulusanku dengan tangan kanan ke atas, aku ingin memberitahu semua orang tentang nilai rata-rata di raportku yang ternyata di dapatkan dari hasil jerih payahku selama beberapa hari belakang ini, termasuk berkat dari doa kedua orangtuaku yang mendampingi aku, walau aku tidak pernah melihat ayah dan ibu memberikan dukungan penuh padaku, apalagi mendoakan aku seperti yang sangat aku harapkan sebelumnya.
"Aaahhh..aku benar-benar tidak menduga, ini kenapa bisa begini, aaaahh...aku senang sekali Kesi, harus bagaimana sekarang huaa.." ucapku kepada Kesi sambil terus saja menarik pakaian Kesi saat itu.
"Hei...hei..jaga batasan dirimu, di depan sana masih ada Bu guru, apa kau gila ya?" Ucap wanita di depan yang terlihat seperti siswa dia bagian bawah sekolahku atau sering di sebut sekolah tempat anak-anak tuna wisma sebenarnya.
Aku pun segera berhenti dan meminta maaf kepada wanita itu secepatnya, Kesi juga langsung menarik tanganku dengan cepat sampai aku kembali duduk di kursiku saat itu juga.
"Aahaha..maaf maaf, aku terlampau senang, maafkan aku ya." Ucapku menggunakan bahasa isyarat kepada wanita tersebut yang nampak kesal denganku, padahal dia memegangi kertasnya yang juga sama-sama lulus seperti aku, tapi tidak tahu apa yang membuat moodnya malah menjadi buruk seperti itu.
"Aishh ....sudah cepat kau duduk bikin malu saja, ayo diam dan jangan kegirangan seperti orang gila!" Ucap Kesi menatapku tajam dan memberikan peringatan padaku.
Selain meminta maaf pada gadis aneh yang duduk di depan mejaku, aku juga meminta maaf dan membungkuk kepada Bu guru yang sudah membagikan surat kelulusan itu termasuk pada semua teman sekelas yang sudah memberikan tatapan tajam padaku sebelumnya.
"Baiklah anak-anak jika kalian ingin melihat peringkat, kalian bisa melihatnya di masing sepatu, semua peringkat di satukan dalam tiga kelas karena ini adalah akhir dari pendidikan kalian di sekolah menengah atas, kalian akan mengejar pendidikan yang lebih tinggi lagi di universitas terbaik dan menjalani hidup lebih dewasa lagi mulai sekarang, sekian dari ibu terimakasih." Ucap Bu guru lalu segera pergi dari kelas.
Semua anak-anak langsung berlarian ke luar dan menuju mading di lapangan utama yang sudah dipasang oleh pihak sekolah sebelumnya, aku sama sekali tidak tertarik untuk melihatnya karena sudah tahu aku tida mungkin mendapatkan peringkat, walau nilai ujianku bagus, tetap saja ujian harian dan yang lainnya sangat jelek, hanya ujian nasional saja yang bagus, selain itu yang lainnya teramat sangat buruk, jadi aku tidak ingin melihatnya. Itu hanya akan membuat aku malu dengan diriku sendiri.
Kesi malah sudah berlari dengan cepat, bahkan dia rela berdesakkan dengan anak-anak yang lainnya hanya untuk melihat peringkatnya dalam empat kelas lain yang bersaing dengannya. Aku hanya duduk sendiri di dalam kelas dan mulai bisa merasakan kedamaian sebab sudah tidak ada siapapun disana.
"Aaahhh, akhirnya aku bisa sendiri juga, kenapa tidak setiap hari seperti ini, kan senang bisa duduk di kelas begini, wahh.. mereka sudah seperti semut yang mengerumuni gula di lapangan." Gerutuku bicara sendiri sambil menatap dari jendela kelas ke lapangan bawah saat itu.
Sampai tidak lama kemudian, ada Jepri yang tiba-tiba saja muncul di sampingku, hampir membuat aku kaget dan terperanjat saat itu.
"Ya ampun...aahh...kenapa kau disini, bukannya tadi kau sudah keluar ya?" Tanyaku kepadanya sambil mengurut dadaku sendiri.
Dia hanya tersenyum kepadaku sampai disaat Jepri hendak bicara dan membuka mulutnya, justru muncul Niko dan Ciko dari arah pintu masuk kelas sampai Niko langsung berjalan masuk menghampiriku tepat disaat aku menoleh ke arahnya saat itu, dia juga langsung menarik tanganku dan membawa aku pergi dari sana dengan cepat.
"Barsha." Teriaknya memanggilku saat itu.
"Ehh ..Niko, Ciko. Sejak kapan kalian berada disana?" Tanyaku kepada mereka dengan heran.
"Sudah ayo kita pulang kau masuk urusan lima puluh itu sangat bagus dibandingkan yang sebelumnya." Ucap Niko sambil terus menarik tanganku dengan paksa dan cepat.
Aku hanya menaikkan kedua alisku dan terus merasa heran dengan apa yang dia katakan kepadaku saat itu, aku pikir tidak mungkin masuk ke dalam peringkat lima puluh, karena biasanya aku masuk peringkat 118 ataupun 119. Dan jumlah semua siswa di angkatanku 120, ya aku sering berada di urusan ke dua dari akhir ataupun ketiga, jadi ketika Niko mengatakan aku masuk urutan 50, itu sangat membuat aku kaget dan tidak menduga, bahkan aku merasa otakku meningkat sangat pesat.
"Eehh, yang benar, apa aku sungguh peringkat 50?" Tanyaku kepada dia selama di perjalanan saat itu.
Niko sama sekali tidak menjawab ucapanku, dia hanya menarik tanganku dan terus membawa aku dengan paksa untuk pergi darinya secepatnya, dia juga terlihat seperti marah padaku, padahal aku sama sekali tidak tahu dimana letak kesalahan yang aku lakukan, sampai membuat dia bisa menarik tanganku seperti ini.
"Sudah ayo cepat kau jala saja, jangan banyak omong." Balas dia kepadaku.
"Hei ... Pelan-pelan dong, Niko kau ini kenapa sih, hei...Niko tanganku sakit kau terus menariknya begitu, aku bisa jalan sendiri!" Bentakku mulai kesal dengannya dan segera menghempaskan tanganku dengan kuat.