
Sampai tiba-tiba saja Varel mengungkapkan perasaannya kepadaku membuat aku aku sangat gugup dan menjadi tidak karuan.
"Memangnya kenapa? Aku menyukaimu kok." Balas Varel membuat aku langsung menoleh ke arahnya dengan sorot mata yang terbuka lebar dan menjadi sangat gugup hingga sulit untuk bicara dengannya.
"KA..KA..kau....AA..AA" ucapku bicara dengan gugup sampai tiba-tiba saja Varel mendekatkan wajahnya ke wajahku dia memegangi pipiku sampai mencium ku begitu saja, tanpa aba-aba dan tanpa izin dariku sama sekali.
Aku membelalak mata sangat lebar karena kaget sekali merasakan bibir kami berdua saling beradu dan bertemu, aku tidak tahu apa yang aku pikirkan saat itu, tapi sialnya aku sama sekali tidak melawan atau berontak dengan apa yang dilakukan Varel padaku malam itu, justru aku malah m*nikmati nya hingga Varel menghentikan semuanya dan dia bicara kepadaku.
"Apa ini artinya kau juga menyukaiku?" Tanya Varel padaku.
Aku langsung memalingkan wajah dan mendorong tubuhnya untuk menjauh dariku dengan cepat, aku langsung berbalik tidak berani menatapnya dan segera saja menyuruh dia untuk segera kembali ke hotel secepatnya.
"Aa...ahh... sudahlah tadi itu anggap saja itu sebuah kesalahan, ayo cepat kita harus pulang." Ucapku kepadanya tanpa menatap dia ataupun menghadap ke arahnya, aku terus berjalan cepat meninggalkan Varel lebih dulu.
Saking gugupnya aku hampir salah masuk kamar dan beberapa kali mencoba membuka pintu itu tetapi selalu saja gagal sampai Varel memberitahuku bahwa aku salah kamar.
"Aishh..ada apa dengan pintu ini, kenapa tidak bisa di buka?" Gerutuku sangat kesal.
"Barsha... Itu kamarku, kamarmu ada di sebelahnya." Ucap Varel menyadarkan aku dan mulai memeriksa nomor kamar tersebut.
Setelah melihatnya barulah aku sadar dan segera berlari ke samping dan menggesek kartu akses dengan cepat pada pintu tersebut, masuk ke dalam dan menutup pintunya dengan kencang, karena merasa sangat malu dengan Varel.
Pergi menjatuhkan diri ke ranjang dan terus saja menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku, aku merasa sangat malu dan mulai mengingat kembali kejadian di taman saat itu, mulai memegangi bibirku lagi dan langsung saja merasa semakin malu tidak karuan, tetapi anehnya selain rasa malu yang aku rasakan, aku juga merasa cukup senang, dan entah kenapa aku tidak bisa marah meski Varel sudah merenggut ciuman pertamaku saat itu.
"Aaaahh...bodoh, bodoh, apa yang aku pikirkan, kenapa aku seperti ini, astaga bagaimana aku bisa menghadapi dia besok, aku sudah mengatakan padanya bahwa yang tadi adalah kesalahan, apa dia akan kecewa padaku? Tapi...kita bersahabat sejak kecil, bagaimana mungkin kita tiba-tiba menjadi pasangan, itu akan sangat memalukan dan teman-teman yang lain bisa saja mengolok-oloknya, aaahh...tidak boleh.. itu tidak boleh terjadi." Ucapku menggerutu memikirkannya tanpa henti.
"Tapi kita sudah...aaahh, Varel sialan!" Tambahku merasa semakin frustasi dan salah tingkah sendiri.
Ke esokan paginya hari yang sangat penting telah tiba pengumuman pemenang sekaligus penyerahan penghargaan kepada semua pemenang lomba dan yang menjadi perwakilan tiap negara akan dilakukan di aula utama yang sama dengan tempat penyelenggaraan lomba cipta robot diadakan kemarin malam.
Aku tidak berani keluar dari kamar karena masih merasa malu dan bingung harus menyapa Varel seperti apa nantinya.
Terus saja aku mengintip di balik pintu untuk memastikan apa Varel sudah pergi atau tidak, sudah hampir dua puluh menitan aku berdiri disana dan terus mengintip dia sampai profesor datang dan dengan cepat aku menutup pintuku, dia mulai memanggil Varel dan Varel keluar dengan cepat dia terlihat sama seperti biasa dan tida terlihat rasa gugup atau hal lainnya seperti yang aku rasakan saat ini.
"Ehh ..kenapa dia bisa memasang wajah datar dan terus biasa saja begitu? Apa dia pikir kejadian semalam benar-benar sebuah kesalahan saja, yang bisa dia lupakan dengan cepat?" Gerutuku terus merasa tidak terima.
Saat Varel baru saja melangkahkan kaki di lorong kamar hotel itu dengan cepat aku keluar dari memanggil dia cukup keras sampai menyusulnya dan berjalan di sampingnya dengan penuh percaya diri, aku pikir jika dia saja mampu bersikap biasa saja seperti itu, maka aku juga tidak boleh kalah dengannya.
"CK... Untuk apa juga aku merasa malu dan terus tidak nyaman juga gugup dengannya, dia saja terlihat begitu santai sekali, aku akan tunjukkan padanya siapa aku sebenarnya." Batinku terus merasa tidak terima dengannya.
Aku merasa dia yang menyatakan perasaannya kepadaku lebih dulu tetapi kini malah aku yang membawa perasaan kepadanya, jadi aku memutuskan untuk tetap memberanikan diri dan menemui dia bagaimana pun caranya dan tingkah apa yang aku lakukan, sekalipun itu membuat aku lelah dan kesal karena harus mengikuti Varel kemanapun dia pergi saat itu.
Varel menaikkan kedua alisnya menatap ke arahku dengan lekat begitu juga dengan beberapa orang di sampingnya yang mendampingi dia saat itu, mereka memakai jas yang sangat rapih, sedangkan hanya aku yang memakai pakaian santai, dengan celana jeans biasa yang di padukan dengan sebuah hoodie berwarna hitam saat itu.
"Pakaianmu hari ini cantik." Ucap profesor yang ada di sampingnya, sekaligus panitia dan penanggung jawab Varel saat itu.
"Ahh... Terimakasih prof, tapi ini baju miliknya bukan milikku." Balasku kepada profesor itu dengan wajah yang sedikit kurang senang.
Sebab dia hanya memuji pakaiannya saja bukan diriku yang sebenarnya, ketika mendengar jawaban dariku seketika semua orang terdiam dan Varel tersenyum kecil padaku, dia tiba-tiba saja menggandeng tanganku dan saat aku menoleh ke arahnya dia malah memberikan senyuman lebar padaku.
"Kau juga cantik hari ini." Ucapnya membuat aku sangat kaget dan langsung cegukan saat itu juga.
"Aishh... Heh, apa kau tidak bisa jalan sendiri saja, jangan menggandeng tanganku, jangan merangkul aku dan jangan menarik pakaianku! Apa kau mengerti hah?" Bentakku sambil menatapnya dengan tajam.
Varel sama sekali tidak takut dengan tatapan yang aku berikan dia justru malah mengangguk lalu mulai berjalan dengan kedua tangannya yang dia masukkan kedalam saku celananya saat itu, dan segera saja dia naik ke atas panggung beserta dua peserta babak final lainnya.
Namun disaat dia sudah naik, justru dia malah kembali lagi menghampiri aku membuka semua orang menyoroti kami dengan kamera termasuk tatapan mereka yang sangat penasaran denganku karena didatangi oleh peserta yang luar biasa seperti itu.
"Hei Varel, kenapa kau kembali kemari, aishh..ayo cepat sana naik, kenapa kau terus mendekat padaku, hei... Apa kau gila?" Ucapku kepada dia.
Namun dia tetap saja tidak mendengarkan kode dariku sampai terus saja datang menghampiriku aku dan mendekatkan wajahnya di samping telingaku saat itu.
"Aku akan memenangkannya untukmu, jangan khawatir." Bisik dia kepadaku.
Aku merasa tidak menentu dan tidak tahu harus menunjukkan ekspresi apa selain dari wajah kaget dan terperangah yang sama sekali tidak bisa mengatakan apapun, dia tersenyum padaku lalu segera kembali pergi ke panggung, hingga pengumuman mulai di bacakan, semuanya begitu riuh dan sangat menegangkan, apalagi ketika pembacaan dan pengumuman pemenang lomba cipta robot nomor satu di seluruh dunia ini dan orang tersebut akan mendapatkan sebuah sertifikat resmi dimana dia mendapatkan akses khusus untuk datang ke tempat-tempat penelitian dan pembuatannya robot negara, bisa diterima dimana saja dan bekerja di pusat pencipta robot manapun.
Aku sudah sangat tegang mendengar juara tiga sudah di umumkan, hingga kini tinggal Varel dan ada satu pria yang berdiri di sampingnya, untuk menentukan mana juara satu dan dua diantara mereka.
Aku tidak putus berdoa dan terus saja memohon penuh harapan agar Varel yang menjadi pemenang saat itu, hingga ternyata semua do'a, usaha dan semua hal yang sudah di korbankan tidak sia-sia, semuanya sesuai dengan apa yang diharapkan dan aku begitu senang hingga membelalak kedua mataku ketika mendengarnya nama Varel telah di nobatkan menjadi satu satunya pria pemecah rekor dalam penciptaan robot super canggih dan bermanfaat saat itu, saking senangnya aku tidak bisa berkedip sama sekali, menyaksikan Varel mulai di berikan piala penghargaan dan sebuah buket bunga oleh MC di sana, dan dia mulai mengatakan sambutan dengan perlahan, semua kamera menyoroti wajahnya dan aku yakin teman-teman dan keluarga kami tengah menyaksikan hebatnya seorang Varel saat ini.
Aku sangat bangga memiliki sahabat sepertinya, hingga yang membuat aku kaget lagi adalah, dia menyebutkan namaku sebagai orang pertama yang dia katakan sebagai sumber semangat dan motivasi tinggi untuknya, dia bahkan menghampiri aku dan mengajak aku untuk naik ke atas panggung, aku begitu terharu mendengarnya, dia mulai menunduk di hadapanku dan memberikan piala penghargaan itu termasuk dengan bunganya kepadaku, dia benar-benar memberikan semua hal yang sangat berharga dan dia dapatkan dengan susah payah itu hanya untuk wanita sepertiku.
Yang tidak banyak berkontribusi dalam hidupnya selama ini, aku hanya memberikan semangat kepadanya dan berusaha menemani dia seperti dengan teman yang lainnya.
Tapi dia memberikan sesuatu yang sangat berharga seperti ini kepadaku, aku merasa tidak pantas untuk menerimanya.
Dan sangat gugup sekali kala itu, tapi karena ini di depan publik dan pasti di tonton banyak orang, aku tidak ingin mempermalukan Varel, jadi dengan cepat aku menerima bunga dan piala yang dia berikan padaku.
"Barsha aku persembahkan semua kemenanganku saat ini untukmu, karena kamu adalah orang pertama yang memberikan aku ide menarik ini, menyemangati aku dan terus menemani aku tanpa lelah sampai aku berada di tahap yang sangat besar seperti ini." Ucapnya kepadaku.
Aku menerimanya sambil tersenyum, dan menunjukkan kepada kamera yang sibuk memotret disana, Varel juga langsung memelukku dengan erat dan semua orang bertepuk tangan dengan gembira.
Di sisi lain Ciko yang menyaksikan kejadian itu di layar televisi, dia merasa patah hati dan sangat hancur, tidak pernah dia duga jika Varel ternyata begitu sungguh-sungguh dengan ucapan dia sebelumnya, yang pernah mengatakan jika dia memang menyukai Barsha.
Dia langsung pergi dari rumah Niko tanpa sepatah kata pun yang membuat Niko merasa sangat heran dengannya.
"Ehh.. Ciko kau mau kemana hei... Ciko." Teriak Niko kepadanya namun sama sekali tidak digubris sedikit pun oleh Ciko.
Ibu dan saudaraku juga sama kagetnya mereka membelakkan mata sangat lebar dan tidak menduga bahwa orang sehat dan sekaya Varel justru sangat mengagungkan putri mereka yang selalu mereka pandang sebelah mata juga selalu di ganggu oleh kedua saudaranya selama ini.
"Wah... Apa aku tidak salah lihat? Kenapa Varel menyukai si konyol itu, apa dia sudah buta?" bentak Wili merasa sangat tidak terima.
Dan dia menjadi orang yang paling kesal dan menggerutu keras ketika melihat semua siaran langsung di televisi saat itu.
Sedangkan Lea masih saja menatap dengan penuh ketidak percayaan sambil memegangi garpu di tangannya dan makanan yang masih belum sempat dia kunyah di dalam mulutnya saat itu.
Begitu pula dengan ayah dan ibuku, mereka langsung pingsan tidak sadarkan diri seketika melihat Varel menyerahkan piala kemenangannya dan memeluk Barsha saat itu, ibuku memang selalu memandang rendah diriku, jadi pantas saja jika dia menjadi orang yang paling syok lebih daripada Wili.
"Wah....wah... Pelet apa yang dia gunakan, aishh... Sialan aku bahkan tidak punya pacar dengan wajah tampanku ini, huaaa.. Aku ingin punya pacar." Teriak Wili yang mulai pergi keluar dari rumahnya sambil merengek kesal dan tidak bisa menerima semua kebenaran ini.