
Berryl yang baru saja tiba dirumah kemudian bergegas ke atas ke kamar Arsha, dia sangat terkejut saat mendengar jika Arsha sakit dari salah satu pembantunya.
Rupanya disana sudah ada Shail dan juga Ardian, dia berjalan mendekat ke ranjang dimana Arsha sedang terlelap tidur. Di tatapnya wajah cantik Arsha, wajahnya terlihat sangat merah karna panas.
Di pegangnya dahi Arsha oleh Berryl, ya terasa panas. " kasihan sekali putri ku jika sudah terbaring sakit seperti ini " gumam Berryl.
Shail dan Ardian hanya bisa melihat itu, mereka tidak mau mengganggu waktu ibu dan Arsha meskipun Arsha sedang tertidur karna sakit.
" bang keluar yok " ajak Ardian pada Shail. Shail hanya menggelengkan kepala tanda dirinya tidak mau meninggalkan Arsha dan Berryl di dalam kamar itu.
" ya udah kalo gitu, gue keluar dulu ya bikin minuman "
Tak berselang lama Ardian kembali masuk dengan nampan berisi tiga gelas minuman untuknya, Shail dan juga Berryl. Ketika Ardian masuk Berryl masih setia menemani Arsha di sebelah ranjang. Dia terus menggenggam tangan Arsha.
" ma minum dulu " Ajak Ardian.
Berryl menoleh menghadap kedua anak laki-lakinya itu, di anggukan kepalanya kemudian dia turun dari ranjang. Di ambilnya cangkir berisi teh hangat yang Ardian buat.
" ma, mama pasti belum makan? " tanya Shail.
" emm belum sayang, mama pulang dari kantor langsung kesini "
" makan dulu biar Ardian ambilin ya "
" nggak usah Ardian makasih, mama makan nanti aja gapapa. Oh iya jangan lupa telfon papa suruh jemput opa kesini, Arsha pasti seneng kalo bangun bangun liat opa disini "
" iya ma "
Arsha terbangun dari tidurnya, dia mencari keberadaan Ardian dia ingin di peluk dan di temani saat dia kembali terlelap.
" bang Ardian sini " ucap Arsha sembari menyodorkan kedua tangannya meminta di peluk.
Ardian yang terkejut akhirnya berjalan meninggalkan Berryl dan Shail.
" mama nggak di cariin nih " ucap Berryl cemburu karna dia tidak di cari ketika anak perempuannya itu sedang sakit.
" sini ma peluk Arsha bang Shail juga ayo sini " rengek Arsha ketika semua orang ingin memeluknya kecuali Shail.
Shail hanya tersenyum melihat tingkah lucu Arsha, dia akhirnya berjalan lalu memeluk Arsha, Berryl dan juga Ardian.
" dek kamu kenapa si kok bisa sakit gini " tanya Shail ketika pelukan mereka terlepas. Merema kini sedang duduk mengelilingi Arsha di atas ranjang.
" nggak tahu bang, kayak capek gitu aja " jawab Arsha sembari memeluk Ardian kembali. " Arsha capek banget ma, bang " sambung Arsha.
" kamu makan dulu ya nak ya " pinta Berryl yang hanya di balas anggukan saja oleh Arsha, dia sebenarnya tidak nafsu makan tapi dia juga belum makan seharian.
Arsha baru teringat bahwa dia tidak mengabari siapapun, entah intu sahabat ataupun kekasihnya.
" ya ampun Arsha lupa bang " ucap Arsha kemudian bangkit mencari handphone-nya.
" kenapa si dek "
" Arsha nggak ngabarin sahabat sahabat Arsha bang, Arsha juga lupa nggak ngabarin Alex " jawab Arsha panik karna dia belum juga menemukan handphone-nya.
" kak liat ada handphone Arsha nggak "
" ada dek di dalem laci itu "
Dia bergegas membuka lacinya setelah dia mendapatkan apa yang di cari kemudian mencari nomor Alex kemudian dia menelfonnya. Lama tak ada jawaban berulang kali, Arsha kemudian beralih mengabari sahabat sahabatnya di dalam ruang grup pribadi miliknya.
*pesan whatsap
'sorry ya gue nggak ngabarin kalian gue lagi sakit dan baru buka handphone. Kalo mau jenguk, jenguk aja '
Setelah itu dia kemudian kembali menelfon Alex, tapi tak kunjung ada jawaban juga. Arsha sedikit bingung tidak seperti biasanya seperti ini, Alex juga tidak terlihat mencari cari keberadaannya.
Ya bagaimana Alex bisa mengangkat telfon dari Arsha jika dirinya saja masih di dalam arena pertandingan.