
"Ya sudah kalau begitu pelan-pelan dong, kau niat mengobati lukaku atau tidak sih?" Balasku kepadanya dengan wajah yang tidak kalah jutek padanya.
"Aishh..cerewet sekali sih kau ini, bahkan saat terluka begini saja masih banyak bicara, dasar menjengkelkan!" Balas Niko kepadaku.
Aku hanya bisa memalingkan pandangannya kepada dia dan Niko juga segera menyelesaikan mengobati lukaku dia segera menaruh kembali semua obat merahnya ke depan meja dan langsung duduk di sampingku sedangkan kak Anton duduk di samping Ciko saat itu.
Kami sudah bersiap-siap untuk menonton pertandingan olimpiade penciptaan robot yang akan di lakukan oleh Varel saat itu, dan acaranya sudah di mulai.
Aku benar-benar kagum melihat beberapa peserta yang mulai menampilkan robot mereka dengan sangat keren di depan panggung yang terus mendapatkan sorotan dari semua kamera yang ada disana saat itu.
"Wahhh..lihatlah robot yang itu keren sekali," ucapku sambil menunjuknya dan menatap penuh dengan kekaguman.
"CK. Itu biasa saja aku juga akan bisa membuatnya jika aku mau." Balas Niko menyepelekan begitu mudahnya.
Refleks aku, kak Anton dan Ciko langsung saja melirik ke arahnya dengan cepat, memasang wajah yang menatap sinis dan tajam kepada Niko yang seakan begitu menyepelekan robot di depan itu, padahal kami semua tahu orang-orang yang menciptakan robot di dalam televisi itu sangatlah pintar dan mereka orang-orang yang sangat luar biasa sekali, memiliki kemampuan otak yang biasanya diatas rada-rada tentu itu berbeda dengan Niko yang bahkan dia sangat malas untuk belajar.
"Hah? Hei..kalau kau mau membual jangan mengatakannya di hadapanku aku muak mendengarnya." Balasku kepada dia yang langsung saja mendapatkan tatapan sinis dari Niko saat itu juga, padahal aku hanya mengatakan yang sebenarnya dan menyadarkan dia agar tidak bermimpi terlalu jauh.
"CK...kalau tidak percaya ya sudah, robot yang akan dibuat oleh Varel jauh lebih bagus kau bahkan akan terkejut melihatnya nanti," ucap Niko kepadaku.
Aku menatap dengan heran kepadanya karena Niko bicara seperti itu, seakan dia sudah mengetahui bagaimana bentuk robot yang akan di bawa oleh Varel ke acara semifinal tersebut, karena ini adalah lomba terakhir untuk menentukan perwakilan dari negara kami yang akan segara di bawa ke luar negeri dan bersaing dengan para manusia keren dan jenius lainnya serta menemukan banyak robot dengan fungsi-fungsi yang berbeda dalam setiap tahunnya.
Aku juga sudah tidak mau lagi menanggapi Niko karena mau bagaimana pun dia tetap saja berlagak bahwa dia bisa membuat sebuah robot juga sama dengan apa yang dilakukan oleh Varel saat ini, dan dia terlihat begitu percaya diri sekali di hadapan kami semua, aku hanya segera duduk menjauh darinya agar dia tidak bisa menepuk kepalaku lagi karena kesal denganku atau hal lainnya.
Bukan aku tidak mau dekat dengannya hanya saja semua ini juga untuk melindungi diriku aku tidak akan pernah tahu manusia semacam apa si Niko ini, meski kami tumbuh bersama tapi aku tidak pernah juga melihat Niko sampai sepercaya diri ini bahkan sampai mengaku-ngaku dia bisa menciptakan sebuah robot yang sama dengan salah satu kontestan yang mengikuti lomba tersebut.
Nomor demi nomor peserta sudah mulai masuk dan memamerkan robot ciptaan mereka mereka sendiri saat itu, hingga tidak lama kemudian muncul lah giliran Varel dimana saat itu aku benar-benar sangat antusias melihatnya, mataku terus saja terbelalak dengan sangat lebar dan begitu kagum ketika melihat sebuah robot berbentuk kecil namun bisa berjalan dengan menggunakan sebuah roda yang kecil juga.
Tetapi robot tersebut sangat lincah dia menggelinding kesana kemari dengan begitu cepat dan membawa seperti sebuah benda di kedua tangannya bak seperti tengah menyapukan sesuai dan menyedot semua debu yang terdapat di lantai tersebut hingga dari belakang terlihat jejak dan hasil dari pembersihan robot itu sendiri, para juri disana juga sangat kagum melihat robot pembersih yang sangat praktis seperti ini dan bisa dibawa dengan mudah kemana saja, Varel juga segera menjelaskan nama robot tersebut termasuk kegunaan yang bisa di lakukan robot tersebut.
Rupanya selain dari robot pembersih, robot mungil yang seukuran sebuah blander itu bisa juga untuk mengeringkan pakaian dan karpet, dia juga bisa memeriksa keadaan debu dan tingkat cuaca di sekelilingnya, hal itu sungguh sangat canggih dan tidak dimiliki oleh jenis robot lainnya di sana.
"Wahh...ini baru hebat, dia memang manusia jenius bagaimana otak kecilnya itu bisa menciptakan robot sekeren ini?" Ucap kak Anton yang sangat kagum melihatnya.
"Dia akan menjadi orang kaya jika sampai sukses memasarkan semua robot ciptaannya ini," tambah Niko saat itu yang malah fokus dengan menjualnya saja.
"Benar...dia sangat hebat, wahh....luar biasa sekali, dia baru temanku." Ucapku sambil terperangah dengan mulut terbuka menatap dengan lekat ke layar televisi saat itu.
Sedangkan aku sama sekali tidak sadar jika ternyata saat itu Niko, kak Anton dan Ciko sedang memberikan sebuah tatapan tajam yang menusuk kepadaku karena aku mengatakan sesuatu yang salah saat itu.
Hingga beberapa saat aku mulai merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman di sekelilingku dan tentu saja aku merasakan mereka memperhatikan aku terus menerus seperti itu, sehingga aku langsung menatap balik ke arah mereka satu per satu dengan tatapan yang sangat kebingungan dan aneh sekali.
"Kenapa aku merasa merinding begini ya," batinku merasa tidak nyaman.
"Hei...ada apa dengan kalian semua? Kenapa memberikan tatapan aneh begitu, apa ada yang aku lakukan pada kalian, sampai jadi seperti ini secara tiba-tiba?" Tanyaku kepada mereka masih dengan sebelah alis yang aku naikkan.
"CK....apa kau hanya menganggap Varel saja yang jadi temanmu, aku sudah menjadi teman pertamamu sejak kau tinggal di kompleks ini, bahkan ibumu dan ibuku melahirkan kita di hari yang sama saat itu, kau hanya lebih muda dalam beberapa jam saja dariku, apa kau tidak menganggap aku sebagai temanmu sejak lahir?" Ucap Niko kepadaku dengan tatapan matanya yang semakin tajam.
Aku tidak mengerti mengapa dia harus begitu sensitif hanya dengan ucapanku barusan padahal aku tidak bermaksud sampai ke arah sana saat itu, hingga tidak lama Ciko juga mulai menimpali dan dia mengatakan hal yang sama dengan apa yang di permasalahkan oleh Niko sebelumnya.
"Kau juga tidak mengakui aku sebagai temanmu setelah ibuku selalu menyumbangkan makanan untukmu dan dia selalu mengesampingkan aku setiap kali ada kau di rumah kami, bahkan ayahku sangat menyukaimu dan selalu memuji kamu terus menerus, aku juga sudah mengenalmu sejak kau lahir kita hanya berbeda hari dan aku hanya lahir satu hari lebih awal dari aku, kenapa kau tidak menganggap ku temanmu hah?" Ucap Ciko yang bisa bicara sebanyak itu untuk pertama kalinya kepadaku juga di hadapan semua orang yang ada disana saat itu.
Aku semakin heran untuk menghadapi kelakuan mereka berdua dan saat itu baru saja aku hendak menjelaskan kepada mereka untuk meluruskan semua kesalah pahaman yang menjengkelkan ini, tetapi ucapanku justru malah dipotong oleh kak Anton yang juga ikut-ikutan merajuk seperti mereka berdua kepada dan membandingkan mengenai hal yang sama dengan Niko dan Ciko.
"Hah? Ada apa dengan kalian berdua, kenapa kalian tiba-tiba saja menja...." Ucapku tertahan oleh kak Anton yang langsung memotong pembicaraanku begitu saja.
"Diam! Kau juga bahkan tidak menganggap aku sebagai temanmu ya? Padahal aku sudah menggendongmu saat kau pertama kali lahir, aku juga yang selalu memberimu susu saat itu karena ayahmu selalu sibuk bekerja dan ibumu masih dalam keadaan yang belum sehat, aku harus mengurusi dua bayi sekaligus karena ibuku meninggal dunia dan setelah dewasa ayahku juga ikut pergi sampai aku harus menjadi kakak untuk Niko sialan ini juga harus mengasuhmu juga di rumahku!" Bentak kak Anton sangat kencang dan menjadi yang paling histeris karena Niko langsung menangis tidak jelas sambil memeluk kak Anton sedangkan Ciko memalingkan pandangan dariku dan merajuk seorang diri.
Aku terus saja menatap aneh dengan kelakuan mereka semua yang sangat menjengkelkan sekali untuk di hadapi, padahal semua itu hanya sebuah ucapan sepele bagiku yang aku katakan secara refleks saja ketika melihat Varel di depan televisi dan melihat kehebatannya, tapi justru malah mereka bertiga yang tersinggung seperti ini, membuat aku sangat kebingungan dengan apa yang harus aku lakukan lagi untuk menghentikan mereka bertiga agar tidak bersikap menyedihkan dan malah merajuk seperti ini kepadaku.
Aku juga segera menjelaskan kepada mereka dengan segera agar kak Anton dan Niko tidak menjadi sedih lagi termasuk Ciko agar dia bisa berhenti merajuk dengan wajahnya yang sinis dan sangat mengganggu pandangan seperti ini.
"Hei...kenapa kalian menyulitkan aku dan membuat aku merasa bersalah seperti ini sih? Kenapa hal seperti itu saja harus membuat kalian menjadi menjengkelkan, aku tidak bermaksud melakukan semua itu, dan apa hal sepele seperti ini harus membuat kalian menjadi sensitif begini?" Tanyaku kepada mereka yang langsung mereka timpal dengan cepat dan menatap lekat kepadaku.
"Tentu...kami sangat keberatan karena dengan ucapanmu itu seakan kamu hanya menganggap Varel seorang yang menjadi temanmu!" Balas Niko yang sedikit membentak dan di anggukan oleh kak Anton juga Ciko.
Saat itu rasanya aku ingin menjambak semua rambut mereka yang sangat menyebalkan itu, bahkan saat ini aku sudah mengepalkan kedua lenganku dengan kuat dan berusaha untuk menahan emosi di dalam diriku sendiri agar aku tidak sampai benar-benar menjambak atau menghajar mereka dengan kedua tanganku saat itu, yang nantinya pasti akan membuat mereka semakin merajuk kepadaku.
Aku mulai menarik nafas dengan perlahan dan membuangnya dengan pelan untuk mengontrol emosi di dalam diriku sendiri dan tetap bersikap tenang di hadapan mereka agar situasi tidak semakin kacau seperti ini.
"Hei....oke..dengarkan aku baik-baik dan berhentilah MENANGIS!" Teriakku membentak mereka karena aku sudah sangat jengkel mendengarkan tangisan dari Niko dan kak Anton yang sangat berisik sekali di sampingku saat itu.
Hingga mereka berdua langsung berhenti menangis dan menatap ke arahku dengan tatapan wajah yang kaget sebab barusan aku membentak mereka dengan sangat keras.
"Huuuhh... Perlu kalian tahu aku tidak seperti yang kalian pikirkan ucapanku yang mengatakan seperti tadi itu hanya keluar dari mulutku secara refleks karena memang hanya Varel temanku yang bisa menciptakan robot, sedangkan semua peserta lainnya yang ada di dalam televisi itu dan mengikuti lomba tersebut lainnya mereka tidak aku kenali sedikitpun bahkan namanya saja aku tidak tahu dan hanya Varel yang aku kenal jadi tentu saja aku akan mengatakan bahwa dia barulah temanku, temanku yang baru muncul di televisi dan memamerkan robot ciptaannya barusan, apa kalian mengerti hah?" Balasku menjelaskan kepada mereka.
Hingga akhirnya perlahan Niko dan kak Anton tersenyum kecil kepadaku karena mereka berdua mulai tersadar bahwa sebelumnya mereka telah melakukan kesalahan dan menjadi salah paham denganku.
"Aishh..kenapa hah? Baru sadar sekarang iya? Makanya kalau orang bicara itu jangan langsung memotongnya dan jangan menyimpulkan sesuatu hanya dalam satu sudut pandang otak kalian saja!" Balasku benar-benar sangat kesal dan emosi dengan mereka berdua saat itu.
"Apalagi sampai mengungkit-ungkit hal di masa lalu, apa kalian pikir aku lupa dengan semua kebaikan kalian denganku selama ini, kak Anton dia sudah aku anggap sebagai kakak priaku sendiri, aku sangat menyayanginya sama seperti aku menyayangi Lea bahkan mungkin lebih dari itu, Ciko. Aku juga tahu seberapa besar kebaikan keluargamu kepadaku termasuk kebaikanmu yang terkadang kamu berikan dengan terpaksa dan jutek padaku, aku ingat semuanya kau adalah teman terbaik yang paling royal dan selalu bisa aku mitai apapun, aku bersyukur memilikimu, dan kau Niko walau kau sangat menyebalkan selalu saja menjahiliku tapi aku tahu kau yang paling peka dan perduli denganku, kau yang akan menjadi orang pertama membela aku disaat aku di tindas orang lain, aku juga sangat senang ada kau di sampingku, begitu juga dengan Varel dia selalu membantu aku setiap kali kamar mandiku di pakai oleh Wili dan dia yang membantuku belajar, kalian semua sangat penting untukku di dalam kehidupan ini, aku menganggap kalian semua, jadi jangan mengatakan dan menganggap seakan aku tidak menyayangi kalian ataupun tidak mengakui kalian sebagai temanku, kalian kekuatan, keluarga, sahabat dan orang yang penting dalam hidupku, selamanya, apa kalian puas sekarang!" Ucapku kepada mereka dengan sangat lantang.
Seketika mereka semua terdiam dan menatap dengan mata yang berkaca-kaca lagi kepadaku, sampai Niko menjadi orang pertama yang memeluk aku dan di ikuti oleh kak Anton yang juga memelukku dengan lembut, aku benar-benar merasa sangat beruntung ada mereka di sampingku.
Sedangkan di satu sisi hanya Ciko saja yang masih memiliki perasaan gengsi, sejak kecil dia selalu menjadi satu-satunya orang yang sulit untuk diajak berpelukan dengan kami semua dan selalu harus ada orang yang menariknya baru dia mau melakukannya meski masih dengan memasang wajah juteknya itu.
"Aaahhh.. Barsha maafkan aku dan kakakku ya, hehe kita sahabat selamanya, oke...kau jangan marah begitu lagian aku hanya salah paham saja kan," ucap Niko yang menyebalkan itu tapi aku sudah memaafkan dia.
"Aish....kau ini sangat menyebalkan, sudahlah aku tidak memikirkannya lagi," balasku kepada mereka berdua.
"Heh..Ciko apa kau tidak perduli pada kami bertiga kenapa kau tidak ikut gabung memelukku? Ayo kita berfoto bersama nanti kita masukkan foto Varel yang ada di ponsel Tante Nina," ucapku kepada dia sambil segera menarik tangan Ciko agar bisa mendekat dan berjajar denganku juga yang lainnya.
Kami pun mulai mengambil foto bersama saat itu, dengan Varel yang ada di dalam ponsel yang di tunjukkan oleh Ciko.
Kami benar-benar sudah menjadi seperti keluarga yang bahagia, meski setiap harus selalu saja ada hal yang kami permasalahkan dan selalu menuai keributan diantara kami bertiga khususnya, karena Varel jarang sekali ikut gabung dengan kami, sebab dia selalu di sibukkan dengan jadwal-jadwal belajarnya termasuk les dan perlombaan yang dia ikuti selama ini, jadi wajah saja jika dia tidak memiliki banyak waktu luang seperti yang lainnya.
Malam itu setelah berfoto bersama beberapa kali, aku segera pulang dan menitipkan ponsel tante Nina kepada Ciko sebab aku tahu jika sampai aku membawanya pulang makan Wili akan mengira itu adalah ponselku dia akan terus berusaha meminjamnya dariku dan aku takut ponselnya akan rusak jika di pakai oleh Wili walau hanya untuk beberapa saat saja, sebab aku sudah mengenali dia, setiap kali dia meminjam barangku tidak ada satu pun yang kembali dengan selamat, selalu saja ada kerusakan yang di timbulkan oleh dia setelahnya.
Jadi aku hanya menjaga agar tidak terjadi hal seperti itu saja, terlebih ponsel itu sangat bagus dan pasti memiliki harga yang pantastis aku tidak mau mengambil resiko sedikit pun, jadi memberikannya pada Ciko agar dia saja yang memegang ponsel itu, adalah keputusan terbaik yang sudah aku usahakan untuk melindunginya.
"Ciko ini, kau simpan saja ponsel tante Nina, aku akan pulang." Ucapku kepadanya.
"Hei..kenapa harus aku? Bukannya tante Nina menitipkannya padamu?" Balas Ciko menahan tanganku.
"Iya tapi aku tidak bisa membawanya ke rumah jadi aku titipkan padamu dulu, hanya kau yang bisa aku percayai untuk memeganginya karena Niko tidak ada disini dan kau tahu bukan bagaimana adik sialanku, dia akan mengambilnya dariku dengan paksa dan dengan berbagai cara meski dia tahu itu ponsel milik orang lain, karena aku tidak mungkin mampu untuk membelinya. Jadi simpan saja padamu besok aku akan ambil kembali sekaligus mengembalikannya pada Tante Nina," balasku kepadanya yang akhirnya langsung saja di anggukan oleh Ciko dan dia juga segera masuk ke dalam rumahnya dengan cepat.
Aku juga segera masuk karena semuanya sudah selesai dan beres tali sialnya di saat aku hendak membuka pintu, rumahku sudah di kunci dari dalam, dan aku mulai merasa panik saat itu.
"Euh...euh....astaga..kenapa tidak bisa dibuka? Apa jangan-jangan ibu?" Ucapku sambil melirik ke belakang mencari keberadaan sepeda ibu yang ternyata sepedanya benar-benar sudah terparkir di sana dan sudah selesai di perbaiki saat itu.
Aku langsung menghela nafas dengan lesu karena semua ini pasti ulah ibu, karena ayah bekerja lembut dan akan pulang besok pagi, ibu jadi bisa mengunci pintunya untukku dan jelas sekali aku tidak akan bisa masuk ke dalam rumah sekarang.
Aku hanya bisa menjerit dengan kesal dan sekeras yang bisa aku keluarkan sambil memandangi langit malam dengan sedikit bintang diatas sana.
"Aaaarrkkkk...... Bisakah aku pergi ke luar angkasa saja? Hah! Aku tidak mau tinggal disini...." Teriakku dengan sangat kencang saat itu untuk melampiaskan emosi di dalam diriku yang sudah membatu sejak tadi siang.