BARSHA

BARSHA
Merasa Tidak Dianggap



Aku benar-benar dibuat tertawa dengan lepas karena kelakuan dari Niko yang super duper penakut itu, dia memang sangat lucu ketika ketakutan, bahkan disaat Ciko terus mendorong kepala dan tubuhnya agar menjauh dan melepaskan pegangan Niko pada tangannya, dia tetap saja kembali memeluk lagi dan lagi pada Ciko sampai membuat Ciko benar-benar merasa sangat geram kepadanya, hingga tidak lama akhirnya Ciko berhasil bangkit berdiri dan dia menjauh dari Niko.


Kini malah aku yang menjadi sasaran Niko, dia langsung beralih memeluk aku dengan sangat erat karena Ciko yang tidak mau menerima pelukannya saat itu.


"Aaaahh ..Niko lepaskan aku, kenapa kau malah memelukku, aish...kau ini lepaskan aku sulit bernafas karenamu hei...." Teriakku sambil terus berontak berusaha melepaskan diri darinya.


Namun Niko ini memang memelukku dengan sekuat tenaga, sampai sulit sekali untuk aku melepaskannya, dia benar-benar keterlaluan memelukku sampai aku hampir kehabisan nafas saat itu, hingga akhirnya ada Ciko dan Varel yang mau membantu aku untuk melepaskan diri dari Niko.


"Hei...Niko lepaskan Barsha kau ini penakut sekali sih, film nya juga sudah selesai bodoh!" Bentak Ciko sambil menarik belakang pakaian Niko dengan kuat.


Untungnya Ciko berhasil menarik dia untuk menjauh dariku, jika tidak aku sungguh tidak tahu lagi akan berakhir seperti apa nantinya, bahkan sakit sesaknya di peluk oleh Niko aku sampai terbatuk kecil di buatnya.


"Ohok....ohok ....ohok... Aishh Niko kau gila ya, untuk apa kau memelukku seperti tadi, kau mau membunuhku?" Bentakku kepadanya dengan perasaan sangat kesal.


"Maafkan aku, maaf Barsha aku kan hanya refleks saja, lagian ini semua terjadi karena Ciko yang terus mendorongku makanya aku memelukmu saja karena aku tahu hanya yang yang tidak akan mendorong aku sekuat Ciko. Hehe maaf ya, aku tidak akan mengulanginya lagi kok." Balas Niko sambil tersenyum kecil padaku saat itu.


Aku pun hanya bisa menghembuskan nafas dengan sedikit kasar dan terus saja merapihkan pakaianku sambil segera berniat pergi dari sana saat itu juga.


"Aish.... sudahlah, aku juga tidak apa-apa, ayo kita pulang saja, Varel aku pulang dulu ya, kau hati-hatilah di rumah sendiri ibumu hari ini tidak pulang bukan?" Ucapku berpamitan kepada Varel.


Dia hanya terus mengangguk pelan menjawab ucapan dariku, dan kami bertiga segera pergi dari sana, Ciko masih harus mengantarkan Niko pulang, sama seperti yang pernah aku lakukan padanya, karena dia memang manusia paling penakut yang pernah aku kenal selama aku hidup di dunia.


"Ciko ....ayolah kau harus mengantarkan aku pulang, aku sungguh takut melewati jalanan gelap itu, aku janji besok aku tidak akan merepotkanmu lagi, tapi kau harus mengantarkan aku sekarang ya." Ucap Niko yang terus membujuk Ciko sambil memegangi ujung pakaiannya.


"Tidak mau, sana kau pulang sendiri saja, sejak awal aku kan sudah bilang kau sebaiknya jangan menonton film horor, sudah tahu penakut masih saja mau menontonnya kau ini memang biang keladi tahu!" Bentak Ciko yang tetap tidak mau mengantarkan Niko pulang.


Hingga Niko mulai melirik ke arahku dan aku harus segera bergegas kabur darinya, sebelum dia akan meminta aku untuk mengantarkannya lagi seperti sebelumnya.


"Apa? Jangan melihatku seperti itu, aku harus pergi sekarang bye..bye.." ucapku padanya sambil segera berlari dengan cepat masuk ke dalam pagar rumahku dan meninggalkan mereka berdua secepatnya.


"Barsha apa kau tega denganku, hei... Barsha!" Teriak Niko kepadaku.


Rupanya Ciko juga meninggal dia disaat Niko berteriak kepadaku Ciko malah ikut pergi tanpa pamit kepada Niko, sehingga anak itu di tinggal seorang diri dan dia langsung berlari tunggang langgang pergi menuju rumahnya dengan sangat cepat seorang diri.


"Ya ampun kemana Ciko pergi? Apa dia sudah pulang, aishh...Ciko Barsha... Kalian benar-benar sangat tega denganku, aaaaaahhh.... bagaimana sekarang, semuanya sangat menyeramkan. Aku harus segera berlari pulang aaaaaa..." Teriak Niko yang langsung pergi dari sana sambil berlari ketakutan sendiri.


Sedangkan disisi lain aku masih berdiri di depan pintu rumahku dan mempersiapkan diri sendiri untuk masuk ke rumah ini, aku sengaja tidak mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam sambil melepaskan sepatuku saat itu.


"Bu....aku pulang," ucapku cukup keras.


Saat aku masuk ke dalam kulihat tidak ada siapapun di rumah malam ini, dan suasana terasa sangat sepi sangat berbeda dari biasanya, aku mulai merasa heran dan terus mencari ibu juga ayah, karena seharusnya jam segini mereka sudah ada di rumah.


"Yah.....Wili...kalian dimana, ibu.... Aishh..kemana mereka semua pergi kenapa di rumah tidak ada siapapun?" Gerutuku merasa heran saat itu.


Karena aku sudah mencari ke kamar Wili dan kamar ibu mereka tetap tidak ada aku mulai merasa semakin heran hingga tidak lama ketika aku membuka ponselku aku mendapatkan pesan dari Wili.


"Kak, aku, ayah dan ibu pergi menjenguk Lea dulu katanya dia sakit jadi malam ini kami tidak pulang, mungkin kami pulang besok atau lusa setelah Lea sembuh." Isi pesan dari Wili saat itu.


Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu, melihat di rumah yang tidak ada persediaan makanan dan mereka semua yang meninggalkan aku sendiri.


"Apa mereka seperhatian itu dengan Lea? Tapi kenapa seperti tidak menganggap aku, bahkan yang memberitahuku kabar ini hanya bocah sialan itu, lewat SMS pula." Gerutuku sambil melempar ponselku ke ranjang.


Aku sungguh merasa sedih, merasa tidak dianggap dan diabaikan oleh keluargaku sendiri, bukannya aku tidak cemas dengan Lea, bukanya aku tidak perduli dengannya, tetapi kenapa mereka harus pergi menjenguk Lea bersama-sama dan kenapa harus menginap disana cukup lama, kenapa meninggalkan aku sendiri di rumah, bahkan tanpa persediaan makanan, hanya ada satu telur dan makanan sisa di meja makan, apa mereka pikir aku ini kucing, kenapa jadi seperti ini, aku merasakan aku seperti di buang oleh keluargaku sendiri.


"Hmm...kenapa harus aku sih yang tinggal dan lahir dari keluarga ini, jika aku bisa memilih aku ingin menjadi putri orang lain saja, putri dari ibu yang mau menyayangi aku dan melindungi aku dengan baik, bukan hidup dalam keluarga yang tidak memperdulikan aku sama sekali seperti ini." Tambahku lagi memikirkan.


Aku tidak mau tinggal seorang diri di rumah ini jadi aku memutuskan untuk pergi ke rumah Varel, karena hanya dia yang tinggal sendiri di rumahnya yang mewah itu, ku pikir karena Varel sendirian mungkin dia juga akan merasa kesepian sama seperti aku.


"Varel kau masih belum tidur, kenapa malah membereskan semua ini sendiri, kita kan sepakat untuk membereskan semuanya besok bersama-sama." Ucapku sambil membantu dia saat itu.


"Ehh....kenapa kamu kembali Barsha? Bukannya kamu sudah pulang tadi?" Tanya dia kepada aku dengan wajah yang kebingungan.


Aku juga merasa bingung harus beralasan seperti apa kepada Varel dan aku terpaksa harus berbohong padanya walaupun dia tidak bisa dibohongi olehku sama sekali.


"Aahh....aku rasa kamu akan kesepian di rumah sebesar ini seorang diri, makanya aku kemari, aku mau menginap di rumahmu boleh kan?" Balasku kepadanya saat itu.


Aku langsung membereskan semua botol bekas yang ada di meja dan Varel malah terdiam mematung sambil terus menatap aku dengan lekat dan melontarkan beberapa pertanyaan kepadaku saat itu.


"Barsha apa kamu yakin kau datang kemari hanya karena mencemaskan aku, dan takut aku kesepian?" Tanya dia lagi membuat aku merasa tidak nyaman.


"Iya...aku kan teman terbaikmu aku harus menjagamu, aku tidak mau kau kesepian karena sendiri itu tidak nyaman." Balasku kepadanya sambil menahan air mata yang hampir saja turun dari pelupuk mataku saat itu.


"Barsha kau tidak bisa membohongiku, apa ibumu memarahi mu lagi? Atau Wili mengacau padamu? Apa mereka mengunci mu di luar lagi? Aku tahu kau kesepian, kamu tidak perlu berpura-pura ceria seperti ini di depanku sekaan kamu baik-baik saja sedangkan matamu sudah merah dan berair seperti itu sejak awal kamu datang." Ucap Varel yang tidak bisa aku sanggah lagi.


"Varel apa yang kau bicarakan, aku baik-baik saja, sudah aku mau buang botol dan sampahnya dulu." Ucapku mengalihkan pembicaraan kepadanya.


Aku hanya tidak ingin siapapun mengetahui kelemahan aku, dan aku tidak ingin merepotkan orang lain, aku tidak ingin memperlihatkan semua kesedihan yang aku rasakan karena aku pikir aku kuat, aku bisa menanggungnya sendiri dan orang lain tidak perlu tahu tentang rasa sakit yang terus membesar di dalam diriku.


Tapi rupanya Varel memang berbeda, dia juga mungkin merasakan apa yang aku rasakan karena keluarga dia juga tidak utuh, dan ibunya jarang sekali pulang bahkan selalu lupa dengan hari ulangtahunnya, sejak kecil disaat yang lain pergi liburan hanya aku dan Varel yang selalu tertinggal di kompleks ini berdua jadi kami banyak menghabiskan waktu liburan berdua saja di rumah Varel yang setidaknya memiliki banyak makanan dan bisa untuk kita bertahan hidup saat di lupakan oleh orang-orang.


Kali ini disaat aku hendak pergi membuang sampah botol bekas kami minum sebelumnya, Varel tiba-tiba saja memeluk aku dari belakang dan dia menaruh kepalanya di bahuku, dia terus menangkap aku dan menyuruh aku untuk tidak berpura-pura kuat lagi di hadapannya.


"Eehh ..Varel apa yang kamu lakukan, kenapa kau memelukku?" Tanyaku kepadanya sedikit merasa heran saat itu.


"Kamu tidak perlu berpura-pura jika di hadapanku Barsha, aku tahu kamu sedang sedih saat ini, dan aku tahu orang yang kesepian itu adalah dirimu, aku tidak mau kau merasa sedih, aku ada disini kamu harus menganggap keberadaanku, dan aku tidak akan meninggalkan kamu seperti yang lainnya." Ujar Varel membuat aku semakin terharu dengannya saat itu.


"Varel apa yang kamu bicarakan aku tidak kesepian, aku tidak sedih, untuk apa juga aku merasa kesepian disaat aku memiliki banyak teman yang menyayangi aku dan selalu menemaniku selama ini, aku baik-baik saja, jadi tolong lepaskan aku, aku masih harus membuang semua ini." Balasku kepadanya.


Aku tidak berani berbalik untuk menatap Varel saat itu karena air mataku sudah mulai berjatuhan membasahinya pipiku dengan deras dan aku tidak ingin Varel mengetahui hal itu, namun yang tidak aku duga Varel malah membalikkan tubuhku secara langsung dan dia memelukku dengan erat saat itu hingga semua botol yang aku pega berjatuhan, dia tiba-tiba saja mengecup keningku dengan lembut lalu kembali memelukku dengan penuh kehangatan, rasa hangat yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.


"Much.... Kamu tidak boleh sedih Barsha, masih ada aku yang akan selalu menemanimu." Ucap dia sambil mengusap kepalaku dengan lembut.


Aku tertegun sekaligus kaget dengan apa yang baru saja Varel lakukan padaku, ini adalah pertama kalinya aku mendapatkan ciuman di keningku oleh seorang pria dan rasanya jantungku berdebar begitu kencang, aku mulai merasa tidak menentu dan tidak tahu harus berbuat apa saat itu.


Tapi aku merasa nyaman saat Varel memelukku dengan lembut dan penuh kehangatan seperti itu, walaupun memang aku menyukainya tapi dengan cepat aku menyadarkan diriku sendiri, aku sadar jika dia hanya sahabat bagiku jadi dengan cepat aku mendorong tubuhnya dan segera pergi untuk membuang sampah dengan gugup dan linglung sendiri saat itu.


"Aahh....a..AA..aku aku harus membuang sampahnya." Ucapku padanya sambil segera pergi menuju ke luar dan membuang semuanya pada pembuangan sampah yang ada di luar rumah Varel saat itu.


Sembari membuang semua sampahnya aku terus saja berpikir aneh dan membayangkan kejadian sebelumnya yang terjadi padaku dan Varel saat itu, karena kejadian barusan aku tidak bisa tidur di rumah Varel malam ini dan aku lebih memutuskan agar tidur di rumahku sendiri saja.


"Astaga...apa yang Varel pikirkan sebenarnya, kenapa dia malah mengecup keningku, tidak mungkin dia menyukai aku bukan?" Gerutuku sambil memegangi keningku saat itu.


Aku terus saja menggelengkan kepalaku dengan kuat, berusaha untuk menyingkirkan pikiran aneh dan semua prasangka di dalam diriku saat itu.


"Oohh...tidak tidak, itu semua tidak mungkin, aku dan Varel tidak bisa, kita sudah berteman sangat dekat, dan aku menganggapnya seperti saudaraku sendiri, ini tidak boleh...tidak boleh terjadi." Tambahku terus saja menggerutu sendiri.


Aku segera berbalik dan sangat kaget karena melihat Varel yang berjalan ke arahku saat itu, perasaanku mendadak menjadi gugup tidak menentu dan aku langsung saja berpamitan pergi padanya secepat yang aku bisa.


"AA...AA..AA..ahh..Varel, ini sudah malam aku tidak jadi menginap di rumahku, aku harus pulang, aaahaha...aku pergi ya, permisi." Ucapku kepadanya dengan gugup sekali.


Aku segera pergi dengan cepat dari rumahnya dan terus saja masuk ke rumahku dengan segera, aku tidak bisa terus membayangkan masalah sebelumnya yang sangat membingungkan untukku.


Aku pergi ke kamarku dengan cepat dan menutup pintu kamar dengan kuat, langsung masuk ke dalam selimut dan menutupi semua bagian tubuhku secepatnya.