
Alex berlari menuju ruangan yang tadi di sebutkan oleh suster. Setelah tiba di depan ruangan dia melihat ada Ardian yang sedang duduk melamun, di hampirinya Ardian oleh Alex.
" kenapa bang " sapa Alex tiba tiba membuat Ardian kaget.
" siapa " tanya Ardian singkat tanpa memalingkan wajahnya menatap orang yang sedang tidak tahu malunya duduk di samping Ardian.
" saya Alex. Teman sekolah Arsha "
Mendengar nama Alex seketika Ardian menoleh menatapnya dalam dalam.
" oh, jadi kamu yang namanya Alex? " tanya Ardian penasaran
" iya bang, abang kakaknya Arsha kan?
" iya, masuk aja Arsha ada di dalem kok. Tapi diem aja ya, dia lagi istirahat "
" emangnya dia habis kenapa bang? "
" pingsan gara gara nangis nggak berhenti berhenti "
" gara gara kakeknya bang " tanya Alex lagi yang hanya di angguki oleh Ardian.
Hening......... tidak ada pertanyaan lagi yang Alex lontarkan kepada Ardian. Ketika dia ingin beranjak dari tempat duduknya untuk masuk kedalam tiba tiba Ardian kembali berbicara.
" Lex, gue mau ngomong sesuatu sama lho " ucap Ardian.
Seketika Alex mengurungkan niatnya dan kembali duduk.
" kenapa bang "
" lho beneran suka sama Arsha "
" beneran bang, gue tulus sayang sama Arsha " jawab Alex sembari mengangguk anggukan kepalanya.
" kalo lho bener bener sayang dan tulus sama Arsha, gue mohon sama lho jaga adek gue, sayangi adek gue ,,,,,,, ". Dia menjeda perkataanya " ,,,,,,,,, gue tau lho tulus sama dia gue percaya sama lho. Tolong jaga dia " sambung Ardian dengan mata yang berkaca kaca.
" bang, lo tenang aja. Selagi Arsha mau menerima gue, gue jamin itu semua bakal gue lakuin demi Arsha dan demi kepercayaan lho sama gue" jelas Alex yakin.
" jangan buat dia nangis apa lagi buat dia terluka. Ya udah sana masuk"
Ketika Alex masuk ternyata Arsha sudah bangun dari pingsannya, dia sedang duduk di sebelah ranjang kakeknya, sementara Vernon, Berryl dan Shail terlihat sedang berbincang.
" permisi om tante " ucap Alex sopan setelah dia sudah berada di dalam ruangan
" duduk Lex " pinta Vernon sembari menepuk nepuk sofa yang kosong.
" gimana keadaan kakek Hartomo om, tante "
" masih koma Lex "
" emangnya apa yang sebenarnya terjadi om, kok Arsha bisa sampe pingsan ? " tanya Alex kembali.
" panjang ceritanya Lex, mending kamu bujuk Arsha gih dia belum makan dari tadi " ucah Shail.
Alex akhirnya bangkit dari duduknya, dia menghampiri Arsha yang masih tidak menyadari kedatangan Alex sejak tadi.
" Sha " ditepuknya pelan pundak Arsha.
Ketika melihat Alex, Arsha langsung berdiri dan tiba tiba saja Arsha memeluknya sambil menangis, Arsha memeluk tubuh Alex dengan sangat erat.
" Alex.... opa, opa " ucap Arsha yang masih berada dalam pelukan Alex sambil terus menangis dan memanggil kakeknya.
" Arsha kamu tenang ya ada aku disini "
Arsha masih terus menangis dan dia tidak sedikitpun melepaskan pelukannya. Sementara Alex, dia hanya bisa terdiam membiarkan bajunya basah terkena air mata Arsha, dia berfikir mungkin dengan cara membiarkan Arsha menangis di dalam pelukannya akan membuat dia sedikit merasa tenang.
" Arsha " panggil Alex lembut.
Arsha tidak menjawab, dia malah mendongakkan kepalanya menatap Alex dengan mata yang sudah sembab.
" kita keluar dulu yuk sebentar " sambung Alex.
Kali ini Arsha sudah merasa sedikit tenang, dia merasa tenang ketika dia berada di dalam pelukan Alex.
Vernon, Berryl dan Shail yang melihat itu hanya bisa tersenyum. Mereka merasa lega akhirnya Arsha mau bergeming dari tempat duduknya, sedaritadi dia tidak mau melakukan apapun, dia hanya mau berada terus di samping kakeknya.
Akhirnya Arsha dan Alex keluar dari ruangan Hartomo, mereka berjalan menuju taman belakang rumah sakit.
" Sha " panggil Alex lagi.
" ya "
" kamu tunggu sini ya, aku cari makan bentar. Kamu. Belum makan kan dari tadi ? "
" hehe kok tahu " jawab Arsha sambil tersenyum.
Melihat senyum yang Arsha berikan membuat Alex merasa lega dan juga senang karna itu artinya dia sudah tidak lagi bersedih.
" ya udah tungguin sini ya " ucap Alex kemudian pergi.