BARSHA

BARSHA
#3



Alex terus di selimuti rasa waspada akan adanya bahaya yang menimpa Arsha. Dia selalu teringat perkataan Endra di rumah sakit tadi yang mengatakan bahwa dia harus hati hati dengan saudaranya. Dengan cepat dia melajukan motornya menuju rumah Arsha.


20 menit berlalu, akhirnya Alex tiba di rumah Arsha. Rumah dengan nuansa kebarat-baratan dengan diselimuti cat berwarna abu-abu dan emas menambah kesan megah. Alex kini sudah berada di depan gerbang, dia mencoba menanyakan kepada satpam apakah dia diperbolehkan masuk atau tidak.


" selamat sore pak, perkenalkan saya Alexi Arsenio teman sekolahnya Arsha " ucap Alex kepada pak satpam yang berjaga di pos satpam rumah Arsha.


" iya selamat sore tuan, sebentar saya akan menanyakan kepada pemilik rumah " jawab pak satpam.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Alex di perbolehkan masuk. Dia memarkirkan motornya di halaman depan rumah yang cukup luas, terdapat kolam ikan yang di tengah tengahnya ada air mancur yang cukup besar. Dia merasa terhipnotis oleh taman depan rumah Arsha, dia kemudian berjalan menuju pintu.


*ting tong ting tong............. Alex memencet bel rumah Arsha kemudian pintu terbuka dengan lebar, terlihat dua orang pelayan datang menghampiri Alex. Alex hanya tersenyum kemudian berlalu masuk menuju kedalam rumah Arsha, rumah yang sangat sangat besar, mewah, dan indah. Bisa di bilang itu bukan rumah melainkan istana.


" bi, Arshanya ada? " tanya Alex kepada salah satu pelayan yang tadi membukakan pintu untuknya.


" ada den, sebentar biar saya panggilkan. Mari silahkan duduk dulu " ucap pelayan tersebut lalu pergi.


Alex kemudian duduk di sebuah sofa berwarna abu abu muda yang cukup besar. Tak lama kemudian datang dua orang laki laki, satu muda dan satu sedikit tua. Alex yang tak sadar akan kehadiran Vernon dan Shailendra terkejut ketika pundaknya tiba tiba di sentuh oleh seseorang.


" jangan melamun disini, takut nanti nggak bisa pulang " ucap Vernon yang mampu membuat Alex terkejut.


Seketika tubuh Alex bergidik ngeri sekaligus kagum akan ketampanan seorang Shailendra Salvador putra pertama keluarga Vernon.


" eh iya maaf kak. Perkenalkan saya Alexi Arsenio, teman sekolahnya Arsha " ucap Alex memperkenalkan diri sembari menjabat tangan Vernon dan Shail.


" oh jadi kamu temannya Arsha. Btw ngapain jam segini datang kerumah? " selidik Vernon.


Tak lama kemudian Arsha turun dari tangga dengan memakai baju tidur, dia mencepol rambut pirangnya yang menambah kecantikannya pari purna. Alex yang. Melihat itu tak bisa berkedip, hatinya berdebar sangat kencang dan mampu terdengan oleh siapapun yang ada di dekatnya termasuk Vernon dan Shail.


" kenapa cari gue sore sore begini " tanya Arsha sembari duduk di sebalah abanganya.


" eh iya iya ini ada yang mau gue omongin sama lho " jawab Alex sedikit gugup.


" pa, bang, biarin Arsha ngobrol dulu ya " ucap Arsha hati hati kepada Vernon dan Shail agar Alex bisa leluasa berbincang dengannya.


Setelah Ayah dan Kakaknya Arsha pergi Alex langsung membuka maksud dan tujuannya datang kerumah Arsha.


" jadi gini Sha, gue khawatir lho kenapa kenapa, jadi gue cuma mau bilang lho jangan risih kalo nanti gue akan sedikit bersikap overprotektif sama lho" jelas Alex


" kenapa gitu? "


" ada satu hal yang bener bener gue takutin tentang lo sekarang, jangan banyak nanya kenapa tapi gue minta satu hal itu aja. Buat jaga. Jaga siapa tau lho bakal risih nantinya " jelas Alex kembali


" tapi,,,,,,,,


" nggada tapi tapi Arsha. Gue mohon demi keselamatan lho, nggak lebih. Gue mohon lho nurut kali ini aja ya " segera Alex memotong ucapannya. Dia tau ini sedikit memaksa, tpi dia nggak mau sampe terjadi apa apa sama Arsha.


Setelah berbicara seperti itu akhirnya. Alex memutuskan untuk pamit pulang, karna hari sudah mulai petang.