BARSHA

BARSHA
#26



Hari sudah menjelang sore, Alex masih dalam posisi yang sama, begitupun dengan Ardian dan Arsha. Arsha masih terlelap dalam tidurnya sembari memeluk Alex sedangkan Ardian masih duduk di sofa sembari membaca novel ataupun majalah.


" bang.... " panggil Alex


Belum sempat Ardian memnjawab tiba tiba saja Arsha terbangun dan menangis memanggil Berryl. Alex yang melihat itu bingung dan tidak tahu harus apa tapi satu detik kemudian dia ingat bahwa Ardian tadi sudah berpesan agar jangan panik ataupun bingung tapi leuk erat saja.


Alhasil Alex memeluk erat kekasihnya itu, di belainya rambut panjang Arsha tak lupa dia mengatakan cup.......cup......cup seperti orang yang ingin meemberi tahu bahwa mereka yang sedang menangis harus segera diam. Ardian hanya memperhatikan keduanya, Arsha yang perlahan mulai melemah dan terlelap.


" bang. Ini udah malem malah Arsha makin erat meluk gue " adu Alex ketika dia mendapati hari sudah semakin gelap.


" udah gapapa temenin aja sampe pagi nggak masalah kok " jawab Ardian yang mengerti kekhawatiran kekasih adiknya itu.


" gak enak gue sama yang lain apa lagi sama om Vernon takut dikira gimana gitu bang " jelas Alex kembali.


" gapapa kenapa si takut banget "


" ya gue kan bukan siapa siapa di keluarga ini masa seenaknya main nginep aja ihh, lagian juga disini ada anak perempuan mungkin kalo cuma lho sama bang Shail si gpp bang "


" ya nanti lo tidur gue temenin nggak akan gue tinggalin lho berduaan disini, ya walaupun gue tahu pasti lho gabakal ngelakuin yang nggak nggak sama adek gue tapi ya namanya cowok pasti punya hasrat punya nafsu "


Setelah berkata seperti itu semuanya bungkam, dan pada akhirnya Shail masuk kedalam kamar Arsha. Shail sendiri baru pulang dari kantornya.


Berbeda dengan Alex, Shail terlihat santai santai saja mendapati keduanya sedang berpelukan di atas ranjang Adiknya. Toh juga Ardian sudah mengadu kepada semuanya di grup keluarga mereka, jadi mereka juga tidak terlalu menghawatirkannya.


" belum bangun juga dari tadi siang " tanya Shail yang melihat kebungkaman dua orang manusia yang masih sadar, tidak dengan Arsha karna dia masih tertidur.


Ardian bukan diam, tapi memang itu sifat aslinya kalau Alex dia memang diam karna masih takut dan juga grogi. Tidak di pungkiri kalau saat ini dia mengeluarkan banyak keringat, badannya panas dingin.


" udah bang barusan habis nangis. Belum lama emang karna dari tadi sampe sekarang bangun cuma nangis doang biasalah " akhirnya Ardian yang menjawab pertanyaan dari Shail barusan.


" Lex... " panggil Shail yang membuat Alex terhenyak kaget.


"i,iya bang " jawab Alex gugup, karna Shail kini sedang berjalan menuju dirinya.


" udah gapapa jangan grogi gitu, gue nggak gigit orang kok tenang aja "


" hehe iya bang " Alex terlihat kikuk dan salah tingkah karna dia benar benar sangat takut kali ini. Baru abang pertamanya belum dengan kedua orang tua Arsha. Alex bisa bisa mati terduduk sambil memeluk Arsha kalau begitu.


" orang belum sembuh sok soan si pingin berangkat sekolah aja kan alhasil begini kan " celoteh Shail sendiri. Dia sebenarnya sangat ingin memeluk Arsha seperti ini tapi sayangnya Arsha merasa tidak nyaman karna tubuh Shail terlalu atletis dan katanya sangat keras seperti papan tulis.