
Hingga malam akhirnya tiba dan aku bisa menikmati semua pasilitas yang ada disana, rasanya memang sangat menyenangkan, untuk pertama kalinya aku bisa merasakan tidur di ranjang besar dan empuk, bersih, memakai selimut yang lembut dan bisa merasakan ruangan ber AC yang dingin, hingga ketika mengingat mengenai AC yang dingin dan ada di kamarnya, aku mulai teringat kepada Varel dimana dia tidak bisa tahan dengan dingin, aku pikir semua AC di dalam ruang kamar pasti sudah di atur oleh pihak hotel di sini dan mereka pasti tidak akan tahu bagaimana kondisi Varel.
"Astaga AC nya, aahh Varel pasti tidak akan bisa tidur malam ini, dia tak tidak tahan dingin." Ucapku sambil langsung terbangun dengan cepat.
Aku langsung membawa selimut milikku dan pergi ke kamar Varel, sudah aku ketuk pintunya beberapa kali, tapi tetap saja tidak ada sahutan dari dalam sana, hingga tidak lama kemudian, aku mulai merasa semakin cemas dan cemas, karena Varel tetap tidak keluar juga saat itu.
"Hei.... Varel...tok...tok...tok, Varel keluar kau... Varel apa kau ada di dalam?" Teriakku terus saja memanggil dia dengan keras.
Setelah beberapa menit tetap tidak ada jawaban darinya terpaksa aku harus masuk meski tanpa izin, sehingga aku terus menerobos masuk dan semua yang aku duga ternyata memang terbukti adanya, Varel terlihat duduk di ranjangnya dengan selimut yang menggulung tubuhnya dan dia terus saja memeluk dirinya sendiri saat itu.
Aku sangat kaget dan syok ketika melihat wajahnya saat itu.
"Varel..." Ucapku berteriak dengan wajah yang sangat panik menatap ke arahnya saat itu.
Aku benar-benar sangat kaget melihat Varel bisa menggigil kedinginan sampai seperti itu, langsung saja aku berlari menghampiri dia dengan cepat dan naik ke atas ranjangnya sambil bicara dengan dia secepatnya.
"Varel..hei...sadarlah ada apa denganmu? Varel ayo pakai selimut ini kau tidak boleh kedinginan." Ucapku kepadanya sambil kembali menyelimuti dia lagi dengan selimut yang aku bawa sebelumnya.
Anehnya di kamar Varel ini AC nya justru terasa lebih dingin dibandingkan AC di kamarku sebelumnya, aku segera mencari remote AC di sekitar sana hingga berhasil aku menemukannya, segera saja aku berusaha mengontrol AC itu tapi tetap saja tidak bisa, aku mulai panik dan kebingungan, di tambah melihat kondisi Varel yang semakin mengkhawatirkan, aku tidak bisa diam saja jadi saat itu juga aku harus pergi membawa Varel keluar dari kamar tersebut.
"Aishh...kenapa remote ini tidak berfungsi sih, sial." Gerutuku sangat kesal sambil melempar remote tersebut dengan kencang ke lantai.
"Barsha....dingin...aku...dingin.." ucap Varel mengigil kedinginan.
Aku semakin cemas, dan tidak ada cara lain lagi selain membawanya keluar dari kamar ini, sebelum sesuatu yang lebih berbahaya terjadi dengan kesehatan dia.
"Ayo cepat, bangun, aku akan membawamu keluar dari sini, ayo Varel kamu pasti bisa." Ucapku sambil segera memapah dia dengan segera.
Aku berhasil membawa Varel keluar dari kamarnya dan memindahkan dia ke kamarku, sambil segera aku mematikan AC di kamarku tersebut, hingga akhirnya Varel mulai membaik dengan perlahan, aku pun bisa mulai merasa tenang, setidaknya sekarang Varel sudah tidak menggigil seperti sebelumnya lagi.
Selain itu aku juga segera menyeduh kan susu hangat untuknya agar bisa memberikan sedikit kehangatan kepada tubuhnya dan bisa membuat dia menjadi lebih baik lagi.
"Ini minum dulu susu hangatnya." Ucapku memberikan susu hangat itu kepada Varel.
Dia menatap terperangah kepadaku dengan wajah yang kebingungan, aku pun segera menyuruh dia untuk meminum susu itu dengan cepat, tapi dia malah bertanya dimana aku mendapatkan susu tersebut.
"Kenapa kau menatapku begitu? Ayo makan susunya." Ucapku pada dia lagi.
"Barsha, darimana kamu bisa menyeduh susu ini?" Tanya dia kepadaku saat itu.
Aku pun langsung tersenyum lebar dan terus saja menggaruk belakang kepalaku karena ibu dan kak Lea yang memasukkan alat pemanas air ke dalam koperku sebelumnya, jadi aku menggunakan alat itu untuk menyeduh susu yang juga di bekali oleh mereka kepadaku, sebenarnya aku tidak mau memberitahu dia mengenai hal ini, namun sayangnya kini aku harus memberitahu Varel dengan terpaksa.
"Ehehe... Itu, aku membawa alat pemanas air dari rumah, ibu dan kak Lea yang mengemasnya untukku, jadi aku bisa menyeduh mie instan dan benda lainnya, kau bisa lihat sendiri kan isi koperku setengahnya adalah makanan siap saji dan alat makan, aku pikir mereka tidak akan memasukkannya lagi, tapi ternyata semuanya tetap seperti semula, huuh." Balasku dengan wajah yang lesu dan menahan malu.
Aku merasa jauh lebih lega karena dia sudah mau meminumnya tanpa memiliki banyak permasalahan lagi, yang menunjukkan bahwa dia sudah jauh lebih baik keadaannya saat ini, setelah melihat Varel meminum susunya hingga habis, dan kondisi tubuhnya terlihat sudah membaik, aku pun langsung menarik satu selimut yang membungkus tubuhnya karena aku pikir dia tidak akan membutuhkan banyak selimut lagi seperti itu.
"Berikan satu selimutnya untukku." Ucapku merampasnya dengan cepat.
"Untuk apa?" Tanya dia sambil berusaha menahan lagi.
"Ya untuk aku tidurlah, kau sudah tidak kedinginan lagi bukan? Bahkan aku sudah menyelamatkan kau beserta robot mu itu, sana kau tidak mau memeriksa kondisi robot mu, itu kan akan kamu gunakan besok." Balasku kepadanya.
Mendengar ucapan dariku dengan cepat Varel memeriksa robotnya dia terlihat begitu lega saat selesai memeriksa semua keadaan robotnya yang masih berfungsi dengan baik dan tidak ada sesuatu yang kurang sedikit pun.
"Bagaimana apa baik-baik saja?" Tanyaku kepada dia saat itu.
"Untungnya semuanya baik, terimakasih banyak Barsha, aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku jika kamu tidak datang saat itu." Balas dia menatapku dengan lekat.
Mendapatkan perkataan begitu darinya, membuat aku merasa besar kepala dan bersikap cukup angkuh untuk menerima pujian darinya yang cukup besar ini dan harus aku abadikan momennya. Dengan cepat aku segera mendekati dia dan mulai meminta sesuatu darinya, karena dia sudah memuji aku lebih dulu pada awalnya.
"Ahaha ... Kau ini bisa saja, kalau begitu bisakah kau mengabulkan satu permintaanku?" Tanyaku kepada dia dengan memasang wajah yang menggemaskan.
Itu adalah jurus pertama yang bisa aku lakukan untuk menaklukkan dia, aku tahu Varel tidak akan tahan dengan apapun yang menggemaskan, terlebih sesuatu yang berhubungan denganku, jadi aku terus merasa senang dan memasang wajah yang manis di hadapan dia saat itu juga.
"Hei...hei... berhenti memasang wajah manis begitu, apapun yang kau mau kau bisa melakukannya, meski kau tidak berbuat baik padaku." Balas dia begitu mudahnya menurut padaku.
"Hehehe....iya juga ya, dompetmu kan aku yang pegang, tapi tetap saja aku harus meminta izin padamu dulu, dan satu lagi pokoknya, kau harus menemani aku pergi berbelanja oleh-oleh, sembari kita pergi berlibur setelah kau selesai dengan lombamu itu, bagaimana?" Ucapku kepadanya dengan wajah yang begitu antusias.
Varel terus saja mengangguk kepadaku yang menandakan bahwa dia setuju dengan apa yang aku katakan kepadanya saat itu, jadi aku merasa sangat senang bahkan tidak bisa mengontrol diriku lagi, aku langsung berjingkrak kegirangan, sambil terus mengangkat kedua tanganku ke atas penuh dengan kegembiraan saat itu.
"Hore .....Yeay...aku akan liburan, ahaha aku senang sekali, terimakasih banyak Varel kau memang yang terbaik." Ucapku sambil menunjukkan dua jempol yang lurus kepadanya.
Ini sangat membahagiakan sekali untukku, dan aku langsung saja merebahkan tubuhku di ranjang saat itu juga, hingga Varel malah terus berdiri di samping ranjang dengan wajah kebingungan.
"Hei...kenapa kau terus berdiri mematung begitu, ayo cepat naik kau mau tidur atau tidak?" Tanyaku kepadanya.
"Aa...AA..aku tidur dimana?" Tanya dia dengan wajah yang aneh dan perkataan yang gugup saat itu.
Aku kembali bangkit terduduk dan menghembuskan nafas dengan lesu kepadanya, tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi manusia seperti dia ini.
"Hei... Tentu saja kau tidur di sini, habisnya kau mau tidur dimana lagi, tidak mungkin kau akan tidur di lantai kan?" Balasku kepadanya dengan wajah yang sudah sangat mengantuk dan malas untuk menghadapi dia lagi.
Baru saja saat itu aku hendak kembali tidur dengan memegangi bantalku dan mulai menutup mata, tapi selang beberapa detik kemudian Varel kembali bicara dan memanggil aku lagi dan lagi.