
Aku tidak bisa berhenti dengan mudah, dia sudah seenaknya menyalahkan aku dan memutar balikkan fakta, mana mungkin aku akan memberikan dia ampun dengan mudah, terus saja aku mengigit tangannya cukup kuat hingga menyisakan bekas yang terlihat begitu jelas dan Niko mulai menggerutu kesal padaku.
"Aishh....lihat tanganku jadi seperti ini, aahh..kau jorok sekali sih, menjijikan!" Gerutu Niko terus pergi ke dapur untuk mencuci tangannya yang memiliki bekas gigitan olehku sebelumnya.
Aku hanya bisa terus tertawa dengan puas tanpa henti, bersama dengan Ciko dan Varel yang juga ikut menertawakan Niko yang sangat tidak beruntung itu, hingga kami pun mulai merayakan hal tersebut, kita memutuskan untuk pergi ke luar dan mencari tempat makan yang bagus, tentunya Varel yang akan mentraktir kami semua, tapi rencana kami untuk melakukan camp terpaksa harus dibatalkan karena sudah tahu Varel akan pergi ke luar negeri untuk lomba tersebut, jadi kami tidak mungkin pergi liburan dan nge camp di pantai hanya bertiga tanpa dirinya.
Itu akan sangat menyedihkan dan mungkin membuat Varel merasa tidak diakui sebagai sahabat kami, jadi kami bertiga mengalah untuk mengundur niatan tersebut, sampai Varel bisa kembali membawa sebuah kemenangan besar dari perlombaan yang dia ikuti dalam tingkat dunia tersebut.
Kami semua sangat bangga, malam itu kami habiskan bersama hingga tanpa sadar kita bertiga juga tidur di rumah Varel, setelah menikmati santapan makan malam di salah satu restoran yang terkenal dan mahal kami malah tidur di rumah Varel sebab sempat mabuk karena meminum bir terlalu banyak, aku merebahkan tubuh di sofa begitu juga dengan Ciko yang masih jauh lebih sadar dibandingkan dengan Niko yang sudah terkapar dengan lesu, posisi kakinya diatas sofa sebelah sedangkan kaki yang satunya di lantai, kepalanya juga di lantai dan dia melem memeluk kaki Ciko.
"Aishh...Ciko bawa dia pulang, anak itu sepertinya sudah kehabisan akal." Ucapku menyuruh Ciko untuk membawa pulang Niko saat itu.
"Bagaimana dengan kau, apa kau bisa pulang sendiri?" Tanya dia kepadaku saat itu.
"Aku masih kuat makanya masih nyambung saat kau bicara denganku." Balasku kepadanya sambil terus memegangi kepalaku yang mulai terasa pusing, dan aku terus saja mulai kehilangan pandanganku saat itu.
Rasanya sudah sangat mengantuk sekali, dan sudah beberapa kali aku menguap saat itu, namun aku tidak bisa melakukan apapun selain dari diam membisu tanpa melakukan apapun lagi, sampai akhirnya Ciko membawa pulang Niko dengan membantunya berdiri dan terus saja keluar dari rumah Varel, sedangkan aku masih berniat mengistirahatkan tubuhku disana terlebih dahulu, tapi lama kelamaan aku justru malah tidak sadar dan terus terlelap disana, hingga tidak lama ternyata Ciko kembali lagi ke rumah Varel dan dia juga segera membantuku berdiri menggendong aku dan mengantarkan aku pulang malam itu, aku yang masih dalam keadaan setengah sadar terus saja tersenyum menatap ke arahnya dengan senang.
"Hei..apa kau Ciko, kenapa kau mau menggendongku?" Tanyaku bicara kepadanya.
"Iya aku Ciko, aku sangat malas menggendongmu tapi kau tidak bisa berjalan dan akan sangat lama, aku juga pusing, ingin istirahat, jadi cepat buka pintunya agar aku bisa membawamu masuk." Ucap Ciko kepadaku.
Aku terus saja tersenyum senang, sambil terus saja mengetuk pintu pagar rumahku, hingga hal itu membuat Ciko sangat kesal dan emosi di buatnya.
"Aishh.... Dasar kau bodoh! Apa kau tidak bisa lihat? Dimana otakmu itu, cepat buka pintunya jangan mengetuk saja!" Bentak Ciko kepadaku.
Aku terus cemberut menatap dengan wajah yang kesal sekali, karena saat itu, dalam pengaruh alkohol aku justru mengira bahwa pintu tersebut adalah pintu rumahku bukan gerbang pagarku saat itu.
"Hei ...cepat buka kenapa kau malah cemberut seperti itu kepadaku?" Balas Ciko lagi dengan nada yang cukup tinggi dan kedua alisnya yang di kerut dengan kuat.
"Aku tidak mau, kau membentakku, aku merasa sedih, kau harus membujukku atau aku tidak akan membuka pintunya." Balasku sambil langsung memalingkan pandangan dari tatapannya saat itu.
Ciko semakin kesal dan dibuat makin naik darah oleh kelakuanku saat mabuk, dia bahkan sampai menggeram keras dan mengeratkan giginya cukup kuat untuk menahan emosi dalam dirinya sendiri, selain dia merasa lelah dan sangat pegal karena menggendong tubuhku, dia juga masih harus menghadapi tingkahku yang cukup konyol saat itu, jadi wajar saja jika Ciko terlihat begitu emosi tanpa henti.
"Aaarrkkkk...astaga..harus bagaimana lagi aku menghadapimu, cepat buka pintunya atau aku akan melemparkan mu ke tanah!" Bentak Ciko yang semakin emosi denganku.
Padahal saat itu aku meminta dia agar membujukku, tapi bukannya melakukan hal itu, dia malah membentak aku semakin merasa dan memasang ekspresi yang sangat menakutkan membuat aku tidak bisa berkutik lagi, bahkan meski aku dalam kendali yang tidak sadar, aku pun terus membuka pagarnya meski terus memasang wajah yang kesal, hingga Ciko berteriak memanggil Wili dan Lea untuk membukakan pintu untuknya sebab dia sudah sangat tidak tahan lagi merasakan tangannya yang begitu pegal, harus terus menggendong tubuhku.
"Wili ..hei...Wili. Kak Lea buka pintunya, aku membawa saudara kalian cepat buka!" Teriak Ciko sangat kencang.
Bukannya Wili atau kak Lea yang membukakan pintu, tetapi malah ayah yang membukakannya dan dia langsung terbelalak lebar melihat aku dalam pangkuan Ciko saat itu, sebelumnya aku juga tidak tahu jika ayah sudah ada di rumah, sebab sebelumnya yang aku tahu ayah masih harus bekerja ke luar kota karena ada urusan mendesak di kantornya yang memang mengharuskan dia pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya tersebut.
"Astaga...kenapa dengan anak ini?" Tanya ayah kepada Ciko dengan kaget.
Ciko juga langsung menelan salivanya dengan susah payah dan dia segera berusaha menjelaskan kepada ayahku, tentang semua yang sebenarnya terjadi, dia yang sebelumnya juga sedikit mabuk, kini mendadak cerah saking takut dan kagetnya melihat ekspresi dari ayahku malam itu.
"Aa ..AA..aahh....om begini, tadi kita merayakan keberhasilan Varel, makanya Barsha seperti ini, dia malah minum terlalu banyak dan tidak bisa berjalan dengan benar, jadi saya harus menggendongnya, saya tidak bermaksud apapun kok om." Ucap Ciko dengan mengangguk kuat.
Untungnya ayah tidak sekejam ibuku dia bisa memaafkan Ciko dengan mudah dan langsung saja menyuruh Ciko agar membawa aku masuk ke dalam kamarku secepatnya.
"Aishh...om tidak akan menyalahkanmu Ciko, om tahu kamu anak yang baik, masalahnya Barsha pasti sangat merepotkanmu, ayo cepat bawa dia masuk, aduh kamu pasti sangat pegal kan, ayo cepat cepat, sebelum ibunya pulang ini akan bahaya." Ucap ayahku segera membuka pintunya dengan lebar.
Ciko segera membawa aku masuk dan menidurkan aku di kamar dengan segera, bahkan Lea yang berada di ranjangnya dia juga dibuat kaget karena Ciko masuk ke dalam kamar dan menidurkan aku di kasurku yang ada di bawah ranjang Lea saat itu, dia juga menyelimuti aku dan membenarkan bantal untuk menyanggah kepalaku saat itu.
Namun sialnya disaat Ciko keluar dari kamar bersama dengan ayahku, ibu pulang di waktu yang salah, sehingga dia mengetahui semua kejadian itu dan Ciko segera disuruh pergi oleh ayahku dengan segera.
Ciko dan ayahku menatap tegang dan saling tatapan satu sama lain dengan penuh kecemasan, sebab mereka berdua sudah mengetahui bagaimana sikap dari ibuku yang sangat menyeramkan, sehingga tanpa banyak basa basi lagi, ayah segera menyambar ucapan ibu dan memberikan kesempatan agar Ciko bisa pulang.
"Aahhh..Bu kamu sudah pulang ya, tidak ada apapun kok, nak Ciko hanya pergi menemui Barsha, tapi sayangnya anak itu sudah tidur jadi dia kembali lagi, sudah ayo Ciko bukannya kamu sudah ditunggu ibumu ya, sana cepat pergi ini sudah malam sekali." Ucap ayahku segera memberikan kode pada Ciko.
Dengan segera Ciko mengangguk dan berpamitan sambil berlari keluar dengan cepat, ibu yang merasa heran dengan sikap ayah dia mulai mencurigai sesuatu sebab ayah tidak biasanya bersikap sebaik ini kepadanya dan malam menawarkan makan juga beristirahat lebih dulu kepadanya.
"Ehh..ayo Bu, ibu pasti belum makan iya kan? Ayo kita makan bersama ayah juga baru pulang masih menunggu ibu untuk makan bersama." Ucap ayah membuat ibu semakin menaruh banyak kecurigaan dengan gelagatnya yang tidak biasa.
"Tunggu. Ayah kenapa ibu merasa ada bau yang aneh saat Ciko melewati ibu barusan? Dan kenapa sikap ayah menjadi aneh seperti ini? Apa yang kalian sembunyikan dari ibu?" Tanya ibu menyipitkan matanya menatap tajam kepada ayah.
Langsung saja ayah malam membuka matanya lebar secara refleks dan ibu semakin tidak bisa menahan rasa curiganya tersebut, terlebih lagi ayah yang malah melirik ke arah kamarku, sehingga ibu semakin penasaran dan mulai memeriksa kamarku saat itu.
"Eeehh..ibu mau kemana, ayo sebaiknya kita istirahat lebih awal saja jika ibu tidak mau makan." Ucap ayah berusaha menahannya namun semua itu tetap saja gagal untuk dilakukan oleh ayah.
"Lepaskan, ada apa sih dengan ayah, ibu sudah merasa curiga sejak awal, pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan anak itu, mana mungkin dia tidur terlalu awal seperti ini." Ucap ibu yang langsung saja menghempaskan tangan ayah dengan kuat.
Ayah sudah sangat tegang dia sudah berusaha dengan keras untuk melindungi aku, tapi semua usaha yang dia lakukan tetap saja sia-sia dan tidak bisa melawan sikap teliti yang dimiliki oleh ibu, dia terus masuk ke dalam kamarku dan mengetahui bau alkohol yang sangat menyengat pada tubuhku saat itu, juga melihat pipiku yang merah merona dan tertidur dengan begitu pulang.
Langsung saja ibu menatap penuh kemarahan dan dia menoleh ke arah ayah yang sudah berani menyembunyikan hal ini darinya.
"Ayah! Apa kau sengaja melindungi anak ini hah?" Ucap ibu menatap tajam kepada ayah saat itu.
Sebelum ibu benar-benar akan menghukum ayah, dengan cepat ayah langsung pergi ke kamar dengan berlari cepat dan mengatakan bahwa dia sudah sangat mengantuk dan hendak tidur, sedangkan ibu hanya bisa menghembuskan nafas besar sembari menggerutu kesal kepada ayah.
"Aishh....dasar dua orang itu, selalu saja saling melindungi, awas saja kau Barsha ibu tidak akan membiarkan kau tidur dalam keadaan mabuk seperti ini, aishh..bau alkoholnya terlalu mengganggu." Gerutu ibu sangat emosi.
Dia mulai pergi ke dapur membawa segelas air dingin yang penuh, lalu pergi kembali mendatangi aku dan langsung saja mengguyur wajahku dengan air tersebut, hingga membuat aku langsung terbangun dan terperanjat duduk dengan tegak sekaligus.
"Banjir...banjir...bangun Barsha ada banjir!" Teriak ibu heboh sendiri sambil menumpahkan air itu ke wajahku.
"Wah ....aahh..dimana banjirnya, dimana? Ayo cepat Lea kita harus melarikan diri Lea kenapa kau diam saja?" Ucapku yang sangat kaget dan refleks berdiri sambil menatap ke arah Lea yang menahan tawa melihat kelakuan konyol aku yang ternyata ditipu oleh ibuku sendiri.
Setelah melihat Lea yang terus diam dan tangannya menunjuk ke ujung kamar, aku baru saja melirik arah yang dia tunjuk dan betapa kagetnya aku saa melihat wajah ibu yang juga sama basahnya dengan wajahku saat itu.
Dia berkaca pinggang dengan wajah yang menatap tajam, dipenuhi dengan amarah sambil duduk dan segera berdiri menghampiriku saat itu.
"Astaga....ada apa ini sebenarnya? Kenapa ibu menatapku begitu, ada apa Bu?" Tanyaku kepadanya dengan kebingungan.
"Barsha!" Teriak ibu sangat kencang sampai mengguncang rumah kami.
Bahkan teriakkan itu mungkin akan terdengar sampai ke rumah Ciko, karena kami bersebelahan saat itu.
Aku juga langsung menutup kedua telingaku dengan tangan begitu pula dengan Lea yang sudah memasang headset di kedua telinganya sejak awal, karena dia sudah terbiasa dan sudah tahu hal seperti ini pasti akan terjadi kepadaku.
"Astaga...ibu ada apa denganmu?" Tanyaku semakin kebingungan dengannya.
"Kau, dasar kau ini, apa kau masih mabuk hah? Ayo cepat mandi dan bersihkan dirimu yang penuh dengan alkohol itu, aish...dasar kau berandal kecil yang sangat menjengkelkan, cepat cuci seluruh badanmu itu!" Bentak ibu sambil terus menyeret tubuhku dengan menjewer telingaku cukup kencang hingga aku masuk ke dalam kamar mandi.
Meski aku terus meringis kesakitan dan meminta ampun pada ibu, tapi nyatanya ibunsama sekali tidak bisa mengampuni aku kali ini, dan sejak itu pula aku benar-benar sadar sekaligus dari pengaruh alkohol sebelumnya, bukan dengan obat pengar ataupun sup jahe, tapi dengan teriakan ibu yang sangat memekikkan telinga dan hampir membuat gendang telingaku jebol.
Aku pun harus tetap mandi di tengah malam dengan air yang sangat dingin karena saat ini cuaca di negara kami tengah masuk musim dingin jadi air pun mulai mengubah kadar suhunya mengikuti pergantian cuaca sesuai iklim yang berlangsung.
Rasanya benar-benar sangat meny*Iksan tubuhku, aku bahkan terus merasa sangat dingin tapi masih harus memaksakan diri agar ibu tidak marah lagi denganku, bahkan dia masih mau menunggu aku mandi hingga selesai, dan baru saja bisa pergi ke kamarnya saat melihat aku keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan setengah mengigil karena kedinginan.