
Arsha berlari menghampiri kakeknya yang sudah terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakut. Disana terlihat Vernon dan juga Berryl sedang duduk melamun.
" OPA!!!! " teriak Arsha ketika dia sudah berada di samping ranjang kakeknya. Arsha tak bisa menahan tangisnya, dia tidak memperdulikan suara ibunya yang meminta dia untuk berhenti menangis.
" ibu, ibu kenapa, kenapa opa tidak mau bangun " ucap Arsha sesenggukan.
" duduk dulu nak " jawab ibunya sembari mendudukkan Arsha di sebelah Vernon.
" opa ma, pa, opa......... ". Ucapannya terjeda, Arsha kembali menangis sesenggukan di dalam dekapan ayahnya. "......... papa bagaimana, bagaimana jika opa meninggalkan ku seperti opi (sebutan nenek yang di berikan oleh Arsha) yang meninggalkan ku dulu, aku, aku, aku tidak mau harus kehilangan opa " sambungnya dengan tangisan yang terasa sangat memilukan siapa saja yang mendengarnya.
" Arsha ". Panggil Vernon lembut sembari mengusap usap puncak rambutnya. " Arsha tenang ya opa pasti baik baik aja ya " sambung Vernon. Dirinya tak kuasa melihat Arsha yang seperti ini, hatinya terluka.
Berryl, Ardian dan Shail hanya mampu menahan rasa sesak di dada mereka ketika Arsha mengatakan hal tersebut. Mereka tahu betul bahwa Arsha sangat menyayangi Hartomo.
Ketika mereka sedang berada di dalam perasaan mereka masing masing, tiba tiba tubuh Hartomo berguncang hebat, dia kejang kejang. Melihat hal itu Arsha melepas pelukan Vernon dengan sangat kasar kemudian dia berlari dan berteriak histeris.
" opa, opa, opa kenapa opa sadar, ora sadar. Papa, papa tolong panggil dokter, mama. Panggil dokter " teriaknya disela sela isakannya.
Berryl, Vernon, Ardian dan Shail yang tadinya mematung kini segera berhamburan mencari keberadaan dokter.
" telfon dokter Shail, Ardian panggil dokter panggil dia untuk segera datang kemari " ucap Vernon panik.
Setelah Ardian memanggil dokter tak lama kemudian dokter datang bersama beberapa suster, mereka di suruh keluar agar proses pemeriksaan berjalan dengan lancar.
Kini mereka sudah berada di luar ruangan dimana Hartomo berada. Mereka menunggu harap harap cemas, begitupun dengan Arsha dia tidak bisa tenang, dia terus mondar mandir kesana kemari sambil menggigit jarinya. Tubuhnya di selimuti rasa khawatir yang teramat sangat. Bayang bayang saat dimana opi tiada kembali di pikirannya, Arsha berteriak sangat kencang ketika teringat pesan opi-nya sebelum dia meninggal dunia.
Vernon, Berryl, Ardian dan Shail kaget bukan kepalang. Melihat Arsha yang sedang memukuli kepalanya Ardian bergegas menenangkan Arsha, di dekapnya tubuh mungil Arsa.
" Ar kamu kenapa? " tanya Ardian hati hati.
* disisi lain
*prang.......... mangkok sup yang sedang di pegang Alex tiba tiba terlepas dari genggamannya.
" auuuu " keluh Alex ketika dia terkena pecahan mangkok tersebut
Sambil terus memunguti pecahan mangkok tersebut dalam hati Alex berkata ' ada apa ini, apa yang sedang terjadi pada keluargaku ataupun Arsha '
Ya Alex memang tinggal sendiri di apartemen sedangkan keluarganya jauh di Amerika.
" kenapa perasaan gue jadi nggak enak gini ya, apa gue telfon mama aja ya, takut dia kenapa kenapa " ucap Alex
Setelah dia berhasil membereskan pecahan mangkok tersebut, dia kemudian bergegas mencari handphone nya. Di tekannya nomor mamanya.
*tut.......tut.......tut...... Tak kunjung ada jawaban dari seberang sana. Alex hampir lupa bahwa sekarang di Amerika matahari belum muncul.
" aaaaarrrgghhhh ........ Kenapa perasaan gue jadi nggak enak gini si " teriak Alex. Dia akhirnya memutuskan untuk menghubungi Arsha. Namun nihil dirinya juga tak kunjung mendapatkan jawaban dari Arsha.
Alex terus menghubungi nomor Arsha, tpi tetap saja dia tidak mendapatkan jawaban. Karna merasa khawatir terjadi apa apa, dia berniat pergi ke kediaman Arsha untuk memastikan bahwa orang yang dia sayangi baik baik saja.
20 menit keudian Alex sudah berada di kediaman Arsha, ditanya nya satpat yang sedang berjaga disana, karna rumah Arsha terlihat sangat sepi tidak seperti waktu dia pertama kali berkunjung.
" permisi pak, kenapa rumah Arsha terlihat sangat sepi ya "
" iya mas, keluarga pak Vernon sedang berada di rumah sakit karna kakeknya sedanh dirawat disana " jelas satpam tersebut.
" oh ya sudah kalau begitu saya permisi dulu ya pak " pamit Laex dan dia langsung bergegas menuju rumah sakit yang tadi sempat dia tanyakan kepada pak satpam.