
Melihat Wili memberikan makanan ke dalam kamarku, aku sungguh merasa lapar jadi walaupun merasa sedikit gengsi aku tetap tidak bisa mengabaikan telur mata sapi itu yang terlihat begitu menggugah selera.
Sampai ketika Wili keluar dari kamar aku pun segera memeriksanya kembali dan mulai menikmati makanan itu dengan lahap sebab aku memang sangat lapar sekali.
"Eumm..... Eumm...enak sekali, ehehe..tumben bocah itu mau bersikap baik padaku, pasti dia akan ada maunya, aku harus menghindari dia hari ini." Gerutuku saat itu.
Karena aku pikir tidak mungkin seseorang seperti Wili mau bersikap baik kepadaku tanpa ada hal apapun sebelumnya, karena sudah pasti dia selalu bersikap baik kepadaku jika dia membutuhkan bantuan padaku.
Sedangkan disisi lain ibunya mulai berbicara kepada Wili.
"Wili kenapa kamu malah memberikan telurnya kepada kakakmu itu, kalau kamu mau kamu makan saja biar ibu memasakkan lagi untuk kakakmu." Ucap sang ibu padanya.
"Tidak perlu bu, aku sudah bosan setiap hari memakan telur, hari ini aku mau makan dengan sayur saja, lagian kenapa ibu hanya memasaknya satu saja jika masih ada telur lainnya, kasian kak Barsha, meski dia sudah dewasa, dia juga pasti ingin makan, dan perutnya tetap akan merasa lapar." Balas Wili kepadanya saat itu.
Hingga membuat ibunya mulai berpikir dan segera saja memberikan makanan pada Wili sambil menyuruhnya untuk segera makan saat itu juga.
"Sudah...sudah.. ibu paham lain kali ibu akan memasak dia telur untukmu dan untuk Barhsa, tadinya ibu pikir kamu juga perlu makan telur untuk sarapan besok jadi ibu memasaknya satu saja, tapi kalau menurutmu begitu ibu juga merasa bersalah pada kakakmu." Ucap ibunya saat itu.
Hingga ke esokan paginya sang ibu memasak telur dadar dan sengaja membelahkan dahulu telurnya itu, saat aku duduk di depan meja makan ibu tiba-tiba saja memberikan aku sepotong telur dadar yang di masak dan dia juga menawari aku untuk memilih lauk lainnya saat itu.
"Barsha kamu mau makan dengan lauk apa lagi, ayo tunjuk biar ibu yang ambilkan untukmu." Ucap ibu membuat aku merasa sangat heran dengan perubahan mereka berdua.
"Eehhh...tidak usah aku bisa ambil sendiri, kenapa kalian jadi baik seperti ini padaku?" Gerutuku sambil mengambil piring dari tangan ibu secepatnya.
"Barsha, kamu seharunya bilang jika kamu ingin seperti Wili, kamu harus mengatakannya agar ibu tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan, mulai sekarang ibu akan memasak dia telur untukmu dan Wili, jadi kalian tidak perlu memperebutkan hal seperti ini lagi." Ucap ibu kepadaku.
"Eehhh.... terserah ibu saja, lagi pula makan dengan telur atau tidak itu akan sama saja, aku tetap makan, aku sudah dewasa aku bukan Barsha yang dulu lagi, jika ibu mau merubahnya sekarang aku rasa itu sudah terlambat, aku sudah terlanjur jadi Barsha yang dewasa karena semua didikanmu kepadaku selama ini, aku juga tidak akan makan di sini, aku makan sambil jalan saja, aku pergi." Ucapku pada ibu dan Wili saat itu.
Aku tidak ingin berada di tengah-tengah mereka berdua yang terasa begitu berubah saat ini, padahal biasanya ibu selalu mengomeli aku meski aku benar ataupun tidak melakukan apapun, jadi hal seperti ini sangat membuat aku heran dengannya, makanya aku memilih untuk pergi saja.
Lagi pula hari ini aku akan pergi menjemput Varel yang baru tiba di bandara nantinya, jadi aku harus segera bergegas ke luar dan menemui Ciko juga Niko.
Hingga sesampainya aku di depan rumah Ciko aku terus saja menunggu dia di depan pintu rumahnya, aku tidak berani mengetuk pintunya karena aku takut mereka masih sarapan disana, aku juga memakan makananku sendiri sampai habis disana, sampai Ciko ke luar dan dia menatap sinis seperti biasanya padaku.
"CK ... Pagi-pagi kau sudah berkeluyuran di depan rumah orang lain." Ucap dia sambil berdecak pelan padaku saat itu.
"Aku tidak keluyuran aku datang menemuimu, ayo cepat bukankah sekarang Varel akan mendarat di bandara, kau juga bawa hadiahnya jangan sampai kita terlambat." Ucapku kepadanya.
Dia menurutku dan kami segera pergi ke rumah Niko, tapi ternyata di perjalanan kami bertemu dan saling berpapasan saat itu jadi tidak perlu lagi pergi ke rumah Niko, dan kami memutuskan untuk segera pergi ke bandara saat itu juga.
"Eh ..Niko aku baru saja mau pergi ke rumahku, kau sudah ada disini," ucapku kepadanya saat itu.
"Sudah, ayo kita pergi." Ajak Ciko padaku dan Niko saat itu.
Kami pun pergi ke halte bus untuk menunggu busnya tiba dan sayangnya bus pagi itu terlihat begitu penuh sekali, aku sampai membelalakkan mataku melihat isi bus yang berdesakan seperti itu, dan supir bus nya masih mengijinkan penumpang lainnya untuk masuk lagi ke dalam sana, bukan hanya aku yang terperangah melihatnya tetapi Ciko dan Niko juga melakukan hal yang sama saat itu.
"Wahh...apa kalian masih mau naik?" Ucap Niko menatap ke arahku dan Ciko saat itu.
Dengan cepat aku langsung menggelengkan kepala, dan mundur dengan cepat untuk menghindari bus itu sampai akhirnya bus itu pun segera saja melaju dengan cepat meninggalkan tempat itu, terpaksa kami harus menunggu bus lainnya.
"Huuhhh...gila sekali, apa supir bus tadi mau mati ya? Ini akhir pekan kenapa bus harus sepenuh itu." Gerutuku sambil segera duduk di sana.
Begitu pula dengan Niko yang duduk di samping kananku dan Ciko di sebelah kiri saat itu, kami terpaksa harus kembali menunggu bus selanjutnya, untung saja kami berangkat cukup pagi jadi tidak akan tertinggal bus lainnya dan masih memiliki banyak waktu untuk bersantai saat itu.
Tapi rupanya bus selanjutnya cukup lama aku bahkan sudah bermain cukup lama dengan Niko tapi bus nya tidak kunjung datang juga, hingga Ciko yang sudah kesal dia pun memutuskan untuk menghentikan taxi saja saat itu dan kami segera masuk ke dalamnya.
"Ayo naik." Ucap Ciko setelah tiba-tiba saja dia menghentikan taxi saat itu.
"Heh. Apa kau punya uang, kenapa malah menghentikan taxi?" Ucapku kepadanya saat itu.
"Suda masuk saja, jangan banyak bicara kau hanya membuat aku semakin pusing saja." Balas dia padaku lagi.
Karena dia sendiri yang memaksaku jadi aku tidak bisa menolaknya lagi, terlebih Niko sudah menarik tanganku dengan cepat saat itu, jadi aku menurutinya untuk segera masuk ke dalam taxi itu bersama Niko lebih dulu, lalu barulah Ciko ikut masuk dan menutup pintunya.
Selama perjalanan aku benar-benar merasa tidak nyaman dan tidak enak hati kepadanya, karena sudah pasti jika naik bus, aku tidak akan sanggup membayar ongkosnya, karena pasti akan sangat mahal dan lagi-lagi pasti Ciko yang membayarkan ongkos untukku saat ini, sama seperti biasanya.
"Ciko ini aku bayar sendiri saja." Ucapku sambil memberikan uangku yang hanya cukup untuk naik bus bulak balik saja saat itu.
Ciko menatap heran denga menaikkan kedua alisnya saat itu, tapi aku tidak mau mendengarkan ucapan dia yang pasti akan menolak uangku jadi langsung saja saat itu aku menarik tangannya, lalu mengepalkan uang itu pada telapak tangan dia dan segera berlari menyusul Niko yang sudah hendak masuk ke dalam bandara saat itu.
"Aishh...kenapa menatapku begitu sih, ini ambil saja, aku tahu ini tidak cukup tapi cuman itu yang aku punya, setidaknya aku tidak terlalu merepotkan mu." Ucapku kepadanya.
"Niko....tunggu aku!" Teriakku pada Niko untuk mengalihkan perhatiannya dan segera berlari mengejar Niko secepatnya saat itu juga.
Saat kami tiba di bandara rupanya Varel belum sampai dan kami masih harus menunggu di kursi tempat menunggu yang lainnya, aku dan Niko terus bermain game yang ada di ponselnya dan kami terus saja tertawa dengan lebar saat itu, permainan yang dia mainkan memang sangat lucu sedangkan aku melupakan Ciko yang juga duduk di sampingku saat itu, sampai tidak lama aku tidak sengaja melihat Varel yang berjalan dengan membawa kopernya juga di dampingi dua gurunya saat itu.
"Eehh...lihat ke sana itu Varel, dia suda kembali," ucapku sambil menunjuk ke arah Varel yang berjalan dan menatap ke arah kami saat itu.
Aku pikir mungkin sejak awal Varel sudah mengetahui bahwa aku dan temannya ada di sana menyambut kepulangan dia dari olimpiade yang sangat besar.
Aku langsung berdiri dan berlari menghampiri Varel karena sudah sangat merindukan dia saat itu, bahkan aku sampai memeluknya dan dia mengangkat ku seperti anak kecil, hanya Varel yang selalu memperlakukan aku sebaik ini, dan aku selalu senang ketika di samping Varel, sayangnya dia terlalu sibuk untuk selalu ada di sampingku.
"Varel...." Teriakku memanggilnya sambil langsung berlari menghampiri dia.
Di ikuti dengan Niko dan Ciko yang berjalan pelan dan santai.
"Aku sangat merindukanmu Varel, haha...kau semakin tinggi saja, aku harus menengadahkan kepalaku untuk bicara denganmu, bagaimana kau bisa tumbuh jadi setinggi ini, aku bahkan tidak bisa menyentuh kepalamu lagi." Ucapku kepadanya setelah dia melepaskan pelukannya denganku saat itu.
Yang tidak aku sangka tiba-tiba saja Varel merendahkan tubuhnya dan dia tersenyum padaku, mempersilahkan aku untuk menyentuh kepalanya sama seperti yang biasa aku lakukan pada dia sejak dia kecil hingga sebesar sekarang ini.
"Eehh...kenapa kau merunduk?" Tanyaku kepadanya dengan heran.
"Bukankah kamu mau menyentuh kepalaku, sentuh saja sampai kapanpun kamu bisa melakukannya, dan hanya kau yang bisa." Balas Varel sambil menarik tanganku dan dia menaruh tanganku diatas kepalanya begitu saja.
Hal itu membuat kedua gurunya kaget dan terperangah melihat Varel yang terkenal sulit sekali bergaul dan tidak memiliki teman selama ini, justru dia malah mencari hanya dengan seorang gadis yang setengah tomboi dan berantakan seperti Barsha ini.
Aku hanya tersenyum saja menanggapi itu dan mengacak rambutnya seperti yang biasa aku lakukan sampai dia mulai berpelukan juga dengan Ciko dan Niko, lalu aku mulai memberikan hadiah yang sudah kami persiapkan untuk Varel sebelumnya.
"Varel ini hadiah dari kami, tapi aku tidak ikut memberikan uang untuk membelinya dan mereka malu untuk memberikan ini padamu karena harganya tidak se...." Ucapku yang tidak sampai karena Niko dan Ciko tiba-tiba saja langsung membekap mulutku dengan cepat saat itu.
Aku sangat kaget dan hanya bisa membuka mataku dengan lebar sebab mulutku di bekap oleh dua orang sekaligus seperti itu sampai aku hampir kehabisan nafas saat itu.
"Eummm....plak...plak....," Suara tamparan yang aku lakukan pada kedua tangan mereka sekeras yang aku bisa sampai mereka melepaskan bekapannya dari mulutku.
"Aishh...kenapa kalian membekap mulutku begitu, aaahhh...aku hampir kehabisan nafas, mana tanganmu itu berkeringat sekali sih, dasar Niko sialan." Gerutuku kesal pada mereka berdua sambil menormalkan deru nafasku saat itu.
Varel hanya tersenyum kecil saja dengankan Ciko dan Niko menatap tajam dengan mengerutkan kedua alisnya kepadaku, aku tahu mungkin mereka akan merasa kesal denganku, tapi aku sama sekali tidak perduli, lagi pula mereka juga selalu bersikap seenaknya kepadaku, sama seperti apa yang baru saja mereka lakukan padaku.
"Sudah...aku tidak masalah hadiah apapun yang kalian berikan aku pasti akan sangat senang menerimanya, bahkan jika kalian tidak memberikan apapun aku sudah sangat senang dengan kehadiran kalian yang menjemputku seperti ini." Balas dia pada kami semua saat itu, sambil segera menerima hadiah dari tanganku.
Karena kami menjemputnya kedua gurunya pun segera berpamitan dan Varel ikut dengan kami saat itu, tapi aku memiliki ide yang sangat bagus karena aku tidak sempat memberikan Varel hadiah dan tidak ikut patungan untuk membeli sepatu itu sebelumnya, jadi saat di perjalanan pulang ketika kami berempat tengah menunggu bus, aku menarik tangan Varel dan membawanya untuk pergi membeli sesuatu.
"Varel ayo iku aku sebentar, bus akan datang sepuluh menit lagi," ucapku kepadanya sambil langsung saja menarik dia begitu saja.
Ciko dan Niko juga tidak memperdulikan apapun mereka hanya menatapku dengan sinis dan menggelengkan kepalanya pelan saat itu, karena mereka sudah tahu bagaimana aku.
"Eeehhh.... Barsha kau mau membawaku kemana?" Ucap Varel saat itu.
"Sudah ikut saja, aku punya hadiah istimewa untukmu," ucapku kepadanya.
Langsung saja aku menarik dia dan masuk ke supermarket yang ada disana, aku hanya bisa membelikan dia semangkuk es krim sebagai hadiah kepulangannya saat ini sekaligus hadiah kemenangan dia dalam perlombaan kontes robot terbaik yang dia ikuti sebelumnya.
"Tada....ini untukmu, maaf ya aku hanya bisa memberikan hadiah es krim ini, tapi aku tahu kau sangat menyukai es krim kacang ini sejak kecil, aku tidak tahu lagi harus membelikan hadiah apa untukmu." Ucapku kepadanya saat itu.
Awalnya aku pikir Varel akan kecewa sebab dia tidak menjawab ucapanku saat itu, dia hanya terus menatap aku dengan tatapan yang membingungkan dan terus saja terlihat menatapku dengan lekat, sampai tidak lama dia mulai tersenyum dan mengambil es krim yang aku belikan untuknya saat itu.
"Tidak masalah, aku sangat senang kamu sudah berusaha keras untuk memberikan aku hadiah, es krim ini lebih membuatku senang di bandingkan apapun, karena kamu yang memberikannya." Balas Varel kepadaku.
"Hehe...ya sudah ayo makan, kita akan segera kembali, nanti busnya ke itu lewat." Ucapku padanya yang langsung dianggukkan olehnya saat itu.