
Jangankan mereka bahkan aku sendiri masih saja termenung di dalam kamar setelah cara itu, aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa dengan piala yang besar berwarna gold juga bunga yang cantik di tanganku, aku segera menaruh semua benda itu diatas meja dan terus menatapnya dalam jarak beberapa satu meter dari tempatku berdiri kala itu.
"Huuh.... Kenapa dia bisa suka padaku, tapi apa aku suka padanya?" Ucapku bicara sendiri saat itu.
Terus saja aku merasa kebingungan tidak menentu dan sama sekali tidak bisa berpikir, aku langsung merebahkan tubuhku ke ranjang dan langsung tertidur dengan lelap saat itu juga, meski aku tahu itu terlalu awal untuk tidur, hingga membuat aku bangun lebih awal di keesokan paginya, dan saat aku bangun aku mulai merasa ada yang aneh sebab aku melihat kamar di sebrang sudah di tempati orang lain, bukan lagi para panitia dari negara kami maupun professor pendamping Varel yang sebelumnya.
Aku pun berdiri di depan pintu dengan mengerutkan kedua alisku dan menggaruk belakang kepalaku dengan wajah yang kebingungan.
"Astaga... Kenapa yang keluar dari kamar itu orang lain, bukankah itu kamar hotel profesor mu Varel?" Tanyaku merasa keheranan sendiri.
Sampai tiba-tiba ada Varel yang memanggil namaku dan dia sudah ada di sampingku saat itu, membuat aku sedikit kaget dengan kemunculannya yang datang secara tiba-tiba seperti itu.
"Barsha..." Ucapnya memanggil namaku.
"Astaga.. aahh Varel aku pikir siapa, kau mengagetkan aku saja." Balasku kepadanya saat itu.
"Kenapa kamu menatap seperti itu, ada apa?" Tanya dia kepadaku sambil menaikkan kedua alisnya saat itu.
"Tidak, hanya saja bukankah itu kamar hotel profesor ya? Kenapa tadi aku melihat ada wanita dan satu orang pria keluar dari kamar itu, mereka terlihat berpasangan." Balasku kepada Varel mengatakan kejanggalan yang aku pikirkan sedari tadi.
Tapi ekspresi cukup aneh dia malah tertawa kepadaku dan mengatakan bahwa profesor sudah pulang beserta semua panitia yang ikut dengan kami sebelumnya.
"Apa? Mereka sudah kembali ke neraga kita, mereka meninggal kita begitu? Aishh... Kalau gitu kenapa kau tertawa? Aaahh bagaimana kita bisa pulang sekarang, astaga aku tidak mau terus tinggal disini, pasti bayar hotelnya mahal, aaah Varel kau ini bagaimana sih." Ucapku terus menggerutu kesal dengannya dan sangat tidak habis pikir karena dia terus saja terlihat tersenyum dengan santai.
Sampai ternyata dia sendiri yang dengan sengaja menyuruh semua kepanitiaan pulang lebih dulu meninggalkan kami disana.
"Kenapa kamu harus panik, aku yang sengaja menolak untuk pulang dengan mereka, bukankah kamu ingin merasakan berlibur disini untuk beberapa waktu?" Balas dia kepadaku, aku langsung terbelalak menatap kaget kepadanya.
"Apa? Jadi karena itu kau menyuruh mereka tidak masalah, meski meninggalkan kita disini? Ya ampun Varel, maksudnya berlibur sembari menemanimu, aku tidak bermaksud meminta waktu luang seharian atau 24 jam full padamu, kau kan tahu aku tidak punya uang, darimana kita bisa memesan pesawat dan berlibur, aahh kau ini." Balasku benar-benar dibuat kesal dan frustasi olehnya saat itu.
"Aku sudah membayar semuanya, kita hanya tinggal pergi berlibur saja, aku bahkan sudah membooking salah satu tempat wisata untuk kita datangi hari ini." Balas dia membuat aku semakin kaget dan langsung saja membuka mulutku dengan lebar.
Dia memang sangat pandai untuk menggetkan orang lain, benar-benar tidak aku sangka dia sudah merencanakan semua ini dengan begitu matang di belakangku, bahkan dia menganggap serius ucapanku untuk meminta berlibur dengannya, padahal maksudku tidak sampai seperti itu, aku hanya asal bicara saja saat itu dan aku sama sekali tidak menganggapnya serius.
"Aahh.. kau sungguh melakukan semua itu?" Tanyaku lagi untuk memastikan karena masih tidak mempercayainya karena semua itu benar-benar sangat mengagetkan untukku, apalagi ini terjadi begitu saja.
Dia mengangguk menjawabku dan kakiku seketika menjadi lemas, aku sangat tidak habis pikir kenapa ada seseorang yang sangat bodoh seperti dia, dan malah terus mengikuti semua ucapan dariku, dia selalu saja menuruti aku sekalipun ucapan yang keluar dari mulutku hanyalah sebuah candaan biasa.
"Ehh.... Barsha kenapa? Barsha apa kamu baik-baik saja? Kalau kau sakit kita bisa mengganti jadwal liburannya." Ucap dia kepadaku sambil memegangi tubuhku yang terasa sangat lemas.
"Jika tidak jadi liburan apa uang yang kau keluarkan akan hangus?" Tanyaku kepada dia saat itu.
"Ya tentu saja, tapi aku bisa membuat jadwal baru di lain hari, kita bisa tinggal lebih lama disini, jika kamu sakit sekarang." Balas dia meneruskan
"Ah.. tidak ada lain kali, tidak ada esok, kita pergi sekarang juga, sesuatu jadwal yang di tentukan, AYO!" Ucapku penuh dengan semangat dan refleks langsung memiliki banyak energi lagi dalam seketika.
Varel hanya tersenyum kepadaku dan kami segera pergi ke salah satu tempat wisata yang berada di negara itu dan cukup terkenal, ini pertama kalinya aku melihat sebuah menara Eiffel Paris yang sangat menjulang tinggi, ada banyak orang disana dan Varel mengaja aku untuk berjalan-jalan di sekitar sana, dan terus saja kami membeli banyak sekali makanan khas disana yang tidak bisa kita temui saat di negara asal kami sebelumnya, aku sangat senang dan mengambil banyak foto disana, bahkan aku dengan niat besar sengaja melepaskan sepatu milik Wili yang aku kenakan dan memotretnya di depan menara Eiffel tersebut, aku tahu Wili pasti sangat ingin berada disana dan aku langsung mengirimkan foto itu kepadanya, yang membuat dia terlihat begitu senang dan untuk pertama kalinya dia mengucapkan terimakasih kepadaku.
"Barsha kenapa kamu melepaskan sepatumu, dan hanya memotretnya, ayo kita foto bersama disana." Ucap Varel padaku.
"Tidak. Ini untuk Wili, dia selalu ingin pergi ke sini, setidaknya sepatu dia sudah menginjakkan kakinya disini, jadi aku harus memberikan foto menara Eiffel ini yang banyak untuk dia, karena dia merasa senang dengan hal itu.
"Jadi sepatu itu milik Wili?" Tanya Varel kepadaku yang langsung aku anggukan dengan cepat.
Dia tiba-tiba saja menarik tanganku dan membawa aku pergi dari sana dengan cepat, aku segera memakai sepatu dengan terburu-buru dan dia rupanya malah membawa aku ke sebuah toko sepatu yang sangat besar sekali.
"Varel hentikan..Varel kenapa kau membawa aku kemari?" Tanyaku kepada dia di depan toko sepatu tersebut.
"Bukankah kamu butuh sepatu, aku tidak mau kamu memakai sepatu milik Wili." Ucap dia begitu saja sambil kembali menarik tanganku lagi hingga kami masuk ke dalam toko tersebut bersama.
Aku langsung di dudukkan oleh Varel di salah satu sofa yang ada disana dan dia langsung saja menyuruh pelayan wanita yang berbahasa Inggris untuk mencarikan sepatu yang cocok untukku saat itu, dia langsung saja memberikan beberapa macam jenis sepatu dan merk yang terkenal, aku bahkan tidak bisa membayangkan berapa harga semua sepatu itu, aku tahu dari merk nya saja itu bisa membuat aku pingsan.
"Astaga.. Varel apa kamu gila, untuk apa membelikan aku sepatu dengan merk ternama begini, kita beli di pasar saat sampai di tempat kita saja ya, jangan beli disini, pemborosan Varel." Ucapku berusaha menahan dia saat itu
Namun sialnya dia tetap saja tidak mendengar aku, dia malah terus berjongkok di hadapanku dan memasangkan sendiri sepatu itu pada kakiku, aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan saat itu, hingga pada akhirnya Varel tetap membelikan aku sepasang sepatu, bahkan dia juga memberikan sepatu untuk Wili juga Lea, padahal aku melarang dia untuk membeli semua itu, aku tidak ingin merepotkan dia.
"Varel kenapa kamu membelikannya untuk saudaraku juga?" Tanyaku kepada dia saat kami keluar dari toko sepatu sebelumnya.
"Aku menyayangimu, kau pacarku mulai kemarin malam, jadi aku harus menyenangkan kakak dan adik iparku bukan?" Balas dia yang membuat aku terperangah dan langsung merasa malu padanya.
Aku langsung saja menundukkan kepada dengan cepat saking malunya untuk menghadapi dia saat itu.
Dan dia sepertinya mulai berani menggoda aku dengan caranya seperti itu, membuat aku mati kutu dan sama sekali tidak bisa melakukan apapun, hingga setelah dari sana dia juga membawa aku ke salah satu tempat impian yang selama ini ingin aku datangi selain menara Eiffel Paris.
Dia membawa aku ke Paris Disneyland yang sangat cantik bak seperti di negeri dongeng sungguh, ada bangun seperti istana yang sangat megah dan menjulang tinggi, banyak juga badut lucu donal bebek yang selama ini aku sukai, ada Mickey mouse yang lucu dan karakter Disney lainnya, ini benar-benar seperti mimpi bagiku, aku menghabiskan banyak waktu dengan Varel disana dan tidak lupa membeli beberapa pakaian untuk ibu, ayah juga Tante Nina dan kedua sahabat kami Niko dan Ciko.
Setelah menghabiskan waktu bersama di dua tempat yang sangat romantis untukku, aku mulai menyadari bahwa ternyata aku juga menyukai Varel lebih dari seorang sahabat, aku tidak akan menolak dia lagi ataupun merasa bingung dengan perasaanku, mungkin sebelumnya aku hanya belum menyadari perasaanku ini, sekarang setelah melihat semua kebaikan yang Varel berikan, aku sadar aku tidak suka dengan Ciko melainkan Varel, aku hanya kagum dengannya karena dia selalu menemani aku kapanpun aku membutuhkannya, nyatanya aku memang lebih perduli pada Varel, aku selalu dengan Varel dan Ciko selalu bersikap kecut padaku, dia juga tidak mungkin menyukai aku balik.
"Aku tidak mungkin melepaskan Varel yang sangat hebat seperti ini, apalagi untuk orang yang sama sekali tidak jelas, aku mungkin hanya belum menyadari perasaanku sendiri saja selama ini, dia pria yang sangat luar biasa dan aku akan terus mencintainya." Batinku sambil terus menatap Varel dari dekat.
"Barsha ayo kita kesana kamu pasti lapar kan?" Ajakan Varel kepadaku.
Aku langsung mengangguk dan kita pergi ke sebuah restoran yang sangat mewah, ini adalah pertama kalinya aku datang ke restoran semewah ini, dia memesankan banyak sekali makanan untukku karena dia tahu, bahwa aku suka sekali makan, semua makanan disana sangat enak dan aku sungguh menikmatinya dengan lahap, tidak lupa aku juga mengabadikan momen bersama dengan Varel dari setiap tempat yang kami kunjungi sedari pagi hingga malam seperti ini.