
Sekarang malah aku sendiri yang balik menggelengkan kepala dalam menghadapinya, dia benar-benar tidak masuk dalam akal, kenapa juga dia begitu baik denganku dan selama ini hanya dia satu-satunya orang yang memberikan maaf untukku bahkan dia tidak pernah marah sama sekali.
"Ayolah Varel, apa kau sama sekali tidak bisa marah? Atau apa kau ini tidak memiliki sedikipun nafsu di dalam dirimu itu?" Tanyaku kepada dia dengan heran.
"Aku bisa marah Barsha, bahkan aku sering marah dengan ibuku dan beberapa rekan kerjaku," balas dia kepadaku.
Aku langsung saja seperti mendapatkan secercah cahaya darinya, ketika mendengar ternyata Varel juga bisa marah, hingga langsung saja aku mendekatinya dengan cepat dan segera saja bertanya dengannya sambil memberikan tatapan yang lekat.
"Hei, apa kau sungguh bisa marah? Tapi kenapa kau tidak pernah marah padaku, da aku sama sekali tidak pernah melihat mu marah?" Tanyaku kepada dia dengan heran.
"Memangnya apa yang perlu membuatku marah denganmu, aku selalu senang saat di dekatmu Barsha dan bagiku kamu tidak pernah melakukan hal apapun yang bisa membuat aku marah denganmu." Balas dia kepadaku.
Aku benar-benar sudah semakin pusing dengan cara pikir Varel, karena begitu aku pun hanya bisa menghembuskan nafas kasar dan segera saja mengistirahatkan tubuhku di sofa itu, sambil menyandarkan punggung ke belakang sofa dan menatap langit-langit rumah Varel dengan tatapan yang tidak fokus.
"Ayolah Varel, Niko dan Ciko sebenarnya sedang marah denganku, mereka terlihat sangat kesal lebih dari sebelumnya kepadaku, aku harus bagaimana sekarang?" Tanyaku kepadanya.
"Kenapa mereka bisa marah denganmu, apa yang sudah kamu lakukan dan apa penyebabnya?" Tanya dia lagi kepadaku.
Aku pun langsung menoleh ke arahnya dan menghembuskan nafas beberapa saat, untuk mempersiapkan diri sendiri agar bisa bercerita dengannya saat itu.
"Huuh ..begini, sebenarnya ini bukan masalah besar aku hanya...." Ucapku terus menceritakan semua kejadian yang terjadi diantara aku, Ciko dan Niko di sekolah sebelumnya, sedangkan Varel terus mendengarkan semua penjelasan dariku, dia terus mengangguk beberapa kali menanggapi ucapan yang aku katakan, hingga selesai menceritakan semuanya dia pun mulai tersenyum kecil dan menyatakan sesuatu kepadaku.
"Barsha mungkin saja Niko hanya cemas denganmu, dan aku rasa Ciko mungkin tidak marah padamu, dia melakukan itu karena Niko marah denganmu, jadi dia harus menemaninya." Balas Varel padaku.
"Varel awalnya aku juga berpikir begitu, tapi aku rasa kali ini Niko terlalu berlebihan, sedangkan Ciko aku sendiri juga tidak tahu, apakah dia benar-benar merajuk atau hanya menemani Niko saja. Sudahlah aku tidak perduli lagi, entah sampai kapan mereka akan terus bersikap dingin seperti ini padaku." Ucapku kepadanya dengan suara yang lesu.
Energiku benar-benar sudah habis dibuatnya, tidak bisa bermain se seru sebelumnya, ketika bisa menonton film bersama ataupun menari bersama mereka, kini hanya bisa bermain dengan Varel saja, itupun sangat membosankan karena beberapa saat kemudian Varel mendapatkan panggilan telpon dari profesor nya dan dia mengobrol cukup lama dalam telpon tersebut, aku sama sekali tidak memiliki agenda apapun lagi hari ini, hanya bisa diam dan terus memakan cemilan yang diberikan oleh Varel untukku sebelumnya.
Sembari terus memeriksa apakah Varel sudah selesai dengan panggilan telponnya atau tidak, namun sudah tiga kali aku memeriksanya, ternyata dia belum juga selesai dan terus saja semakin terlihat sibuk sedari tadi, aku hampir mati karena bosan.
"Aahh..kenapa dia lama sekali sih, apa yang sedang mereka bicarakan, apa profesor nya tidak kenal waktu ini sudah malam masih saja mengganggu anak muridnya." Gerutuku sendiri yang sudah sangat bosan.
Sampai tidak lama Varel datang menghampiriku dan dia langsung saja duduk di sebelahku lalu memeluk aku dengan sangat erat, memegangi kedua pundakku dan terus menggoyangkan tubuhku cukup kuat.
Aku hampir saja tersedak keripik yang tengah aku kunyah saat itu, sebab Varel yang terus saja mengguncang tubuhku tidak jelas secara tiba-tiba.
"Aaaahh.. Barsha, aku sangat senang sekali, aku sangat senang." Ucapnya terus mengguncang tubuhku dan beberapa kali memeluk aku dengan erat.
"Adududuh..Varel ada apa denganmu, apa kau kesurupan? Hei..hentikan aku hampir tersedak karenamu, hei..ohok...ohok..ohok.." ucapku yang pada akhirnya benar-benar tersedak nyata.
Varel panik dan dia segera memberikan aku air sambil terus menepuk leherku hingga kripik itu bisa keluar dari tenggorokanku dan aku selamat, bisa bernafas lagi denga lega sembari merasakan plong di tenggorokanku saat itu.
"Barsha, apa kamu baik-baik saja, maafkan aku, tadi aku terlalu senang da bersemangat sehingga tida mendengarkan ucapanmu." Ucap dia terlihat mencemaskan aku.
"Aah..hah...hah...hah... Semua ini karenamu Varel, aku hampir saja mati karena tersedak kripik pedas miliku, aaahh lain kali jangan lakukan hal itu lagi ketika kau tahu aku sedang mengunyah makanan di mulutku, apa kau mengerti?" Bentakku kepadanya dengan keras dan kedua mata yang begitu kesal.
Dia pun terus meminta maaf kepadaku dan terus saja berjanji untuk tidak melakukan semua hal itu kembali di masa depan. Aku juga segera memaafkan dia karena tidak ingin memperpanjang masalah dengannya.
"Aaahh..iya...iya, aku sudah memaafkan kau, tapi awas saja jika kau berani melakukan itu lagi padaku, aku akan mencukupi semua rambut kepalamu itu!" Ancam ku kepadanya sambil mengerucutkan bibir sangat kesal.
Dia langsung mengangguk dan terus saja memasang senyum sangat lebar sambil terus memberikan aku ponselnya, aku menatap dengan penuh keheranan kepadanya.
"Untuk apa kau memberikan ponselmu padaku?" Tanyaku kepada dia saat itu.
"Lihatlah, ada sesuatu yang sangat membahagiakan yang membuat aku sampai se senang tadi, hingga membuatmu tersedak." Balas dia membuat aku semakin penasaran dibuatnya.
Aku mengerutkan kedua alis dengan kuat, segera mengambil ponselnya dan mulai memeriksa apa yang sebenarnya ingin dia tunjukkan kepadaku saat itu, hingga aku melihat sebuah undangan digital peresmian pemenang utama lomba cipta robot yang akan dia lakukan di luar negeri, termasuk Varel yang akan segera melakukan lomba final disana, melawan banyak orang hebat dan jenius dalam bidang pembuatan robot dari seluruh penjuru dunia, dan dan Varel adalah perwakilan dari negeri kita.
Aku sangat kaget sampai menutup kedua mulutku yang terbuka lebar dan mata yang terbelalak sangat bulat.
"Ya ampun, Varel apa ini sungguhan?" Tanyaku lagi dengannya karena masih merasa kaget mendengar kabar tersebut secara tiba-tiba.
Varel mengangguk dan itu membuat aku sangat senang hingga aku tidak sempat menahan diri dan langsung saja berjingkrak kegirangan sambil terus memegangi kedua tangan Varel dan mengajaknya berjingkrak bersama saat itu.
"Hei, apa kalian sudah gila? Kenapa menari aneh begitu?" Ucap Ciko menegur aku lebih dulu.
Langsung saja aku dan Varel menoleh ke arahnya, saking kagetnya aku langsung merasa lemas karena sangat malu dan langsung duduk dengan anggun layaknya wanita feminim pada umumnya, aku tidak bisa jika harus menghadapi Niko dan Ciko setelah tertangkap basah tengah menari seheboh tadi.
"Aaahh...kenapa kalian muncul tiba-tiba begitu, apa kalian hantu ya?" Tanyaku kaget dengan mereka berdua saat itu.
"Kenapa kau harus sekaget itu, apa sekarang kau baru merasa malu dengan kelakuanmu itu?" Ucap Ciko lagi sambil duduk di hadapanku begitu juga dengan Niko yang berhadapan dengan Varel saat itu.
"Siapa yang malu, aku hanya berhenti saja, tidak mungkin terus menari disaat ada kalian berdua datang kemari." Balasku berbohong kepada mereka.
Aku tidak mungkin mengakui rasa maluku di depan Ciko, yang sudah pasti dia hanya akan mengolok-olok aku nantinya, jadi lebih baik aku memalingkan pembicaraan saja darinya, baru segera itu aku bisa merasa lebih tenang.
"Kenapa kau menari seperti orang gila begitu, mana mengajak Varel lagi, kau juga, untuk apa mau-maunya diajak menari aneh dengan gaya yang konyol dengannya, apa kau ini putranya yang harus selalu menurut dengan dia?" Ucap Ciko sedikit membentak pada Varel.
Varel juga segera memberikan penjelasan kepadanya setelah aku hampir marah kepada Ciko, sebab dia yang hanya bisa menghina aku dan melediki aku terus menerus.
Tidak perduli apapun yang aku lakukan, di mata Ciko sepertinya aku selalu buruk dan dia selalu tidak menyukai apapun yang aku lakukan, dia sangat dingin, cuek dan begitu serius seperti seorang robot yang sudah di program.
"Bukan begitu Ciko, tapi ini lihatlah sendiri," ucap Varel sambil memberikan ponsel miliknya lagi.
"Aku mendapatkan kabar bahwa aku akan menjadi perwakilan lomba di luar negeri sekaligus menerima penghargaan disana secara langsung atas kemenanganku sebelumnya, jika aku memang lagi, nama negara kita akan disorot oleh dunia, dan aku yakin aku bisa melakukannya selama kalian mendukungku." Ucap Varel saat itu.
Ciko dan Niko membelalak mata melihat semua hal itu dengan mata kepalanya sendiri, mereka berdua juga sama syok nya seperti aku yang baru pertama kali mengetahui hal itu, bahkan Niko sampai lupa kalau dia tengah marah padaku sebelumnya.
"Wahh.. benarkah? Kau hebat sekali." Ucap Niko menatap dengan lekat kepada Varel.
Saat Varel mengangguk dia langsung saja berteriak kencang dan menjadi orang paling semangat untuk melakukan perayaan hal tersebut.
"Barsha, kita harus merayakan hal ini, apa kau setuju? Ini hal yang sangat mengagumkan, sahabat kita sangat luar biasa." Ucapnya sambil memegangi kedua tanganku dengan erat.
Sedangkan aku sendiri hanya bisa menatap dia dengan penuh kebingungan dan kedua alis yang aku naikkan dengan kuat.
Sampai Ciko langsung menyadarka Niko dengan bertanya tentang Niko yang masih merajuk atau tidak padaku saat itu.
"Ekm...apa kau sudah lupa jika beberapa menit yang lalu kau masih merajuk padanya?" Ucap Ciko membuat Niko langsung tersadar dan dia segera menarik kembali tangannya dengan cepat.
Sembari menatap sinis kepadaku dan terus saja memalingkan pandangan dariku, tapi berkat kejadian itu, aku bisa tahu, jika ternyata selama ini meski mereka terus merajuk atau mudah marah denganku, aku tahu hatinya tidak pernah benar-benar marah padaku apalagi sampai membenci aku, buktinya saat ini saja Niko sampai lupa jika dia masih marahan denganku, itu sudah membuat aku sangat senang.
"Aahh.... minggir kau dariku, jangan sok akrab, aku masih kesal padamu!" Ucap Niko menatap tajam padaku.
"Heh, apa aku tidak salah dengar, siapa yang mendekatimu, kau yang lebih dulu kegirangan sampai memegangi tanganku dengan erat dan terus mengajak aku untuk merayakan keberhasilan Ciko, kenapa sekarang malah membalikkan kejadiannya?" balasku kepada dia dengan heran.
Karena tidak mau tertangkap basah dan sama sekali tidak ingin mengakui semua kebenarannya sebab gengsi, Niko pun terus saja merasa kepala kepadaku saat itu.
"Jangan ke gr an kau, aku tidak mungkin melakukan itu, kau saja yang menarik tanganku, bukan aku yang memeganginya!" balas dia terus tidak mengakui apa yang dia lakukan.
Padahal semua orang tahu, Ciko dan Varel menyaksikannya sendiri bahwa dia yang melakukan semua itu lebih dulu padaku, sebab sebelumnya aku tengah diam dan duduk dengan tegak di samping Varel, sebelumnya Ciko yang tiba-tiba saja mendekat kepadaku dan menggenggam tanganku seerat tadi.
Terus saja aku menahan senyum sendiri agar tidak menyinggung dia semakin banyak lagi, karena bertengkar seperti ini saja sudah cukup membuat aku merasa tidak nyaman dalam pertemanan kami saat ini, jadi aku memang harus mengalah saja dengannya.
"Iya iya....lagian aku kan sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun, kenapa kau harus merajuk dan marah denganku sampai selama ini, apa jangan-jangan kau suka padaku ya, makanya kau begitu marah dan kesal saat melihat aku dengan pria lain?" Ucapku menduga-duga kepadanya.
Ekspresi yang sangat menyebalkan dan tidak ingin aku lihat malah dilakukan oleh Niko saat itu, dia langsung tertawa sangat lebar sambil menepuk kedua pahanya dengan keras lalu dengan sekejap berhenti dan memberikan tatapan tajam padaku sambil mengatakan bahwa dia sama sekali tidak menyukai aku.
"Ahahaha..tidak, mana mungkin aku menyukai gadis urakan, yang susah diatur dan begitu memalukan sepertimu." Balas dia membuat aku begitu emosi dan sangat kesal padanya.
"APA KAU BILANG? Gadis urakan ya, kemari kau Niko aku tidak akan melepaskanmu!" Teriakku membentak dia sangat kencang dan langsung saja mengejar Niko sambil sesekali berhasil menarik pakaiannya sambil terus memberikan beberapa tinjuan kepada tubuhnya yang cukup kencang.
Meski aku sudah menumpuk kepalanya dan terus menarik pakaiannya hingga sudah berhasil menjambak rambutnya dia sama sekali tidak kapok denganku, malah terus saja menghina aku dan menjelek-jelekan tentangku di depan Ciko yang malah ikut tertawa puas, sedangkan Varel hanya diam saja seperti biasanya dan lebih memilih memalingkan pandangan dariku.
"Hei...hei...lepaskan aku! Aish.. Barsha apa kau ini macan atau serigala sih, jangan gigit aku aaahahkkk itu sakit, wooyyy!" Teriak Niko sambil meringis kesakitan karena tangannya berhasil aku gigit dengan kuat.