BARSHA

BARSHA
Gebetan Lea



"Aishh, Lea .... Kau tega sekali meninggalkan aku hujan hujanan begini, hei..." Teriakku sangat kesal kepadanya.


Tapi apa yang dia lakukan, dia malah terus mengabaikan aku dan sama sekali tidak perduli sehingga dia naik ke dalam bus begitu saja dan aku harus berlari dengan terburu-buru mengejarnya sampai aku tidak kebagian tempat duduk di dalam bus saat itu, hanya bisa berdiri sambil memegangi alat pemegang di di dalam bus saat itu, terbuntang banting kesana kemari, terbawa oleh arus dan cara supir bus itu yang melakukan busnya dengan sangat kencang dan ugal ugalan.


Tapi untunglah aku masih bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat, itu sudah jauh lebih baik dibandingkan tidak sama sekali, sesampainya di rumah Lea terus saja mengabaikan aku dan dia langsung masuk ke dalam kamarnya, hingga Wili menarik tanganku dan dia terus saja bertanya mengenai keadaan Lea yang pulang memasang wajah cemberut dan masam seperti sebelumnya sambil membanting pintu kamar cukup keras mengagetkan kami semua.


Untunglah saat itu sudah tidak ada ibu dan ayah, mereka memang sudah pergi bekerja meski musim dingin sekalipun, selalu berangkat awal dan pagi pagi sekali.


"Hei..hei...ada apa dengan dia, apa kau bertengkar dengannya?" Tanya Wili sambil menghadang jalanku saat itu.


Aku pun segera duduk di kursi dan menyandarkan tubuh ke belakang sambil menjawab pertanyaan dari Wili yang terus saja mendesak aku untuk bicara dengannya saat itu, padahal aku sangat malas untuk membahas semua hal itu.


"Aaahhh...sepertinya begitu, tapi aku juga tidak tahu apa yang membuatnya sampai marah seperti itu, padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun, aku hanya menghajar satu pria yang mungkin akan mempermalukan aku juga Lea di toko buku sebelumnya tapi pulang-pulang dia malah merajuk tidak jelas padaku, dan mengatakan bahwa disana ada Roki, dia bilang dia tidak bisa menghadapi Roki lagi karena ulahku yang tidur di toko buku." Balasku mengatakan semuanya kepada Wili.


Tiba-tiba saja Wili langsung menepuk tanganku dengan kencang membuang aku meringis kesakitan dibuatnya, bahkan aku langsung membentak dia dengan keras sebab seenaknya menepuk tanganku seperti itu.


'PUK!' Suara tepukan tangan Wili kepadaku yang sangat kencang.


"Aww...Wili apa kau gila ya? Seenaknya menepuk tanganku seperti itu, aaahh ini sakit tahu!" Bentakku kepadanya dengan kesal.


Bukannya meminta maaf karena sudah melakukan hal seperti itu padaku, dia justru malah mengetuk kepalaku dengan tangannya lagi lebih kencang dibandingkan tepukan pada tanganku sebelumnya.


Dia benar-benar sangat keterlaluan, tidak menghormati aku sebagai kakaknya dan sekarang berani berbuat kasar seperti itu, tanpa alasan yang jelas.


"Hei....ada apa denganmu kalau ada apa-apa katakan dengan benar, bukannya malah terus meny*ksa aku seperti ini!" Ucapku dengan kencang kepadanya lagi dan lagi.


Dia berdiri sambil berkacak pinggang di hadapanku, seperti hendak memberikan hantaman keras kepadaku dan bak seperti hendak mem*kul aku dengan kencang.


"Kenapa kau berdiri begitu, apa kau gila?" Ucapku lagi dengan heran dan sedikit merasa cemas karena melihat wajahnya yang mulai menjadi serius dan terlihat semakin menegang saat itu.


Sampai tiba-tiba saja dia membentak aku dengan kedua matanya yang membulat sempurna.


"Hei...dasar kau bodoh! Aishh.... Kau masih saja belum mengerti kenapa Lea marah sampai seperti itu kepadamu bukan?" Ucap dia yang langsung aku balas dengan anggukkan kepada pelan.


"Memangnya kenapa? Kau tahu?" Tanyaku balik kepadanya dengan konyol.


"Tentu saja aku tahu. Dan asal kau tahu ya, Roki yang dimaksud oleh Lea adalah gebetan yang selama ini dia sukai, dan kau tidak tahu kan kenapa Lea selalu datang pagi-pagi sekali ke toko buku itu?" Balas dia membuat aku sedikit kaget dan malah megajukan pertanyaan lain.


"Tidak juga." Balasku menggeleng lagi.


"Itu karena kak Roki hanya senjang di pagi hari, jika sudah siang dia sudah tidak ada disana lagi dan penjaganya aja di ganti oleh orang lain, aishh...inilah kenapa kau disebut orang paling bodoh dan menjengkelkan diantara semua orang yang ada di sekitar kita, kau selalu bersikap seenaknya dan tidak tahu apa yang orang lain pikirkan." Balas Wili sambil duduk di sampingku dan mulai mengunyah makanan.


Aku terus saja mengerutkan kedua alisku dengan kuat sambil menatap tajam ke arahnya yang sudah bersikap sok paling tahu segalanya dibandingkan aku selama ini, padahal dari usianya saja sudah bisa dipastikan bahwa aku tiga tahun lebih tua dan lebih dulu hadir di dunia ini dibandingkan dengan dirinya.


"Hei....hei...jangan salah, aku tiga tahun lebih tua dibanding dirimu, itu artinya aku datang ke dunia lebih dulu dibandingkan kau, darimana kau bisa mengatakan aku bodoh, kau yang bodoh! Dan Lea yang terlalu baperan dan dibuat ribet sendiri, untuk apa mempermasalahkan hal seperti itu, lagi pula yang membuat kekacauan kan aku, kenapa dia yang harus menanggung malu, kalau bertemu pria bernama Roki itu, ya tinggal temui saja, apa urusannya denganku dan kejadian di toko buku tadi, dasar kalian manusia aneh." Balasku dengan kesal kepada Wili.


Dia hanya menanggapi ucapanku dengan menggelengkan kepala pelan dan terlihat seperti meremehkan aku saat itu, sampai dia malah menyuruh aku untuk pergi membujuk Lea sebelum dia semakin marah besar kepadaku.


"Aishh..dasar kau bodoh, ya sudah terserah kau saja, tapi akan aku pastikan Lea pasti tidak akan memaafkan kau dengan mudah, jadi sebaiknya kau membujuk dia dari sekarang." Balas Wili kepadaku.


"Ehh..untuk apa membujuk orang yang sudah dewasa seperti itu, lagian dia kan lebih tua dariku, lebih cerdas dan kau bilang dia lebih cantik dariku, apa yang perlu dia khawatir jika memiliki banyak keunggulan seperti itu, harusnya dia percaya diri untuk mendekati pria yang dia sukai bukanya malah uring-uringan tidak jelas dan malah menyalahkan semuanya kepadaku." Balasku lagi yang enggan sekali untuk membujuk Lea.


Sampai kapanpun aku tidak akan pernah membujuk dia, lagi pula aku pikir semua itu bukan salahku, jadi untuk apa pula aku membujuknya agar dia tidak merajuk lagi padaku, aku percaya lama kelamaan Lea pasti akan melupakan kejadian itu dan dia tidak akan mempermasalahkan hal itu lagi denganku, aku juga sudah terbiasa diabaikan olehnya dia merajuk atau tidak, sikapnya padaku sama saja.


Tidak memberikan aku ijin tidur di ranjang, tidak memberikan aku selimut yang tebal dan dia tetap tidak mau meminjamka laptop miliknya padaku, jadi tidak ada bedanya untukku, dan tidak rugi pula bagiku jika dia merajuk, justru aku merasa lebih senang jika Lea merajuk padaku lebih lama, dengan begitu dia tidak akan meminta bantuan dariku untuk mencucikan rambutnya, memasaknya telur mata sapi untuk dia makan, ataupun melipat selimutnya saat dia pergi terburu-buru di pagi hari.


Aku bisa terbebas dengan semua hal yang sangat merepotkan itu dan mulai bisa menikmati pagi tanpa kesibukan, bisa tidur lebih lama karena dia tidak akan membangunkan aku dengan paksa, itu adalah sebuah kenikmatan tersendiri untukku.


Hingga tidak lama kemudian malam tiba ayah dan ibu sudah pulang kita makan malam bersama di depan tv hanya beralaskan tikar dan karpet hangat saja, sengaja memilih makan di bawah agar rasa kekeluargaan semakin erat.


Nama Varel disebutkan sebagai perwakilannya termasuk foto dia yang terpampang sangat jelas di televisi itu, namun Varel yang tidak biasa di fotret, wajah terlihat sangat tegang di dalam kamera tersebut, sehingga aku tidak bisa menahan tawa ketika melihat gambarnya yang sangat lucu tersebut.


Sedangkan ayah dan ibu juga Wili dan kak Lea yang tengah terkagum dengan ke jenius Varel mereka langsung saja memberikan tatapan tajam yang menusuk secara bersamaan kepadaku karena aku tertawa dengan cukup keras saat itu.


"Ahahaha... Lihat wajahnya, dia sudah seperti patung saja, ahaha, konyol sekali sih, kenapa dia harus tegang begitu, tidak akan ada yang memakannya." Ucapku terus tertawa dengan puas sampai lupa bahwa saat itu tengah berkumpul dengan keluarga yang menakutkan, bahkan lebih menakutkan dibandingkan seekor serigala hutan.


"Hei... Apa kau ini gila, beraninya menertawakan putranya Bu Nina!" Ucap ibu sambil menepuk belakang kepalaku cukup kencang.


"Aduhh..itu kenapa kau melakukan itu sih, aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya, lagian dia memang sangat konyol dalam foto tadi." Ucapku lagi.


"Berani kau mengatakannya sekali lagi, aku usir kau dari rumah ini!" Ucap ibu memberikan ancaman padaku.


Dibarengi dengan tatapan menusuk lainnya. Aku pun langsung menelan salivaku dengan susah payah dan segeralah aku habiskan semua makanan milikku dengan cepat agar segera pergi dari sana untuk menghindari momen mematikan ini.


Jika aku tidak pergi secepatnya, maka aku bisa saja dihabisi oleh mereka semua saat itu juga, jadi aku milih untuk pergi secepatnya meski makanan masih penuh dan belum sempat aku telan semuanya di dalam mulutku saat itu.


"Ahaha...iya iya..aku minta maaf oke, jangan menatapku begitu...aku mau pergi ke rumahnya sekarang juga.." ucapku sambil berlari cepat meninggalkan rumah.


Aku benar-benar harus pergi ke rumah Varel dan saat baru keluar dari gerbang rumah malah bertemu dengan Niko, dan Ciko yang ternyata mereka juga menyaksikan siaran di tv yang sama denganku.


"Kalian? Jangan bilang kalian juga melihatnya?" Tanyaku menebak lebih dulu.


Mereka langsung mengangguk dan dengan cepat kami langsung berlari untuk pergi lebih dulu menemui Varel secepatnya, sampai Niko menarik kerah pakaianku dan Ciko terus menarik tangan Niko, aku hampir saja menjadi orang pertama yang bisa masuk ke dalam rumah Varel tapi sialnya si Niko sialan itu malah langsung menarikku sekaligus dan dia masuk lebih dulu meninggalkan aku yang hampir saja terjatuh ke belakang saat itu, aku pun hanya bisa menggerutu kesal kepadanya dan segera menyusul bersama Ciko ke dalam sana.


"Aishh...Niko kenapa kau...." Ucapku tertahan karena melihat ada Tante Nina yang tengah duduk di sofa dengan Niko dan Varel disana.


"Ehh..ada Barsha dan Ciko juga? Ayo duduk." Ucap Tante Nina menyambut kami.


Aku dan Ciko saling tatap satu sama lain dan kami pun segera duduk bersampingan dengan Niko, sambil terus saling geser satu sama lain karena kamu tidak pernah bisa akur sampai kapanpun.


"Ada apa kalian kemari?" Tanya Varel kepada kami semua.


"Tentu saja untuk memberikan semangat dan selamat padamu, bukankah besok kau akan berangkat ke bandara? Aku mendengarnya di berita televisi barusan, kenapa kau tidak memberi tahu kami sebelumnya jika penerbanganmu di percepat?" Balas Ciko yang lebih dulu mengutarakan maksud kami.


"Iya kau mau pergi tanpa kami mengantarmu ya?" Tambahku kepadanya saat itu.


Varel dan Tante Nina hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan aku dan Ciko sampai mereka mulai menjawabnya dengan pelan.


"Ya ampun, Varel sayang kamu beruntung sekali memiliki teman-teman yang sangat memperhatikan kamu, memperdulikan kamu dan selalu siap siaga seperti ini, ibu menjadi semakin tenang untuk membiarkan kamu terus bergaul dengan mereka. Ibu tidak salah mempertahankan rumah ini sebelumnya." Ucap tente Nina yang merupakan ibunya Varel saat itu.


Mendengar hal itu sedikit membuat aku tersanjung dengan pujiannya tapi aku tetap harus bisa menahan diri sendiri, agar tidak terlalu mudah terbawa suasana.


"Ahaha..Tante ini bisa saja, lagi pula aku kan sudah bilang sejak awal, Varel hanya bayi kecil untukku, aku akan merawatnya dengan baik, dia juga mudah diatur, sangat penurut." Ucapku sedikit bercanda kepada Tante Nina.


"Kami bisa saja Barsha. Eh tapi Varel ini memang akan pergi secara mendadak kebetulan kalian sekarang datang kemari, sedari tadi Tante dan Varel kesusahan untuk mengemas barang dan mereka mengatakan bahwa Varel membutuhkan asisten di sampingnya yang bisa menemani dia untuk mengobrol selama profesor dan pendampingnya mungkin akan disibukkan dengan berbagai acara disana dan menyelesaikan urusan administrasi juga sebagai, Varel akan sedikit kesulitan membawa peralatan robotnya juga barang yang lain, Tante mau sekalian minta bantuan pada kalian apa boleh?" Ucap tente Nina kepada kami.


"Boleh silahkan saja Tante, kami bisa membantu Tante berkemas kok." Balas Niko paling bersemangat.


Dan aku juga menanggapinya dengan anggukan cepat begitu pula dengan Ciko yang mendengarkan dengan seksama.


"Iya..aku butuh salah satu diantara kalian ikut denganku, karena ibu ada acara mendadak, awalnya dia yang akan ikut menemani aku tapi karena pekerjaan, ibu tidak bisa, siapa yang bisa menemani aku pergi ke sana besok?" Tambah Varel yang membuat kami bertiga saling tatap seketika, merasa bingung dan masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini sebenarnya.


"Eehh... tunggu-tunggu jadi maksudnya Tante dan Varel, salah satu diantara kita harus ikut dengan Varel ke luar negeri, begitu?" Tanyaku untuk memperjelas semuanya.


"Iya... Jadi siapa yang bisa ikut?" Balas Tante Nina lagi.