
Aku pikir Jepri sudah tidak mengikuti aku lagi, rupanya dia memang mengejar aku sedari tadi, hingga ketika aku sampai di dalam kelas dia terus saja mendekati aku padahal saat itu aku tengah duduk dengan Kesi tapi Jepri terus saja mendekati aku terus menerus dengan berbagai alasan yang dia katakan saat itu dan semua yang keluar dari mulutnya sangatlah tidak masuk akal di telingaku.
"Barsha, apa kamu bisa mengerjakan soal ini, aku tidak bisa menyelesaikannya, kamu mau membantuku kan?" Tanya dia kepadaku menanyakan soal yang sangat mudah bahkan aku yang tidak pernah belajar saja bisa mengisinya, tapi dia malah menanyakan hal itu kepadaku.
Dan tentu saja semua itu membuat aku merasa heran dan curiga dengannya, bahkan bukan hanya aku Kesi juga menatapku dengan mengerutkan kedua alisnya saking merasa bingungnya dengan apa yang terjadi pada Jepri saat itu, sebab dia sama sekali tidak seperti Jepri yang biasanya.
"Heh....Jepri, mana mungkin kau tidak bisa mengerjakan soal yang semudah ini, kau itu juara dia orang yang pandai di kelas ini, kau tidak mungkin tidak bisa mengerjakannya bukan?" Ucap Kesi kepadanya.
"Aku memang tidak bisa mengerjakannya, maka dari itu aku datang menemui Barsha dan meminta dia untuk membantuku, memangnya apa salahnya dia membantu aku dan ranking tidak ada hubungannya dengan pelajaran ini." Balasan Jepri kepada Kesi saat itu.
Aku hanya bisa mengusap wajahku cukup keras saat itu karena sangat jengkel dengan Jepri yang semakin aneh dari hari ke hari.
"Hei, Jepri aku rasa kembaranmu itu akan tahu cara mengisinya kau tanyakan saja pada dia atau pada anak-anak lain yang pasti akan memberitahumu, jangan tanya padaku, aku harus belajar untuk ujian akhir ini, tidak ada waktu untukku mengajari orang pandai sepertimu." Balasku kepadanya saat itu.
Dia terlihat murung dan menghembuskan nafasnya cukup kasar saat itu, lalu dia segera pergi kembali ke kursinya yang ada di depan dan aku sama sekali tidak mau melihat dia saat itu, bahkan disaat Kesi bertanya kepadaku, sebenarnya saat itu, aku malah untuk bicara membahas orang aneh seperti dia.
"Heh.... Barsha ada apa sebenarnya dengan anak itu dan kau? Kenapa dia tiba-tiba bisa menjadi bodoh seperti itu, atau dia memang berpura-pura bodoh supaya membuat kita tidak belajar dengan benar ya?" Ucap Kesi padaku.
"Sepertinya tidak, dia sudah seperti itu sejak beberapa hari yang lalu, bahkan dia menonton bola di stadion denganku juga teman-teman prianya yang lain." Balasku kepada Kesi yang langsung saja membuat Kesi kaget sampai membelalakkan matanya sangat lebar sekali padaku saat itu.
"Apa? Kau dan dia pergi menonton bola? Bukannya kau sangat tidak menyukainya, kenapa kau mau pergi dengan dia, apa jangan-jangan kalian?" Ucap Kesi yang mulai memikirkan hal tidak masuk akal di dalam kepalanya itu dengan cepat aku langsung menepuk kepala dia dari samping agar, Kesinbisa sadar dengan cepat, bahwa dia sudah melewati batas untuk berpikir konyol di kepalanya saat itu.
"Heh...apa yang kau pikirkan? Aku tidak ada apapun dengannya, aku kan sudah bilang aku pergi dengan banyak orang, semua teman pria di kelas B juga ada disana bahkan anak-anak di kelas ini sebagai banyak yang ikut kemarin, hanya saja yang membuat aku bingung, aku sendiri juga tidak tahu kenapa dia menjadi aneh dan selalu mengikuti aku akhir-akhir aku, padahal terakhir kali dia menabrak aku dengan mobilnya sampai membuat aku jatuh tersungkur ke tanah dan sepeda ibuku rusak, sampai uang jajanku harus dipotong sebab untuk memperbaiki sepeda itu, dia juga sama sekali tidak bertanggung jawab atas semua itu, dan malah tiba-tiba muncul lagi dengan sikap yang sudah berubah seperti ini, makanya aku sangat heran dengan pria itu." Balasku kepadanya mengatakan semua yang aku rasakan.
Bukannya memberikan aku solusi karena dia adalah temanku, tapi konyolnya dia malah ikut-ikutan semakin bingung dan melamun bersama memikirkan semua itu denganmu tanpa henti.
"Kalau begitu, apa yang sebenarnya terjadi dengannya, tidak mungkin kepalanya terbentur saat dia terakhir kali bertemu denganmu ketika kau pergi sejak kecelakaan itu, makanya dia jadi begini kepadamu karena berpikir itu adalah karma untuknya." Ucap Kesi yang ucapannya itu selalu saja tidak masuk akal setiap kali mengatakan hal serius seperti ini denganku.
Dia memang sangat tidak cocok untuk dijadikan teman, tapi dia lebih cocok di jadikan saudara ataupun anak buah saja.