
Padahal sebenarnya saat aku aku sangat kesal dan emosi sekali kepada Ciko rasanya aku ingin menghajar dia dan terus menendang dia hingga ke angkasa seandainya aku bisa, tapi tentu saja semua itu hanya sebuah khayalanku semata, mana mungkin juga ada manusia yang sanggup menendang manusia lainnya hingga ke angkasa apalagi aku.
Aku segera menghembuskan nafas dengan lesu dan terus saja berusaha untuk sabar dan segera kembali ke meja makan mengambil barang sisa makanku dan Ciko lalu mencucinya di dapur dengan segera.
Sambil terus saja sesekali menggerutu dengan kesal dan penuh dengan emosi saat itu, aku terus saja merasa sangat kesal dan emosi ketika mengingat wajah si Ciko yang sangat menjengkelkan itu.
"Eughhh..andai saja aku bisa memiliki keluarga yang lebih baik, pasti aku tidak akan berakhir seperti ini, aishh..sangat menjengkelkan aku harus menjadi orang sukses di masa depan agar tidak ada siapapun yang bisa meremehkan aku, mengabaikan aku bahkan dengan tega membiarkan aku tidur di luar seperti ini, padahal aku kan juga seorang wanita, huaaa... sangat menjengkelkan banget eugh...eugh...eugh," ucapku terus menggerutu kesal sambil terus saja mencuci piring kotor yang ada disana.
Hingga tak lama setelah selesai mengerjakan semuanya barulah aku segera hendak masuk ke dalam kamar Ciko, aku masuk dengan cepat dan terus saja masuk tanpa basa basi, karena saking sudah terbiasa dan seringnya aku keluar masuk ke dalam kamar itu, namun saat aku masuk ku lihat di sialan Ciko itu justru malah sudah tertidur dengan lelap seorang diri di ranjangnya tanpa dia membukakan dulu tempat tidur untukku sebelumnya.
"Aishh..dia ini memang manusia tanpa hati ya? Bagaimana bisa dia malah langsung tidur tanpa membukakan ranjang ya dahulu, dasar manusia menjengkelkan!" Gerutuku merasa sangat kesal dan menatap dengan tajam ke arah Ciko saat itu.
Aku terus saja merasa sangat jengkel dan emosi di buatnya, aku langsung menghampiri dia dan menepuk tubuhnya dengan guling yang ada disana sekeras yang aku bisa saat itu, untuk membangunkannya.
"Eughhh..buk...buk...buk..bangun hei....bangun kau dasar b*ngke Lo Ciko!" Teriakku yang sudah sangat emosi sekali dalam menghadapinya saat itu.
Tapi sialnya Ciko tetap saja tidak bangun, padahal aku juga tahu sebelumnya dia sudah mengerjakan matanya namun dia justru malah terus saja berpura-pura tidur dengan sengaja, sehingga hal tersebut membuat aku merasa sangat emosi dan kesal, sehingga aku harus mengambil air di dapur dan langsung saja menyiramkan air dari gelas itu ke wajah Ciko agar dia bisa segera bangkit dari tidurnya yang sangat menjengkelkan sekali dan sulit untuk aku bangunkan saat itu.
"Aishh..byurr...rasakan itu bangun kau!" Teriakku sambil langsung menyiramkan air itu ke wajah Ciko.
Rasanya sangat puas sekali aku bisa mengirimkan air itu pada wajah Ciko hingga dia langsung terperanjat bangun dan duduk menghadap ke arahku sambil menyeka wajahnya.
"Aahhh...kau ini apa-apaan sih, seenaknya saja menyiram wajah orang, apa kau pikir aku tidak mandi apa?" Bentak dia kepadaku dengan menyeka wajahnya saat itu.
Aku berkacak pinggang menatap ke arah Ciko dengan mengerucutkan bibirku penuh dengan emosi saat itu, aku langsung saja mendekati dia dan terus mendesak dia lebih dekat dan lebih dekat lagi sambil menatap tajam dan langsung memarahi dia dengan sekuat tenagaku saat itu.
"Heh...heh....heh, dengarkan ucapanku, kau ini manusia paling...paling kejam yang pernah aku kenal, lihat ini bagaimana bisa kau tidur tanpa menggeser kan ranjang di bawahmu, aku kan juga ingin tidur dan ini guling dan selimutnya akan menjadi milikku kau hanya boleh tidur dengan bantalmu saja, sama minggir!" Bentakku sambil merebut guling dan selimut yang sebelumnya di pegang oleh Ciko saat itu.
Dia menatap dengan mengerutkan kedua alisnya kepadaku dan aku sama sekali tidak perduli dengan tatapan tajam yang dia berikan kepadaku saat itu, karena yang aku pentingkan saat ini hanya untuk tidurku seorang saja.
Aku geserkan ranjangnya dan segera tidur tepat di samping bawah ranjang Ciko saat itu, aku juga mengenakan selimutnya dan berbalik ke arah yang berlawanan sambil membelakangi tubuh Ciko saat itu.
"Kenapa kau terus memberikan tatapan seperti itu kepadaku?" Bentakku kepadanya dengan kesal.
Karena setelah aku berbalik dan merebahkan tubuhku dia masih saja duduk di ranjangnya sambil memberikan tatapan tajam terus menerus kepadaku saat itu, sehingga aku terus saja merasa tidak nyaman untuk tidur dan terpaksa harus kembali berbalik lagi menatap ke arahnya dan membentak dia seperti itu.
"Kenapa? Terserah aku lah aku mau menatapmu menatap dinding kek, atau menatap kepala banteng juga bukan urusanmu, kau kalau mau tidur ya tidur saja, aku begini juga karenamu, kau yang sudah menyiram wajahku dengan air sampai membuat aku tidak bisa tertidur lagi!" Balas dia dengan wajah menyebalkannya kepadaku saat itu.
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang ada di dalam otak kecilnya itu, padahal dia sudah tahu bahwa aku tidak bisa tertidur dengan nyaman dan tenang jika masih ada orang yang memperhatikan aku, apalagi menatapku dengan tatapannya yang lekat dan sangat mengganggu itu.
"Heh...sialan kau, ya sudahlah terserah kau saja, ayo tatap, tatap saja terus wajahku sampai kau lelah, bahkan jika perlu sampai kau menyukai aku, nanti aku copot kan matamu itu!" Bentakku kepadanya sambil segera membalikkan badan dan membelakangi Ciko lagi.
Aku segera menarik selimut tebal itu dan langsung saja menutup mataku dengan cepat dan terus berusaha tertidur, sedangkan disisi lain Ciko sendiri malah tersenyum kecil secara diam-diam dan dia masih saja menatap wajah Barsha hingga Barsha benar-benar sudah tertidur dengan lelap saat itu.
"Seandainya kau tahu aku memang sudah merasakan hal yang berbeda denganmu, apa kamu pikir akan ada pria yang tahan jika dia tidur satu kamar dengan seorang wanita? Sekalipun wanita itu adalah teman kecilnya, salah satu diantara mereka pasti akan ada yang menyukai, lebih dari sekedar pertemanan biasa saja, dan sialnya malah aku yang merasakan hal itu terhadapku," gerutu Ciko dengan pelan sambil segera kembali merebahkan tubuhnya lagi.
Dia terus saja tidur menyamping dan menatap pada punggung Barsha saat itu, bahkan di saat Barsha tidak sadar jika dia berbalik Ciko terus tersenyum dan sangat senang bisa melihat wajahnya ketika tengah tertidur dengan lelap seorang itu.
Malam berlari terlalu cepat Varel baru saja kembali dari perlombaannya bahkan dia sudah mendapatkan pengumuman kemenangan lomba tersebut, namun tentu membutuhkan beberapa waktu untuk dia sampai di kampung halamannya sendiri karena olimpiade itu dilaksanakan dia luar kota.
Sedangkan pagi ini saat aku bangun ku lihat ranjang milik si Ciko sialan itu sudah terlihat sangat rapih, dia memang cukup hebat dalam pembersihan dan menata sesuatu sampai terlihat rapih, aku juga segera membereskan bekas tidurku dan dengan cepat pergi ke luar, saat aku lihat Ciko tengah duduk di meja makan dan bibi tengah memasak pagi itu, aku sudah harus pergi ke kamar mandi dan seperti biasa hanya perlu menumpang mandi karena di rumahku sudah pasti tengah di gunakan oleh adikku Wili yang mandi bak seorang putri, dia selalu mandi sangat lama sekali bahkan sampai harus membuat aku menunggunya hingga setengah jam lebih lamanya jika dia ada di dalam kamar mandi.
"Bii..aku pinjam kamar mandinya ya?" Ucapku meminta izin terlebih dahulu.
"Ya pakai saja Ciko sudah memakainya lebih dulu sejak subuh." Balas bibi kepadaku.
Aku sempat mengerutkan kedua alisku sambil menatap ke arah Ciko karena tumben sekali dia mandi saat subuh-subuh, padahal biasanya dia adalah anak yang selalu mandi jam enam saja dengan alasan agar airnya tidak terlalu dingin karena dia tidak suka mandi dengan air hangat.
"Kenapa?" Ucap Ciko yang tiba-tiba saja membentak aku karena aku menatapnya saat itu.
"CK....aku hanya menatapmu seperti itu saja kau sudah semarah ini, dasar emosian!" Balasku kepadanya sambil segera saja masuk ke dalam kamar mandi dan tidak memperdulikan apa yang dia katakan padaku saat itu.
Aku juga melupakan sesuatu yang sebelumnya ingin aku tanyakan kepada Ciko sebelumnya, itu membuat aku lupa untuk bertanya lagi kepadanya karena dia yang sudah tiba-tiba membentak aku dengan keras.
Kamar mandi di rumah Ciko memang yang paling nyaman dibandingkan dengan kamar mandi di rumahku sendiri, apalagi kamar mandi di rumah Varel sudah seperti kamar mandi yang ada di hotel saja.
Hari ini airnya sangat segar dan melimpah jadi aku bisa mencuci rambutku dan sekaligus mengeringkannya saat itu, hingga setengah aku keluar dari kamar mandi aku sudah sangat segar dan segera saja berpamitan kepada bibi karena aku sudah harus pergi ke sekolah dan mengganti pakaian dengan cepat.
"Bi aku pulang ya, terimakasih banyak untuk kebaikanmu, aku akan sering mampir kesini," ucapku kepadanya sambil bersalaman dengannya dan bibi sempat menawarkan sarapan padaku namun aku menolaknya karena terlalu malu saat itu.
"Eehhhh. Barsha jangan pulang dulu, sini sarapan saja dulu disini bibi sudah masak makanan kesukaan kamu loh," ucap bibi kepadaku.
"Aaahh.....maafkan aku bibi bukannya aku tidak mau tapi aku takut ibuku akan semakin mengamuk padaku jika saja dia tahu bahwa aku sudah terlalu sering merepotkan dirimu selama ini, jadi sebaiknya sekarang aku segera pulang saja agar ibu juga tidak marah denganku," balasku kepada bibi dengan cara yang lembut.
"Aishh..kau ini ya sudah ini ambil bekal makanannya, jika kamu tidak sarapan disini tidak masalah tapi bawa bekal dari bibi, jangan sampai kamu pergi ke sekolah tanpa sarapan, nanti kamu akan lemas dan tidak semangat belajar nantinya." Balas ibu yang sangat perhatian kepadaku saat itu.
Aku pun tidak bisa menolak kebaikan dari bibi lagi karena mungkin dia akan merasa sedih jika aku menolak pemberian yang sudah dia siapkan padaku saat itu.
"Aahhhh.. terimakasih banyak bi, kamu memang yang paling pengertian padaku. Kalau gitu aku pergi ya bi, dah Ciko," ucapku kepadanya sambil segera pergi dengan membawa sekotak bekal makanan yang dengan cepat aku masukkan ke dalam tas sekolah milikku sebab tentu tidak akan aman jika sampai terlihat Wili ataupun ibu saat aku berada di rumah nantinya.
Aku pergi dengan menyiapkan mental dalam diriku sendiri karena sudah tahu bahwa aku pasti akan mendapatkan banyak sekali bentakkan dari ibu atau bahkan dia akan memberikan aku hukuman yang kasar lainnya seperti menjambak rambutku atau menjewer telingaku nantinya, tidak tahu kenapa ibu bisa menjadi sekeras itu dalam mendidik aku tapi begitu perhatian kepada Lea dan sangat memanjakan Wili.
Aku pergi ke rumah dan langsung masuk begitu saja, aku masuk pelan pelan dalam membuka sepatuku karena aku takut untuk menemui ibu dan dengan sengaja aku mengendap-ngendap karena takut terkena semprotan amarah dari ibu karena semalam aku tidak kembali pulang lebih awal ke rumah.
"Huhu..semoga saja ibu tidak ada," ucapku dengan pelan saat itu.
Hingga tidak lama disaat aku hampir saja sampai ke dalam kamarku si bodoh Wili itu malah memergoki aku dan berteriak memanggil ibu sampai membuat ibu langsung keluar dari arah dapur dan dia langsung saja datang menghentikan aku dan menarik kerah pakaian belakangku dengan sangat kuat sampai aku tidak bisa berlari menghindarinya saat itu.
"Ibu... Barsha pulang Bu...cepat kemari Bu!" Teriak Wili yang sangat mengagetkan aku saat itu hingga kedua mataku terbelalak dengan sangat lebar dan aku langsung saja berusaha untuk kabur dari sana saat itu.
"Astaga diam kau! Kenapa kau malah berteriak aishhh ..dasar adik laknat kau!" Gerutuku sambil mengerutkan kedua alisku menatap penuh kebencian kepada Wili saat itu.
"Oh...kau masuk diam-diam ya...bagus....bagus sekali kau tidak pulang semalaman kemana saja kau berkeluyuran hah! Cepat kemari kau ibu akan memberikanmu pelajaran, ayo ikut ibu!" Ucap ibu sambil terus saja menari kerah pakaian belakangku dengan kuat bak seperti seekor kucing yang tidak berdaya.
"Huhu...ibu maafkan aku, tolong lepaskan aku, lagipula aku tidak kembali juga karena ibu mengunci pintunya semalam jadi aku tidak masuk, bahkan aku sudah mengetuk pintunya sangat kencang dan berteriak terus menerus kepadamu dan Wili tapi pintunya tetap saja di tutup, makanya aku pergi ke rumah Ciko aku tidur dengan bibi kok aku tidak pergi keluyuran" ucapku menjelaskan kepadanya.
Tapi walau begitu bukannya berhenti marah atau emosinya yang mereda dia justru malah menjadi emosi kepadaku dan terus saja menjadi semakin marah denganku, aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apapun saat itu, sehingga aku terus saja dimarahi dan mendapatkan beberapa kali tepukkan di b*kong ku oleh sapu dari ibu pagi itu.
"Kau..diam kau disini dan rasakan hukuman dariku, eughh..buk...itu untukmu yang selalu tidak mendengarkan ucapanku, buk....itu juga untuk kau yang selalu pulang larut malam...dan buk....ini untukmu yang selalu saja menjawab ketika ibumu memberikan nasihat, hah ... Barsha tidakkah kamu bisa menjalani hidup seperti adik atau kakakmu saja? Kamu ini sangat menjengkelkan sekali!" Ucap ibu berkacak pinggang di sampingku dan dia terus saja menepuk b*kong ku dengan keras berkali-kali saat itu.
Aku hanya bisa diam saja dan tidak melawan sama seperti apa yang dia harapkan dariku, aku hanya menatap tanpa ekspresi ke depan dan terus berusaha untuk menahan air mata di wajahku saat itu, meski hatiku sangat sakit dan hancur karena perlakuan ibu padaku yang sangat keras seperti ini, tetapi aku tetap akan menjadi orang yang salah setiap kali aku mengatakan kepadanya yang sebenarnya, dan setiap kali aku berusaha untuk membela diriku tetap saja ibu tidak akan mengindahkannya ibu hanya berpikir semua yang aku katakan hanyalah pembelaan semata bagi diriku agar tidak di marahi olehnya saat itu, padahal aku sendiri tidak bermaksud untuk melakukan itu, aku hanya ingin ibu memahami aku, dan aku hanya ingin ibu mengerti kondisi aku dan posisi aku saat ini.
Bahkan aku sendiri ingin menjalani hidup layaknya Lea dan Wili tetapi ibuku sendiri yang membuat hidupku kacau seperti ini.
Hingga saat itu aku berada di titik paling kesal sampai aku tidak bisa menahan emosi di dalam diriku sendiri saat itu, dan langsung saja aku membalas ucapan dari ibu yang tengah membanding-bandingkan aku dengan Wili juga dengan Lea.
"Kau seharusnya bisa mencontoh kakakmu dia pandai dan dia mendapatkan beasiswa yang besar, dia juga menjadi siswa paling berprestasi di kelas dia bisa membanggakan aku sebagai ibu yang sudah melahirkannya, dan jika kau tidak bisa sepandai kakakmu Lea setidaknya kau harus jadi seperti Wili yang bisa mengurusi dirinya sendiri, dia tampan dan mendapatkan banyak pujian dari teman-temanku karena wajahnya yang rupawan setidaknya aku tidak merasa malu memiliki putra sepertinya, sedangkan kau....apa yang kau lakukan selama ini kau hanya.." ucap ibuku yang langsung saja tertahan karena aku langsung menyanggahnya dengan cepat.
"Aku hanya membuat onar, aku tidak berprestasi seperti Lea dan aku tidak memiliki wajah yang indah seperti Wili, aku juga tidak beruntung seperti anak-anak lainnya yang bisa memiliki keluarga cemara, aku tidak mendapatkan bekal yang sama dengan kakak atau adikku, aku tidak kebagian lauk setiap kali aku ingin makan hanya karena aku jelek di matamu, aku juga tidak bisa mandi lebih awal atau lebih lama karena ibu selalu mengutamakan Wili, ibu selalu bilang meski aku mandi lebih lama dari Wili aku tidak akan pernah menjadi gadis yang cantik! Dan meski aku belajar dengan se rajin apapun aku tetap tidak akan sepandai Lea! Lalu apa lagi Bu? Ayo katakan semua kalimat menyakitkan yang selalu kau utarakan kepadaku sejak aku kecil hingga aku sebesar sekarang, bahkan hingga aku bisa mengingat semua ucapan ibu yang menimbulkan luka permanen di dalam diriku, ibu tidak perlu mengurusi aku jika ibu tidak mengharapkan putri sepertiku, aku akan pergi dari rumah ini jika itu yang ibu inginkan dan ibu bisa tidak mengakui aku di hadapan teman-teman ibu nantinya, anggap saja ibu tidak pernah memiliki putri seperti aku!" Balasku kepadanya sambil segera pergi dari sana dan masuk ke dalam kamarku secepatnya.
Aku tidak bisa memaklumi ataupun tetap diam saja disaat kehadiran aku sudah sama sekali tidak di inginkan oleh ibuku sendiri, aku pergi membersihkan semua pakaianku da memasukkannya ke dalam koper aku hendak pergi dari rumah namun ayah dengan cepat menahan aku begitu juga dengan ibu yang kembali membentak aku dan mengatakan aku sebagai anak yang durhaka, dia masih saja tidak memahami aku meski aku sudah mengatakan semuanya.
"Barsha jangan begitu, Barsha kau mau kemana jika kau pergi dari rumah ini, Barsha jangan masukkan ke dalam hati ucapan dari ibumu dia sebenarnya menyayangi kamu sama dengan sayangnya kepada Wili dan Lea, dia hanya tengah pusing saja, tolong Barsha jangan tinggalkan rumah ini jika kamu masih menganggap ayah ini sebagai ayahmu," ucap ayah menahan koperku saat itu.
Aku menatap dengan tatapan yang lekat kepada ibu, aku ingin dia angkat bicara dan menahan aku saat itu, namun harapanku hanyalah sebuah harapan semu saja, ibuku jelas tidak sama dengan ibu teman-temanku yang lain.
"Biarkan saja anak itu pergi dia pasti akan kembali lagi karena tidak bisa hidup luntang lantung di jalanan dengan membawa kedurhakaannya saja." Ucap ibu yang membuat aku semakin memiliki banyak tekad yang kuat untuk pergi dari rumah itu.
Namun melihat ayah yang memeluk aku dan menahan aku dengan kuat aku tidak bisa membiarkan ayah terus seperti ini, dia masih harus bekerja dan aku juga masih harus sekolah saat itu sehingga aku memutuskan untuk berhenti merajuk dan memilih untuk segera pergi ke sekolah saja saat itu.
"Tidak...Bu, apa yang kamu katakan? Dia ini sama dengan anak kita yang lainnya Barhsa adalah putriku juga kau tidak berhak mengusir dia lagi karena rumah ini adalah milikku!" Bentak ayah kepada ibu yang membela aku saat itu.
Kini aku merasa sedikit senang karena setidaknya masih ada ayah yang menjadi pelindungku saat itu, dan ada ayah juga yang masih mau menahan aku juga mengakui aku sebagai putrinya saat itu.
"Barsha ayo sayang....ayo cepat taruh kembali kopermu ini dan pergilah sekolah ayo ayah akan mengantarmu dengan sepeda motor milik ayah bukankah kamu selalu ingin untuk di bonceng ayah? Ayo sayang ayah akan mengantarmu hari ini." Ucap ayah membujukku.
Namun saat aku baru saja tersenyum dan mengangguk kepada ayah, tiba-tiba Wili datang dan dia tidak bisa terima aku akan diantarkan ke sekolah dengan sepeda motor ayah saat itu karena biasanya dia yang selalu pergi diantara ke sekolah oleh ayah.
"Loh ayah bukanya kau sudah janji kalau akan pergi ke sekolah denganku kenapa sekarang malah pada Barsha?" Ucap Wili saat itu.
"Wili motor ayah kan besar itu cukup untuk dinaiki kita bertiga, ayah bisa mengantar kalian berdua bergantian nantinya," balas Ayah kepada Wili.
Aku tidak keberatan meski harus bonceng tiga dengan Wili namun berbeda denganku tentu saja Wili akan memiliki gengsi yang cukup tinggi dia menolak dengan keras dan mengatakan tidak akan pergi ke sekolah jika ayah tidak mengantarnya dan malah mengajak aku juga untuk pergi bersama dengan mereka saat itu.
"Tidak bisa begitu dong yah, aku akan malu jika pergi ke sekolah dempet tiga dengan wanita sepertinya sudahlah selama ini aku sering di ejek teman-temanku karena mereka bilang Barsha ini wanita tomboi dan menyeramkan yang ada mereka akan semakin menjauhi aku saat melihat aku ke sekolah datang dengannya." Ucap Wili yang benar-benar sangat menjengkelkan untukku.
Aku pun hanya bisa menarik nafas dengan kuat dan membuangnya perlahan, aku harus kembali mengalah karena aku tidak ingin membuat ibu dan ayah bertengkar hanya karena hal sepele seperti ini di tambah Wili yang terus saja merecoki mereka berdua saat itu.
"Yah sudah kamu pergi dengan Wili biasanya juga begitu biar saja Barsha pergi ke sekolah sendiri dia kan bisa naik bus atau pergi dengan teman-temannya itu, untuk apa dia harus diantar oleh ayah dia juga sudah besar sekarang," ucap ibu saat itu.
"Ayolah Barsha juga anakku aku belum pernah membonceng dia di belakang dengan motorku, dia juga pasti ingin merasakannya, Wili kan sudah sering aku bonceng setiap kali aku kerja sip pagi pasti Wili yang akan aku bawa, hanya Barsha yang belum pernah merasakannya," ucap ayah mengatakan itu pada ibu.
Aku segera menghentikan perdebatan antara ibu dan ayah dan memutuskan untuk tetap pergi seorang diri saat itu.
"Ayah...sudah sudah aku tidak masalah jika aku pergi sendiri, lagi pula aku masih punya banyak koin untuk menaiki bus, aku juga bisa nebeng bareng Ciko kok ayah tidak perlu mencemaskan aku," ucapku menenangkan ayah agar dia tidak berdebat lagi dengan ibu saat itu dan hanya membuat suasana menjadi sangat kacau di dalam rumah.