BARSHA

BARSHA
Dikejar Banyak Wanita



Sedangkan disisi lain aku yang terus membawa Ciko pergi dari sana kini dia malah menghempaskan tanganku dan kita berdiri di belakang sekolah hanya berdua saja, aku tahu Ciko sangat kesal sekali dan ketika aku sudah membawa dia pergi dari kantin dia masih saja tetap marah dan penuh emosi seperti itu, sehingga aku tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menghentikan emosi di dalam dirinya yang sangat menggebu seperti ini.


"Ciko....sudah, kenapa kau harus semarah itu dengan Jepri, memangnya apa yang sudah dia bisikkan kepadamu sebelumnya?" Tanyaku kepada dia saat itu.


"Tidak ada, tapi sebaiknya kau jangan pernah dekat-dekat lagi dengannya, aku peringatkan kau dengan sangat tegas mulai sekarang, jika aku lihat kau dekat dengannya, aku benar-benar akan pindah ke kelasmu!" Balas Ciko padaku saat itu.


Dia kemudian pergi meninggalkan aku begitu saja dan aku hanya bisa terperangah sambil membulatkan mataku sangat lebar setelah mendengar peringatan tegas yang dia berikan kepadaku sebelumnya.


Aku juga tidak menduga jika Ciko bisa sampai semarah ini bahkan malah ikut-ikutan memberikan peringatan yang sama dengan apa yang di lakukan oleh Niko kepadaku sebelumnya.


"Aishh....Ciko tunggu Ciko...hei...kalian tidak bisa memperingati aku seperti itu!" Teriakku yang sama sekali tidak di anggap oleh Ciko


Sampai tidak lama Niko juga baru muncul dari sampingku dan dia terus saja berjongkok dengan nafas yang terengah-engah dan memegangi tanganku saat itu.


"Hah....hah....hah.... Barsha kemana Ciko pergi?" Tanya dia kepadaku disaat baru saja Ciko meninggalkan aku dari sana.


"Tuh...baru saja dia pergi ke sana, tidak tahu kenapa adia malah bersikap seperti ini, semua ini juga karena kau, coba saja jika tadi kau tidak menghampiri aku, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi." Balasku kepada Niko saat itu.


Dia langsung berkacak pinggang dan menatap dengan lurus kepadaku, lalu membalas ucapanku dengan wajah yang penuh ke kesalah di bandingkan aku sebelumnya.


"Heh...apa kau idiot ya? Yang datang mau menghampiri ke mejamu juga bukan hanya aku, tapi Ciko juga tidak menahanku dan buktinya dia juga malah menyuruh temanmu Kesi pergi dari sana, itu artinya dia juga perduli denganmu, begitu saja kau tidak mengerti." Balas Niko yang membuat aku berpikir keras.


Aku termenung memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Niko kepadaku, sebab yang aku tahu dan yang aku rasakan selama ini, Ciko adalah orang yang paling cuek, acuh dan dingin kepadaku, kecuali jika masalah uang dia tidak pernah itung-itungan dengan semua temannya, maka dari itu aku merasa sangat kaget ketika Niko mengatakan bahwa dia juga perduli denganku.


"Hah? Apa kau bilang, dia juga perduli denganku? Apa kau lupa ya bagaimana sikap Ciko, dia sama sekali tidak perduli dengan apa yang akan aku lakukan dia juga tidak pernah mendengarkan apa yang aku mau, mana mungkin dia begitu karena perduli denganku, pasti dia hanya membantumu saja." Balasku yang masih merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Niko sebelumnya.


"Aishh... sudahlah kau memang bodoh, mau percaya atau tidak aku tidak perduli lagi, intinya kau harus menuruti apa yang dikatakan oleh Ciko padamu, kau tidak boleh dekat dengan si Jepri sialan itu, dia bukan pria yang baik untukmu, sudah aku harus mengejar Ciko dulu." Ucap Niko yang langsung saja kembali berlari berteriak memanggil Ciko dan terus mengejarnya saat itu.


Sedangkan aku hanya bisa menggerutu seorang diri disana, dengan perasaan yang kebingungan dan hati yang tidak menentu, aku terus saja berpikir keras dan tidak tahu ucapan siapa dan yang mana yang harus aku dengarkan sebenarnya, sehingga karena aku malah memikirkan semua itu aku memutuskan untuk melupakan semuanya.


"Aaahh...bodoh amat deh, yang penting aku kan juga tidak menyukai mereka, apalagi si Jepri, aaahhh semuanya memang di sebabkan oleh Jepri si anak sok kaya itu." Gerutuku merasa kesal sendiri.


Aku pun segera kembali ke kelas dan bertemu dengan Kesi dia langsung menarik tanganku hingga aku terduduk di sampingnya dengan cepat.


"Eeehh......aduh...Kesi kau ini apa-apaan sih, datang-datang malah langsung menarik aku dengan paksa begini." Ucapku kepadanya saat itu.


Baru juga aku selesai menghadapi dua teman priaku yang sangat ribet dan menyebalkan itu, kini aku masih harus dihadapkan dengan teman sekelas ku yang tidak lain adalah Kesi, dia sepertinya memang sudah menunggu kedatanganku sejak tadi, jadi ketika aku muncul dia langsung saja menarik tanganku dan malah bertanya mengenai hal yang sebelumnya terjadi di kantin padaku.


"Sssttt....diam, aku mau bertanya kepadamu dan kau harus menjawabnya dengan jujur Barsha." Ucap Kesi sangat serius kepadaku.


"Ada apa denganmu, sebelumnya kau tidak pernah sok serius begini, apa kau mau mengerjai aku ya?" Balasku padanya dengan mengerutkan kedua alisku sangat kuat saat itu.


Aku benar-benar merasa tidak mengerti dan kebingungan sendiri dengan apa yang dia katakan saat itu, sehingga mendapatkan Kesi terus bicara seperti ini, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, segera aku tanyakan kembali agar dia mengatakan apa yang sebenarnya dia maksudkan.


"Tidak....aku tidak mengerjaimu, apa kau ini bodoh ya." Balas Kesi lagi yang terlalu bertele-tele kepadaku.


Padahal saat itu aku sudah sangat tidak sabar dan begitu penasaran untuk mendekati pertanyaan yang ingin dia ajukan kepadaku sebenarnya.


"Hei... ayolah Kesi sebenarnya kau mau bertanya apa kepadaku, waktunya tidak lama lagi tahu!" Ucapku sengaja mendesak dia saat itu juga.


"Astaga kau ini benar-benar sangat polos ya, hei... Barsha aku tanya padamu sebenarnya apa hubunganmu dengan ketiga pria yang sangat menyeramkan itu, bukannya kau berteman hanya dengan Ciko dan Niko saja, kenapa mereka harus bertengkar dengan Jepri di kantin sebelumnya, kau juga pasti tidak tahu bahwa berita itu sudah sampai pada semua murid di sekolah ini, dan mereka berpikir jika tiga pria itu memperebutkan dirimu." Ucap Kesi membuat aku sangat kaget sekali.


Aku langsung membelalakkan mataku dengan sangat lebar dan terus saja terdiam dengan mulut yang setengah terbuka saat itu, aku sama sekali tidak tahu apa yang sudah terjadi disaat aku pergi dari kantin sebelumnya.


"Kesi apa kau yakin orang-orang menganggapnya seperti itu?" Tanyaku lagi sambil memegangi kedua pundak Kesi dengan kuat.


"Aku yakin, karena otakku masih sangat normal dan telingaku benar-benar berpungsi dengan baik, kau saja yang konyol." Balas dia lagi yang membuat aku merasa sangat lesu dan begitu lemas.


Aku benar-benar tidak bersemangat lagi dan langsung saja menundukkan kepalaku keatas meja dan terus saja menangis terisak tidak tahu harus bersikap atau melakukan apapun lagi sekarang ini.


"Hiks ..hiks..aku tidak mengerti kenapa mereka semua malah berpikir seperti itu, Kesi tolonglah aku, kau kan sahabat terbaikku ayolah tolong aku, aku tidak mau diterpa rumor sialan seperti ini, mana berhubungan dengan Jepri lagi, dia idola sekolah kita, matilah aku." Ucapku kepadanya sambil terus merengek pelan.


Sedangkan Kesi hanya menyuruh aku untuk menjadi tabah dan dia terus mengusap kepalaku berkali-kali saat itu, sekedar memberikan ketenangan semu padaku.


"Sudah....kau yang tabah saja ya, kau harus sabar lagi pula kita tinggal di sekolah ini hanya tinggal beberapa hari lagi kok, setelah kita lulus rumornya juga akan hilang, tapi untuk sementara sepertinya kau harus menutupi wajahmu agar anak-anak para penggemarnya Jepri dan Ciko tidak menghadangmu ataupun berbuat yang jahat kepadamu." Ucap Kesi sambil menatap ke arah luar kelas.


Aku langsung mengikuti arah pandanganya dan betapa kagetnya aku saat melihat ada banyak siswi perempuan yang menatap tajam kepadaku dengan membawa berbagai macam alat di tangan mereka semua, ada juga yang menulis ancaman kepadaku.


"Huaaa...Kesi matilah aku, aku harus bagaimana sekarang?" Gerutuku saat itu.


"Kau pakailah topi dan kupluk hoodie ini, aku hanya bisa membantumu sampai disini saja, semoga kau bisa pulang dengan selamat sahabatku." Ucap Kesi sambil memelukku saat itu.


Aku juga mengangguk kepadanya dengan hati yang terus merasa tidak tenang dan takut, hingga guru akhirnya masuk dan ujian selanjutnya di mulai dan setelah ujian selesai aku segera saja memakai hoodie termasuk dengan topi yang di pinjamkan oleh Kesi padaku sebelumnya.


Sampai ketika aku baru keluar dari kelas ada segerombolan wanita yang berjalan hendak pergi ke kelasku saat itu, aku segera berjalan pergi menghindari mereka karena aku tahu pasti mereka akan mencari aku ke kelas, namun disaat aku hendak pergi mereka malah memanggilku.


"Hei...kau apa kau kenal orang bernama Barsha?" Tanya salah satu perempuan disana padaku.


Aku langsung menggelengkan kepala tanpa bicara sedikitpun, hingga mereka melepaskan aku dan tidak perlu membutuhkan waktu lama lagi, aku langsung berjalan cepat hingga berlari secepat yang aku bisa sambil sesekali melihat ke belakang untuk memastikan agar tidak ada lagi siswi lain yang mengikuti aku.


Hingga saking terburu-burunya aku justru malah menabrak seseorang di hadapanku hingga hampir jatuh saat itu.


"Brukk....aaahhh..maaf...maaf .....maafkan aku, aku tidak sengaja." Ucapku kepadanya sambil segera mengambil topiku yang tidak sengaja terjatuh.


"Barsha, kenapa kau memakai pakaian tertutup seperti ini? Apa kau sakit?" Ucap seseorang yang suaranya sangat tidak asing bagiku.


Aku langsung menengadahkan kepalaku dan menatapnya, yang ternyata dia adalah Varel, aku kaget kenapa dia ada di sekolah ini tapi saat aku menoleh ke belakang ada banyak siswi yang membawa benda keras di tangan mereka sambil berteriak memanggil namaku saat itu.


"Barsha...dimana kau, Barsha!" Teriak mereka kepadaku.


Aku benar-benar sangat panik dan ketakutan, tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menghindari mereka semua saat itu.


"Barsha apa mereka mencarimu, kenapa kau diam saja?" Tanya Varel kepadaku.


"Astaga...Varel tolong jangan lihat ke arah mereka, aaahh.... mereka akan mengh*jar aku jika mereka tahu aku ada disini, aku harus bagaimana?" Ucapku mengatakan yang sebenarnya kepada Varel saat itu.


"Apa? Kenapa bisa begitu?" Tanya dia keheranan kepadaku.


Aku tidak bisa menjelaskan semuanya kepada dia saat ini, dan aku juga tidak memiliki waktu yang tepat saat ini, sehingga aku hanya bisa menggelengkan kepala saja kepadanya, dan benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini.


"Tidak...tahu, aku benar-benar...." Ucapku terhenti karena saat itu Varel tiba-tiba saja memeluk ku dengan sangat erat dan dia bicara dengan ucapan yang sama sekali tidak aku pahami.


"Tenang saja sayang, aku baik-baik saja, aku sudah menjemput dirimu kamu tidak perlu merasa cemas lagi." Ucap Varel kepadaku saat itu.


Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dia katakan dan hanya bisa merasa keheranan sendiri sambil terus berada dalam dekapannya.


Hingga para wanita yang hendak mencari aku itu berjalan melewati aku dan Varel, barulah saat itu aku langsung berontak dan mendorong tubuh Varel dengan sekuat tenaga.


"Varel apa kau gila, apa yang baru saja kau katakan padaku?" Tanyaku kepada dia dengan wajah yang sangat kesal dan tidak menentu.


"Aku hanya menyelamatkanmu, aku membantumu untuk bersembunyi dari mereka, itu hanya pura-pura saja kok, kamu tidak perlu cemas, ayo kita pulang." Ajak dia sambil menggandeng tanganku dan membawa aku pergi dengan segara dari sana.


Aku termenung dan hanya bisa diam saja ketika Varel menggandeng tanganku dan membawaku pergi dari sana, bagaimana cara dia memelukku itu merasa aku nyaman dan cara dia menggandeng tanganku, melindunginya aku dengan cara-cara yang tidak pernah aku duga sebelumnya, sayangnya setiap kali aku bicara atau pun berhadapan dengan Varel aku selalu ingat dengan kejadian malam itu, dan aku selalu berusaha menghempaskan pikiranku sendiri.


"Aaahh....tidak mungkin Varel menyukai aku, tidak mungkin, palingan dia hanya perduli kepadaku sebab aku sahabatnya sejak kecil, iya pasti begitu." Batinku yang terus saja berusaha untuk menghempaskan semua perasaan yang aku rasakan.


Aku tidak mau merasa terlalu percaya diri jadi aku terus berusaha menghempaskan semua hal yang aku duga-duga tanpa adanya kepastian yang benar.


Hingga ketika kami sudah di dalam bus aku mulai bertanya kepada Varel karena dia yang tiba-tiba saja muncul di sekolah saat itu.


"Varel kenapa kau bisa ada di sekolahku, apa yang sedang kau lakukan disana?" Tanyaku kepada dia.


"Aku hanya menemui profesor ku, dia bilang dia sedang berkunjung ke sekolahmu, dan nanti aku di minta untuk mempromosikan universitas tempatku belajar sebelumnya, karena orang-orang yang memiliki jurusan fisika sudah mulai sedikit akhir-akhir ini." Balas dia kepadaku saat itu.


Aku hanya mengangguk menerima jawaban yang dia berikan kepadaku saat itu.


"Ohhh....begitu ya, aku pikir kau sengaja datang untuk menemui aku dan Ciko atau Niko " balasku kepadanya asal menduga saja saat itu.


"Niatnya juga seperti itu, biar sekalian, tapi aku sudah bertemu denganmu lebih dulu, jadi aku pulang bersama kamu saja, Niko dan Ciko sepertinya belum keluar tadi." Balas Varel padaku.


"Tapi terimakasih banyak ya, berkat kau muncul aku jadi selamat dari para wanita ganjen dan centil itu, benar-benar sangat menjengkelkan sekali." Balasku kepadanya.


Kini justru balik Varel yang bertanya kepadaku dan dia terlihat terus mendengarkan semua cerita yang aku katakan padanya, tanpa menyela ucapanku ataupun menyuruh aku untuk berhenti bicara kepadanya, dia sungguh pendengar yang sangat baik dan orang yang selalu memahami aku, walaupun aku sangat menyebalkan dan selalu merepotkan dia dalam segala hal.