BARSHA

BARSHA
Ternyata Jepri?



Padahal saat itu aku sudah sangat tegang, bahkan kedua kakiku tidak bisa berhenti bergetar, dan terus saja hendak kabur dari sana, namun dengan cepat Jepri menarik tanganku dan dia terus saja menahan aku.


"Jepri apa yang kau lakukan, aku harus pergi dari sini, kalau tidak mereka akan..." Ucapku tertahan saat itu.


"Sudah, kamu jangan cemas mereka tidak akan berani melawan aku, kau diam saja di belakangku, akan aku jaga kamu sampai kapanpun." Balas dia sambil tersenyum dengan santai.


Aku terus terperangah menatapnya dengan wajah kebingungan sendiri, tidak mengerti dengan apa yang ada di pikirannya tersebut, sampai dia bisa-bisanya begitu santai dalam menghadapi situasi seperti ini.


"Ya ampun, Jepri kau tidak bisa..." Ucapku lagi yang langsung saja terpotong sebab para wanita itu sudah berada di hadapanku dan berbicara dengan lantang menyuruh Jepri untuk menyerahkan aku kepada mereka saat itu.


"Heh, minggir kau dan biarkan gadis bernama Barsha itu pada kami." Ucap salah satu perempuan yang terlihat begitu menyeramkan bagiku.


Aku hanya bisa menggelengkan kepala pelan, memberikan isyarat kepada Jingmi agar dia tidak memberikan aku kepada mereka, aku tidak bisa berbuat apapun lagi, dan tidak mungkin berani menghadapi mereka karena jumlah kami begitu jauh berbeda, terlebih ini berada dalam ruangan kelas, yang sudah di pastikan melanggar peraturan sekolah jika aku membuat keributan dengan mereka di tempat seperti ini.


Untungnya Jepri sama sekali tidak menyerahkanku pada mereka dan yang tidak aku sangka dia mengatakan sesuatu yang tidak terduga sama sekali, untuk menyakiti para gadis yang sangat ekstrim tersebut, hingga mereka tidak berani lagi untuk menyerang aku dan langsung meninggalkan kelas secepatnya.


"Hei... Lihat dengan siapa kalian bicara, ayahku pemilik sekolah ini, aku bisa mengeluarkan kalian dari sekolah ini kapanpun aku ingin, terlebih dengan bukti kelakuan kalian yang kacau seperti ini, apa kalian sudah bisa sekolah di tempat ini, atau sengaja tidak mau lulus?" Ucap Jepri membuat aku sangat kaget.


Bukan hanya aku tetap teman-teman sekelas yang lain juga merasakan sama kagetnya, kami semua terbelalak lebar mendengar pengakuan dari Jepri dimana selama ini dia selalu menyembunyikan identitas ayahnya tersebut, yang ternyata adalah pemilik sekolah ini, aku langsung menutup mulut yang terbuka dengan kedua tanganku, begitu juga dengan Kesi yang langsung berlari menghampiri aku dan mencubit pinggangku kecil saat itu. Dia juga merasa sama kagetnya denganku hingga langsung bertanya padaku.


"Hei, kenapa kau tidak pernah beritahu aku jika dia ternyata anak dari pemilik sekolah?" Tanya dia kepadaku saat itu.


"Aku mana tahu, aku juga kaget mendengarnya." Balasku kepada dia.


"Wahh....si Jepri ini benar-benar sesuatu." Balas Kesi sambil menggelengkan kepala dan merasa kagum pada Jepri saat itu.


"Pantas saja dia selalu berlagak paling berani dan selalu saja sombong, ternyata dia adalah anak pemilik sekolah." Tambah Kesi lagi.


"Sudah kita tidak bisa melawannya dia memang anak pemilih sekolah si kembar Jepri dan Tisa, dia kakaknya dan pewaris kekayaan keluarga konglomerat terkenal itu, kita pergi saja, jangan berurusan dengannya. Nanti akan rumit." Ucap salah satu wanita lainnya pada wanita yang terlihat begitu membenciku.


Mereka pun segera pergi meninggalkan kelas dengan cepat dan aku baru bisa merasa tenang dan lega saat itu.


Segera saja aku duduk di kursiku berdampingan dengan Kesi, sedangkan Jepri berdiri di sampingku saat itu, sambil menyorongkan badannya padaku, dengan kedua tangan yang dia tekan sebelah pada meja dan sebelahnya lagi menahan pada kursi yang aku duduki.


"Aaahh Jepri kenapa kau berdiri disini?" Tanyaku kepadanya dengan heran.


"Apa kau tidak mau mengatakan sesuatu kepadaku, setelah aku membantumu terlepas dari semua wanita merepotkan tadi?" Balas dia kepadaku sambil menaikkan kedua alisnya sesaat.


"Ohh... terimakasih ya," balasku dengan cepat padanya.


Ku pikir sudah tidak ada lagi yang perlu aku katakan dengannya dan dia juga tidak ada alasan lain lagi untuk tetap berdiri dalam posisi sedekat itu denganku, namun setelah beberapa saat berlalu dia masih saja berada di sampingku dengan sorot matanya yang terus memandangku dengan lekat cukup serius, hingga membuat aku merasa sedikit jengkel dengannya.


"Ayolah Jepri apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, aku kan sudah berterimakasih kepadamu." Balasku kepadanya lagi.


"Apa menurutmu terimakasih saja cukup, dijaman sekarang semuanya membutuhkan imbalan bukan?" Balas dia lagi yang sangat membuat aku kesal.


Dia bak tengah menguji kesabaran di dalam diriku, sehingga aku mulai menarik nafas cukup dalam lalu segera menghembuskan nafas dengan cepat, aku langsung berbalik menatap dia dan langsung mendorong tubuhnya untuk menjauh dariku, sampai aku bisa berdiri dengan tegak dan berhadapan dengannya.


"Huuh..oke, sekarang apa yang sebenarnya kau inginkan, ayo bilang saja." Balasku kepadanya dengan tegas dan kedua tangan yang aku lipatkan di depan dada.


"Aku mau kita makan malam bersama, aku ingin mendekatimu Barsha dan ijinkan aku untuk melakukannya," balas dia membuat aku semakin kaget.


Bahkan kali ini jauh lebih kaget dibandingkan melihat keberadaan para wanita centil yang ingin melabrak aku sebelumnya.


"Aa ...AA..apa? Ahaha, Jepri apa kau sedang menggodaku ya? Yang benar saja, untuk apa kau mengejarku, kau kan sudah tahu Ciko pacarku." Balasku kepadanya saat itu dengan wajah sedikit gugup tidak karuan.


Tiba-tiba saja Jepri mendekatkan wajahnya ke samping telingaku, dan membisikkan sesuatu saat itu, yang membuat aku cukup merinding mendengarnya.


"Aku tahu dia hanya berbohong, jadi kau tidak bisa menolak aku, datanglah di cafe Moris jam delapan malam, aku akan menunggumu disana." Ucapnya begitu saja.


Sebelum aku sempat menyetujui ucapannya dia langsung pergi begitu saja duduk kembali di kursinya dan guru datang ke kelas sehingga aku tidak sempat untuk membicarakan mengenai hal itu lebih lanjut dengannya.


Selama proses pembagian nilai hasil ujian akhir aku terus saja merasa tidak tenang, jantungku terus berdegup kencang dan aku tidak bisa berhenti meremah jari tanganku sendiri, saking takut dan begitu gugup untuk menunggu namaku di sebut, apakah aku akan lulus atau tidak, apakah aku akan di wisuda bersamaan dengan teman-teman satu angkatanku atau tidak, semua pertanyaan itu mengisi penuh otakku sampai membuat aku tidak bisa memikirkan mengenai hal yang lainnya.


Bahkan masalah dengan Jeprie sekalipun sudah aku kesampingkan dan sama sekali tidak aku pikirkan sedikitpun saat itu.