
Aku sebenarnya tidak mau pergi ke luar negeri karena nilai bahasa Inggrisku sangat buruk dan aku sama sekali tidak menguasai bahasa apapun selain bahasa negaraku sendiri, jadi aku tidak mau menyanggupinya, aku takut malah akan menambah beban bagi Varel nantinya, jika aku ikut dengan dia, tetapi sialnya kedua manusia sialan di sampingku justru malah menolak hal itu secara halus lebih dulu kepada Tante Nina, sekaligus malah mengorbankan aku untuk ikut dengan Varel.
"Ahh... Tante sebetulnya aku sangat ingin ikut, tetapi sayangnya ada pertandingan basket yang harus aku ikuti besok, jadi tidak mungkin aku membatalkannya secara mendadak seperti ini, bagaimana jika Barsha saja." Ucapnya malah menunjuk ke arahku.
Aku sudah membelalak mata sangat lebar saat itu tapi sialnya si Niko justru malah ikut-ikutan memojokkan aku sampai aku tidak bisa menolak lagi dan sama sekali tidak bisa berkutik saat itu.
"Aahh...iya benar, Barsha saja, aku juga pasti tidak di ijinkan oleh kak Anton untuk pergi sejauh itu, aku kan tidak bisa bahasa asing, dan lagi aku tidak tahan cuaca di luar negeri hehe.." balasnya beralasan paling tidak masuk akal.
"Heh. Memangnya kau pikir di luar negeri cuacanya bagaimana? Disana juga memiliki matahari yang sama dengan yang ada di atas langit kita, dasar bodoh!" Balasku kesal membisikkan semua itu pada telinga Niko.
"Ya sudah jika kalian memiliki halangan Tante juga tidak bisa memaksakan kehendak, Barsha bagaimana denganmu, apa kamu mau? Tante sangat berharap sekali padamu, terlebih kamu kan memang yang paling dekat dengan Varel selama ini?" Ucap Tante Nina kepadaku.
Melihat wajahnya dan tatapan mata yang penuh dengan harapan itu, membuat aku tidak tega untuk menolaknya sehingga meski aku tahu aku tidak akan bisa mendampingi Varel dengan seratus persen tapi aku harus mencobanya dahulu, jadi aku pun hanya bisa mengangguk pelan wajah dengan wajah menunduk dan sedikit lesu, tapi Tante Nina sudah sangat kegirangan dan begitu senang sampai memeluk aku dengan erat, bahkan dia mau langsung menemui kedua orangtuaku untuk meminta ijin kepada mereka.
"Wahh.. terimakasih banyak Barsha kamu memang yang terbaik, ya suda bagaimana jika sekarang kita pergi ke rumahmu, biar Tante yang meminta ijin kepada mereka dan kalian bisa kemasi barang-barangnya dahulu." Ucap Tante Nina kepadaku.
Aku pun menyetujuinya, dia segera menarik tanganku dengan pegangan yang erat dan matanya terus saja berbinar, dia menampakkan kebahagiaannya terlalu jelas di hadapanku sampai ketika di jalan dia berbicara lagi padaku.
"Barsha, kamu tahu tidak, Tante sangat senang kamu bisa dekat dengan Varel, hanya kamu satu-satunya wanita yang bisa dekat dengan dia, bahkan Tante sendiri yang merupakan ibu kandungnya sama sekali tidak bisa sedekat kamu untuk menghabiskan waktu dengan Varel, kamu harus menjaga dia dengan baik, dan manfaat waktu disana untuk berlibur, karena lombanya hanya satu hari itupun tidak sampai setengah hari, kau bisa meminta Varel mengajakmu ke tempat-tempat yang cantik disana, dia pasti akan bersedia jika itu permintaanmu." Ucap Tante Nina kepadaku.
Aku hanya bisa menanggapinya dengan senyuman lebar dan terus mengangguk pelan kepadanya, sebab aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya dimaksud oleh Tante Nina padaku, sebenarnya aku merasa Tante Nina sepertinya begitu mempercayai aku dan seperti membuang anaknya untuk aku asuh, pasalnya setiap kali hanya aku yang bisa menemani Varel, menjaganya dan selalu menggantikan posisi Tante Nina yang memang selalu di sibukkan dengan pekerjaan dia setiap hari dan setiap waktu.
Hingga setelah berada di dalam rumah dan Tante Nina sudah mengatakan semua maksud dan tujuan kedatangan dia kerumahku, langsung saja keluargaku terbelalak lebar sambil menatap dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya sendiri saat itu.
"Hah? Nina kamu yakin bisa mempercayai Barsha untuk menjaga putramu yang jenius itu? Bukan apa-apa ya Nina, tapi kau sendiri kan tahu berapa IQ Barsha, dia bahkan tidak lebih pintar dari seekor kera." Ucap ibu yang malah merendahkan putrinya sendiri di hadapan orang lain, mana membandingkan aku dengan hewan lagi.
"CK...ibu ini apa-apaan sih, apa aku sebodoh itu?" Batinku merasa sangat tidak senang.
"Ahaha...Ayolah, putrimu ini sangat luar biasa, mungkin dia tidak pandai dalam masalah akademik, tapi lihatlah bagaimana dia pandai bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik di masyarakat luas, itu yang dibutuhkan putraku, dia sangat pemalu mungkin dia akan kesulitan jika tidak ada orang yang berani seperti Barsha untuk menemani dia di luar negeri nanti, kamu tidak perlu mencemaskan apapun semua biaya di tanggung oleh pihak pengacara lomba, bahkan Barsha bisa mendapatkan oleh-oleh dari sana nantinya. Aku janji padamu." Ucap Tante Nina sambil memegangi tangan ibuku.
Jika mendengar tentang oleh-oleh sudah pasti ibuku tidak akan menolaknya, dia manusia paling mata duitan di antara kami semua, sedangkan ayah selalu kalah dari ibu, sama sekali tidak bisa berkutik dan hanya bisa menuruti semua keputusan yang ibu lakukan.
Bahkan aku merasa kepala keluarga di rumah ini bukanlah ayah melainkan ibu yang merangkap jadi satu dan ayah hanya berperan sebagai ATM berjalan saja.
"Ahaha...kau ini terlalu murah hati Nina, kau tahu apa yang mengganggu pikiranku, kalau begitu sih, aku mengijinkannya, aku juga percaya kepadamu dan Varel, sudahlah Barsha memang lebih baik menghabiskan waktu liburnya menemani Varel, agar otaknya bisa sedikit berpungsi ketika dia masuk ke universitas nantinya." Balas ibu kepada Tante Nina.
Rasanya sangat malu sekali untuk aku mengahadapi Tante Nina dengan miliki ibu yang seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari wanita mana, hanya bisa pasrah dan mencoba menerima semua takdir pahit ini dengan lapang dada meski sebenarnya dadaku sangat sempit.
Tante Nina langsung pulang dan dia menyuruhku agar tidak ikut kembali ke rumahnya, agar aku bersikap-siap juga sebab besok aku akan pergi ke bandara pagi-pagi sekali, sebab penerbangannya masuk dalam jadwal pertama, aku pun mengangguk dan menurutinya.
Baru saja aku mengantar Tante Nina hingga ke gerbang depan dan baru kembali ke rumah, ibu, Wili dan kak Lea sudah berdiri menungguku dan mereka langsung memasang wajah yang ceria sambil terus membantu aku untuk berbenah dan mengemasi barang-barang milikku ke dalam koper saat itu.
"Barsha lihatlah, kau pasti membutuhkan handuk ini disana, kau harus membawanya." Ucap ibu sibuk sendiri.
"Kau juga bawalah sandal ini, jangan pakai sandalmu yang sudah buruk rupa itu, dan jangan membuat malu aku sebagai kakakmu, kau harus bisa berbicara bahasa Inggris setidaknya katakan yes jika kau setuju dan no jika kau tidak mau, apa kau mengerti?" Ucap kak Lea kepadaku.
Ditambah Wili yang ikut-ikutan membawa sepatu miliknya dan dengan baiknya dia malah meminjamkan sepatu kesayangannya itu kepadaku, ini adalah pertama kalinya mereka bersikap baik seperti ini kepadaku.
"Ini aku juga mau pinjamkan sepatu kesayanganku untukmu, awas saja jangan sampai rusak, jangan lecet dan jangan mengotorinya!" Ucap dia terlihat tidak tulus meminjamkannya kepadaku.
Dia mengatakan itu sambil terus menatap tajam kepadaku dan mengulurkan sepatu yang dia pegang ke hadapanku, terlihat begitu jelas jika dia terpaksa meminjamkan sepatunya itu kepadaku, mendengar ucapan dan raut wajahnya aku mana berani menerima sepatu itu darinya tapi karena dia mendesakku dan ibu yang ikut-ikutan menyuruh aku untuk mengambilnya, aku pun harus tetap menerima itu, walau akan jadi hal merepotkan nantinya.
"Aishh..kalau kau tidak mau sepatumu kotor ya sudah jangan meminjamkannya sekalian, kalau aku menggunakannya kan sudah pasti akan kotor tidak mungkin aku memakai sepatu tapi jalan dengan tangan, apa kau gila." Balasku sambil menggelengkan kepada kepadanya, dan merampas sepatu itu dengan cepat dari tangannya.