
Setelah semua es krimnya habis aku segera saja kembali ke halte bus dengannya dan kami melihat bus juga datang tepat waktu saat itu, sehingga saat aku baru sampai dengan Varel kami bisa langsung masuk ke dalam bus dan seperti biasa aku hanya bisa meminta Varel untuk membayarkan ongkos bus mu saat itu.
"Ehh...busnya sudah tiba, Varel mana dompetmu?" Ucapku bertanya kepadanya saat itu.
Untungnya dia itu memang selalu menuruti ucapanku bahkan disaat aku meminta dompetmu dia langsung memberikan dompet dia begitu saja kepadaku dengan begitu mudah saat itu, tanpa bertanya sedikit akan aku apakan dompet atau isi di dalamnya.
"Ini.." ucap dia memberikannya dengan begitu mudah kepadaku.
Aku segera mengambilnya dan segera saja aku membayar ongkos bus miliknya sekaligus dengan ongkos milikku, aku segera saja pergi menaikkan busnya sambil menggandeng tangan Varel untuk ikut masuk ke dalam bus secepatnya agar bisa mendapatkan tempat duduk di dalam nantinya.
Aku sengaja memilih kursi paling belakang dan segera duduk di samping Varel saat itu, begitu juga dengan Ciko dan Niko, mereka hanya bisa menggerutu keras kepadaku dan selalu saja membuat Varel untuk tidak menuruti ucapanku.
"Astaga...Varel apa kau ini anak-anak? Kenapa otak jenius mu itu tidak berfungsi pada Barsha, kau sangat pelit saat aku meminta uangmu, tapi kau memberikan dompetmu begitu mudah kepada Barhsa, sepertinya otakmu itu sudah di cuci olehnya ya?" Ucap Niko kepada Varel yang hanya tersenyum kecil menanggapi ucapannya saat itu.
"Heh, diam kau kalau kau iri bilang saja," balasku kepadanya saat itu.
"Varel kau lain kali jangan mau dibodohi olehnya, kau harus memakai otak jenius mu juga." Tanah Ciko kepadanya saat itu.
"Ciko kau ini apa-apaan sih, sudah Varel kau jangan dengarkan mereka berdua, kau hanya boleh mendengarkan aku saja, ini dompetmu, aku kembalikan terimakasih banyak." Ucapku kepada Varel sambil mengembalikan dompetnya saat itu.
Ciko dan Niko hanya bisa menggelengkan kepala kepadaku saat itu, sementara aku sama sekali tidak memperdulikan dia sedikit pun, sebab yang terpenting bagiku Varel tetap memperdulikan apapun yang aku ucapkan tidak perduli ucapan mereka berdua yang sangat menjengkelkan dan selalu saja mau ikut campur urusanku.
Kami pulang ke rumah Varel dan seperti biasa akan merayakan keberhasilan Varel di rumahnya, kami menyiapkan banyak makanan yang akan kami nikmati saat itu, sedangkan disaat aku mempersiapkan meja dan minuman disana, Niko langsung saja mendekati aku saat itu, dan dia malah menyuruh aku untuk meminta Varel membelikan banyak makanan yang dia inginkan saat itu.
"Syuutt...Barsha...hei... Barsha kemari kau," ucap Niko kepadaku saat itu.
"Aish.... Ada apa sih, kenapa kau terus mendekatiku, bicara yang benar." Ucapku kepadanya dengan sedikit kesal karena dia menyulitkan aku untuk menyiapkan minuman diatas meja saat itu.
"Barsha, ayo dong minta Varel membeli pizza yang besar itu, aku sangat ingin menikmatinya kau kan tahu kita belum pernah memakan pizza big yang sedang viral itu, harganya sangat mahal, kau tahu kita tidak akan ada yang mampu membelinya, kalau Varel sudah pasti bisa membelinya, dompetnya itu kan banyak uang, ayo cepat." Ucap Niko kepadaku saat itu.
"Hei apa kau gila, dia sudah membeli banyak makanan laut untuk dimasak, Ciko sudah memasaknya dengan Varel tidak mungkin kita akan meminta dia lagi untuk membeli makanan lainnya." Balasku kepadanya.
Walaupun aku sudah menolaknya tapi si sialan Niko itu terus saja memaksa aku untuk meminta pizza sialan itu kepada Varel, padahal aku sudah memberitahunya bahwa aku tidak mau meminta apapun lagi pada Varel.
"Barsha ayolah....Barsha...aku mohon Barsha, tolonglah Barsha ayolah cepat pergi temui Varel, mintalah kepada dia dengan secepatnya, aku cepat minta, tuh dia sudah datang ke mari, ayo cepat datangi dia, ayo Barhsa!" Ucap dia terus saja mendorong tubuhku untuk mendekati Varel saat itu.
Padahal Varel sendiri tengah menyiapkan makanan untuk membuat pembakaran di belakang rumahnya saat itu, dia juga terus saja mempersiapkan meja dan tempat yang ada di sana agar bisa menikmati makanan disana saat itu.
Sayangnya si sialan Niko terus saja mendorong tubuhku tanpa henti sampai Varel mengetahuinya dan dia mulai bicara kepadaku saat itu.
"Barsha ada apa, kamu mau bicara apa?" Tanya Varel kepadaku saat itu.
Aku sangat gugup dan hanya bisa tersenyum cengengesan tidak menentu saat itu, dan tidak tahu harus bagaimana dalam menanggapinya.
Sedangkan Niko terus saja menyuruhku dan bicara di samping telingaku untuk memaksa aku meminta pizza yang dia inginkan.
"Ayo cepat Barsha, kau kan teman terbaikku, nanti kau juga bisa menikmatinya, ayo cepat sana." Ujar Niko padaku lagi saat itu.
"Aishh..iya...iya pergi sana kau, menyebalkan sekali sih!" Gerutuku kepadanya sambil mendorong tubuh Niko ke belakang sekuat yang aku bisa saat itu.
Setelah itu barulah aku segera berjalan menghampiri Varel dan membantu dia membawa pemanggang di tangannya saat itu.
"Aahaha...tidak apa-apa, suda sini biar aku bantu kau membawanya kau bawa ikannya saja ya, aku tahu kau lelah jangan terlalu bekerja keras oke." Ujarku kepadanya saat itu.
Aku segera saja pergi dari sana dan membawa pemanggang dari Varel ke halaman belakang rumahnya dengan cepat, sampai ketika Varel sudah berada di depan meja denganku, aku terpaksa harus meminta dia membelikan pizza sesuai dengan apa yang di inginkan Niko sebelumnya.
Karena dia terus saja meminta aku untuk membujuk Varel bahkan disaat aku sudah menghindarinya dan pergi ke luar dia terus menatap ke arahku sambil berbicara memberikan kode di balik jendela kaca rumah Varel saat itu, melihat wajahnya sungguh sangat mengganggu pemandangan ku, dan terus saja membuat aku emosi melihat ekspresi wajahnya saat itu.
"Aishh....untuk apa dia terus memberikan kode seperti itu, dia benar-benar manusia menjengkelkan!" Gerutuku saat itu.
Dia benar-benar terlihat seperti orang yang sangat gila, dan terus saja memberikan kode kepadaku tanpa henti, sulit sekali mengabaikan orang sepertinya, yang terus saja mendesak aku untuk meminta makanan tersebut yang dia inginkan saat itu.
"Untuk apa sih manusia itu terus saja bertingkah konyol seperti itu, sangat menjengkelkan," gerutuku terus saja merasa sangat kesal dan emosi seorang diri.
"Ekm....Varel bisa bicara sebentar tidak?" Tanyaku kepadanya saat itu.
"Ada apa Barsha? Kamu mau bicara padaku?" Tanya dia padaku saat itu.
Aku langsung saja tersenyum kecil dan tidak bisa menjawab ucapan dia saat itu, sehingga aku terus saja bicara kepadanya, mulai mengatakan apa yang diinginkan oleh Niko kepadaku sebelumnya.
"Begini Varel, ini bukan keinginanku tapi ini keinginan Niko, kamu jangan salah paham ya, dia..." Ucapku sedikit gugup saat itu.
"Kenapa memangnya? Ayo katakan saja, kenapa kamu harus merasa gugup seperti itu?" Ujar dia kepadaku lagi saat itu.
"Begini si Niko sialan itu, mau meminta kau membeli pizza big yang tengah viral saat ini, apa kamu bisa membelikannya? Masalahnya dia terus mengganggu aku, kau lihatlah ke sana," ungkapku sambil menunjuk ke arah tempat dimana Niko berdiri dan dia langsung berpura-pura memalingkan pandangan ke arah lain saat Varel menatapnya saat itu.
Dia hanya tersenyum saja memandangi Niko yang terlihat berlalu aneh saat dia mulai hampir ketahuan tengah memberikan kode sialannya kepadaku oleh Varel saat itu.
"Ini beli saja jika kau mau," ucap dia kepadaku begitu saja.
Aku langsung membelalakkan mataku dengan kaget, tidak menduga bahwa Varel benar-benar mau memberikan aku dengan mudah dan dia langsung memberikan ponselnya untuk aku memesan pizza nya begitu saja, sampai ketika aku belum sempat mengambil ponselnya, entah datang dari mana Niko langsung saja muncul di hadapanku dan dia langsung merampas ponsel Varel dengan cepat.
"Eehhh....Niko apa kau gila kembalikan ponsel Varel, kenapa kau merampasnya begitu?" Bentakku kepada dia saat itu.
"Ayolah Barsha, kita kan sudah sepakat untuk membeli pizza nya kenapa kau marah," balas dia kepadaku.
"Iya aku tahu, tapi kau harus memesannya di hadapanku, jangan memesan makanan seenaknya, meski Varel punya banyak uang tapi itu tetap saja bukan uangmu, dia mendapatkan uang itu juga dengan kerja keras dirinya dan kau tidak berkontribusi apapun jadi kau tidak boleh menghabiskan uangnya dengan begitu mudah." Bentakku memberitahu Niko saat itu.
Dia pun menghembuskan nafasnya dan mulai mengembalikan ponsel Varel kepadaku lagi saat itu, dengan cepat aku langsung merampasnya kasar lalu melihat pizza yang dia inginkan dan menunjukkannya kepada Niko.
"Apa ini yang kau mau?" Tanyaku kepada dia saat itu.
Niko langsung menanggapi ucapan dariku dengan begitu antusias, padahal sebelumnya dia begitu kesal dan lesu karena aku merampas ponsel Varel dari tangannya, dari sana dan melihat ekspresi di wajahnya yang berubah dengan cepat, aku pun tahu ternyata Niko memang sangat menginginkan pizza tersebut.
"Aahh ...iya..iya itu yang aku inginkan sejak lama, ayo cepat pesankan Barsha aku sudah sangat tidak sabar." Balas dia sangat bersemangat menanggapinya.
Aku segera memesankannya satu porsi penuh untuk Niko, dan menunjukkan hasil pesanannya kepada dia agar dia mempercayai aku saat itu.
"Sudah, sana kau pergi tunggulah di depan paling sebentar lagi kurir akan mengirimkannya kemari, dan jangan pernah kau memaksa aku lagi untuk meminta apapun pada Varel, kalau kau menginginkannya maka mintalah pada orangnya secara langsung!" Bentakku kepada dia sambil segera memberikan ponsel itu pada Varel sambil meminta maaf dan berterima kasih kepadanya.
"Ehehe...iya iya Barsha, aku mengerti. Kalau gitu aku pergi menunggu di depan dulu ya, terimakasih Varel kau yang terbaik." Ucap Niko sambil bergegas pergi dengan cepat.
"Aishh...dasar anak itu dia selalu saja membuat aku kesal dan naik pitam dengan semua kelakuannya, Varel tolong maklumi dia ya, aku juga minta maaf karena sudah merepotkan kamu juga menghabiskan uangmu untuk membeli semua hal yang aku mau termasuk pizza itu dan makanan ini." Ucapku kepadanya dengan sedikit tidak enak hati.
Bagaimana pun aku juga manusia normal aku bisa merasakan malu karena selalu memakai uang Varel dan Ciko bahkan aku memakai uang Varel lebih banyak daripada ibuku memberikan uang padaku dalam satu hari.
Tapi Varel ini tidak pernah malah ataupun merasa kesal atas apa yang aku lakukan, bahkan dia masih mau menawarkan aku hal lainnya untuk di beli disaat aku meminta maaf dan merasa bersalah terhadap dia saat ini.
"Tidak masalah, aku kan sudah bilang kau bisa mendapatkan apapun yang kamu mau, aku bisa memberikannya padamu, karena kamu sahabatku, kamu yang sudah menemani aku sejak kecil disaat tidak ada siapapun yang mau berteman denganku, aku juga hanya membutuhkanmu, selama ada aku aku rasa aku tidak memerlukan siapapun lagi." Balas dia membuat aku merasa senang mendengarnya.
"AA..aahahah..kau ini bisa saja, tapi aku sungguh berterima kasih banyak kepadamu Varel" balasku kepadanya.
"Sama-sama. Sudah ayo kita mulai memanggang." Ajak dia kepadaku.
Tidak lama Ciko datang membawa beberapa ikan dan makanan lainnya yang akan kami panggang saat itu, mereka berdua mengipasi sate yang sudah aku tusuk-tusuk saat itu sedangkan beberapa saat kemudian setelah kami hampir selesai menyiapkan semua makanannya, Niko pun tiba juga, dia membawa pizza yang sudah dia dambakan sejak awal sampai melakukan segala cara untuk memaksa aku memintanya pada Varel.
Dan memang pizza nya sangat besar tidak terlalu sia-sia kami membelinya dengan harga cukup mahal sebelumnya, tapi bagi Varel mungkin pizza itu tidak semahal yang aku dan Niko pikirkan.
Kami segera menyantap makanan yang ada disana dengan penuh kebahagiaan dan terus saja menikmatinya dengan penuh canda tawa bersama-sama, rasanya memang sangat mengasikan ketika bisa berkumpul dengan sahabat dan makan-makan sepuasnya seperti ini, menghabiskan waktu bersama sambil bercanda ria dan melakukan permainan yang sering kami mainkan ketika kami kecil sebelumnya.
Kebahagiaan sederhana seperti inilah yang selalu kami rindukan, bisa melihat teman-teman tertawa dengan lepas itu sudah membuat aku sangat bahagia, terlebih seorang seperti Varel yang selalu memasang wajah datar dan polos itu, dia terkenal dengan sikap dinginnya dan seseorang yang selalu mengutamakan kebersihan juga kerapihan tetapi semua itu tentu saja tidak berlaku ketika dia tengah berada di tengah-tengah teman kecilnya, sebab hanya dengan mereka saja sosok Varel bisa menjadi dirinya tanpa tekanan dan tanpa merasa malu ataupun ragu untuk melakukan apapun.
Varel selalu merasa bebas ketika dia berada di tengah-tengah temannya, seperti saat ini disaat aku dan Niko berebut pizza potongan terakhir aku harus mengejar dia sampai dapat dan kami terus berkeliling di teman itu, aku tidak bisa mengalah dengan manusia sepertinya, sedangkan Ciko dan Varel hanya menertawakan aku yang selalu gagal untuk menghentikan Niko saat itu. Yang pada akhirnya tetap saja pizza terakhir tersebut malah habis di makan sekaligus oleh Niko, tanpa aku sempat menahannya dahulu.