BARSHA

BARSHA
Iri Padaku



Jangankan aku, Lea dan Wili saja sangat kaget melihat perubahan sikap ibu yang bisa berubah seratus delapan puluh derajat dari sikap biasanya, yang selalu membentak aku, memberikan telukan di pinggulku ataupun selalu mengacak rambutku, ibu selalu jengkel dan kesal padaku sebelumnya, tapi kali ini dia bicara dengan begitu baik bahkan sampai mengecil kepalaku membuat aku merasa heran hingga langsung menghentikan makanku dengan mata terperangah heran, langsung melirik penuh kebingungan pada ibu yang sudah bergegas pergi dan melambaikan tangan padaku juga Lea dan Wili.


"Wahh....sepertinya ibu ini memang bukan ibu yang normal, dia sangat menyayangi aku ketika aku punya pencapaian, apa aku harus jadi cantik juga agar bisa mendapatkan kasih sayang ibu lebih banyak?" Gerutuku saat itu.


Saat aku berbalik Wili dan Lea sudah memberikan tatapan tajam kepadaku saat itu, seakan mereka sudah siap untuk memakanku hidup-hidup.


"Astaga...ada apa dengan tatapan itu, kalian mau menelanku ya?" Tanyaku kepada mereka berdua dengan perasaan sedikit kaget.


"Jika aku bisa sudah aku lakukan sedari tadi!" Balas Lea terlihat sangat kesal.


"Heh, kau bilang kau tidak mau seperti aku maupun Lea, kau bilang mau jadi diri sendiri, maka jadilah dirimu sendiri jangan jadi pintar ataupun jadi cantik, aku tidak mau bersaing denganmu." Ucap Wili kepadaku.


Sekarang aku tahu apa yang membuat kedua saudaraku memberikan tatapan seperti itu padaku sebelumnya, mereka ternyata iri denganku dan tidak terima disaat melihat aku mendapatkan perlakuan seperti itu dari ibu, sementara mereka lupa sudah sejak kecil aku menerima ketidakadilan di rumah ini.


"Hei...ada apa dengan kalian berdua, apa kalian benar-benar merasa iri denganku? Ahahaha..apa yang perlu kalian irikan dariku, sejak kecil aku tidak mendapatkan kamar sendiri, tidak ada ranjang, tidak punya laptop dan tas sekolah juga besar Lea, sepatu bekas dan tidak punya sepeda, bekal yang pas-pasan, dan jarang sekali sarapan, aku juga tidak dapat telur mata sapi, kecuali Wili menyisakannya untukku, lalu sekarang untuk pertama kalinya ibu bersikap baik padaku, kalian marah dan kesal denganku, bagaimana dengan aku yang di perlakukan seperti itu sejak kecil, kalian selalu mendapatkan semuanya dengan mudah tapi tidak denganku, aku juga tidak pernah mengeluh, lalu kenapa kalian sekarang kesal padaku seperti ini?" Ucapku sambil kembali melanjutkan makanku.


Aku tidak berniat bicara kencang untuk di dengar mereka berdua, aku hanya menggerutu pelan seorang diri, dan tidak perduli apakah mereka akan mendengar apa yang aku katakan atau tidak, namun rupanya mereka mendengarkan gerutuanku barusan dan perlahan Lea juga mulai sadar dan memahami yang aku katakan.


"Jika dipikir-pikir, semua yang Barsha katakan memang benar, aku mendapatkan uang bulanan lebih banyak dan selalu meminta uang untuk biaya kuliah juga semasa sekolah pada ibu, Barsha selalu memakai uang Ciko untuk naik bus dan dia terkadang lupa tidak diberi bekal oleh ibu, aku tidak tahu sampai sekarang dari mana kau bisa tetap makan dan sekolah meski ibu tidak memberimu uang jajan." Balas Lea yang mulai tersadar.


"Nah, itu kau tahu sendiri, jadi apa kau masih mau merasa iri dan kesal padaku, aku lebih tidak beruntung dibandingkan dirimu." Balasku kepadanya.


"Tetap saja, sekarang ibu memperdulikan dia seorang, bagaimana denganku?" Ucap Wili yang mulai membuatku agak kesal.


"Siapa bilang ibu hanya memperdulikan aku saja? Bukankah tadi ibu dengar kau dan Lea masih bisa mendapatkan paha ayam, itu artinya sekarang ibu memperdulikan kita bertiga, ya semoga saja ibu tidak berubah pikiran denganku, orang yang dilahirkan dengan wajah tampan sepertimu, tidak akan mendapatkan kesulitan dalam hidup, semua orang akan memberikan kemudahan untukmu, begitu juga dengan ibu, ataupun jadi orang pintar seperti Lea dia akan punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalahnya, mungkin hanya aku saja yang akan berperang sendiri dalam hidup tapi aku sudah terbiasa jadi tidak kesulitan lagi." Balasku menjelaskan kepada Wili saat itu.


Dia pun langsung terdiam setelah mendengar ucapan dariku, dan mulai bicara pelan mengatakan tentang aku selama ini.


"Lalu jika begitu apa yang akan kau lakukan, apa kau mau terus bekerja keras untuk jadi seperti aku atau Lea, untuk mendapatkan kasih sayang ibu seperti kamu?" Tanya dia padaku.


Aku menggelengkan kepala dengan cepat, karena bukan itu tujuanku mendapatkan nilai yang tinggi saat ini.


"Tidak, aku sama sekali tidak ada berpikir pada hal itu." Balasku kepadanya.


"Jika bukan begitu apa lagi?" Tanya Lea padaku mengikuti Wili.


"Aku hanya tidak ingin mendapatkan p*kulan dan bentakkan lagi saat aku pulang, aku juga tidak mau di usir oleh ibu dari rumah ini, kalian sendiri dengar kan sebelumnya, ibu mengancamku jika aku tidak mendapatkan nilai yang bagus dan tidak lulus, maka aku akan di usir dia tidak akan membukakan pintu rumah ini untukku, makanya aku bekerja keras, belajar siang dan malam sampai lupa makan dan tidak bisa bermain hanya untuk mendapatkan nilai itu, tenang saja kalian tidak perlu cemas aku tetap Barsha aku tidak akan menjadi seperti siapapun, sekalipun ibu tidak akan menyukai itu, aku tidak akan menjadi orang lain." Balasku sambil segera bangkit berdiri dan pergi dengan cepat meninggalkan Lea dan Wili yang masih menatap lekat kepadaku.


Aku masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian sejenak dan sudah akan pergi lagi ke rumah Varel, aku harus memeriksa keadaan dia segera kejadian kemarin.


"Hei..mau kemana lagi kau sekarang?" Tanya Lea padaku.


"Ke rumah Varel, aku harus memeriksa keadaan dia," balasku dengan singkat dan segera memakai kaus kaki termasuk memakai sepatuku.


"Ke rumah Varel pun harus pakai sepatu?" Tambah Wili kepadaku lagi.


"Habis mau pakai apa lagi? Memangnya aku dibelikan sandal baru sepertimu, tidak bukan? Lihat sendalku sudah tidak bisa digunakan aku tidak mungkin pergi tanpa alas kaki, yang ada ibu akan memarahi aku lagi, sudahlah kalian sama sekali tidak tahu bagaimana aku, dan betapa sulitnya aku selama ini, hanya tahu menyela dan membentakku saja." Balasku yang sudah sangat kesal, sebab mereka terus bertanya tanpa henti kepadaku.


Aku pergi dengan cepat dan bertemu dengan Niko, padahal mereka menaiki bus untuk pulang sebelumnya dan aku juga cukup lama ketika makan di rumah, tapi saat aku baru keluar dari pagar rumahku, malah berpapasan dengan mereka berdua yang baru pulang dari sekolah.


Sebenarnya saat itu aku ingin bertanya tapi karena ingat bahwa aku dan Niko sedang tidak berhubungan baik aku pun mengurungkan niat itu dan hanya diam saja menunggu hingga mereka berdua melewatiku.


"Eehh... Kenap mereka baru sampai, dasar tukang keluyuran." Batinku memikirkan.


Mereka berdua berjalan melewati aku begitu santai dan tidak melirik sedikitpun ke arahku, seakan mereka tidak melihat keberadaan aku di tempat itu, dan hal tersebut membuat aku sangat jengkel, tapi tidak bisa berbuat apapun.


"Hah? Mereka lewat begitu saja? Apa mereka buta atau memang sengaja berpura-pura buta seperti ini?" Gerutuku merasa emosi sendiri.


Aku terus menghentakkan kakiku menuruni pijakan tangga dan pergi ke rumah Varel secepatnya.


"CK persetan dengan mereka, aku tidak perduli, lagi pula aku masih memiliki Varel, aku akan main dengannya saja." Gerutuku sambil segera masuk ke halaman rumah Varel masih dengan menghentakkan kakiku cukup kuat.


Kebetulan saat itu Varel ada di halaman rumahnya, dia terlihat tengah menyirami tanaman hias yang cantik disan, aku langsung menghampiri diri dengan kesal dan merebut alat penyiraman tanaman dari tangan dia begitu saja.


"Varel...sini biar aku saja yang melakukannya." Ucapku dengan wajah cemberut dan terus menggerutu tidak jelas.


Varel yang melihat hal itu, langsung bertanya padaku danterus memperhatikan wajahku begitu lekat.


"Barsha ada masalah apa, kenapa kamu cemberut terus sejak tadi?" Tanya Varel kepadaku.


"Aku memang sedang kesal, aku emosi dan aku sangat ingin m*nghajar orang sekarang ini!" Balasku dengan gigi yang aku meratakan dan menatap sinis penuh emosi.


Aku tahu sebenarnya hal ini bukanlah yang bagus sebab aku malah melampiaskan kekesalan ku pada Varel, padahal orang yang membuat aku kesal adalah Niko dan Ciko yang malah ikut-ikutan merajuk tidak jelas kepadaku seperti tadi, padahal dia tidak perlu ikut merajuk dan bisa menyapa aku meski Niko tidak menyapaku.


"Kenapa? Ayo ke dalam kita cerita disana, kamu tidak boleh menyirami tanamanku terus begini, nanti yang ada tanamanku akan mati karena terlalu banyak kau sirami air." Balas Varel padaku saat itu.


Setelah mendengar ucapan Varel aku baru sadar kalau sedari tadi tanganku tidak pernah berpindah saat menyirami tanaman dan hampir saja membuat salah satu tanaman hias milik Varel yang mahal itu digenangi oleh air sebab terlalu banyak aku sirami saat itu.


"Aaahh...maaf maaf, aku tadi melamun, maafkan aku ya Varel aku tidak sengaja." Ucapku kepada dia dan segera menarik alat penyiram tanaman itu dengan segera.


Aku pikir Varel akan marah atau merajuk sama seperti Ciko dan Niko kepadaku, namun ternyata dia sama sekali tidak marah dan malah mengajak aku untuk segera masuk ke dalam rumahnya dengan segera.


"Tidak masalah itukan hanya tanaman hias biasa, ayo masuk kau mau cerita bukan?" Ucap dia sambil menarik tanganku dan terus tersenyum saja.


Aku merasa sangat heran bahkan terus membuka mataku lebar dengan menaikkan kedua alisku sangat tinggi.


"Eee...eee...eehh..iya iya, aku bisa jalan sendiri." Ucapku yang sudah di tarik masuk oleh Varel.


Hingga di dalam saja, aku sama sekali tidak habis pikir, karena Varel tidak pernah marah meski aku sering membuat kesalahan kepadanya, aku sering memakai uang dia seenaknya, membuat dia tersesat dan aku juga sering mengacak-ngacak rumahnya, kali ini aku bahkan hampir membuat tanaman hias miliknya mati karena kebanyakan tersiram air olehku, tapi walau sudah sebanyak itu kesalahan yang aku buat padanya, dia masih tetap tidak marah denganku, dan masih saja bersikap santai sambil tersenyum lebar dan malah mengajak aku untuk bercerita dengannya mengenai masalah yang aku bawa.


"Barsha, kenapa diam saja, ayo cerita, apa kau di usir lagi oleh ibumu, atau Wili merebut makananmu lagi?" Tanya dia kepadaku terlihat begitu serius ingin mendengar cerita dariku.


Aku pun segera tersadar dan mulai terharu dengan semua kebaikan yang dia berikan kepada aku selama ini, dia satu-satunya orang yang tidak pernah memarahi aku dan satu satunya orang yang bisa aku andalkan dikala semua orang menjauhi aku, marah denganku ataupun ketika aku membuka masalah dengan mereka.


"Varel kenapa kau tidak marah padaku disaat aku membuka kesalahan padamu?" Tanyaku pada dia saat itu.


"Ehh..kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu?" Tanya dia balik yang terlihat cukup heran.


"Tidak ada apapun, aku hanya ingin tahu saja apa alasanmu." Balasku lagi kepadanya.


"Barsha, aku temanmu sejak kecil, aku tahu persis bagaimana kamu, dan kamu juga sangat memahami aku, jadi ketika dia orang sudah saling mengenal dan memahami, tidak akan ada alasan aku marah denganmu, jika aku memperingati sesuatu kepadamu mungkin itu wajar kau juga sering kali kesal dan jengkel menghadapi aku, tapi kamu tidak pernah kapok ataupun marah denganku, kamu tetap menemani aku, membantuku dan ada di sampingku ketika aku membutuhkanmu, jadi tidak ada alasan untuk aku marah denganya." Balas dia memberikan jawaban yang semakin membuat aku terharu.


"Sekalipun aku membuat kesalahan besar?" Tanyaku lagi dengannya.


Dia langsung saja mengangguk kepadaku saat itu, dan terus saja tersenyum lebar, seperti sangat yakin dengan jawaban yang dia berikan padaku saat itu.