BARSHA

BARSHA
Mengantar Lea



Ke esokan paginya, musim dingin sudah semakin parah, salju mulai turun sejak semalam, dan memenuhi jalanan yang sebelumnya terlihat cukup hijau dan segar, aku sangat enggan untuk bangun terlebih tidak ada kegiatan lain lagi yang bisa aku lakukan, aku tidak ikut wisuda karena acara perpisahan tidak jadi dilaksanakan oleh pihak sekolah, sebab musim dingin tahun ini yang datang lebih awal dan tidak dapat di prediksi awalnya, hingga saat pagi datang, meski matahari sudah menyinari bumi dan mulai bersinar cukup terang, terus saja aku tidur dan menarik selimut dengan kuat hingga menutupi seluruh tubuhku dengan erat saat itu, sampai tidak lama Lea malah membangunkan aku dengan paksa dan dia terus menarik selimutku sangat kuat.


"Hei ayo bangun sudah jam berapa ini, kenapa kau belum bangun juga, woii .. Barsha ayo cepat bangun!" Teriak Lea sambil terus menarik selimutku sangat kuat.


Aku sangat enggan sekali untuk bangun jadi meski Lea terus menarik tanganku, aku tidak pernah bangun, terus saja aku meringkuk memeluk guling kesayanganku sambil mengusap kasar tanganku agar tidak merasa dingin.


"Hei.... Aish...apa kau ini anak b*bi ya? Ayo bangun Barsha kau harus menemaniku pergi ke toko buku..." Tariak Lea semakin kencang.


Sebenarnya aku mendengar semuanya teriakkannya dan permintaan dia yang terus mengajak aku untuk pergi ke toko buku menemaninya, namun itu adalah hal yang paling menyebalkan untukku, aku dan dia jelas sangat berbeda dan kami sangat bertolak belakang satu sama lain.


Jika menurut Lea nongkrong di perpustakaan sambil membaca buku dan menyeduh kopi hangat di musim dingin adalah surganya hidup, maka bagiku itu adalah hal paling membosankan yang tidak akan pernah aku lakukan, harusnya musim dingin di nikmati dengan tidur, ataupun bermain lempar salju dan membuat boneka salju di depan gerbang rumah sebesar besarnya agar menjadi patung selamat datang yang cantik, namun tentu saja seseorang seperti Lea tidak akan mau melakukan hal seperti itu, dia si kutu buku dan tidak pernah melepaskan kacamatanya kecuali tidur dan mandi, sangat membuat aku kesal dan selalu saja mengganggu hidupku, tidak pernah memberikan sedikit pun ketenangan kepadaku dan hanya membuat naik darah dalam setiap waktu.


"Eumm Lea kau kan punya kaki dan mata, pergilah sendiri, kenapa kau harus mengajak aku sih, aku masih ngantuk, semalam ibu menyuruh aku mandi larut malam badanku sangat dingin, biarkan aku tetap beristirahat." Ucapku merengek kepadanya saat itu.


"Ohh..begitu ya? Oke kalau itu maumu dan kau tetap tidak mau mengantar aku, biar aku adukan pada ibu jika kau sering tidur di rumah Varel tanpa sepengetahuannya." Ucap dia mengancamku.


Mendengar hal itu aku yang tadinya enggan untuk menanggapi Lea, kini langsung bangkit terduduk dan langsung menghadap Lea dengan kedua mata yang terbuka sangat lebar, rasa kantuk di dalam diriku seketika menghilang, digantikan dengan rasa cemas dan takut karena dia memberikan ancaman seperti itu kepadaku.


"Eehh....kau mau ke toko buku ya, oke aku akan mengantarmu sekalian aku ingin menikysalju pertama, ayo cepat kau bersiap-siap." Ucapku yang langsung saja berdiri pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan segera bersiap-siap dengan cepat.


Lea tersenyum puas karena dia sudah berhasil mengancam aku dan langsung saja menungguku di luar, aku segera menemuinya dengan wajah cemberut dan memakai pakaian yang cukup tebal sebab hari ini memang suhunya sangat dingin, sebab ini hari pertama turunnya salju yang cukup lebar.


"Hei kenapa kau menatapku begitu, apa kau masih merasa tidak rela untuk mengantarku ke toko buku? Atau apa kau mau aku mengadukannya pada ibu saja?" Ucap dia yang membuat aku terpaksa harus kembali memasang wajah ceria walau aku sangat membenci momen itu.


"Ahaha..tidak tidak, ayolah kakakku yang cantik, aku kan memang memiliki wajah seperti ini sejak lahir, jadi jangan berperasangka yang buruk tentangku, aku senang kok aku malah sangat senang bisa pergi keluar dengan kakakku yang cantik ini, ayo kita pergi aku sudah tidak sabar untuk melihat saljunya, pasti sangat cantik bukan, ayo cepat." Ucapku pergi lebih dulu dan sengaja mengeluarkan pujian untuknya agar dia merasa senang dan bisa berhenti memberikan ancaman seperti itu kepadaku.


Aku pun tetap pergi dengan Lea dan sepanjang perjalanan aku hanya bisa cemberut sendiri berjalan di belakang Lea dan terus menggerutu kesal seorang diri.


"Dasar Lea sialan, kalau bukan karena ancamannya aku tidak mau pergi ke luar sepagi ini di musim dingin, hanya untuk membeli buku yang tidak berarti itu, aishh...apa dia tidak punya otak, membeli buku kan bisa di siang hari, dasar manusia aneh!" Gerutuku terus saja merasa kesal dan penuh emosi.


Berkali-kali aku hampi melampiaskan emosiku untuk meledeki dia di belakangnya tanpa sepengetahuan Lea saat itu, setiap kali Lea menengok ke belakang aku langsung memalingkan pandangan ke arah lain, dan sesekali bersiul untuk menghilangkan jejak dan berpura-pura agar dia tidak merasa curiga kepadaku.


Padahal kenyataannya aku sangat benci dan penuh dengan emosi untuk menemani dia ke tempat yang membosankan dan gudangnya para manusia berhati batu tersebut, aku sangat benci bau buku, toko buku dan semua hal yang berhubungan dengan pelajaran, semuanya sangat membosankan dan hanya akan membuat aku stres di buatnya.


Hingga sesampainya di toko buku yang sangat besar Lea masuk lebih dulu dan dia langsung pergi untuk mencari buku yang dia inginkan sedangkan aku duduk di sofa lingkar yang disediakan oleh toko tersebut untuk tempat tunggu, sekaligus tempat membaca beberapa orang pengunjung disana agar merasa nyaman.


"Barsha, apa kau yakin tidak mau ikut denganku ke dalam?" Tanya Lea kepadaku lagi.


"Tidak, untuk apa aku berjalan ke dalam, kau pasti akan sangat lama memilih buku dan mencarinya kesana kemari, aahh kakiku bisa lecet karena kau, aku tunggu kau disini saja, setidaknya disini lebih hangat dan aku bisa tidur sebentar." Balasku kepadanya saat itu.


Aku langsung menggelengkan kepala kepada Lea, menolak tawaran darinya beberapa kali, meski Lea terus mengajakku pergi, aku tetap tidak mau karena hal yang kami sukai memang jauh berbanding terbalik, aku lebih senang menunggu di sana dengan sofa hangat yang bisa aku duduki dan tempat yang empuk.


"Tidak....sekali aku bilang tidak ya tidak, sudah, sana kau pergi sendiri saja, cepat Lea sebelum bukunya habis sana pergi, jangan mencemaskan aku, tidak akan ada orang yang berani melawan wanita sepertiku. Sana pergi!" Ucapku menyuruh dia untuk segera pergi.


Dia pun menghembuskan nafas kasar sambil menggeleng pelan dan pergi dengan segera, aku merekatkan jaketku dan memakai kupluk di kepala sambil melipat kedua tangan di depan dada, lalu langsung saja tidur dengan cepat, tidak perduli meski ada beberapa pria dan ada beberapa wanita yang duduk berhadapan juga bersampingan denganku saat itu, yang terpenting bagiku, aku mengantuk dan sangat ingin tidur sebab semalam aku kurang tidur, mengigil hingga berjam-jam dan baru bisa tidur dengan nyenyak di jam tiga pagi, sekarang jam enam pagi sudah dibangunkan oleh Lea dengan paksa, dan masih harus pergi ke tempat membosankan sejagat raya ini, tentu itu membuat aku sangat sebal.


Akhirnya aku bisa tidur juga, dan bisa menikmati sedikit waktu tanpa gangguan, mereka membaca dalam hatinya masing-masing dan perpustakaan memang tempat paling nyaman untuk tidur, hingga beberapa waktu sudah berlalu, Lea sudah kembali setelah membeli beberapa buku yang dia butuhkan untuk metode pembelajarannya di semester baru nanti.


Saat kembali dia sedikit kebingungan mencari keberadaan Barsha yang ternyata masih asik tertidur di sofa dengan posisi tubuhnya yang terlentang dan mengorok cukup keras hingga di kerumuni beberapa orang disana, dan hal itu sangat memalukan bagi Lea.


"Astaga...aaahh anak itu memang tidak memiliki urat malu, bagaimana bisa dia tidur di tempat umum seperti tidur di rumah sendiri, aish..ini sangat memalukan, mana disana ada Roki lagi, tuhan tolong jangan berikan aku adik seperti ini." Gerutu Lea sambil terus menunduk menghampirinya dengan cepat.


"Hei...hei.. minggir kalian semua, ayo cepat pergi dari ini, apa kalian di toko buku dan perpustakaan seperti ini tempat untuk melihat orang tidur? Pergi cepat!" Ucap Lea sedikit membentak dan bentakannya berhasil membangunkan ku saat itu.


Bahkan saat aku bangun beberapa orang masih saja ngeyel dan keras kepal, mereka berbisik satu sama lain membicarakan aku dan Lea, tentu aku bisa mendengarnya dengan jelas, sekalipun aku baru bangun dan masih mengucek mataku yang masih belum bisa melihat dengan jelas, tetapi telingaku sudah berfungsi sangat baik.


"Aishh...ada apa sih ribut-ribut?" Tanyaku sambil menatap ke arah Lea dan menaikkan kedua alisku kepadanya.


Lea terlihat cukup malu, aku tahu wajahnya selalu memerah dan tangannya memegangi jaketku dengan erat, dia langsung mengajak aku untuk pergi dari sana secepatnya.


"Aaa....aaahh, Barsha ayo cepat kita pergi saja dari sini, ayo cepat." Ucap Lea terus menarik jaketku dengan sangat kuat.


Aku melepaskan pegangannya dari jaketku dan langsung berdiri dengan tegak, menghadap ke arah Lea dan terus memberikan sorot mata tajam pada semua orang yang masih mengerumuni aku dan tidak sedikit yang memotret sambil menertawakan aku saat itu.


"Hei..kalian semua, jika kalian berani membuat kakakku merasa malu seperti ini, dan berani menyimpan fotoku di ponsel kalian, aku tidak akan memberikan satu tulangpun kokoh dalam tubuh kalian itu, aaahhh sudah lama aku tidak menghajar orang, siapa yang selanjutnya mau aku hajar hah?" Ucapku sambil langsung menendang salah satu pria yang malah memotret wajahku dengan sengaja.


Aku merampas ponselnya dan dengan sengaja menginjak ponsel itu menggunakan kakiku sendiri dihadapan semua orang, bahkan penjaga toko buku dan perpustakaan disana sama sekali tidak dapat berkutik dan tidak bisa melakukan apapun, karena mereka takut padaku.


Setelah aku berhasil menendang jatuh salah satu pria disana, semua orang menatap takut padaku dan mereka mulai menghapus semua foto yang sudah mereka ambil sebelumnya.


"Bagaimana, apa masih ada yang berani menyimpan foto tidurku di ponsel? Aku tahu siapa saja yang memotret aku sebelumnya, aku tidak benar-benar tidur." Balasku kepada mereka sambil terus mengepalkan tangan dan membuat ancang-ancang.


Mereka langsung menghampiri semuanya dan menunjukkan ponselnya ke arahku lalu membubarkan diri dengan sendirinya.


Aku pun merasa puas sudah menyelesaikan semua masalah dengan cepat dan begitu mudah, tetapi Lea malah terlihat kesal dan dia pergi meninggalkan aku begitu saja, dia keluar dari toko buku itu dengan wajah cemberut da terus saja marah padaku, bahkan saat aku mengejarnya dan memanggil namanya dia terus menghempaskan tanganku dan menyuruh aku agar menjauh darinya.


"Eehh, Lea tunggu, hei Lea kau kenapa meninggalkan aku?" Tanyaku menahan dia lagi dengan menghadang jalannya dan merentangkan tangan di hadapan dia saat itu.


"Kenapa lagi, apa kau masih belum puas membuat aku malu di hadapan Roki?" Ucap dia dengan wajahnya yang terlihat kecut.


Ini sama sekali tidak seperti Lea yang aku kenal, dia nampak begitu kesal kepadaku dibandingkan sebelumnya, sedangkan aku sendiri sama sekali tidak tahu dimana letak kesalahan yang aku lakukan sebenarnya, sampai bisa membuat dia marah seperti itu padaku.


"Hah? Kenapa denganmu, siapa Roki yang kau maksud itu?" Tanyaku dengan heran dan terus mengerutkan wajah dengan kuat.


"Sudahlah, sana minggir, kau tidak akan tahu apapun, kau hanya bisa menyelesaikan semua masalah dengan kekerasan dan caramu sendiri yang selalu melakukannya tanpa persetujuan dariku!" Bentak dia sambil berjalan mendorong aku lalu pergi lebih dulu begitu saja.


Aku hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh dan terus menggaruk belakang kepalaku denga heran, dia pergi dengan memakai payung seorang diri sedangkan aku harus terkena hujan salju dan harus berlari dengan cepat sambil meneriaki namanya saat itu.


"Astaga, ada apa dengan dia sebenarnya? Tiba-tiba marah, tiba-tiba baik, aneh sekali sih." Gerutuku sambil berkacak pinggang dan masih belum menyadari sesuatu yang hilang saat itu.


Hingga tidak lama rasa dingin mulai menusuk tubuhku karena tidak memakai payung dan salju menyentuh jaket yang aku kenakan terus menerus.


"Ehhh..iya payungnya, aishh...si Lea ini dia marah denganku dan meninggalkan aku tanpa payung, aahhh Lea hei....tunggu jangan tinggalkan aku, aku tidak ada payung hei!" Teriak ku langsung berlari mengejarnya dengan cepat.


"Lea...setidaknya kalau kau mau meninggalkanku, tinggalkan juga payung nya dong, aishh..sialan kau." Gerutuku dengan nafas menderu di samping Lea saat sampai di halte bus saat itu.


Dia masih tetap terlihat marah dan sama sekali tidak menatap ke arahku, wajahnya terus menatap lurus ke depan tidak memperdulikan aku sama sekali, bahkan saat aku mendekatinya dan berniat memakai payung bersama dengannya, dia malah langsung menggeser menjauhiku sehingga aku tetap saja tidak bisa terpayungi, aku terus menatapnya dengan heran dan sangat geram, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan selain menggerutu kesal seorang diri dan terus saja merutuki dia sepuasnya.