
Tapi walau begitu aku tidak terlalu memperdulikan masalah itu, jadi aku hanya bisa terus memberikan semangat yang lebih besar lagi kepada Varel hingga dia sukses memperkenalkan robot ciptaannya tersebut, dia juga terlihat begitu antusias dalam memperkenalkan robotnya tersebut, aku sangat senang sekali bisa melihat Varel seantusias tersebut, hingga semuanya selesai dan dia pun segera menghampiri aku dengan wajah yang sangat berseri-seri.
"Haha..kau hebat sekali, aku yakin kau pasti akan menang, robot mu memang yang paling hebat dan bagus." Ucapku kepadanya.
Dia juga mendapatkan pujian dari beberapa orang panitia yang ada disana pendampingnya mengucapkan selamat sambil berjabat tangan dengannya, dia terlihat begitu murung dan wajahnya terus saja berubah menjadi datar, tidak tahu apa yang terjadi dengannya, tapi dia malah terus memasang wajah murung seperti itu padahal jelas sekali sebelumnya dia terlihat sangat ceria.
Hingga semuanya sudah selesai dan kami hendak kembali ke kamar masing-masing setelah makan malam saat itu.
Aku langsung berlari mengejar Varel karena dia merubah raut wajahnya dalam waktu sekejap dan sangat cepat, aku juga merasa sedikit cemas dengannya.
"Hei.. Varel, tunggu, Varel..." Teriakku memanggil dia dan langsung saja menghadang jalannya dengan cepat.
"Ada apa Barsha?" Tanya dia kepadaku.
Aku tahu Varel bukan orang yang mudah bercerita ketika ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya dan aku tahu dia tidak akan pernah terbuka padaku, jadi aku memutuskan untuk mengajak dia pergi ke luar berjalan-jalan dahulu, agar bisa membuat dirinya bisa sedikit tenang, dengan begitu mungkin aku pikir nanti bisa bertanya mengenai apa penyebab dia menjadi seperti itu.
"Varel bukankah kau bilang akan membawaku jalan-jalan ketika perlombaan mu selesai, aku tepati janjimu, kita pergi jalan-jalan." Ucapku kepadanya dengan wajah yang tersenyum lebar dan sangat antusias sekali dalam mengajaknya saat itu.
"Sekarang?" Tanya dia dengan mata yang sedikit melebar saat itu.
Aku langsung mengangguk dengan cepat untuk meyakinkannya dan dia terlihat lama tidak membalas ucapan dariku, karena dia diam saja dan aku tahu jika dia diam seperti itu, maka artinya dia tengah berpikir panjang dan aku tidak mau menerima penolakkan darinya, jadi dengan cepat sebelum dia bicara aku langsung menarik tangannya dengan cepat dan segera membawa dia keluar dari hotel yang mewah tersebut.
"Aishh, sudahlah kau ini terlalu banyak berpikir tahu." Ucapku sambil langsung membawanya pergi.
Dia tidak menolak sama sekali hanya mulai terlihat menunjukkan senyum kecil yang menghiasi wajahnya saat aku berlari dan menarik tangan dia saat itu.
Kebetulan sekali karena kita di luar negeri hingga mau jam berapapun jalanan masih tetap ramai, aku tidak tahu kemana tujuan kami saat itu, tapi bagiku setidaknya aku bisa pergi berjalan-jalan dengannya untuk mengajak Varel supaya dia bisa menghirup udara segar, dan membuat pikirannya sedikit terbuka lagi.
"Aaahh.... bagaimana, apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?" Tanyaku kepada dia sambil terus berjalan beriringan.
"Apa?" Tanya dia kebingungan kepadaku.
"Ya ampun, kau sedari tadi memasang wajah murung karena apa? Seharusnya aku yang bertanya kepadamu." Balasku kepada dia yang sudah tidak habis pikir lagi dengan pikirannya. Saat mendengar ucapan dariku Varel malah langsung tertawa lebar.
"Eh....eh...eh.. kenapa kau tertawa begitu?" Tanyaku kepada dia mulai merasa aneh dan curiga dengan kelakuan dia yang terasa semakin aneh saja.
"Hahah... Kau lucu sekali Barsha. Jadi kamu mengajak aku keluar untuk jalan-jalan karena kamu melihat wajahku yang murung saat baru turun dari panggung sebelumnya?" Balas dia yang aku anggukan dengan cepat.
Tiba-tiba saja dia langsung menggandeng tanganku dan membawa aku secara paksa ke sebuah taman yang sangat cantik disana, dia terus saja mengajak aku untuk menatap langit di taman tersebut, tamannya sangat luas dan cantik, banyak bunga di sekitar sana dan ada sebuah air mancur yang menjulang tinggi dengan air yang jernih juga sebuah lampu berwarna warni yang mengelilingi tembok air mancur tersebut.
"Wah... Varel darimana kau tahu ada taman indah di sekitar sini?" Tanyaku kepadanya sambil terus menatap ke sekeliling dan merasa begitu senang.
"Aku tahu saat kita melewati jalanan ini sebelumnya." Balas dia dengan jujur.
Aku langsung berlari mendekat ke arah air mancur tersebut dan menatap airnya yang sangat jernih, ada beberapa pasangan kekasih yang berjalan-jalan juga di sekitar sana dan mereka terlihat asik berfoto begitu mesra.
Aku merasa sedikit canggung ketika melihat orang-orang tersebut, begitu juga dengan Varel yang langsung saling tatap denganku.
"Ekm... sepertinya ini sudah cukup malam, bagaimana kalau kita pulang saja." Ucapku kepadanya karena sudah sangat canggung melihat semakin banyak pasangan yang berdatangan dan begitu mesra satu sama lain.
Saat Varel mengangguk sayangnya tiba-tiba saja ada seorang pria yang menarik tanganku dia meminta aku untuk memotret dirinya dan pasangannya di dekat air mancur berwarna tersebut.
"Hai.. bisa tolong fotokan kami disana, kelihatannya kita dari negara yang sama." Ucap pria tersebut tersenyum kecil padaku.
Aku terperangah dengan penuh keheranan, tapi aku sama sekali tidak bisa menolaknya, karena aku mengerti bahasa yang dikatakan oleh pria tersebut yang ternyata dia juga berada dari negara yang sama denganku, sampai akhirnya Varel pun mengangguk padaku seakan mengijinkan aku untuk memotret pasangan tersebut.
Aku sebenarnya sangat tidak nyaman tapi pada akhirnya tetap saja aku melakukan hal itu, mengambil ponsel pria itu dan membantu mereka untuk berfoto bersama di depan air mancur berwarna yang sangat cantik tersebut.
Setelah selesai mereka justru menawarkan kepadaku agar berfoto dengan Varel da mereka malah mengira aku dan Varel adalah pasangan kekasih.
"Apa kalian tidak akan berfoto juga?" Tanya pria itu kepadaku.
Dengan cepat aku menggelengkan kepala dan menolaknya dengan cepat karena aku sama sekali tidak tertarik untuk melakukan hal itu da sangat tidak biasa bagiku yang jarang sekali berfoto bahkan bisa di katakan hampir tidak pernah, tidak ada satu foto pun di dalam ponselku, kecuali foto aibku yang ada di ponsel Niko yang selalu dia simpan bahka di jadikan arsip sejak aku kecil hingga sebesar sekarang.
"Aahh.... Tidak perlu, kami sudah harus pulang ini sudah sangat malam." Balasku kepada pasangan tersebut, namun Varel malah mengatakan hal yang lain dan dia menyetujui tawaran dari orang asing itu.
Dia langsung memberikan ponselnya dan langsung menarik aku untuk berfoto dengan dia di depan air mancur yang indah tersebut, dia bahkan menggandeng tanganku dan bergaya sambil menatap ke arah kamera di depan sedangkan aku sendiri justru tengah menatap ke arahnya sebab masih merasa heran dan sedikit kaget melihat apa yang dilakukan oleh Varel secara tiba-tiba seperti itu dan sama sekali tidak bisa aku duga.
"Wah... Kenapa aku merasa orang ini tidak seperti Varel yang aku kenal." Batinku merasa gugup sekali saat dia menggandeng tanganku dan mencondongkan tubuhnya ke samping saat itu.
"Aahh...kalian imut sekali, benar-benar pasangan muda yang sangat serasi semoga kalian sampai ke pelaminan ya." Ucap pria itu sambil mengembalikan ponsel Varel setelah memotret kami beberapa kami sebelumnya.
Terus saja aku membelakkan mata dan berniat untuk menjelaskan semua kebenarannya kepada pria tersebut, tapi sayangnya mereka sudah lebih dulu pergi jadi aku sama sekali tidak bisa mengatakan apapun, hanya bisa menggerutu kesal kepada orang yang tidak di kenal dan sudah pergi dari sana.
"Aishh.... bagaimana bisa dia mengira kita pasangan, aahh. Dasar bodoh!" Gerutuku sangat emosi dan berdecak kesal beberapa kali.