
Tapi entah kenapa aku merasa Jepri tiba-tiba menjadi baik kepadaku saat itu, padahal sudah jelas sekali sebelumnya dia sangat membenci aku karena aku tidak memberikan soal yang bisa aku kerjakan dengannya, makanya saat dia menggandeng tanganku seperti ini, aku terus saja menatapnya dengan lekat dan terus merasa kebingungan dengannya, sedangkan Ciko dan Niko berjalan di belakang kami saat itu hingga sesampainya di depan jalan raya mereka hendak pergi dengan naik bus bersama-sama tapi Jepri malah mengajak aku untuk naik mobil miliknya.
"Barsha ayo kau ikut denganku saja, mobilku ada disana," ucap Jepri kepadaku.
Saat aku hendak pergi dengannya tiba-tiba saja Ciko menahan tanganku dan aku menatap heran dengannya.
"Dia akan pergi naik bus dengan kami semua, kau bisa naik mobilmu sendiri." Ucap Ciko kepada Jepri saat itu.
Aku menatap tajam kepada Ciko karena aku tidak ada uang untuk naik bus, jadi aku menghempaskan tangannya dan memilih untuk pergi dengan Jepri saja, lagi pula sebelumnya Ciko juga sangat tidak menyukai aku, bahkan dia terus tidak membiarkan aku untuk ikut dengannya.
"Ciko lepaskan, apa yang kau lakukan. Tadi kau tidak mau aku ikut denganmu dan merepotkan dirimu, jujur saja aku tidak ada uang sama sekali, jadi aku tidak mungkin akan naik bus, jika aku naik bus mungkin aku tidak akan bisa masuk untuk menonton bola nantinya, aku pergi dengan Jepri saja." Balasku kepadanya dan segera pergi dengan Jepri saat itu juga.
Ku lihat Ciko masih berdiri menunggu bus tiba di sana bersama dengan Niko dan teman-teman yang lainnya, sedangkan aku pergi lebih dulu bersama Jepri dan bener temannya juga saat itu, tapi saat di perjalanan tiba-tiba saja Jepri menghentikan mobilnya dan dia menyuruh kedua temannya untuk turun dari mobilnya tersebut dan dia malah memesankan taxi untuk mereka.
Aku mulai merasa curiga dengan apa yang dilakukan oleh Jepri saat itu, karena sekarang hanya tersisa aku dan dia saja yang ada di dalam mobil jadi aku merasa sedikit cemas saat itu.
"Jepri apa maksudmu malah menurunkan teman-temanmu itu? Apa kau sengaja melakukannya?" Ucapku kepadanya saat itu.
"Aku hanya tidak ingin merepotkan mendengarkan perkataan yang ingin aku utarakan kepadamu," balas Jepri semakin membuat aku penasaran dan penuh kecemasan saat itu.
"Katakan sekarang juga, apa yang kau mau bilang padaku," balasku lagi dengan cepat.
"Aku hanya ingin minta maaf denganmu, karena perbuatanku sebelumnya yang pernah menabrakmu, aku sungguh tengah kacau saat itu dan aku akui memang semua itu kesalahanku, aku hanya tidak ingin di salahkan olehmu saat itu, jadi aku merasa sedikit bersalah denganmu dan aku pikir ini kesempatan yang tepat untuk aku membalas semua itu, jadi biarkan aku yang membawamu untuk menonton pertandingannya nanti, kau juga bisa membeli apapun yang kau mau disana, anggap semuanya sebagai bentuk permintaan maaf dariku padamu." Ucap Jepri yang ternyata niatnya itu sama sekali tidak seburuk yang aku pikirkan sebelumnya.
Dan setelah mendengarkan penjelasan darinya barulah aku sadar ternyata memang aku yang terlalu berlebihan dengan apa yang aku pikirkan tentang Jepri selama ini.
"Ja..jadi sedari tadi kau bersikap baik kepadaku dan membantuku saat bertengkar dengan Ciko itu karena..." Ucapku kepadanya sambil menatap dengan lekat.
"Haha... iya, semua itu benar, aku hanya ingin membalaskan semua rasa bersalahku kepadamu, karena jujur saja sejak kejadian itu aku bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena terus mengkhawatirkan masalah ini denganmu, jadi aku harap kau bisa memaafkan aku, agar aku bisa menjalani hatiku dan tidur dengan nyenyak lagi seperti sedi kala, hehe," ucapnya padaku yang membuat aku tidak bisa menahan tawa lagi saat itu.
"Ahahah...kau ini bisa, tentu aku sudah memaafkanmu, bahkan jauh sebelum kau menyadari hal ini, aku sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi, jadi seharusnya kau sudah bisa tidur dengan tenang sekarang," balasku kepadanya sambil tersenyum lebar.
Hingga sesampainya di gedung tempat pertandingan bola di mulai aku membela syal dan banyak makanan untuk bisa aku makan sambil menonton pertandingan bola di dalam sana.
Jepri begitu baik dalam memperlakukan aku dan dia mengabulkan apapun yang aku inginkan saat itu, memiliki orang seperti dia memang cukup menguntungkan bagiku yang kekurangan uang ini, aku juga mendapatkan tempat duduk paling depan tepat di samping Ciko dan di sebelahnya ada Jepri, sayangnya saat ini aku dan Ciko tengah bertengkar jadi selama pertandingan berlangsung wajah Ciko terus saja terlihat masam dan dia bahkan tidak mau melirik sedikitpun ke arahku.
Dia tidak mau bicara denganku dan terus saja mengobrol asik hanya dengan Niko dan teman-temannya yang lain, aku sungguh merasa sangat di abaikan saat itu, tapi sama sekali tidak bisa melakukan apapun, meski Jepri terus mengajak aku bersorak dan dia terus memperlakukan aku dengan baik, nyatanya tetap saja di abaikan oleh teman yang sudah dekat sejak lama seperti Ciko dan Niko itu sangat tidak nyaman untukku.
"Barsha....apa kamu baik-baik saja? Barsha apa yang kamu pikirkan apa kamu sakit?" Tanya Jepri sambil memegangi keningku saat itu.
Dengan cepat aku segera menjauh darinya, karena aku sangat tidak nyaman terlalu dekat dengan Jepri disaat ada Ciko dan Niko yang sudah pasti mereka bisa saja semakin marah denganku nantinya.
"Aahh ..aku baik-baik saja Jepri, kita tongton pertandingannya saja." Balasku kepadanya saat itu, berusaha menolak dia dengan cara yang baik.
Tiba-tiba saja aku mendengar celetukan dari Ciko yang duduk di sampingku saat itu.
"CK ....dasar ganjen," celetuknya Ciko kepadaku saat itu.
Aku tahu dia pasti menyindir aku dan dengan cepat aku langsung menoleh ke arahnya sambil bicara dengan dia, aku tidak mau masalah pertengkaran seperti ini berlarut-larut terlalu lama, sebab kami adalah sahabat sejak kecil, rasanya akan sangat aneh jika aku terus bermusuhan dengan mereka seperti saat ini.
"Ciko ada apa denganmu, kalau aku tidak senang aku dekat dengan Jepri kau bisa mengatakannya langsung padaku, dan aku akan menjauhi dia sebisanya, kau tidak perlu bersikap aneh seperti ini, aku tidak bisa mengerti maksudmu jika kau tidak pernah mengatakannya padaku." Ucapku kepada dia dengan pelan.
Tapi aku sangat yakin bahwa dia bisa mendengar ucapanku saat itu, walaupun Ciko hanya terlihat diam saja dan tetap tidak menoleh ke arahku tapi aku masih berharap dia bisa mengerti dan memahami apa yang aku katakan kepada dia saat itu.
Sampai setelah acara pertandingannya selesai dan untungnya saat itu tidak terjadi hal apapun disana, aku segera bersiap untuk pulang namun saat itu aku menolak tawaran dari Jepri karena aku masih ingin bicara dengan Niko dan Ciko.
"Barsha ayo, aku akan antar kamu pulang," ucap Jepri kepadaku.
"Terimakasih Jepri tapi aku pulang dengan Niko dan Ciko saja, mereka sahabatku dan kita pulang ke daerah yang sama, tidak perlu merepotkan dirimu lagi," balasku kepadanya saat itu.
Untunglah Jepri paham dengan maksudku dan dia tidak memaksa aku lagi setelah aku mengatakan seperti itu kepadanya, tapi dia malah menitipkan aku pada Ciko saat itu.
Hal tersebut langsung saja membuat Ciko semakin kesal dan penuh emosi, aku juga hanya bisa menatap dengan terperangah dan tidak tahu harus melakukan apa dalam menghadapi situasi yang canggung dan aneh seperti saat ini.
Untunglah si Niko mau membantuku dan segera menarik tangan Jepri yang memegangi sebelah pundak Ciko saat itu sambil segera menjauhkan mereka berdua secepatnya.
Jika tidak ada dia yang membantuku saat itu, tidak tahu lagi apa yang bisa aku lakukan untuk memisahkan dua orang yang saling melepaskan tatapan tajam seperti itu.
"Ehehe....tenang saja, kau tidak perlu terlalu mencemaskan Barsha dengan berlebihan seperti itu, dia sudah bersama dengan kami sejak dia kecil dan masih mengompol di celana tentu dia akan selalu aman bersama aku dan Ciko, sudah sana kau pergi saja...ayo pulanglah hati-hatilah di jalan tuan muda Jepri," ucap Niko sambil terus mendorong pelan Jepri dan membuat dia segera masuk ke dalam mobilnya dengan cepat.
Setelah Jepri pergi aku langsung memberikan tatapan tajam kepada Niko yang sudah membongkar aibku barusan kepada Jepri dan itu sangat terdengar memalukan bagi seorang perempuan sepertiku.
"Heh...Niko apa-apaan yang kau katakan pada Jepri barusan, kenapa kau malah membuka aibku, apa kau gila ya, bagaimana aku bisa menghadapi dia nantinya," ucapku kepada Niko dengan sedikit kesal saat itu.
"Ayolah Barsha apa ini waktu yang tepat untuk kau mengomeli aku? Lihatlah kesana Ciko sudah sangat merajuk denganmu, semua itu ulahmu dan si Jepri itu, sana cepat kau kejar dia atau dia bisa marah denganmu lebih lama lagi." Ucap Niko kepadaku saat itu.
Dan saat aku menoleh ternyata memang Ciko sudah berjalan lebih dulu meninggalkan aku dan Niko saat itu, dia duduk di halte bus seorang diri dan aku mulai berjalan mendekati dia saat itu, sedangkan sialan Niko malah naik taxi lebih dulu meninggalkan hanya aku dengan Ciko berdua saja disana, mana aku tidak memegangi uang yang cukup lagi saat itu, jadi aku tidak tahu lagi harus melakukan apa selain membujuk Ciko.
"Ee....eee..ehh, Niko hei....Niko kau mau kemana hei.... Kenapa kau meninggalkan aku aishh..dasar brandal sialan kau!" Teriakku sangat emosi dengannya saat itu.
"Aku pergi lebih dulu kau baik-baik lah dengan Ciko, oke," balas Niko kepadaku sambil melambaikan tangannya dari balik jendela taxi tersebut.
Terus saja aku menggerutu kesal dan merutuki si Niko sialan itu, sampai Ciko mulai bicara padaku dan menyuruh aku untuk diam.
"Aishh....keterlaluan bagaimana bisa aku memiliki teman yang sangat menjengkelkan sepertinya, aaarrghhhh... bagaimana aku bisa pulang sekarang, huaa...seharusnya aku tidak jauh-jauh dari Niko tadi," ucapku merasa menyesal sendiri.
"Heh ..... Sampai kapan kau mau terus merengek seperti itu, bukannya membujukku kau malah membuat aku semakin kesal denganmu." Ujar Ciko padaku.
Aku baru sadar kalau saat itu Ciko masih merajuk denganku jadi dengan cepat aku duduk di samping dia dan segera meminta maaf secepatnya saat itu juga.
"Aaaahhh...maafkan aku Ciko aku bukannya melupakanmu, tapi tadi itu Niko memang benar-benar mengingkari ucapannya untuk mengantarkanku, jadi aku agak kesal dengannya," balasku kepada dia dan hanya di tanggapi dengan decak kan kesal saja saat itu.
Aku tahu dia pasti masih sangat marah denganku jadi aku memaklumi decakkan itu dan hanya bisa bersabar sendiri saja sebab kali ini bukanlah waktu yang tepat untuk membentak dia ataupun bicara keras dengannya.
"Ciko aku minta maaf denganmu, meski aku tidak tahu kenapa kau harus merajuk padaku, tapi aku dan Jepri itu hanya kebetulan saja, karena kau tidak mengijinkan aku untuk ikut jadi aku pergi dengan Jepri, aku pikir sama saja mau aku pergi dengan siapapun yang penting aku bisa ikut denganmu dan Niko, aku tidak mau sendirian di rumah Niko nanti akan sangat tidak tenang. Dan aku tidak bisa pulang ke rumah, aku juga tidak bisa ke rumahmu dan bertemu bibi lagi, aku tidak mau merepotkan dia jadi aku memilih ikut dengan kalian," ujarku menjelaskan kepadanya.
Tapi walau aku sudah mengatakan semua kebenarannya, Ciko masih saja terlihat memalingkan pandangan dariku dan dia terus saja menatap kecut ke depan tanpa ekspresi di wajahnya.
Hal itu membuat aku sedikit merasa cemas dan terus memikirkan hal apa yang bisa aku lakukan untuknya agar dia tidak merajuk lagi padaku.
"Ciko ayolah aku sudah meminta maaf dengan tulus padamu, apa kau tidak kasihan dengan sahabat perempuanmunyang miskin dan sangat menyedihkan ini, apa aku masih harus menerima ketidak nyamanan ini denganmu? Aku tidak memiliki siapapun selain dirimu, Niko dan Varel yang bisa aku andalkan selama ini, jika Varel selalu sibuk dengan pelajarannya dan pendidikan dia yang sangat sulit di mengerti, maka Niko selalu menjahiliku sejak kecil dan hanya kau yang tidak pernah marah denganku ataupun menjahili aku seperti yang Niko lakukan, kau juga selalu ada disaat aku membutuhkan mu, satu lagi kau satu-satunya orang yang selalu memberikan aku banyak sekali traktiran selama ini, jadi aku sangat senang bisa mengenal dirimu, sekarang kalau kau merajuk seperti ini, pada siapa lagi aku harus menaruhkan nasibku," ucapku kepada dia saat itu, sambil memasang wajah yang cukup menyedihkan.
Aku berharap dia mau memaafkan aku hingga tidak lama sebuah bus sudah tiba, dan itu adalah bus yang akan aku naiki tapi aku tidak memiliki uang sedikitpun saat itu sehingga saat orang lain terburu-buru masuk ke sana aku hanya bisa duduk saja disana, sedangkan Ciko sudah bangkit berdiri dan dia mulai mengajak aku untuk masuk ke dalam bus saat itu.
"Heh....ayo pergi, kenapa masih duduk disitu?" Ucap Ciko padaku.
"Ahh ..kau pergi saja nanti aku minta ayah menjemputku saja atau Wili yang akan datang kemari," balasku kepadanya karena aku tidak punya uang untuk naik bus.
"Ayo pergi aku akan membayarkan ongkosnya untukmu," tambah Ciko sambil menarik tanganku dan membawa aku menaiki bus dengan cepat saat itu.
Aku hanya menatapnya dengan membulatkan mataku saat itu, tidak aku sangka ternyata walau sedang marah sekalipun Ciko masih mau membantuku dan dia pria paling sabar yang pernah aku temui selama ini, aku sangat senang bisa memiliki sahabat sepertinya.
Bahkan yang membuat aku senang dia bahkan membantuku mendapat kursi dan langsung saja menyingkirkan tasnya saat aku itu lalu menyuruh aku untuk duduk di sampingnya saat itu.
"Ayo duduk nanti kursinya akan diambil orang jika kau terus berdiri disana," ujar Ciko padaku.
Padahal saat itu aku berusaha menjaga jarak dengannya karena aku takut dia masih marah denganku, tapi karena dia yang mengatakannya lebih dulu jadi aku tidak akan segan lagi, segera saja aku duduk dengan cepat di samping dia dan tersenyum lebar kepadanya saat itu juga.
"Hehe... terimakasih banyak Ciko, apa ini artinya kau sudah tidak marah lagi denganku?" Tanyaku kepadanya saat itu.
"Siapa bilang, aku tetap sangat kesal denganmu, CK...enak saja, aku tidak akan baikan dengan mudah," balas dia yang ternyata masih saja tetap merajuk.